
"Aku pergi, Dad!" ucap Matthew lesu. Pagi ini dia akan kembali ke kota untuk melanjutkan hidup. Terlalu lama tinggal di desa, hanya akan membuat luka di dalam hatinya semakin menganga. Siapa yang akan tahan melihat wanita yang dicintai menikah dengan orang lain. Terlebih orang itu adalah ayah kandung sendiri? Tidak ada.
"Pikirkan tawaran Daddy untuk meneruskan kuliah di Inggris. Lagi pula, tidak ada lagi yang bisa kamu harapkan di sini, bukan?" sinis Lucas berharap Matthew pergi jauh dari negara ini, agar terlepas dari pengejaran orang suruhannya. "Saran Daddy, kamu terima tawaran yang Daddy berikan. Siapa tahu di sana, kamu bertemu perempuan yang lebih segalanya dari mommy tirimu itu."
Matthew mendengus dan tidak ingin berbicara panjang lebar pada ayahnya. "Iya Dad, nanti aku pertimbangkan."
Lucas menarik bibirnya tipis. "Oke, Daddy tunggu kabar baik darimu. Daddy harap, kamu tidak menyianyiakan kesempatan yang Daddy berikan."
Matthew mengangguk lemah kemudian masuk ke dalam mobil hitamnya. Dia menyalakan kendaraan roda empat tersebut dan bersiap untuk membelah jalanan.
Sementara dari jarak seratus meter, Leo memperhatikan kendaraan milik Matthew sembari mencocokkan nomor plat yang menjadi target operasinya. Antara terkejut dan merasa senang, dia kini menyadari bahwa orang yang dia cari ternyata ada di depan mata.
"Aku mencari-cari si bedebah yang sudah melarikan Ivana ke setiap tempat. Ternyata dia ada di sini dan aku sangat mengenalinya. Ah... bodoh sekali karena aku baru menyadari faktanya. Math adalah Matthew. Dan Matthew adalah Math. Mereka dua orang yang sama," gumam Leo puas lanjut terbahak-bahak.
Pria berusia empat puluh tahun tersebut langsung menghubungi anak buahnya untuk memberikan perintah. Dia menyuruh mereka mengikuti ke mana Matthew pergi. Sebab dia sangat yakin kalau pemuda itu akan membawanya pada gadis jelita yang selama ini dicari.
"Lucas-Lucas... kamu pikir rahasia yang kamu tutupi akan selamanya mengendap dan luput dari otak cerdasku?" gerundel Leo teringat akan percakapannya dengan Lucas beberapa hari yang lalu. Pria tua itu bersikap seolah tidak mengenali orang yang menjadi target pencarian. Padahal dia tahu betul siapa laki-laki yang memiliki nama Matthew Alonzo.
"Kalau begini, akan sangat mudah merampas apa pun yang kamu miliki. Tinggal kita tunggu waktunya saja!" Leo buru-buru pergi sebelum Lucas memergokinya tengah mengawasi Matthew. Dia berjalan tergesa-gesa ke dalam istana dan tidak sengaja bertubrukan dengan Amanda.
"Apa matamu buta, Leo?" geram Amanda sebab minuman yang dia bawa tumpah mengenai pakaiannya.
Leo terkesima lantaran payudara Amanda tercetak sempurna di balik dress yang basah terkena tumpahan minuman tersebut. Matanya tidak berkedip sembari menahan ludah.
"Apa yang kamu lihat, brengsek?!!" Amanda sontak menangkup tubuh atasnya. Menghalangi mata jelalatan Leo dari menikmati aset berharganya.
__ADS_1
"Apa yang aku lihat? Kamu mau tahu, Amanda?" tanya Leo dengan tatapan nakal. "Yang aku lihat, buah dada indah di balik dress tipismu itu!" selorohnya tanpa rasa malu.
"Jaga omonganmu, Leo!!" Amanda menampar wajah pria di hadapannya karena tidak terima dilecehkan. "Kalau Lucas tahu kelakuanmu, dia pasti tidak akan tinggal diam!" geramnya setengah menggertak.
Leo berjalan satu langkah mendekat dan bercakap sangat dingin. "Adukan saja pada suami payahmu itu. Aku tidak takut!"
Amanda mengernyih kemudian tertawa kecil. "Leo... Leo! Kamu mudah sekali terbaca. Dari gestur dan cara bicaramu, bisa dipastikan kalau kamu adalah tipe pengkhianat. Dan aku sangat yakin, suatu saat kamu akan membelot dari suamiku."
