Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 28 Berpandangan Mata


__ADS_3

"Wah... wah... wah... setelah dua hari mendekam di dalam kamar, akhirnya si pengantin baru keluar juga," sindir Bellen yang melihat Amanda turun dari eskalator. "Pasti wanita ini dibuat kelimpungan oleh permainan suami kita. Lihat saja tubuhnya, banyak sekali bekas cambukan. Uh... ah... uh..." ucapnya pada Lavina sembari cekikikan.


Amanda berusaha memasabodohkan selorohan Bellen dengan melewati begitu saja perempuan tersebut tanpa berniat untuk menimpali ataupun sekedar menoleh. Dia berjalan seraya mendongak, memperlihatkan keangkuhan. Padahal dalam hati, merasa pilu.


"Sombong sekali kamu. Baru juga dua hari menjadi istri dari seorang miliader, sudah bertingkah!!" Bellen membetot kasar tangan Amanda sebab gadis itu bersikap apatis padanya. Dia senang sekali membuat keributan karena itu terus memancing amarah madunya.


"Kamu mau apa, hm...?" sahut Amanda pongah dengan menarik dagu ke atas. Tanpa gentar, dia seakan menantang Bellen untuk berduel. Karena tidak ingin terlihat lemah dan mudah diinjak-injak di mata siapa pun.


Bellen geleng-geleng kepala seraya bertepuk tangan mengitari tubuh Amanda. "Aku salut dengan keberanianmu, pelacur...!!"


Disebut pelacur oleh perempuan rendahan seperti Bellen, tentu saja Amanda tidak bisa menerimanya. Lantaran dia bukanlah perempuan yang senang menjajakan tubuh kepada lelaki mana pun. Amanda mencengkeram kuat tangan Bellen lanjut memelintirnya. "Jaga mulutmu itu! Aku bukan pelacur seperti yang kamu tuduhkan!"


"Lepas, sialan!!" pekik Bellen memukuli lengan Amanda menggunakan tangan satunya. Dia menggerenyotkan bibir antara emosi juga kesakitan. "Lepas kataku!!" sentak Bellen lantaran Amanda kembali memelintir tangan kanannya. Dia terus memukuli lengan Amanda berharap cekalannya terlepas. Namun yang terjadi, semakin pukulan mengencang. Semakin kuat pula Amanda memutar tangannya.


Lavina hanya terdiam, tidak tahu harus berbuat apa. Karena kedua tangannya saat ini masih terluka oleh perbuatan Lucas kemarin. Dia ingin melerai, tetapi teriakannya tidak diindahkan oleh kedua perempuan yang sedang asyik berseteru.


"Sudah... kalian jangan bertengkar terus. Kalau Lucas datang, bisa habis kalian!" kata Lavina dengan nada tinggi. Kepalanya bergerak ke sana ke mari untuk memastikan kondisi, kalau-kalau Lucas muncul tanpa diketahui.


"Kali ini, kamu aku lepaskan. Tapi lain waktu, aku tidak akan mengampunimu, perempuan jahannam!" Amanda akhirnya melepaskan tangan Bellen, kemudian menarik langkah lebih dulu menuju ruang makan. Saliva ditelan berkali-kali seraya mengatur napas yang terasa lebih cepat dari sebelumnya.


"Ayo Bellen, sebentar lagi suami kita akan turun. Berlagalah seolah tidak terjadi apa-apa atau kamu tanggung sendiri akibatnya!" sinis Lavina menyusul Amanda ke ruang makan dan meninggalkan Bellen yang termangu. Sebab kini dia memiliki dua musuh sekaligus di istana Black Angel yakni Amanda juga Lavina.

__ADS_1


"Awas saja! Suatu saat, aku akan membalas kalian satu per satu! Tunggu waktunya tiba!" gerundel Bellen makan bawang.


Bellen buru-buru pergi dari ruangan tersebut menuju ruang makan lantaran melihat Lucas mulai menuruni tangga eskalator. Dia tidak ingin sang suami memergokinya masih berada di tempat semula karena peraturan istana yang didominasi warna hitam dan gold itu, tidak memperbolehkan penghuninya berkeliaran sebelum jam sarapan selesai.


"Hai..." sapa seorang pemuda yang duduk sendirian di kursi makan. Dia berusaha mengukir senyuman, meski sorot mata tidak dapat menutupi perasaannya bahwa dia tersakiti akan pernikahan sang kekasih dengan ayahnya. "Duduk di sini!" serunya sembari menepuk-nepuk alas kursi di sebelahnya.


