
"Bagaimana?"
Matthew geleng-geleng kepala. "Tidak ada jawaban Mom...."
Allison mendesah dan memilin pundak sang anak. "Sekarang, tidurlah dulu, Nak. Besok pagi baru hubungi Amanda lagi. Kamu masih dalam masa pemulihan. Harus banyak-banyak istirahat...."
"Bagaimana bisa aku di sini tidur dengan nyenyak, sementara aku tidak tahu keberadaan Amanda...?!" lirih Matthew.
"Amanda gadis yang kuat, Mom yakin dia bisa menjaga dirinya sendiri." Allison menenangkan perasaan putranya.
"Sekuat-kuatnya Amanda, dia tetaplah seorang perempuan, Mom. Dia tidak punya siapa-siapa lagi, itu yang membuat aku merasa sangat bersalah." Kepala Matthew menunduk dengan helaan napas yang panjang.
Allison bisa memahami apa yang dirasakan Matthew. Namun, dia tidak bisa berbuat apa pun dengan masalah yang tengah dihadapi pemuda tersebut. Terlebih fokusnya saat ini adalah kesembuhan sang anak.
Cukup bagi wanita paruh baya itu melihat putra semata wayangnya bergulat dengan maut di atas meja operasi. Dia tidak ingin hal buruk terjadi lagi pada sang buah hati yang sempat terpisah dengannya selama dua puluh tahun.
"Mom mengerti perasaanmu, Nak... tapi kalau kamu sekarang tidak tidur, lalu jatuh sakit. Malah nanti tidak bisa mencari Amanda," ujar Allison, masih berusaha melunakkan sikap keras kepala putranya.
"Aku belum mengantuk, Mom," jawab Matthew singkat.
"Tapi ini sudah jam satu malam, Nak..." balas Allison khawatir.
"Mom tidurlah lebih dulu, aku ingin menelepon Amanda sekali lagi," kata Matthew.
"Ya sudah, sepuluh menit lagi kamu harus tidur. Bukankah besok pagi, kita akan mengunjungi daddy-mu di penjara?" tanya Allison.
Matthew menoleh sepintas lantas menganggukkan kepala. "Iya Mom, nanti aku tidur. Tidak perlu cemas...."
__ADS_1
Allison mendesah dan menepuk-nepuk pundak putranya. "Baiklah, Mom tidur duluan. Kamu juga tidur setelah ini, ya...?"
"Iya, Mom. Habis ini aku tidur..." sahut Matthew dengan senyuman yang terpaksa.
Allison turut tersenyum dan beringsut untuk beristirahat. Memberikan putranya itu sedikit waktu guna menuntaskan rasa penasaran yang masih saja memuncak. Karena sekeras apa pun dia berusaha untuk melunakan perasaan sang anak, sia-sia juga pada akhirnya.
Pemuda berlesung pipi memutar-mutar benda yang berada di genggaman. Pikirannya melambung, mengembara tak tentu arah. Timbul ketakutan di dalam diri akan kehilangan wanita yang telah menjalin hubungan dengannya selama bertahun-tahun.
Namun, di satu sisi lain. Bayangan tentang gadis polos nan manja, turut berkisar di dalam benaknya. Matthew berada dalam dilema, tidak dapat meneguhkan diri kepada siapa hatinya kini berlabuh.
"Ah... sebenarnya aku ini kenapa? Aku ingin memiliki kedua-duanya, begitu?" Matthew bertanya-tanya pada diri sendiri.
"Tidak, tidak, tidak. Aku mencintai Amanda. Ivana hanya anak kemarin sore yang sudah aku anggap adik!" Matthew masih saja menyangkal isi hatinya.
"Lebih baik, aku menghubungi Amanda sekarang!" Matthew memijit nomor kontak gadisnya. Akan tetapi, tidak dapat tersambung. "Apa Amanda memblokir nomorku? Ya Tuhan... kalau sudah begini, ke mana aku harus mencarimu, Amanda...?" Matthew menyugar pucuk rambutnya lanjut menarik sangat kencang.
Bayangan wajah Amanda serta Ivana, datang silih berganti. Mengacaukan pikiran, menjadikan keyakinan semakin mengambang bak terombang-ambing di tengah lautan lepas.
...***...
Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Seorang gadis yang terlelap di atas sofa, tidur dengan posisi tubuh meringkuk. Kedua tangan menutupi lengan. Dia menggigil kedinginan lantaran udara menjelang pagi mencapai lima derajat celcius.
