Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 29 Dilema Lucas


__ADS_3

"Pagi ini aku ada urusan penting. Jadi, bersikap baiklah kalian bertiga di istanaku! Semua gerak-gerik kalian akan terekam oleh cctv yang dipasang di segala penjuru," tunjuk Lucas ke setiap sudut ruangan.


"Dan buat kamu Amanda, jangan berpikir untuk lari dari tempat ini. Karena ke mana pun kamu pergi, aku pasti akan menemukanmu kembali!" gertak Lucas penuh penekanan. Kehadiran Matthew di rumahnya memunculkan kekhawatiran di dalam hati. Dia takut kalau putra dari istri pertamanya itu akan mengajak Amanda untuk melarikan diri.


Amanda diam saja, tidak menggubris perkataan Lucas yang dia anggap sebagai angin lalu. Mendengar celotehan pria tua itu hanya akan merusak suasana hati serta membuat darahnya mendidih.


"Aku pergi sekarang. Ingat perkataanku, jangan macam-macam di istanaku atau kalian akan mendapatkan hukuman!" Lucas berdiri dan menatap ketiga istrinya secara bergantian. Tatapannya berakhir pada wajah Amanda yang meneduhkan sekaligus mengesalkan.


"Amanda, ikut aku!" seru Lucas pada istri barunya.


Amanda menoleh dan menampilkan raut jengah. "Ada apa menyuruhku untuk ikut denganmu? Kamu bisa meminta istrimu yang lain, 'kan?"


"Berani-beraninya kamu membantahku!" sentak Lucas berjalan cepat ke arah di mana Amanda duduk. "Ikut denganku!" titahnya menarik tangan sang istri lalu menyeretnya menjauh dari ruang makan.


"Kamu mau membawaku ke mana, bajingan?" teriak Amanda sebab Lucas mengeret tubuhnya dengan langkah lebar menuju lorong yang sedikit gelap.


Lucas mencampakkan tubuh Amanda ke atas dinding kemudian mengungkungnya. Dia mencomot bibir gadis itu hingga mengerucut lalu memagut kasar. Amanda menghentak-hentakkan tangannya ke dada Lucas lantaran dia kesulitan bernapas. Mulutnya terkatup sempurna karena lidah Lucas menari-nari di dalamnya.


Gadis itu meronta-ronta dan berhasil menendang milik suaminya begitu keras. Lucas tersentak merasakan nyeri di area selangkangann. Belum cukup sampai di situ, Amanda menggigit kencang lidah Lucas sebagai pelampiasan dari sakit hati yang dia rasakan atas perlakuan pria tua itu.


"Wanita sialan!!" Lucas mendamprat wajah Amanda setelah berhasil lepas dari gigitan sang istri. Dia menjambak rambut wanitanya kemudian mendorong kasar hingga terpelanting ke atas lantai. Lucas ingin sekali memaki habis-habisan istrinya itu. Namun, rasa sakit di dalam mulut juga area terlarang membuat lidahnya kelu seketika.


Lucas mengacungkan jari telunjuk dan menggeram murka karena tidak mampu lagi mengeluarkan kata-kata. Dia membalikkan badan lanjut berjalan meninggalkan Amanda di lorong sempit itu.

__ADS_1


"Jangan biarkan si bedebah itu bertindak semena-mena. Kamu harus bangkit, Amanda. Kamu harus membuktikan kalau kamu kuat! Kamu pasti bisa Amanda! Kamu pasti bisa!!" gumamnya seraya mengangkat tubuhnya sendiri untuk berdiri.


...***...


"Bos, semua rekaman cctv rusak karena orang-orang itu berhasil menyabotasenya. Hanya ini yang berhasil kami amankan, tapi gambarnya sangat buram karena efek ledakan kemarin," jelas Leo memutar video yang memuat tempat kejadian.


Lucas menghantam meja menggunakan tangan seraya mengerang kesal karena tidak bisa mengetahui secara pasti orang-orang yang sudah menyerang gudangnya. Terlebih gudang itu berada di bawah tanah. Hanya orang terlatih dan memiliki keahlian khususlah yang bisa menemukan tempat itu tanpa hambatan apa pun.


"Musuh kita benar-benar bukan orang sembarangan. Perketat semua penjagaan di markas juga istana, jangan sampai kita kecolongan untuk kedua kalinya. Sementara waktu kita stop mengumpulkan barang-barang buat dijual. Fokus pada bisnis kita yang lain sampai kondisi kembali kondusif," titah Lucas karena tidak ingin semua bisnis kotornya diketahui oleh pihak tertentu khususnya kepolisian.


