Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 82 Janji


__ADS_3

"Terima kasih, Kapten," ucap Amanda setelah Samuel menghentikan kendaraannya di depan lobby hotel. Sebelum persidangan Lucas selesai, untuk sementara waktu Amanda harus tinggal di tempat yang tidak jauh dari gedung pengadilan.


"Cukup Samuel saja. Menggelikan rasanya dipanggil dengan sebutan kapten ketika sedang tidak bertugas," sahutnya lalu tersenyum manis.


"Aku ulangi kalau begitu. Terima kasih Samuel atas tumpangannya," ujar Amanda dan membalas senyuman pria di sampingnya.


"Hanya terima kasih?" Samuel menarik kedua alisnya ke atas. "Tidak ada ciuman panas ataupun sekedar kecupan basah?" tanyanya dengan suara dibuat mendesah. Dia mendekat lalu melingkarkan tangan pada headrest dan menatap intens wajah Amanda.


"Jangan mendekat!" Amanda spontan melintangkan kedua tangan menutupi aset kembarnya. Sebab celotehan Samuel sewaktu di Rumah Sakit sangat membekas di dalam ingatan.


Melihat gelagat Amanda yang ketakutan, otak jahil Samuel pun kumat. Dia mengangkat kedua lengan dengan telapak terbuka lebar. Tangannya perlahan mendekat dan berhenti di depan gundukan padat yang naik turun karena tarikan napas. "Aku mau lagi, boleh?"


Amanda memalingkan muka dan menggigit tipis bibirnya. Dia sudah membayangkan apa yang akan terjadi dalam beberapa detik kemudian. "Jangan sentuh aku lagi!"


Samuel cengengesan dan berbicara tepat di depan wajah Amanda. "Apa kamu pikir, aku ini penjahat kelamin yang kerjaannya melecehkan perempuan-perempuan sepertimu?"


Kening Amanda mengerut, dia menolehkan kepala dan memberanikan diri untuk menatap Samuel. "Perempuan-perempuan sepertimu? Memangnya, aku perempuan seperti apa? Aku bukan wanita murahan! Aku juga bukan perempuan rendahan! Kenapa kamu selalu menganggapku hina, Sam?"


Amanda melepas sit belt dan ingin secepatnya keluar. Dia menarik-narik handle, tetapi pintu mobil tidak juga terbuka. "Buka kuncinya, aku mau keluar!!"


"Kiss me, first!" rajuk Samuel, menatap lekat netra Amanda. "Just once, kiss me, please...."


Amanda mendorong kening Samuel agar memberi jarak dengan wajahnya. "Es balok, gila!!"


"Gadis pepaya yang membuatku gila..." sahut Samuel mendekatkan kembali wajahnya.


"Kamu menggelikan, Sam!!" sembur Amanda, dengan kedua mata membola. "Sekarang buka pintunya! Kalau tidak, aku akan berteriak!!" ancamnya lantaran posisinya sudah sangat terpojok.

__ADS_1


"Teriak saja..." tantang Samuel, tersenyum miring.


"Oke, kalau itu yang kamu mau, jangan menyesal!" Amanda menoleh ke arah jendela lalu mulai berteriak-teriak seraya menepuk-nepuk kaca. "Tolong... tolong aku! Pria ini mau memerkosaku!"


"Tolong... tolong... siapa pun yang mendengarku, kumohon ... tolonglah aku!" teriak Amanda dengan lantang. Gerakan mulutnya menyita perhatian seorang security hotel yang berada di balik pintu. Pria dengan badan tegap itu, buru-buru beranjak keluar dari hotel dan berjalan cepat ke arah mobil yang terparkir di depan lobby tersebut.


Melihat sikap tanggap yang diperlihatkan oleh si pria berseragam. Samuel sontak menarik kepala Amanda lantas mencumbu bibir si gadis begitu saja. Dia memagut begitu lembut dengan penuh penjiwaan.


Security mengetuk-ngetuk kaca jendela. Samuel membukanya secara perlahan, tanpa melepas pagutan bibirnya meski Amanda meronta-ronta. Security hotel pun terlihat salah tingkah, dia mengusap-usap tengkuk leher lantaran melihat adegan panas di depannya.


"Ada apa?" tanya Samuel ketus.


"Ma-maaf saya mengganggu, tadi saya melihat Nona ini seperti meminta tolong. Jadi, saya bergerak cepat untuk memastikan apa yang terjadi," ungkap security.


