
"Menangis? Ti-tidak, aku tidak habis menangis," Amanda memalingkan muka.
"Kau berbohong!" tuduh Samuel.
"Tidak! Lagi pula untuk apa aku berbohong?" kelit Amanda.
"Untuk menutupi rasa malu," jawab Samuel sekenanya.
"Ish... sok tahu!" ketus Amanda.
"Aku memang tahu," sahut Samuel.
"Kalau hanya ingin membuatku kesal, lebih baik kau pulanglah!" usir Amanda.
"Kopiku belum habis." Samuel memperlihatkan isi cangkir kopinya.
"Alibi!!!" cibir Amanda.
Samuel hanya terkekeh dengan sikap ketus Amanda. "Kalau kamu butuh sesuatu untuk bersandar, pundakku siap menjadi sandaranmu...."
__ADS_1
Amanda memutar bola matanya malas. Dia menyalakan televisi untuk menonton berita terkini dan yang muncul di berita utama adalah wajah Samuel. "Astaga... kau membuatku semakin tidak waras, Sam!"
"Kenapa memangnya?" sahut Samuel, menarik remote dari genggaman Amanda menambah volume suara.
"Kamu ada di mana-mana." Amanda menghela napas.
"Aku tidak ada di mana-di mana, tapi hanya di dalam satu tempat," balas Samuel.
"O yeah? Di mana itu?" tanya Amanda.
"Di hatimu..." goda Samuel.
"Ayolah, Sam. Joke-mu itu amat menjijikkan!" Amanda melipat kedua tangannya.
Amanda mendengus dan beranjak dari atas sofa menuju pintu ruang tamu. "Sudah larut malam, kau pulanglah! Aku ingin tidur, aku lelah...."
"Aku juga sama ingin tidur, aku lelah." Samuel mengikuti ucapan Amanda. Dia beringsut, tetapi bukanlah menuju pintu ruang tamu. Melainkan ke arah kamar Amanda.
Kedua biji mata Amanda membola, melihat Samuel berjalan ke tempat yang berlainan arah. "Hey Sam, itu kamarku!!"
__ADS_1
Samuel berhenti sesaat dan menyahuti teriakan Amanda. "Malam ini aku tidur di kamarmu. Kamu bisa tidur di kamar lain atau kalaupun ingin tidur bersamaku, akan dengan senang hati."
"Whattt?" pekik Amanda. "Itu kamarku. Kau pulanglah, Sam...!!"
Samuel tidak memedulikan ocehan Amanda dan dengan cueknya, dia masuk ke kamar gadis itu bak kamarnya sendiri. Pintu ditutup rapat, meredam teriakan Amanda yang memekikkan telinga.
"Sam... keluar Sam...!!" Amanda menggedor-gedor pintu. "Baju-bajuku ada di dalam, aku ingin ganti baju...!" teriak Amanda yang tidak mendapat sahutan.
Pria yang berada di dalam kamar, menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan menutupi kedua telinga menggunakan bantal. Lima menit kemudian, dia pun terlelap karena rasa letih yang menyergap.
Sementara Amanda, masih belum menyerah dengan terus saja menggedor pintu dan berteriak. Meski Samuel tidak lagi terdengar suaranya. "Sam, buka dulu pintunya! Aku ingin mengambil underware-ku...."
"Sam... hallo, Sam!! Apa kamu sudah mati?!" pekik Amanda, jengkel.
Setelah lima belas menit tidak ada jawaban, Amanda terpaksa mengalah karena rasa kantuknya yang semakin berulah. Dia berjalan lunglai ke arah sofa. Namun, bukan untuk membaringkan badan. Melainkan mengecek ponsel yang sejak siang tadi tidak ingin dia lihat. Dan benar saja, berpuluh-puluh pesan masuk serta panggilan tak terjawab dari nomor telepon kekasihnya.
"Matthew? Mau apalagi dia menghubungiku?!"
Amanda membaca satu per satu pesan masuk yang dikirimkan Matthew. Perasaannya kembali tersakiti, walau ribuan maaf dari pemuda itu untuknya. Namun, tidak mampu mengobati rasa sakit hati karena mengetahui fakta bahwa sang kekasih tak lagi mencintai dirinya.
__ADS_1
"Apa aku blokir saja ya nomornya?" Amanda menimbang-nimbang, apa yang harus dia lakukan sekarang sebab pikirannya masih terlalu kacau. Sulit untuk berpikir jernih dan terarah. Dia butuh waktu untuk merenungkan semua yang terjadi. Dan mengambil keputusan penting, pergi atau kembali.
...****...