
"Ya Tuhan... kapan aku bisa terlepas dari jeratan si bangkotan sialan itu?" sungut Amanda seraya berjalan tergesa-gesa ke arah taman belakang. Dia berhenti sesaat, lalu melihat ke sekeliling istana yang sepi. "Agak-agaknya aku sudah gila!! Malam-malam begini mau tidur di mana coba?" cerocosnya baru terpikir kalau dia sembunyi di taman belakang yang ada hanya jadi santapan nyamuk-nyamuk ganas.
"Apa aku kabur sekarang saja ya? Tapi ke mana malam-malam begini? Tidak ada satu pun yang bisa kumintai tolong," keluh Amanda mengusap kasar wajahnya. Dia mendesah panjang, kemudian melanjutkan langkah menuju belakang istana.
Baru juga berjalan tiga langkah, Amanda sudah terdiam kembali. Sebab telinganya menangkap suara derap langkah kaki, yang berasal dari arah belakang punggung.
"Kenapa malam ini, hawanya lain?" Amanda mendekap kedua lengan seraya mengosok-gosoknya. Keberanian yang semula mencuat, tiba-tiba menciut. Dia memutar kepala untuk mengecek keadaan lantaran merasa ada yang mengikuti, tetapi tidak menemukan apa-apa. "Bulu kudukku kok meremang?" Amanda mengusap tengkuk sembari bergidig takut.
KLETAK!!!
Terdengar suara patahan ranting karena terinjak sesuatu. Kedua netra terbelalak, kepala bergulir ke sana ke mari. Mencari hal mencurigakan di dekatnya. "Siapa di sana? Kamu orang atau kucing?"
"Kucing..." jawab seseorang yang tak nampak wujudnya.
"Kamu kucing atau orang?" tanya Amanda sekali lagi untuk mengecoh.
"Kucing...."
"Mana ada kucing bisa bicara!" sahut Amanda ketakutan. Tanpa membuang-buang waktu, Amanda langsung saja tancap gas, berlari tunggang langgang sembari sesekali menoleh ke belakang.
Amanda terus berlari sejauh yang dia bisa. Hingga tubuhnya terasa melayang dengan mulut dibekap oleh tangan seseorang. Badan Amanda diseret kasar lalu dihentakkan dengan keras ke sebuah dinding. Dia tidak bisa melihat wajah orang yang menyekapnya tersebut. Karena kondisi di sekitarnya sangatlah gelap.
"Ehmmmph... ehmmmph..." teriak Amanda tidak jelas lantaran mulutnya tertutupi telapak tangan. "Ehmmph..." teriaknya lagi seraya memukuli dada orang di depannya. Bekapan di bibirnya terlepas, Amanda menarik napas lalu membuka mulut untuk berteriak meminta tolong.
Namun, belum juga selesai berucap. Bibir Amanda kembali dibekap. Kali ini bukan menggunakan telapak tangan, melainkan benda lembut nan hangat.
Seseorang itu memagut liar bibir Amanda. Semakin gadis itu memberontak, maka semakin agresif sosok tak terlihat mengatup mulutnya. Amanda meronta-ronta, melakukan perlawanan menggunakan tangan serta kakinya silih berganti. Akan tetapi, tenaga sosok misterius itu terlalu kuat untuk dia lawan.
__ADS_1
Perempuan bernetra biru tiba-tiba tertegun, ketika purnama tidak sengaja menyinari wajah sosok yang mengukungnya saat ini. Sosok yang tak asing di mata serta ingatan. Sosok yang beberapa kali dia temui tanpa sengaja dan selalu membuatnya naik pitam. Sosok itu, kini berada tepat di depan wajahnya tengah memejamkan mata. Seakan menikmati ciuman yang begitu bergelora.
Pria itu membuka mata. Menyatukan tatapan dalam satu tarikan napas. Namun, dengan cumbuan yang tak jua terlepas, seolah tidak ingin mengakhiri sesuatu yang mulai dia sukai. Sementara Amanda, terus memberontak. Berusaha untuk melepaskan diri dari jeratan pria tersebut dan akhirnya berhasil.
Amanda menghajar pria itu sekuat yang dia bisa. Dia berlari, tetapi lengannya ditarik kencang oleh sosok tersebut dan membuatnya harus kembali berada dalam kungkungan.
"Mau apa kamu? Kenapa kamu ada di istana suamiku?"
Pemuda itu mendekat dan berbisik di telinga Amanda. "Bukan urusanmu!!"
"Tentu saja ini urusanku karena kamu menyelinap di—" Ucapan Amanda terputus sebab pria itu mengatup bibirnya kembali.
