Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 87 Tunggu!!!


__ADS_3

"Ayo angkat teleponku...!!" geram Samuel mencoba menghubungi salah satu anak buahnya untuk kesekian kali. Namun, tetap saja tidak ada sahutan. "Ya Tuhan... apa mereka gagal menyelamatkan Ivana?" Samuel mondar-mandir, memilin pangkal hidungnya. Dia begitu gusar lantaran waktu semakin menyempit.


Terdengar dari dalam ruang sidang, suara panitera yang memanggil saksi. Pria bernetra cokelat itu pun menghela napas lalu beranjak untuk kembali ke tempat semula.


"Apa aku sudah kalah?" Samuel berjalan lunglai, lanjut menatap nanar ke sekeliling ruangan. Napasnya terasa kian berat, meski tak seberat kenyataan yang akan di hadapinya di depan mata.


"Bagaimana penuntut umum?" tanya hakim untuk terakhir kalinya, sebelum sidang hari ini resmi ditutup.


Penuntut umum menoleh ke arah Samuel dan lagi-lagi gelengan kepala yang dia dapatkan. "Maaf Yang Mulia, saksi kami belum tiba juga."


Hakim melirik ke arah jam dinding dan waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Sidang yang seharusnya selesai pukul sepuluh, harus mulur dari waktu yang telah ditentukan.


"Lihat Yang Mulia! Mereka semua adalah pendusta, bersengkongkol untuk menjebak saya!" tuduh Lucas, menunjuk ke arah Samuel lantas ke muka Amanda. "Dan perlu Yang Mulia ketahui, dua orang ini adalah sepasang kekasih. Mereka sengaja mencari cara agar saya dipenjara, jadi mereka bisa dengan bebas menjalin hubungan. Tapi sayangnya mereka lupa kalau Tuhan tidak tidur. Tuhan akan bersama orang-orang baik," tandas Lucas berkilah, seperti seorang korban.


"Tutup moncongmu itu, Lucas...!" berang Samuel, bersiap untuk memberi pria tua itu pelajaran. Akan tetapi, kedua lengannya dicekal oleh dua orang petugas keamanan.


"Tenangkan diri Anda, Kapten..." pinta dua anggota polisi tersebut.


"Yang Mulia, berkas-berkas yang sudah saya ajukan. Apa masih kurang kuat untuk dijadikan alat bukti?" tekan Samuel pada hakim ketua. "Bukankah, semua itu sudah cukup mewakili akan kejahatan si terdakwa?" tanyanya, berjalan ke arah meja hakim.


Lucas tergelak, menertawakan ketidak berdayaan Samuel melawan kuasanya. "Sudahlah Kapten, menyerah saja. Kejahatan tidak akan pernah menang melawan kebaikan! Sehebat apa pun Anda merancang semua ini, Anda akan tetap kalah. Dan simpan baik-baik mimpi Anda untuk merebut istri saya!"


"Saudara Lucas dan Kapten Samuel, kami minta tetap tenang!" tegur hakim pada dua pria yang terlibat keributan. "Dan untuk berkas-berkas yang Anda berikan pada kami, semuanya palsu," ungkap hakim, terdengar bak angin segar di telinga Lucas. Namun, sebuah bencana bagi Samuel.


"Ini tidak mungkin, Yang Mulia! Jelas-jelas waktu itu pihak kami sudah mengeceknya dan semua berkas yang saya berikan, terbukti keabsahannya!" pekik Samuel, tidak dapat menerima kenyataan yang membingungkan ini.

__ADS_1


"Tapi pihak kami sudah memeriksa berkas-berkas yang Anda berikan dan semuanya, palsu! Silakan Anda cek kembali, kalau tidak percaya!" Hakim melempar berkas itu ke atas meja.


Samuel menilik satu per satu berkas tersebut dan kedua matanya membola lantaran lembaran kertas yang dipegangnya saat ini jelas berbeda dengan surat-surat yang dia kirimkan kepada pihak pengadilan. "I-ini tidak mungkin, Yang Mulia. Pasti ada seseorang yang menukarnya!"


"..." Lucas berdecih. "Anda tidak bisa berkelit lagi Kapten Samuel," cibirnya merasa puas.


"Lalu, mana keadilan bagi ayah saya yang mati karena dibunuh oleh si bedebah ini?" lirih Amanda yang turut putus asa. Harapan hanyalah tinggal harapan sebab takdir tengah mempermainkan hidupnya kembali.


