Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 78 Sidang Pertama


__ADS_3

Pagi ini sidang pertama sederet kasus yang menyeret nama Lucas Denver, akan diselenggarakan secara tertutup. Gedung persidangan dijaga sangat ketat sebab terdengar kabar bahwa orang-orang suruhan Lucas akan mengepung bangunan tersebut, bermaksud untuk melepaskan pimpinan mereka dari jeratan hukum.


Samuel sigap mempersiapkan segalanya untuk menghadang setiap ancaman yang datang, berasal dari pihak lawan. Dia mengerahkan pasukan-pasukan terbaik dan para penembak jitu yang disebar di sejumlah titik.


Suasana ruangan sidang pun senyap sebab hanya dihadiri pihak pengadilan, terdakwa, pihak penuntut, seratus pengacara Lucas serta kedua istri sang mafia tersebut yakni Amanda dan Lavina.


Hakim utama telah memasuki ruang persidangan, semua orang berdiri untuk memberikan penghormatan, kecuali Lucas. Pria tua itu duduk santai, acuh tak acuh meski berpasang-pasang mata menyorotnya tidak suka.


"Tuan Lucas... berdirilah! Kami mohon bekerja samalah dengan kami, kalau begini caranya hukuman Tuan bisa-bisa akan ditambah dengan dakwaan baru," bisik salah seorang pengacara tersohor di negara tersebut.


Lucas menoleh, lalu menyentilkan batang korek api yang tengah dimainkannya dan mengenai biji mata si pengacara tersebut. "Diamlah! Kau aku bayar buat membelaku bukan untuk menasehatiku!"


Perkataan Lucas yang diucapkan secara lantang, berhasil menjadikannya pusat perhatian seisi ruangan. Pasalnya saat ini keadaan tengah sunyi senyap hanya suara Lucaslah yang menggaung di dalam ruang persidangan.


Hakim pun mengetuk meja sebab acara tersebut akan segera dimulai. "Sidang pengadilan atas nama terdakwa Lucas Denver Alonzo dengan nomor 16/WA/2020 resmi dibuka. Dan berhubung kondisi tidak kondusif, maka penyelenggaraan sidang hari ini dilakukan secara tertutup!"


Hakim mengetukkan palu sebanyak tiga kali. Garis ketegangan mulai terlihat di wajah semua orang yang berada di dalam ruangan persidangan. Namun, tidak berlaku pada Lucas. Pria itu seakan tidak memiliki beban. Dia masih bisa menebar senyuman dan melayangkan tatapan genit pada istri mudanya.


"Aku merindukanmu, Amanda! Kenapa kau tidak ingin menjengukku, sayang?" pekik Lucas tiba-tiba, membuyarkan konsentrasi prosesi jalannya pengadilan.


Hakim pun mengetukkan palu dan meminta Lucas untuk tidak berbicara sementara waktu. "Tolong Anda hormati pengadilan ini, Tuan Lucas. Tidak berbicara bila tidak diminta!"


"Ya, ya, ya..." sahut Lucas lalu menopangkan kedua kaki ke atas meja di depannya.


"Turunkan kakimu sekarang juga atau aku patahkan, sekaligus dengan lehermu itu!" geram Samuel, yang berada di samping jaksa penuntut.


Seketika suasana persidangan pun ricuh. Rencana Lucas untuk mengulur-ulur waktu dengan menyulut emosi Samuel rupanya berhasil.

__ADS_1


Hakim kembali mengetukkan palu sebanyak satu kali. Keadaan berangsur tenang, jaksa penuntut pun mulai membacakan tuntutan-tuntutan pada si terdakwa.


Lucas tergelak, mengolok-olok pemaparan jaksa dari pihak lawan. "Ayolah... kalian hanya pandai berbicara, tapi nol aksi. Anak kecil pun bisa memberikan tuduhan-tuduhan palsu seperti itu. Sekarang, saya tantang kalian. Coba mana barang bukti yang menguatkan kalau saya memiliki jaringan narkoba juga pelacuran?!"


"Izinkan saya menghadirkan dua orang saksi, Yang Mulia," pinta jaksa penuntut, mengacungkan tangan.


Hakim mengiyakan dengan anggukan kepala sebagai isyarat. Dan tak berselang lama masuklah seorang pria yang pernah bertransaksi dengan Lucas, dalam praktek jual beli obat terlarang tersebut.


"Kau?" tunjuk Lucas, tidak pernah menyangka bahwa pria yang membeli sejumlah heroin padanya, akan menjadi seorang pengkhianat.


"Apakah benar nama Anda Abraham Linn?" tanya jaksa penuntut pada pria yang menjadi saksi tersebut.


"Be-benar." Pria itu mengangguk cepat sembari terbata-bata.


"Silakan Anda perhatikan pria yang duduk di kursi pesakitan itu. Apa Anda mengenalnya?" tanya jaksa penuntut lagi.