"We'll see..." jawab Leo berlalu dari hadapan Amanda.
"Ah... semua ini membuatku gila! Apa tidak ada satu pun orang waras di tempat mengerikan ini?" gerutu Amanda memilin pangkal hidungnya. Dia melanjutkan langkah kaki menuju pelataran istana karena teringat kembali kalau mantan kekasihnya itu akan bertolak ke kota saat ini juga.
Berharap bisa bertemu untuk terakhir kali. Namun sayang, sang pujaan hati telah pergi terlebih dahulu tanpa mengucapkan satu atau dua patah kata padanya. Dia pergi membawa luka dan meninggalkan lara.
"Kamu terlambat, sayang..." cakap Lucas tiba-tiba muncul mengejutkan Amanda. Gadis itu mengusap-usap dadanya untuk meredakan deru jantung yang tidak beraturan.
"Kamu membuatku kaget, Lucas! Kalau aku mati karena jantungan, bagaimana?" kesal Amanda.
"Kalau kamu mati, aku akan sangat bahagia. Sebab apa? Sebab tidak ada yang bisa memiliki kamu selain aku," ucap Lucas tersenyum hangat sekaligus menakutkan. Orang yang terbiasa bengis lalu mendadak bersikap manis, memang patut untuk diwaspadai.
"Freak!!" cibir Amanda akan sikap abnormal suaminya.
Lucas tergelak lalu kembali tersenyum hangat. Sorotan mematikan yang biasa dia layangkan, kini berubah menjadi tatapan penuh cinta. "Ikut aku! Ada kejutan untukmu, sayang...."
Amanda menarik salah satu alisnya ke atas, merasa heran dengan sikap suaminya yang seketika berubah seperti orang lain. "Apa aku tidak salah dengar, Lucas? Kamu mau memberiku kejutan? Tapi kejutan apa?"
__ADS_1
Lucas menarik tangan Amanda dan menggenggam jemarinya begitu mesra. "Bukankah, kamu ingin bertemu Omran, papa yang kamu sayangi?"
Manik mata Amanda sontak berkilauan kebahagiaan lantaran dia begitu merindukan sekaligus mencemaskan kondisi sang ayah yang sudah satu minggu tidak dia jumpai. "Papa? Aku bisa bertemu papa?"
"Tentu saja, sayang..." sahut Lucas mengukir senyuman manis. Ntah mengapa dia bersikap lain dari biasanya. Mungkin karena kepergian Matthew dari istana, merubah suasana hati yang semula bermuram durja menjadi berbunga-bunga.
"Terima kasih, Lucas!" ucap Amanda terharu.
"Sama-sama sayang." Lucas mengecup punggung tangan istrinya menciptakan suasana romantis di antara perselisihan tiada henti. "Kamu sudah tidak sabar untuk bertemu Omran, 'kan? Ayo ikut aku sekarang!" Lucas menuntun tangan Amanda kemudian menautkan jemari sang istri ke dalam lengannya.
Lucas dan Amanda terlihat bagaikan pasangan pengantin yang tengah berbahagia. Meski sebetulnya lebih seperti seorang ayah dengan anak perempuannya.
"Di mana papaku, Lucas?" tanya Amanda bingung karena saat ini dia berdiri di depan beberapa ruangan dengan pintu yang tertutup.
"Omran ada di kamar itu, tapi kamu jangan berisik. Dia sedang istirahat dengan tenang," tunjuk Lucas pada kamar yang di atas pintunya menggantung karangan bunga plastik.
"Boleh aku masuk?" Amanda sudah tidak sanggup membendung rasa rindu pada cinta pertamanya.
"Tentu saja, sayang. Masuklah... lalu nyalakan lampunya," kata Lucas mempersilakan Amanda untuk memasuki kamar yang kuncinya telah dia buka. "Ingat, pelan-pelan saja! Aku tidak ingin Omran terganggu dengan kedatanganmu," tuturnya mengingatkan.
Amanda menganggukkan kepala lalu menarik handle pintu dengan penuh kehati-hatian supaya tidak menimbulkan suara deritan. Dia menyalakan lampu dan berjalan mengendap-endap ke arah tempat tidur sang ayah yang tertutupi kain gorden. Gadis itu menyibakkan kain berwarna hitam tersebut seraya menerbitkan senyuman tiada henti.
"Papa...!!!"
...*****...
__ADS_1