"Foto yang Anda tunjukkan pada kami tidak bisa dipastikan kebenarannya sebab hanya memperlihatkan gambar ayah Anda yang tewas mengenaskan, bukan bukti pembunuhan yang dilakukan saudara terdakwa," jelas hakim akan selorohan Amanda.


Gadis berambut cokelat itu terkekeh. Namun, wajahnya memerah karena sekuat hati menahan amarah serta kesedihan. "Apakah mata dan hati Anda sudah tertutup oleh lembaran uang, Yang Mulia? Apa keadilan telah tergadai demi nafsuu syahwatt keduniaan?"


"Jaga bicara Anda Nyonya Amanda!" geram hakim akan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan perempuan di hadapannya.


"Kenapa Yang Mulia? Apa Anda merasa tertekan saat ini? Apa Anda merasa malu kalau sampai aib Anda dibongkar di muka pengadilan?" sinis Amanda, tiada gentar. Meski beberapa senjata api kini ditodongkan ke arahnya.


Dua orang pria berseragam lengkap, menghampiri Amanda lantas memegangi lengannya. "Ikut kami Nyonya."


"Tunggu!" pinta Lucas, tiba-tiba. "Biarkan istri saya di sini dulu hingga beberapa saat. Dia harus menyaksikan bagaimana kebaikan akan menang di mata hukum!" ucapnya lagi penuh omong kosong.


Hakim mengabulkan permintaan Lucas dengan memberi kesempatan Amanda untuk menonton drama menjijikkan di hadapannya sampai selesai.


"Melihat bukti-bukti serta mendengar kesaksian saksi, maka dengan ini pengadilan memutuskan bahwa saudara Lucas Denver Alonzo terbebas dari seluruh dakwa—"


"Tunggu!!!" pekik seseorang memutus ucapan hakim. "Saya memiliki berkas-berkas yang asli!" ucapnya seraya menuntun seorang wanita di sampingnya.

__ADS_1


"Matthew..." gumam Amanda, berbinar-binar. Kebahagiaan yang terpancar dari matanya tidak dapat disembunyikan. "Nyonya Allison, Anda...?"


"Iya, Nak... saya di sini. Dan saya akan menjadi saksi atas kejahatan suami saya," sahut Allison tersenyum pasti.


Matthew menghampiri pihak pemeriksa alat bukti perkara, lalu memberikan berkas-berkas yang dia bawa. "Silakan diperiksa!"


"Dan Yang Mulia, izinkan kami memberikan kesaksian. Wanita yang berdiri di belakang saya bernama Allison Elizabeth. Dia istri pertama si terdakwa, yang dua puluh tahun lamanya disekap dan dikabarkan telah meninggal dunia," kata Matthew menjulurkan tangannya ke arah Allison.


Hakim sudah merasa terpojok dan tidak bisa lagi berkutik sebab nama baiknya benar-benar dipertaruhkan saat ini. "Pengadilan mengizinkan. Untuk saksi, silakan naik ke atas podium."


"Terima kasih Yang Mulia," ucap Matthew, sumringah.


"Mari Mom. Ikut aku..." Matthew menuntun tangan sang ibu dan membawanya ke podium khusus saksi.


Kepala Lucas berkisar, mengikuti ke mana arah wanita yang masih menjadi istrinya itu berjalan. Kelopak matanya hampir sama sekali tidak berkedip, terbungkam oleh kejutan yang tidak sama sekali terbayangkan selama ini.


"Allison, kau ada di sini?" gumam Lucas melongo, bak melihat hantu. "Ta-tapi bagaimana bisa? Siapa yang sudah membebaskannya dari gudang itu?" Lucas bertanya-tanya tanpa mengalihkan tatapannya.


"Siap-siap mendapatkan karmamu, Lucas!" cibir Matthew, duduk di kursi kosong tidak jauh dari tempat sang ayah berdiri.


Lucas menoleh, lalu mengacungkan jari tengah ke arah putranya. "Diam saja kau bocah tidak tahu diri!!"


"Saudara terdakwa dan saudara Matthew, persidangan akan segera dilanjutkan. Kami mohon untuk Anda berdua tidak membuat kegaduhan," tegur hakim lantaran percekcokan ayah dan anak itu menjadi pusat perhatian orang-orang.


"Silakan dilanjutkan Yang Mulia," balas Matthew menyilangkan tangan. Pandangannya beralih pada Allison dan berhenti pada paras wanita yang dia cintai.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2