Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 65 Kedatangan Polisi


__ADS_3

Malam yang penuh ketegangan dan juga drama, akhirnya terlewati sudah. Disambut oleh pagi yang penuh asa akan masa depan. Meski, saat ini segalanya terasa suram. Namun, akan selalu ada setitik cahaya pada orang-orang yang tidak putus bermimpi serta berusaha.


Seorang wanita terbaring di atas ranjang serba putih, tertidur pulas bak sesosok bayi dalam pelukan ibunya. Suara deringan jam weker serta bias cahaya matahari, tidak mampu menggoyahkan tubuhnya dari rasa nyaman. Dia terlalu enggan meninggalkan dunia mimpi dan kembali ke dunia nyata.


"Amanda, sayang... bangunlah..." Lucas membelai pipi sang istri sembari turut terbaring dengan posisi miring. Belaiannya turun ke atas bibir tak bergincu lanjut mengecupnya. "Ayo bangunlah, aku merindukanmu...."


Lucas menelusupkan tangannya ke dalam piyama sang istri lanjut meremass benda kesukaannya yang tidak tertutupi bra. Kedua mata merem melek, membayangkan bila kejantanannya kembali pecah karena jepitan dada yang sangat menggoda.


"Bangun Amanda... sekarang sudah jam sembilan. Kenapa kamu tidur bagaikan seonggok bangkai?" Lucas mulai tidak sadar dan membuka satu per satu kancing piyama wanitanya. Dia melucutkan celana panjang dan dalamnya lalu mengeluarkan miliknya yang sudah tegak berdiri.


Lucas menduduki tubuh Amanda dan meletakkan ke-maluannya di tengah-tengah payudaraa indah. Tangannya menekan kedua aset mengkal itu. Sementara panggulnya, mulai maju mundur memainkan kejantanann yang tengah ereksi sempurna.


"Sedang apa kamu, Lucas?" Amanda terbangun dan melihat suaminya tengah mendudukinya sontak menyerang dengan mencakar lengan Lucas.


"Aku sedang mencari kepuasan," jawab Lucas singkat.


Pria tua tak tahu diri itu tidak mempedulikan Amanda yang menjerit-jerit. Dia asyik mengerang dan mendesahh seraya menggerak-gerakkan miliknya di tengah-tengah aset Amanda. Dia terus mengayunkan panggul, meski kedua lengannya saat ini dipenuhi oleh luka cakaran.


"Dadamu enak sekali sayang..." racau Lucas, parau. Namun, seperti biasa dalam hitungan tidak lebih dari sepuluh detik. Miliknya sudah menyemburkan lahar panas ke atas dada sang istri dan seketika itu juga keperkasaan kebanggaannya langsung kembali keukuran semula.


"Ah..." desahh Lucas membantingkan tubuhnya ke atas ranjang. "Kenapa aku semakin payah saja?" keluhnya, lalu memejamkan mata dan tidak lama setelah itu tertidur pulas. Terdengar suara dengkuran yang keluar dari mulut lebarnya, menandakan bahwa dia benar-benar lelap.


"Aku mimpi apa semalam?" Amanda menyeringai jijik dan cepat-cepat beranjak dari tempat tidurnya untuk membersihkan tubuh yang terasa lengket karena tetesan spermaa. "Baru juga bangun tidur, sudah mendapat kesialan!!" rutuk Amanda, berjalan lunglai menuju kamar mandi.


...***...

__ADS_1


"Lucas... Lucas..." panggil Bellen ke sana ke mari. Dia nampak begitu panik, hingga hampir terjatuh berkali-kali. "Lucas, kamu di mana? Cepatlah turun!! Ada polisi mencarimu!!" teriak Bellen menaiki eskalator.


"Lucas... jawab aku Lucas... yuhu...!!" teriak Bellen lagi sebab masih saja tidak ada jawaban dari suaminya itu. "Ya Tuhan... di mana bedebah tua itu berada?" Bellen mengurut keningnya seraya berjalan ke sana ke mari.


Lavina keluar dari kamar dan menyapa madunya. "Ada apa Bellen? Kenapa pagi-pagi buta sudah berteriak-teriak? Apa kamu tidak punya etika?"


Bellen menghentakkan kaki lalu memutar badan dan berjalan menghampiri Lavina. "Jaga moncongmu itu Lavina! Aku teriak-teriak lantaran mencari suami kita. Aku tidak menemukannya di mana pun. Pembantu istana ini juga tidak ada satu pun yang melihatnya!"