Seorang pria yang tidak sengaja terjaga, beranjak dari atas kasur. Langkah kaki menuntun dirinya menuju pintu kamar. Ntah mengapa, hatinya mengatakan aku harus keluar. Aku harus mengecek kondisi gadis yang sedang tidak baik-baik saja. Dan benar saja, netra langsung tertuju pada sosok yang terbaring kedinginan di atas sofa.
"Amanda..." lirih Samuel, bergegas menghampiri wanita yang namanya dia sebut. Tanpa berpikir panjang, dia mengangkat tubuh ringan sang gadis dan membawanya ke dalam kamar. "Maafkan aku..." Samuel menurunkan Amanda ke atas ranjang dan menutupinya dengan selimut tebal.
Bibirnya tersungging tipis. Jemari tangan menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Amanda. Samuel lagi-lagi tersenyum, menatap tiada jemu paras gadis yang tengah berkelana dalam mimpi indahnya.
__ADS_1
"Kamu sangat cantik, Amanda. Kamu juga wanita yang baik. Namun, dunia kita berbeda. Aku tidak mungkin menikahi istri orang," gumam Samuel.
Samuel tertegun karena ketika terpejam seperti ini, Amanda nampak lebih memesona dan menggairahkan tentunya. "Ah... otakku kenapa selalu miring kalau berada dekat dengan wanita ini?!"
"Ayo ingat Sam, ingat... wanita ini milik pria lain!!" gumamnya, menepuk-nepuk kepala sendiri. "Tapi, 'kan, sebentar lagi suaminya akan mati. Jadi, dia akan menyandang status janda?" sambung Samuel, bermonolog.
Amanda yang semula terbaring dengan posisi terlentang, tiba-tiba bergerak dan tidur dengan posisi miring. Wajahnya begitu rapat dengan wajah Samuel. Pemuda itu sontak tersipu lantaran bibirnya hampir beradu dengan bibir Amanda.
"Oh, My Gosh... godaan apa lagi ini?" keluh Samuel, menatap bibir merah delima milik Amanda. "Tahan Sam... tahan...!! Kuatkan hasrat kelelakianmu, jangan gampangan...!!" Samuel mengatup mata, menghindar dari memandang keindahan paripurna. Namun, kata hati mengatakan sebaliknya.
Pemuda bermata cokelat itu tak tahan dengan bibir tak bergincu yang seolah melambai-lambai untuk dikecup dan dinikmati. Dan dalam sepersekian detik, bibirnya kini menempel di atas bibir Amanda.
"Bibirmu dingin sekali, Amanda. A-aku hanya ingin menghangatkanmu. Jadi, jangan berpikir macam-macam ya?" Samuel mengajak bicara Amanda, padahal gadis itu masih tertidur.
Kecupan kedua pun mendarat, lebih lama dan lebih diresapi. Kebahagiaan terukir dari wajah Samuel, ketika jarinya membelai lembut bibir Amanda. Ntah apa yang dipikirkan pemuda itu sekarang ini sebab seutas senyuman tak jua surut serta tatapan tak lepas dari paras sang gadis.
"Aku sepertinya sudah gila! Kau dan semua yang kau miliki, membuatku gila, Amanda!!" Samuel bergegas menjauh, keluar dari kamar gadis tersebut sebab dia takut tidak bisa mengendalikan gairah yang melesak kuat ke dalam dirinya.
Selepas Samuel keluar dari kamar dan menutup pintu kembali, Amanda langsung terperanjat. Dia duduk tegang dengan jemari membelai bibirnya sendiri. Dua kecupan yang diberikan pemuda itu masih hangat terasa. Dia tersenyum sendiri bak orang yang hilang kewarasan.
"Ya Tuhan... Sam mencium bibirku lagi?" gumam Amanda, perasaannya campur aduk.
Sebetulnya gadis itu terbangun ketika Samuel memindahkannya ke kamar. Namun, dia pura-pura terlelap sebab perasaan malu yang teramat sangat. Dan rupanya, pemuda tersebut diam-diam mengecup bibirnya, bahkan hingga dua kali.
"Ayolah Amanda, sadar-sadar!!" Amanda menampar pipinya sendiri. "Urusanmu dengan Matthew juga belum selesai. Jangan menerima orang lain di hatimu. Lebih baik, kamu fokus pada hidupmu yang acak-acakkan ini!!!" Amanda mendengkus lantas melanjutkan tidur yang sempat terjeda.
...*****...
__ADS_1