Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 31 Pintu Rahasia


__ADS_3

Setelah kejadian meledaknya gudang tempat persembunyian para sandera dan penyimpanan senjata api. Para anak buah Lucas menjaga ketat istana juga markas utama yang menjadi tempat tranksaksi jual beli obat-obatan terlarang.


Semua orang dalam sikap siaga, memindai setiap gerak-gerik mencurigakan yang bisa mengancam keamanan dan juga nyawa mereka tentunya.


Hidup di istana bagaikan burung dalam sebuah sangkar, sangat terbatas serta terkekang. Ditambah saat ini banyak sekali penjaga yang berdiri di setiap titik. Tempat yang seharusnya menjadi rumah malah seperti penjara.


Gadis yang baru saja dinikahi Lucas, dia berjalan-jalan di area taman yang berada di belakang istana. Taman yang lebih asri juga lebih luas dibandingkan taman yang berada di lantai tiga. Di sini banyak kupu-kupu berterbangan, hinggap di setiap bunga yang mekar indah.


"Istana ini ternyata tidak sekelam yang aku kira," gumam Amanda mengejar kupu-kupu seraya tertawa riang. Dia terus mengejar binatang bersayap itu hingga tidak menyadari kalau telah sampai di ujung taman yang sepi dan luput dari penjagaan. "Kupu-kupu... kenapa kamu cantik sekali. Aku ingin seperti kamu bisa terbang bebas ke tempat mana pun yang kamu suka."


Amanda mengitarkan kepalanya ke seluruh penjuru taman yang ditumbuhi pepohonan tinggi juga bunga berwarna-warni dengan wajah berseri. Namun, keningnya tiba-tiba mengerut sebab netra mata mendapati sebuah pintu kecil yang terbuat dari besi.


"Pintu? Ada pintu di sini? Tapi pintunya kecil sekali." Amanda meraba-raba benda yang terbuat dari besi tersebut. Dia mencari cara untuk membukanya karena penasaran dengan apa yang ada di balik pintu itu.


Amanda mendorong sekuat tenaga dan tidak sengaja menyentuh tombol kunci. Pintu pun terbuka perlahan. Gadis itu memekik riang sembari jingkrak-jingkrak lantaran seolah menemukan ruang rahasia.


Gadis bernetra biru merungguh dan melihat apa yang ada di luar sana. Biji mata berbinar ceria sebab dia mendapati sebuah danau kecil. Namun, indah. "Wah... bagus sekali."


Amanda memasuki pintu itu dengan posisi berjongkok kemudian merangkak pelan-pelan, membuat pakaiannya kotor di bagian lutut. Akan tetapi, dia tidak ingin ambil pusing lantaran sudah tidak sabar untuk menikmati keindahan danau sepi nan hening tersebut.


"Apa tidak ada satu pun orang di sini?" batin Amanda, tetapi dia tiba-tiba memekik sebab sebuah kerikil mengenai pelipisnya. "Aw...."


Amanda memegangi bagian wajahnya yang sakit sembari mencari keberadaan seseorang. Manik mata membeliak karena melihat sosok tidak asing berdiri acuh tak acuh dengan kedua tangan di dalam saku celana.


"Kamu!" tunjuk Amanda pada laki-laki menyebalkan yang dia temui secara tidak sengaja, tempo hari. "Ya Tuhan... apa dunia sesempit ini, lagi dan lagi bertemu pria songong dan menjengkelkan sepertimu?!"

__ADS_1


Pemuda tersebut cekikikan mendengar celotehan Amanda yang terdengar bagai sebuah guyonan di telinganya. "Bukan dunia yang sempit, tapi jarak kita. Tuhan sudah menakdirkan sesuatu untuk kita berdua."


"Omong kosong!" Amanda berdecih lalu cepat-cepat beranjak pergi dari hadapan pemuda itu. Dia berjalan santai menghirup udara kebebasan yang beberapa terakhir ini direnggut paksa.


"Lama-lama aku perhatikan, ternyata kamu menarik juga," seloroh pemuda asing tersebut membuntuti Amanda.


Gadis bersurai cokelat keemasan itu menghentikan langkah lalu menoleh ke arah lelaki yang mengekorinya. "Stop! Berhenti di situ! Jangan mengikutiku lagi. Atau aku lempar wajahmu pakai batu!!"


