Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 35 Kubur


__ADS_3

Seorang gadis berusia tujuh belas tahun, duduk meringkuk sembari menggoyang-goyangkan badannya. Dia menantikan kepulangan seseorang yang baginya adalah sosok pelindung serta penyelamat.


Gadis itu mendengar suara tangisan dari luar kamar. Dia menajamkan pendengaran dan meyakini bahwa suara itu adalah suara lelaki yang dia tunggu-tunggu beberapa hari ini.


"Matthew? Ya itu suara Matthew!" Ivana langsung berdiri lalu menarik langkah kaki seribu keluar dari kamar. Dan benar saja lelaki tampan nan pemberani itu telah kembali. Dan saat ini tengah berada dalam dekapan Allina.


"Matthew, kaukah itu?" tanya Ivana dari depan pintu.


Matthew sontak melepas pelukannya lalu menggulirkan kepala ke arah seseorang yang menyebut namanya. Dia tersenyum simpul pada gadis remaja yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri.


"Iya, Ivana. Ini aku," sahut Matthew merentangkan kedua tangan. "Kemarilah... apa kamu tidak mau memeluk kakakmu ini, hm...?" tanyanya pada Ivana menyembunyikan kesedihan. Meski, kedua netra tidak dapat berdusta kalau dia tengah menyimpan lara.


Gadis yang sebetulnya bukan anak kecil lagi dan mulai memiliki ketertarikan pada lawan jenis itu, langsung berlari lalu membenamkan wajahnya di dalam dada Matthew. "Aku merindukanmu, Matthew. Aku takut kalau mereka terus mengejarku...."


Matthew mendorong lembut tubuh Ivana dengan memegangi kedua lengannya lalu menatap hangat . "Nanti malam, kita akan pergi dari sini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun membawamu."


Ivana menitikkan air mata lantaran terharu masih ada orang baik di dunia ini yang bersedia menolongnya secara tulus ikhlas. "Terima kasih Matthew, terima kasih. Apa jadinya kalau aku tidak bertemu denganmu. Mungkin aku sudah mati, a-atau orang-orang itu berhasil menangkap lalu menjualku ke luar negeri."


"Sebetulnya yang menolongmu dari amukan ombak waktu itu adalah kekasihku. Dan dia juga yang memintaku untuk menjagamu," ungkap Matthew karena selama ini Ivana menyangka dialah yang menolongnya dari maut.


"Ke-kekasihmu? Lalu di mana dia? Kenapa dia tidak bersama kita? Aku ingin sekali berterima kasih padanya, Matthew..." kata Ivana bersemangat.


Wajah sumringah Matthew mendadak sendu sebab dia teringat kembali pada pujaan hati yang lebih memilih menikah dengan sang ayah ketimbang dirinya. "Tidak usah dipikirkan soal itu, yang terpenting kamu selamat dan nanti malam aku akan membawamu pergi ke suatu tempat."


"Kita akan pergi ke mana, Matthew? Lalu bagaimana dengan Bibi Allina? Kita tidak mungkin meninggalkannya seorang diri di sini," tanya Ivana menengokkan kepala ke arah wanita yang berdiri di samping Matthew.

__ADS_1


"Ini rumahku, Nak. Ini tempat tinggalku. Aku tidak akan ke mana-mana. Kalau pun aku harus mati, aku ingin mati di sini," jelas Allina seolah-olah dia telah memiliki firasat tidak baik mengenai dirinya.


Matthew menarik tangan Allina lantas menggenggamnya. "Aunty ikutlah bersamaku. Kita pergi jauh dari desa ini atau bila perlu, kita ke luar negeri lalu bersama-sama memulai hidup yang baru dengan identitas baru."


Allina menggeleng-gelengkan kepala lalu menepuk-nepuk punggung tangan keponakannya. "Aunty tidak akan pergi ke mana-mana. Uncle-mu mati dan dikuburkan di sini. Begitu pun juga dengan Aunty, ingin mati di tempat ini. Lagi pula, Aunty sudah terbiasa sendirian dan kesepian. Jadi, cukup kalian saja yang pergi."


Matthew menunduk sesaat sembari menghela napas lalu mendongak ke arah Allina. "Baiklah... kalau Aunty tidak akan pergi bersama kami. Meski kami berharap, Aunty bisa berubah pikiran."


Allina menatap wajah Matthew lalu melihat ke arah Ivana. "Aunty akan baik-baik saja, kalian tidak perlu cemas. Pergi sejauh yang kalian bisa karena Aunty yakin orang-orang yang mengejar kalian bukanlah orang sembarangan."


