
📱
Samuel
Tumben menelepon, ada apa?
Pasti ada maunya, 'kan?
Ann
(Terkekeh)
Aku mau minta tolong nih...!
Samuel
Sudah kuduga!
Ann
Ini penting, menyangkut nyawa seseorang!
Samuel
(Terdiam sesaat)
Soal?
Ann
Sahabatku. Ayahnya baru saja meninggal, dibunuh oleh suaminya. Kamu bisa bantu dia, 'kan, untuk mengusut kasusnya?
Samuel
Siapa nama sahabatmu? Dan tinggal di mana? Apa ada sesuatu yang bisa dijadikan barang bukti?
Ann
Namanya Amanda Shawnette. Dia sekarang tinggal di Magnolia Village. Nama suaminya....
Samuel
Lucas Denver Alonzo?
Ann
__ADS_1
Bagaimana kamu bisa tahu? Apa kamu mengenal sahabatku?
Samuel
Sangat
Ann
Benarkah?
Samuel
Menurutmu?
Ann
Kebetulan kalau begitu. Kumohon, selamatkan sahabatku. Dia membutuhkan pertolongan...
Samuel
Itu bukan urusanku!
Ann
Ta-tapi...
Pemuda misterius itu tiba-tiba memutus sambungan telepon sepupunya. Dia mendengkus kasar lalu menghadapkan wajah ke arah perempuan cantik berwajah sayu yang duduk sendirian di tepi danau. Terlihat sekali kalau perempuan itu tengah berduka. Tubuhnya dibalut pakaian serba hitam, serta lingkaran mata yang semakin menghitam.
Pemuda tersebut menyunggingkan senyuman tipis disertai tatapan sinis, kemudian berjalan lurus ke arah perempuan itu. Tanpa mengucapkan permisi, dia duduk begitu saja di samping sang gadis cantik. Lalu melempar sebutir kerikil yang ada di genggaman ke tengah-tengah danau.
"Kita tidak pernah tahu akan rencana yang telah Tuhan persiapkan untuk kita. Terkadang kita berpikir... Tuhan tidak adil. Tapi, kita tidak pernah sadar kalau selama ini seringkali mengecewakan-Nya. Di saat kita bahagia, kita lupa pada Tuhan. Di saat kita mendapat kesedihan, tiba-tiba menyalahkan Tuhan. Menggelikan memang, manusia itu," papar si pemuda tanpa diminta.
Amanda menghela napas lalu menoleh ke samping. Menatap netra lelaki yang tengah menatapnya juga. Matanya begitu sembab, tetapi masih terlihat dengan jelas kalau dia marah, dia kesal jua frustrasi. "Ada yang mengizinkanmu duduk di sini? Tempat ini luas... kamu bisa duduk di mana saja yang kamu, tapi tidak di sampingku!"
"Tapi aku ingin duduk di sini. Bersama wanita cantik. Secantik bunga raflesia arnoldi," seloroh pemuda itu memasang wajah polos nan menggemaskan.
Amanda tertawa hambar seraya geleng-geleng kepala karena celotehan absurd lelaki tersebut, kemudian membelalakkan mata. "Dasar gila!!!"
Pemuda tersebut menarik kedua pundaknya ke atas lantas menatap lekat manik mata Amanda. "Aku memang gila. Tergila-gila sejak pandangan pertama."
Amanda seakan tersihir akan pesona pemuda di sampingnya. Untuk sepersekian detik tubuhnya membeku, sorotan mata pun meredup. "Matthew...."
"Matthew? Namaku bukan Matthew, tapi Samuel!" sergah pemuda itu tidak suka karena Amanda menyebutkan nama lelaki lain.
"Matthew kekasihku, tingkah tengilmu mengingatkanku padanya," jawab Amanda tersenyum simpul. Namun, berubah kecut dalam satu waktu. Dia menggulirkan kepala, lalu menatap hampa ke arah danau.
__ADS_1
Samuel tertegun, lantas turut menatap danau dengan tatapan kosong. Tragedi lima tahun lalu tiba-tiba berputar di pikirannya. Saat menyaksikan sang kekasih tercinta dihabisi setelah diperkosa oleh pria biadab, yang tak lain adalah Lucas Denver. Rahangnya menegang, kepalan tangan ikut mengerat. Dendam di dalam hati kian berkobar, ingin menghancurkan siapa pun dan apa pun yang ada kaitannya dengan Lucas.
"Langit sudah mulai gelap. Apa kamu tidak akan pulang?" tanya Samuel sebab Amanda tidak beranjak dari posisinya. Gadis itu nampak tenggelam dengan dunianya sendiri. Dunia yang telah hancur lebur, tiada lagi kebahagiaan untuknya.
"Tidak perlu berlagak peduli padaku. Kita berdua tidak saling mengenal, bukan?" sahut Amanda kemudian menarik tubuhnya untuk berdiri. "Aku tidak tahu, apa pertemuan kita memang selalu kebetulan atau kamu sendiri yang mengaturnya. Tapi aku berharap, kita tidak pernah bertemu lagi karena aku menangkap sesuatu yang licik dari sorotan matamu!"