"Lempar saja, nih!" Pemuda tersebut mencondongkan wajah ke arah Amanda dan mengungkung manik mata gadis itu. Bibirnya tertarik tipis. Namun, menambah kesan menawan. Menebarkan pesona, menjerat si bunga indah.


"Mu-mundur!!" sentak Amanda mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia nampak gugup lantaran wajah pria asing itu begitu dekat dengan wajahnya. "A-aku perempuan bersuami. Jadi, tolong jaga jarak denganku!" seru Amanda lantaran waswas ada yang memergoki dirinya bersama pria asing.


Pemuda itu menarik kepalanya menjauh lantas berjalan mundur beberapa langkah. "Maaf, aku kira kamu perempuan lajang karena setiap bertemu, kamu selalu sendirian."


"Bukan urusanmu!" sergah Amanda. Dia lalu berlari kecil, menjauh dari jangkauan pemuda asing tersebut.


"Hei... namamu siapa?" pekik pemuda asing itu.


Amanda melihat ke arah lelaki itu sesaat lalu memalingkan muka kembali. Dia harus cepat-cepat kembali ke istana Black Angel sebelum Lucas menyadari kalau dia tidak berada di kediamannya.


"Namaku Sam, Samuel..." pekik pemuda itu lagi. Dia melambaikan tangan ke arah Amanda saat gadis itu menoleh kembali. Dia lalu tersenyum misterius selepas Amanda membalikkan badan dan berjalan tergesa-gesa menuju pintu rahasia.


"Amanda Shawnette, istri keenam dari si penjahat kelamin bernama Lucas Denver Alonzo!" gumam lelaki bernetra cokelat pekat seraya menatap punggung Amanda. "Sepertinya akan menarik kalau aku bisa mengelabui perempuan bodoh itu untuk mengeruk informasi penting mengenai targetku!" Dia tersenyum miring lalu turut pergi dari tempat sejuk tersebut.


...***...

__ADS_1


Makan malam kali ini tidak dihadiri oleh Matthew sebab pemuda itu tengah mengurung dirinya di kamar sembari mempersiapkan segala sesuatu lantaran esok pagi akan bertolak kembali ke kota.


Selepas pertemuannya dengan Amanda kemarin malam, dia sudah tidak memiliki keberanian untuk bersua terlebih menatap gadisnya lagi. Terlalu sakit untuk menerima kenyataan bahwa Amanda saat ini berstatuskan ibu sambung.


"Mana anak itu, Lady?" geram Lucas pada maid-nya.


"Tu-Tuan muda ada di kamarnya, Tuan..." jawab Lady gagu.


"Panggil dia sekarang!" titah Lucas. Peraturan kedua istana Black Angel, semua penghuni istana harus berada di meja makan selama jam makan malam. Tidak ada yang diperbolehkan untuk makan di dalam kamar. Meski dalam keadaan sakit sekali pun, kecuali dia sendiri yang memberikan izin.


"Tuan Matthew menolak untuk makan bersama, Tuan. Tadi sudah saya bujuk berkali-kali ke kamarnya," ungkap Lady, wanita yang mengurus Matthew setelah ibunya meninggal dunia.


"Anak itu makin hari makin kurang ajar saja. Sekolah tinggi-tinggi pun tidak ada manfaatnya," geram Lucas. Padahal dia tahu persis kalau putranya itu tengah melewati fase terberat dalam hidup. Tapi dia tidak peduli sedikit pun juga.


"Biar aku yang membujuk Matthew untuk makan malam bersama kita," imbuh Amanda berdiri dari tempatnya.


Raut ketidaksukaan terlihat sekali di wajah Lucas. "Duduk! Aku tidak menyuruhmu untuk menemui anak itu."


Amanda masih berdiri tidak menggubris perintah suaminya. Kelopak mata Lucas terbuka sempurna lantaran kesal sang istri muda tidak mengindahkan perkataannya.


"Duduk kataku! Atau kamu mau aku patahkan kedua kakimu itu, Amanda?" gertak Lucas tidak main-main. Setiap yang dia lontarkan, akan selalu menjadi kenyataan.


Amanda mendengus sebal dan kembali duduk di kursi yang berada di samping Lucas. Wajah pun turut merengut kesal sebab suami tuanya itu selalu mengendalikan dirinya dengan ancaman-ancaman mengerikan.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2