"Memangnya ada apa mencari Lucas? Kenapa kamu seperti habis dikejar setan?" tanya Lavina memperhatikan wajah Bellen yang dibasahi oleh keringat.


Bellen mencebikkan bibir. "Aku mencari Lucas, bukan mau diinterogasi oleh kamu. Kalau kamu tidak tahu di mana dia, lebih baik mingkem saja! Ocehanmu membuat kepalaku ingin meledak rasanya!!"


Lavina mengerutkan kening dengan sikap Bellen yang sangat ceweret terhadapnya. "Suamimu ada di kamar istri barunya sejak tadi pagi."


"What? Di kamar Amanda maksudmu? Kenapa tidak bilang dari tadi? Oh, God... kamu membuang-buang waktuku saja, Lavina tolol!!" cibir Bellen menubruk bahu madunya dan berjalan menuju kamar yang letaknya berseberangan dengan kamar Lavina.


Sesampainya di kamar Amanda, Bellen menggedor-gedor pintu seraya memanggil nama suaminya. "Lucas... buka pintunya, Lucas!!"


Bellen menarik kenop ke bawah dan pintu kamar pun terbuka dengan lebar. "Tidak dikunci ternyata!"


Istri keempat Lucas tersebut masuk ke kamar Amanda tanpa permisi dan mendapati suaminya tengah terlentang dengan bagian bawah tubuhnya terekspos tanpa sehelai benang pun.


"Astaga... si tua bangka, habis bersenang-senang dengan si wanita jalangg rupanya," gerutu Bellen menarik ke-maluan Lucas.


Pria itu pun langsung saja terbangun sebab merasakan rasa ngilu di tengah-tengah selangkangannya. "Apa yang kamu lakukan, Bellen?"

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan, Bellen?" ulang Bellen, mengerecutkan bibir. "Harusnya aku yang bertanya. Apa yang kamu lakukan di sini Lucas? Sementara di depan sana beberapa orang polisi sedang mencarimu!" jelas Bellen pada Lucas.


Terungkap sudah alasan di balik sikap Bellen yang gusar dan terus menggerutu. Rupanya ada hal pelik tengah menanti dan siap menyeret sang suami ke dalam masalah besar.


"Polisi?" tanya Lucas tenang. "Ah... maksudmu inspektur Gibson atau orang suruhannya?" tanyanya lagi, beringsut dari atas ranjang dan mengenakan kembali celananya tanpa rasa beban.


Bellen geregetan dengan sikap Lucas yang bisa setenang ini. Hingga mulutnya kelu untuk berkata-kata. "Lucas, dengarkan aku dulu!!"


"Bicaralah..." Lucas menarik resleting celana dan menautkan kancingnya.


"Polisi yang datang mencarimu bukan si gendut ataupun anak buahnya. Melainkan dari kepolisian pusat dan yang mencarimu namanya kapten..." Bellen menjentik-jentikkan jarinya mengingat nama pria yang memperlihatkan surat perintah untuk menangkap Lucas. "Namanya... ah... kapten Samuel Arbecio!" tegas Bellen.


"Samuel Arbecio?" tanya Lucas memastikan.


"Iya... Samuel Arbecio," jawab Bellen, dengan napas yang masih tersengal-sengal.


"Bocah sialan itu, berani menangkapku?" Lucas terbahak-bahak dan memasukkan pistol ke dalam saku celananya. "Apa dia tidak tahu, kalau aku siapa?" tandasnya meremehkan.


Bellen mendengus kesal. "Kebiasaan, mulutmu terlalu kebanyakan omong kosong, Lucas! Lebih baik kamu turun sekarang, lalu temui pria yang kamu sebut bocah sialan tadi!!"


Di waktu bersamaan, Amanda keluar dari kamar mandi dan mengisyaratkan kebingungan. "Ada apa kalian ramai-ramai di kamarku?"


"Kamu tidak perlu tahu dan tidak usah ikut campur!" sahut Bellen pada Amanda. Dia membetot lengan Lucas lanjut menggiringnya. "Ayo! Sebelum polisi-polisi itu mencarimu sendiri ke kamar ini!" sentak Bella pada sang suami.


Lucas menarik lengannya dari cekalan Bellen. "Lepas! Aku bisa jalan sendiri!!"

__ADS_1


Lucas berjalan cepat keluar dari kamar beserta Bellen di sampingnya. Dan disusul dengan Lavina di belakang. Amanda yang tidak mengerti apa-apa hanya termenung seraya bertanya-tanya di dalam kepala.


...*****...


__ADS_2