Amanda menatap sendu sang lelaki pujaan yang sekarang telah berubah status menjadi anak tiri. Sampai detik ini, gadis itu masih belum bisa menerima keadaan kalau dia menikah dengan seorang pria buruk hati yang ternyata adalah ayah kandung pria yang dicintai.


"Jangan duduk di sana, itu tempat Bellen. Kamu duduklah di sini karena saat ini posisimu sebagai istri muda Lucas..." ujar Lavina menarik sebuah kursi untuk diduduki Amanda.


Gadis bernetra biru itu menganggukkan kepala kemudian mendaratkan panggulnya di atas kursi yang sudah disiapkan Lavina. "Terima kasih. Maaf... sampai sekarang aku belum tahu namamu. Namaku Amanda. Amanda Shawnette."


Lavina tersenyum ramah lalu duduk di samping Amanda. "Aku Lavina Rodriguez, istri kelima Lucas Denver."


"Ehm..." deham Lucas memainkan dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu tipis. "Senang sekali melihat kalian berdua akur," ujarnya melirik ke arah Bellen yang duduk merengut sembari bersungut-sungut. Dia tahu betul bagaimana perangai istri keempatnya itu yang tidak menyukai kehadiran Amanda di istana miliknya.


Amanda langsung terbungkam sembari memutar bola matanya malas, mendengar omong kosong yang keluar dari mulut beracun Lucas. Dia duduk dalam posisi tegak lurus dan tidak sengaja berpandangan mata dengan Matthew, mantan kekasihnya.


Napasnya naik turun, kedua mata terkunci pesona pemuda yang dicintai. Pikiran berkelana, mengingat setiap memori indah yang sudah dilewati bersama.


"Jaga mata kalian! Karena aku tidak akan ragu-ragu untuk menusuk ataupun mencongkelnya keluar!" gertak Lucas merasa cemburu karena sang istri menatap putranya sedemikian rupa. Amanda terkesiap dan langsung memalingkan muka.

__ADS_1


"Kenapa papaku tidak ikut makan bersama kita?" tanya Amanda mengalihkan topik pembicaraan. Sejak tiga hari lalu, dia belum juga dipertemukan dengan Orman, ayahnya.


Lucas melempar pisau ke arah Amanda. Beruntung benda tajam itu tidak mengenai sasaran karena meleset dan terjatuh di depan Lavina.


"Jangan suka mengalihkan pembahasan! Aku tidak suka," geram Lucas.


"Lalu apa yang kamu suka?" Amanda balik bertanya dengan intonasi sinis.


"Kamu! Serta tubuh indahmu. Suara merdu dan ******* seksimu," sahut Lucas. "Aku menyukai semua itu. Apalagi saat kamu memasrahkan apa yang kamu miliki untuk aku nikmati."


"Cukup!!" Matthew berdiri seraya berteriak lalu mengarahkan jari telunjuk kepada Lucas dan Amanda. "Kalian berdua sama-sama menjijikkan!! Apa tidak bisa, kalian menahannya sampai waktu sarapan selesai?" Matthew menarik napkin yang terselip di kerah pakaiannya lalu melemparkan ke atas meja. Dia pergi dengan bermuram durja, tidak kuat hati mendengar celotehan sanga ayah yang membuat panas telinga.


"Tidak ada yang boleh meninggalkan meja makan!!" bentak Lucas. "Kembali ke tempat dudukmu sekarang juga, Matthew!!" Lucas menggulir kepala ke samping dan menyorot tajam ke arah putranya.


"Aku tidak lapar, Dad!" jawab Matthew sembari berlalu menahan rasa sakit yang menghentak kalbu.


"Apa kamu tuli, anak sialan...!!!" teriak Lucas dengan suara meninggi. Terlihat urat-urat di lehernya menegang serta bola mata seakan ingin keluar dari dalam sangkar.


Langkah Matthew terhenti lantaran teriakan sang ayah padanya. "Aku punya hak atas diriku sendiri, Dad! Berhenti untuk mengatur dan mengendalikanku. Aku bukan anak kecil lagi."


Matthew meneruskan langkah yang sempat dia jeda untuk meninggalkan ruang makan ke tempat di mana dia bisa menenangkan pikiran. Sementara itu, suasana berubah hening dan kaku, yang terdengar hanya suara dari beberapa maid yang tengah menyiapkan sarapan untuk semua majikannya.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2