Setelah berkata-kata, Amanda langsung menarik langkah dan berjalan tergesa-gesa. Tanpa sekali pun menengokkan kepala, ke arah pemuda misterius yang mengaku bernama Samuel.
Pemuda dengan piercing di telinganya, mengawasi ke mana Amanda melangkahkan kaki. Tersimpul sebuah senyuman di kedua sudut bibir, saat gadis itu berjongkok kemudian merangkak memasuki sebuah lubang sempit yang tertutupi rimbunnya tanaman.
"Ternyata dari situ kamu muncul, gadis cantik!" gumam Samuel tanpa berkedip. "Ma-maksudku, gadis bodoh!!" tambahnya, meralat ucapan yang dilontarkan sebelumnya.
...***...
"Ah... Leo..." desah Bellen karena kekasih gelapnya itu tahu-tahu berdiri di belakang lalu memepet tubuhnya ke sebuah dinding. Pria mesum tersebut mencecapi punggung yang tereskpos, beserta kedua tangan menelusup ke arah depan, mencari sepasang daging kenyal kesukaannya.
"Aku merindukanmu, Honey. Sudah satu minggu, kita tidak bercinta. Setiap melihat tubuh seksimu, milikku ini meronta-ronta ingin keluar dari sangkarnya," seloroh Leo menjijikkan, seraya menggesek-gesekkan ke-maluannya ke atas bokong sang kekasih.
"Ta-tapi Leo... kondisi istana sedang panas. Ka-kamu tahu, 'kan, ka-kalau Lucas membunuh Omran?" ucap Bellen terbata-bata sebab kini Leo tengah berjongkok dan memainkan titik G-spoot (Grafenberg spot) menggunakan lidah, membuat tubuhnya menggelinjang keenakan.
Leo tidak menghiraukan perkataan kekasihnya. Dia terus bermain-main di bawah sana dan kini mulai menusukkan jari-jari panjangnya ke dalam lubang sempit yang sarat akan kenikmatan.
"Ah, Leo..." Bellen kembali mendesahh. Dia membekap mulutnya sendiri menggunakan telapak tangan. Khawatir suara paraunya itu terdengar oleh orang lain yang tidak sengaja melewati taman belakang istana.
Mendengar suara seksi dari mulut kekasihnya, birahi Leo sebagai laki-laki normal, memuncak seketika. Terlihat dari gerakan lidah dan jarinya yang bertambah kian cepat. Keluar masuk, memberikan sensasi luar biasa. Hingga cairann cinta meleleh, membasahi paha si wanita.
"Menungging!!" titah Leo pada Bellen sembari mendorong kasar punggung wanita seksi tersebut. Bellen menyondongkan tubuhnya ke belakang, bersiap untuk digempur habis-habisan.
Leo mengarahkan kejantanan pada lubang sempit yang menjadi pembuangan nafsuu bejatnya. Sesuatu yang keras itu melesak masuk tanpa hambatan sebab lubang tersebut sudah terbiasa dengan ukuran miliknya yang besar serta panjang.
Bellen mengatup mulut untuk meredam suara desahann. Meski sebetulnya, dia ingin sekali menjerit-jerit juga merintih mengekspresikan rasa nikmat yang tiada tara. Sementara Leo, dia nampak konsentrasi memompa tubuh inti sang kekasih. Goyangan juga hentakkannya teramat kuat hingga pantat Bellen berputar-putar.
"You are amazing, Honey!" Leo menampar bokong Bellen berkali-kali, meninggalkan bekas tangan di atasnya. "Ouh... fvck!!" racau Leo karena rasa nikmat, yang mana hanya dia sendirilah yang tahu.
"Ah... baby... faster, please!!! Ouh yes... " racau Bellen lantaran Leo memacu miliknya semakin cepat. "Ouh baby... yes, yes, yes... ouh..." Bellen melolong panjang karena dia juga Leo mendapatkan puncak kenikmatan bersama-sama.
"Oh My Gosh!! Tingkah laku kalian seperti dua ekor anjing, sangat menjijikan!!" pekik Amanda memergoki Bellen tengah memadu kasih bersama sang kekasih gelap. Leo langsung mencabut miliknya yang masih berdiri tegak, kemudian memasukkannya kembali ke dalam celana.
"Jangan coba-coba untuk mengadukan soal hubungan kami pada Lucas, kalau kamu ingin nyawa kekasihmu selamat!" gertak Leo terhimpit kekalutan.
Kening Amanda mengerut seketika, tanda kebingungan. "Apa maksud perkataanmu, Leo?"
"Dia adalah buruan kami. Kamu masih ingat, 'kan, dengan gadis remaja yang telah kalian tolong waktu itu?"
"Iya, aku ingat. Tapi kenapa kamu bisa—" Amanda memotong ucapannya sendiri. "Ah, aku paham sekarang. Perihal gadis itu ada sangkut paut denganmu? Dan itu berarti ada hubungannya dengan Lucas juga?"
__ADS_1
Leo hanya tersenyum miring. Namun, cukup menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilayangkan oleh Amanda kepadanya.
...*****...