"Stttt... jangan berisik. Ada orang menuju ke mari!" titah pria itu dengan menempelkan jari telunjuk di atas bibir. "Kalau berani berteriak, aku akan menyakitimu!!" ancamnya sembari celingukan memperhatikan dua pria bertubuh besar yang tengah berjalan ke arahnya.
"Ikut aku!!" Pria tersebut menyeret Amanda ke tempat semula. Tempat gelap nan gulita, untuk menyembunyikan diri. Dia menyembulkan kepala untuk memeriksa keadaan. Dan kedua anak buah Lucas sudah menghilang dari pandangan. "Mereka sudah pergi!" ungkap pria itu menghela napas.
Amanda menggigit tangan lelaki tersebut lanjut mendorongnya. "Pria kurang ajar, jangan suka cari kesempatan dalam kesempitan!!"
"Otakmu yang sempit!" Amanda mendepak dada pria itu kemudian buru-buru pergi menjauh. Dia tidak memedulikan niat terselebung dari kehadiran pria tersebut di istana Lucas. Yang dia pikirkan, bagaimana caranya agar bisa terbebas dari belenggu ikatan pernikahan yang tidak diinginkan.
"Terima kasih, sepertinya aku akan terus mengingat momen manis tadi," seloroh lelaki tersebut pada Amanda.
Gadis bersurai cokelat itu menoleh, kemudian mendelikkan mata. Tidak suka dengan kalimat yang didengarnya barusan. "Apa-apaan momen manis? Momen menjijikkan sih iya!!"
Amanda berjalan seraya menggerutu dan menggosok-gosok bibirnya untuk menghapus jejak pria mesum tadi. Dia tidak menyadari keberadaan si wanita seksi yang tengah berdiri bersidekap menunggunya.
"Wah... wah... wah... malam-malam begini dan di tempat sepi. Kira-kira habis melakukan apa ya...?" cibir Bellen saat Amanda melewati dirinya. "Coba aku tebak. Kamu pasti habis berselingkuh dengan anak buah Lucas, betul, 'kan? Siapa-siapa? Coba katakan padaku!" tuduh Bellen tanpa bukti.
__ADS_1
Amanda melihat dengan sudut mata lalu berdecak sebal, merasa jengah atas selorohan madunya. "Kamu yang punya selingkuhan, aku... juga yang dituduh. Ayolah, Bellen... jangan melimpahkan dosa yang kamu perbuat padaku!"
"Sok suci!!" decih Bellen.
Amanda terkekeh, "Tidak ada kalimat lain?"
Bellen menghentak lantai. "Kenapa kamu sangat menyebalkan, Amanda...???"
"Aku memang menyebalkan. Maka dari itu, jangan lagi mengusikku, perempuan tak tahu malu!!!" cibir Amanda memasang wajah songong.
"Kau!!" Bellen mengarahkan jari telunjuk ke muka Amanda.
"Apa?" tantang Amanda mendongakkan kepala.
Bellen memekik murka seraya mengepal tangan dan menghentak lantai berkali-kali lantaran geregetan pada Amanda. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh wanita manja seperti Bellen selain mengancam dan menggertak. "Awas saja kamu, akan kuadukan pada kekasihku! Lihat saja, apa yang akan Leo lakukan pada perempuan sialan sepertimu!"
"Uh... takut...!" ledek Amanda diakhiri suara cekikikkan.
Bellen sudah tidak bisa lagi membalas cemoohan Amanda. Dia akhirnya menyerah dan pergi begitu saja membawa kedongkolan di hati.
Amanda mesem-mesem karena tingkah laku Bellen yang begitu menggelikkan. Namun, bibirnya langsung mengatup seketika sebab suara bariton seorang pria yang berdiri di belakangnya.
"Nyonya Amanda, akhirnya saya menemukan Anda di sini. Ikut saya sekarang, tuan Lucas menunggu Anda di ruangannya," ujar Leo yang muncul tanpa diketahui kedatangannya.
Amanda melangkahkan kaki berniat untuk melarikan diri sebab sudah terbayang olehnya kalau Lucas akan memberikan hukuman sadis karena telah berani menjotosnya.
"Jangan berpikir untuk kabur, Nyonya. Anda sudah kami kepung. Anda tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi!" tandas Leo lalu bersiul satu kali memanggil anak buahnya. Dan kini, di hadapan Amanda melingkar sepuluh pria dengan tubuh kekar serta raut menyeramkan, tengah menyorot bengis padanya.
__ADS_1
"Oke-oke... aku ikut denganmu, Leo! Silakan bawa aku pada tuanmu yang payah itu!" cakap Amanda pasrah sebab sudah tidak memungkinkan lagi untuknya menarik langkah seribu. Dia sudah terpojok dan tak mampu lagi untuk berkutik.
...*****...