Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 59 Kamu Jahat, Samuel


__ADS_3

"Makan!!" suruh Samuel pada Ivana. Gadis itu geleng-geleng kepala seraya mendorong piring makan yang disodorkan kepadanya.


"Ayo makan! Jangan bertingkah seperti anak kecil!!" sentak Samuel, tidak bisa bersikap lebih sabar dalam menghadapi gadis seusia Ivana.


Ivana melipat kedua bibir dengan mata berkaca-kaca menahan tangis kesedihan. Sebab hatinya terlalu rapuh, tidak kuat menerima perlakuan kasar Samuel terhadapnya.


"Kenapa kamu jahat sekali? Kamu tidak seperti Matthew, dia sangat baik dan lembut padaku..." protes Ivana terdengar lirih.


"Matthew, Matthew dan Matthew yang kamu sebut. Sudah berapa kali aku katakan, aku tidak mengenal lelaki dengan nama aneh itu!" sentak Samuel membanting piring hingga isi di atasnya berhamburan.


Tangis Ivana pecah, gadis itu meraung-raung bagaikan anak kecil. "Aku mau pulang. Kembalikan aku pada Matthew...!"


Seorang wanita yang mengenakan kaca mata, masuk ke dalam kamar dan menyuruh Samuel untuk keluar. "Biar aku saja yang membujuk gadis ini. Kamu keluarlah dan ambilkan piring makan baru buat Ivana."


Meski Samuel enggan beranjak. Namun, perkataan perempuan itu seakan sebuah mantra yang menyihirnya begitu saja. "Baiklah... tolong beri anak itu pengertian."


Perempuan berkaca mata itu mengangguk pasti. "Itu adalah bagianku. Sekarang, ambilkan makanan untuknya!"


Tanpa sanggahan apa pun lagi, Samuel beranjak menuju dapur. Meski mulutnya komat-kamit sebab masih merasakan jengkel akan tingkah Ivana yang begitu manja.


Wanita muda itu tersenyum ramah lalu menghampiri Ivana dan duduk di depannya. Menatap hangat dan mulai berbicara dengan sangat lembut. "Maafkan Samuel, dia sebetulnya baik. Hanya mungkin karena profesinya yang sering berhadapan dengan orang-orang kriminal, membuat dia sekasar itu."


Ivana mendesah dan mengangguk kecil. "Tapi aku belum mengerti, kenapa aku dibawa ke mari? Aku bersama Matthew aman-aman saja. Kami tinggal di tempat terpencil yang tidak seorang pun tahu."

__ADS_1


"Nah itu, Samuel bisa tahu," jawab si wanita tersenyum tipis. "Dia datang di waktu yang tepat," tambahnya lalu membersihkan makanan yang berserakan.


"Dia, 'kan, orang aneh. Makanya tahu tempat persembunyianku dengan Matthew," sanggah Ivana. Ntah mengapa bila berada dekat pria itu dia bersikap dewasa, tapi di hadapan Samuel dan orang-orang asing ini, dia menjadi kolokan.


Wanita tersebut tertawa kecil. "Samuel memang aneh sih. Andai saja dia bukan teman karibku, sudah aku jadikan makanan ikan hiu."


Ivana tergelak mendengar lelucon yang menurutnya lucu. Namun, dia sontak mengatup mulut sebab Samuel masuk ke kamar seraya menatap curiga.


"Kalian menggosipkanku?" tanya Samuel, memberikan wadah berisi makanan pada wanita berkaca mata di depannya.


"Bukan urusanmu!" sahut si wanita lalu tertawa geli. Pasalnya kalimat itu adalah kalimat pamungkas yang sering sekali diucapkan oleh Samuel.


Samuel berdecak sebal lalu melengoskan muka. Memilih untuk cepat-cepat menjauh dari kedua perempuan di depannya, sebelum suasana hati bertambah runyam.


"Aku belum tahu namamu," ucap Ivana tiba-tiba.


"Ya?" sahut si wanita. "Ah... namaku Jeanny," jawabnya, tersenyum manis.


"Apa kamu kekasih pria aneh itu?" tanya Ivana lagi, mengerutkan kening.


Jeanny tidak menjawab pertanyaan Ivana. Namun, dari senyum simpul yang terukir di bibirnya cukup menjelaskan bagaimana perasaan wanita itu, terhadap lelaki yang membersamainya beberapa bulan ini.


"Sekarang, kamu makan dulu ya. Mau makan sendiri atau aku suapi?" tanya Jeanny menyorongkan sepotong roti berselai kacang ke mulut Ivana.

__ADS_1


Gadis itu mendengkus dan menarik roti tersebut dari tangan Jeanny. "Makan sendirilah, aku bukan anak kecil!"


"Bagus..." Jeanny mengusap-usap pucuk kepala Ivana, memberi kenyamanan pada hati gadis itu.


Sementara di luar kamar, Matthew nampak mondar-mandir tidak tenang. Sesekali kepalanya menengok ke arah pintu yang tertutup. Dia sudah tidak ingin menunggu lebih lama lagi, untuk menggiring Lucas ke pengadilan dengan menggunakan Ivana sebagai kunci dari kejahatan utama pria itu.


Beberapa saat kemudian, Jeanny telah menyelesaikan tugasnya. Dia menghampiri Samuel yang terlihat gusar. "Gadis itu sudah tenang. Aku minta, bersikap lebih lembutlah padanya. Dia bukan penjahat yang harus diinterogasi secara kasar dan ditekan terus-terusan. Kita tidak tahu, 'kan, apa yang sudah anak itu alami?"


Samuel menghela napas lalu meletakkan salah satu tangannya ke atas pundak Jeanny. "Aku hanya terlalu risau."


"Aku mengerti posisimu." Jeanny tersenyum manis.


"Terima kasih Je, kamu selalu bisa kuandalkan." Samuel tersenyum tak kalah manis.


Jeanny menepuk-nepuk punggung tangan Samuel. "Itulah gunanya teman...."


Bibir yang mengerucut, mendatar kembali. Dan senyuman lebar terpatri di wajah tampan nan maskulin. "Baiklah... aku mau bicara dengan anak itu lagi. Aku tidak bisa menunggu lebih lama. Karena para penjahat itu, lambat laun pasti akan mengetahui keberadaannya di sini."


Jeanny mengiyakan. "Ingat pesanku tadi, Sam!" Turunkan tensi dan egomu kalau ingin mendapatkan hati gadis itu."


"Iya-iya, bawel...!" Samuel menjemel kedua pipi Jeanny lanjut mengacak-acak rambutnya. "Aku masuk sekarang ya...."


Wanita muda itu mengulum senyum dan mengerdipkan mata. Mendapat persetujuan melalui bahasa tubuh, Samuel langsung saja beranjak dari hadapan teman karibnya itu. Sebab dia tidak ingin membuang-buang waktu barang semenit pun. Karena semakin lama dia bergerak, maka Lucas akan semakin sulit untuk disentuh.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2