"Tidak-tidak... saya yang seharusnya minta maaf atas sikap kekasih saya. Dia memang sedikit terganggu kesehatan jiwanya. Jadi, terkadang berteriak-teriak seperti tadi, tapi tenang saja ... saya sudah berhasil menenangkannya," jelas Samuel menarik lengan Amanda lantas mendekap dengan erat.


"..." Security mengangguk-anggukkan kepala. "Sebaiknya kalian berdua masuk ke kamar. Di sana kalian akan lebih bebas melakukannya ketimbang di dalam mobil," ujar security dengan kalimat ambigu.


"Oh... baik, Nona. Silakan dilanjut, kalau begitu!" Security tersebut lebih memilih untuk pergi secepatnya dari hadapan pasangan gila.


Samuel memainkan dagunya seraya memandangi tubuh Amanda dengan tatapan mendamba. "Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang penuh keringat! Aku sudah tidak sabar untuk menggoyangmu di dalam mobil ini!"


"Benarkah?" Amanda balik menantang dengan membungkukkan punggungnya. Dia semakin mendekat dan kini kedua dadanya berada tepat di depan wajah Samuel. Pemuda itu dibuat mati kutu oleh tingkah Amanda yang mendadak berani. Tubuhnya membeku, sementara gadis bernetra biru safir itu berhasil membuka kunci center mobil. "Ye... terbuka...."


Amanda bersigera keluar dari mobil, sebelum Samuel mengurungnya kembali di dalam kendaraan yang hawanya semakin memanas. "Terima kasih, Sam! Hati-hati di jalan ya... mmuaaah...."


Samuel masih saja melongo membayangkan pepaya mengkal yang selalu datang ke dalam mimpinya akhir-akhir ini. "Oh, God! Sepertinya, aku memang sudah gila...."

__ADS_1


...***...


Satu hari menuju sidang kedua Lucas Denver, Ivana beserta keluarganya bertolak menuju kota. Mereka dibawa oleh orang-orang kepercayaan Samuel karena esok pagi gadis itu akan menjadi saksi kunci dari kejahatan si mafia bangkotan.


Tiga kendaraan melaju secara beriringan, sedikit menyita perhatian orang-orang di sekitar sebab bentuk kendaraan tersebut yang berbeda dengan mobil biasanya.


"Kenapa bukan kapten Samuel sendiri yang menjemput kami?" protes Natasha pada orang suruhan Samuel.


"Mohon maaf, Nyonya. Kapten Samuel kerepotan di kota karena banyak hal terjadi di luar kendali," jawab orang suruhan Samuel tersebut. "Tapi kalian tidak perlu khawatir, kami semua akan menjaga kalian dengan sebaik mungkin," tambahnya dengan intonasi pasti.


"Kami hanya tidak ingin sesuatu terjadi pada putri kami," lirih Natasha sebab jantungnya terasa berdebar-debar.


"Sudahlah Mom... kita percayakan semuanya pada orang-orang ini. Daddy yakin, mereka adalah pasukan-pasukan terpilih," ujar Christ merengkuh pundak Natasha agar istrinya itu bisa lebih tenang.


"Betul apa yang Daddy katakan Mom. Kita pasti akan baik-baik saja," sambung Ivana menggenggam tangan ibunya. "Kita sudah sejauh ini meninggalkan desa dan tidak ada satu pun hal yang mengancam keselamatan, 'kan?"


Natasha mendengkus lanjut menarik kepalanya ke bawah. "Mommy hanya mencemaskanmu, sayang. Mommy takut sekali kehilangan kamu...."


"Semuanya akan baik-baik saja, Mom. Trust me!" Ivana menatap dalam manik mata kedua orang tuanya serta sang adik secara bergantian. "Setelah hari esok, semuanya akan kembali seperti semula. Kehidupan kita akan kembali normal dan kita semua akan pulang ke rumah. Tempat yang sangat aku rindukan...."


Natasha menggapai tubuh kedua anaknya dan membenamkan ke dalam pelukan. Dia menghujani kepala Ivana dan anak laki-lakinya dengan ciuman kasih sayang. Diikuti Christ yang turut memeluk dari belakang punggung Natasha.


"Apa pun yang terjadi, kita akan tetap bersama-sama," cetus Ivana dalam dekapan sang ibu.


"Tentu saja, sayang..." sahut Natasha.


"Janji?" tanya Ivana pada semua orang.

__ADS_1


Natasha, Christ dan adik bungsu Ivana menjawab pertanyaan gadis itu dengan serentak. "Janji...!"


...*****...


__ADS_2