"keberatan Yang Mulia!" sergah Lucas, langsung berdiri tegak dengan tangan mengacung di atas dada.


"Keberatan Anda ditolak," balas hakim ketua. "Silakan, Anda duduk kembali, Tuan Lucas," pintanya pada si terdakwa.


Lucas berdecih, lalu menoleh ke arah inspektur Gibson seolah memberikan kode untuk melakukan sesuatu. Pria dengan perut bulat itu pun cepat-cepat keluar dari ruang persidangan. Namun, manufernya tertangkap basah oleh Samuel yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik pria tersebut.


Pria dengan netra cokelat itu, keluar dari ruang persidangan dan menemukan Gibson tengah menelepon seseorang. Ntah siapa yang tengah dia hubungi, yang pasti terdengar jelas oleh Samuel kalau pria berperut buncit itu memerintahkan orang-orang Lucas untuk menyerbu gedung pengadilan.


"Anda kami tangkap, inspektur Gibson!" cakap Samuel dengan pistol menempel di belakang orang kepercayaan Lucas tersebut. Gibson langsung saja mengangkat kedua tangannya ke atas seraya menghembuskan napas.


Samuel menurunkan kedua tangan Gibson lantas ditarik ke belakang punggung. Sebuah borgol pun melingkar di kedua pergelangan tangan pria tambun itu. Samuel menyeret Gibson ke dalam ruang persidangan, untuk menekan mental Lucas.

__ADS_1


"Apa-apaan ini?" sentak Lucas karena merasa terpojok. Dia tidak diberikan kesempatan sedikit pun untuk membela diri. Sebab bukti-bukti mengenai keterlibatan dirinya pada dua kasus tersebut sudah tidak bisa disangkal kembali.


Tinggal sidang kasus utama dengan dakwaan penculikan dan penjualan anak di bawah umur, yang akan dilaksanakan dua hari lagi. Jikalau Lucas terbukti bersalah dengan ketiga kasus tersebut, maka sudah dipastikan hukuman gantung tengah menantinya.


"Ini semua pasti akal bulus si bocah ingusan itu!" tunjuk Lucas gemetaran. Dia mengamuk, menjungkalkan meja-meja serta kursi di dekatnya. Samuel bergegas, mengendalikan Lucas dengan memborgol tangan pria itu dan memaksanya untuk duduk di atas kursi pesakitan.


"Sidang hari ini resmi kami tutup. Kita bertemu lagi di sidang lanjutan dua hari mendatang. Terima kasih...." Hakim ketua menetukkan palu sebanyak tiga kali, tanda sidang hari ini telah berakhir.


Satu per satu pihak pengadilan meninggalkan ruang persidangan. Menyisakan jaksa penuntut, para pengacara, kedua istri Lucas serta Lucas sendiri. Pria tua itu meraung-raung dan menendang apa pun yang berada di dekatnya sebagai luapan dari amarah.


"Kalian semua tidak berguna!" hardik Lucas pada semua pengacara yang dia sewa. "Kalian saya pecat!" teriaknya menendang yang tergapai oleh kakinya. Seratus pengacara tersebut sontak keluar dari ruang persidangan sembari mengucapkan sumpah serapah kepada Lucas.


"Dan kalian, kedua istriku. Tunggu aku ya... secepatnya aku pasti bebas. Nanti kita bulan madu dan main bertiga," seloroh Lucas, memalukan.


Amanda maupun Lavina sama-sama mengerdikkan bahu lantaran perkataan Lucas yang terdengar menggelikan.


"Jalan, cepat! Kau membuang-buang waktu kami!" Samuel mendorong punggung Lucas dengan tangan memegangi pundak pria tua itu. Namun, matanya melirik ke arah Amanda dengan tatapan yang tidak mudah untuk diartikan.


Amanda melihat ke arah sang suami juga Samuel hingga kepalanya berputar. Ntah apa yang dia lihat saat ini sebab kedua pria tersebut sama-sama menoleh ke arahnya, sebelum menghilang di balik pintu.


"Mari Lavina, kita pulang." Baru berjalan beberapa langkah, sebuah bom meledak dari tengah-tengah ruangan. Amanda sontak tiarap. Namun, naas dengan Lavina. Perempuan itu tidak sempat menyelamatkan diri. Sebuah pecahan kaca melayang dan menembus dada sebelah kiri saking kencangnya.


"Lavina..." teriak Amanda, buru-buru berdiri dan menangkap tubuh madunya sebelum terjungkal ke lantai.


Seketika kondisi menjadi kalang kabut, memecah konsentrasi para penjaga keamanan, tapi tidak dengan Samuel. Dia sudah memprediksi kalau semua ini akan terjadi. Dia mengabaikan apa yang terjadi di dalam ruangan, dengan terus menyeret Lucas menuju mobil tahanan terparkir. Sebelum penyerangan kedua berhasil diluncurkan oleh orang-orang Lucas.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2