"Siap, Bos!" balas Leo. "Ada kabar buruk satu lagi, Bos!" ungkap Leo dengan tubuh mengerut dan kepala menunduk.


"Kabar apa lagi?" berang Lucas. Masalah satu pun belum usai, kini dia harus mendengar kabar buruk lainnya.


"Kenapa dengan dia?" sentak Lucas sebab beberapa hari yang lalu dia masih bisa berkomunikasi dengan wanita itu.


"Mami Lucy menghilang Bos. Orang suruhan kita sudah mencari keberadaan wanita itu ke setiap tempat. Tapi tidak menemukannya," ungkap Leo.


"Ah, brengsekkk!!!" pekik Lucas memerosokkan apa pun yang ada di atas meja. "Kenapa kamu baru memberitahuku, hah...?"


"Ma-maaf, Bos. Itu karena hilangnya mami Lucy baru diketahui oleh orang-orangnya baru-baru ini," jawab Leo.


"Cari wanita itu meski ke lubang semut sekali pun lalu bunuh beserta seluruh keluarganya," perintah Lucas yang tidak bisa ditawar lagi.

__ADS_1


"Si-siap Bos," sahut Leo.


"Lalu bagaimana perkembangan pencarian tawanan kita. Apa sudah mendapatkan hasil?" tanya Lucas.


Leo geleng-geleng kepala sebab dia dan anak buahnya tidak bisa mendeteksi keberadaan Ivana di mana pun juga. Gadis itu tidak diketahui rimbanya bagaikan tertelan ke dasar bumi. "Maaf, Bos. Kami belum berhasil meraih informasi mengenai tawanan kita. Sangat sulit menemukan anak itu. Tapi kita mengantongi identitas seseorang yang sudah menolongnya."


"Siapa orang itu?" tanya Lucas penasaran. Dia ingin memburu orang tersebut dengan tangannya sendiri.


"Namanya dokter Matthew Alonzo, dia seorang psikiater di salah satu Rumah Sakit Jiwa," ungkap Leo datar sebab dia tidak mengetahui kalau dokter Matthew adalah anak kandung Lucas.


"Kamu tahu siapa dia? Apa kamu mengenalnya?" Lucas balik bertanya pada Leo seraya menahan rasa yang berkecambuk di dalam dada. Ada perasaan khawatir karena bagaimana pun juga Matthew adalah pewaris tunggal dinasti Alonzo. Dari kelima istrinya, hanya Allison yang berhasil meninggalkan keturunan laki-laki. Sedangkan istri kedua dan ketiga yang dia asingkan di pulau terpencil, cuman bisa memberinya anak perempuan.


"Tidak, Bos. Saya tidak mengenal orang itu," jawab Leo jujur. Karena dia hanya mengenal Matthew dengan nama kecilnya, yaitu Math. Sedangkan dia sendiri tidak bisa mengidentifikasi wajah Matthew yang menjadi incarannya, seperti apa.


Lucas mendengkus kasar dan menyuruh Leo untuk keluar dari ruangannya seorang diri. "Kalau kamu sudah selesai, keluar dari ruanganku sekarang juga. Aku butuh waktu untuk berpikir dan mencari solusi dari semua kekacauan yang terjadi."


"Baik, Bos!" jawab Leo membungkukkan badan. "Kalau Bos membutuhkan saya, tinggal panggil saja. Saya ada di ruangan sebelah," ujarnya pada Lucas. Dia bersigera keluar dari ruangan tersebut untuk menemui semua anak buahnya dan menyusun strategi.


Lucas berjalan lunglai lalu berdiri di depan jendela. Dia memandang ke arah jalanan kosong nan sepi. "Oh, God... kenapa bisa anakku terseret masalah ini?! Tapi... tapi aku tidak mungkin mengatakan pada orang-orang suruhan, kalau dia adalah anak kandungku! Kenapa semua semakin rumit saja...?!"


Lucas meninju tembok berkali-kali untuk meluapkan kegusaran di hati. "Secepatnya aku harus mengirim Matthew ke luar negeri. Jangan sampai anak buahku lebih dulu menemukannya. Atau dengan terpaksa, aku menghabisi putraku dengan tanganku sendiri! Karena di dalam bisnisku ini tidak memandang garis keturunan ataupun kawan, semuanya adalah lawan!!"


Lucas terus berbicara di dalam hati. Di satu sisi, dia memikirkan nasib bisnisnya nanti kalau suatu saat dia mati dan tidak ada yang bisa dijadikan penerus atas usahanya. Namun, membiarkan Matthew hidup pun bukan sebuah pilihan yang tepat untuknya. Dia berada dalam dilema karena berdiri di sebuah persimpangan kekalutan.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2