Matthew mengangguk pasrah. "Kalau begitu, aku ke kamar dulu untuk mempersiapkan semuanya agar tidak ada yang tertinggal. Karena perjalanan kami kali ini akan lebih panjang dan melelahkan."


Allina mengerdipkan mata, tanda dia mengiyakan ucapan Matthew. Pemuda berusia dua puluh lima tahun itu langsung saja beringsut menuju kamar. Membiarkan Allina bersama Ivana bercengkerama, sebelum mereka berpisah.


...***...


Sesekali, dia menyeka peluh bercampur tetesan hujan yang membasahi wajah. Dia tidak ingin menyerah, dengan terus saja mengeruk tanah, membuat lubang besar untuk tempat persemayaman terakhir sang ayah.


"Apa yang sedang kamu lihat Lavina?" Bellen tiba-tiba muncul dari balik punggung madunya. Dia melihat ke arah mata Lavina memandang. Bibirnya mengembang sempurna seperti tengah memenangkan lotre. Saat sepasang manik mata menangkap sesosok wanita, tengah mengeduk tanah di bawah derasnya air hujan.


"Perempuan sialan itu sedang apa? Menggali kubur buat dirinya sendiri?" kekeh Bellen tertawa renyah. "Apa dia pikir akan menyenangkan menjadi istri seorang Lucas Denver? Belum apa-apa, dia sudah gila seperti ini," cibirnya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Cibiran demi cibiran begitu ringan keluar dari mulut yang penuh bisa.


"Kenapa kamu diam saja, Lavina? Apa kamu tuli? Apa kamu bisu?" sentak Bellen sebab mulut wanita di sampingnya tertutup tanpa celah, dengan kedua mata tidak lepas dari memandangi Amanda.


Bellen mencebik lalu menarik lengan Lavina agar melihat ke arahnya. "Kamu kenapa bersikap acuh tak acuh padaku, Lavina?"

__ADS_1


Lavina masih saja terbungkam. Dia melengoskan wajah lalu mengarahkan jari telunjuk ke area taman. Bellen yang tengah mengoceh, seketika terperanjat. Mulut yang semula bersungut-sungut, sontak terkatup rapat.


"I-itu siapa yang digeret si perempuan sialan? A-apa dia telah membunuh seseorang? Di-dia habis membunuh?" pekik Bellen tidak percaya dengan pemandangan mengenaskan di depannya. Tidak terpikir sedikit pun olehnya, gadis lugu nan polos itu bisa melakukan hal di luar batas.


Lavina mendengkus lantas melirik tajam ke arah Bellen. "Kamu bodoh atau tolol? Mana mungkin dia membunuh seseorang di istana ini!"


"Lalu, laki-laki itu?" Bellen menunjuk-nunjuk ke arah pria yang terbujur kaku.


"Itu Omran, ayah kandung Amanda," lirih Lavina turut merasa berduka. Di samping itu, dalam hatinya pun muncul kekhawatiran setelah mendengar desas-desus perihal kematian pria malang itu.


Bellen tergelak di tengah-tengah kepedihan orang lain. "Ini berita bagus dong... ayahnya mati dan dia bersedih. Uh... kasihan...."


"Kamu tahu kenapa ayahnya meninggal?" tanya Lavina yang dibalas dengan gelengan kepala. "Omran tewas lantaran dihabisi oleh suami kita," ungkap Lavina getir.


Bellen menanggapi dengan raut datar karena dia benar-benar bahagia, membayangkan bagaimana terpuruknya Amanda saat ini. Bahkan melihat Amanda yang tengah bersusah payah menguburkan sang ayah, bagai sebuah hiburan tersendiri untuknya.


"Kalau kamu tahu alasan Lucas membunuh Omran. Apa kamu masih bisa bertingkah setenang ini, Bellen?" sinis Lavina.


"Aku tidak peduli. Terpenting bagiku, Amanda menderi—"


"Lucas membunuh Omran karena mengetahui Amanda bermesraan dengan Matthew," potong Lavina. "Bisa saja esok atau lusa giliran kita, kalau perselingkuhan kita terbongkar," jelas Lavina dan berhasil membungkam mulut lebar madunya.


Bellen mengerjap-ngerjapkan kelopak mata. Kegelisahan turut menerpa dirinya. Apa yang terjadi pada Omran juga Amanda. Bisa juga terjadi padanya serta Leo.


"Lucas belum berubah, dia masih seperti yang dulu. Kejam dan tidak mengenal belas kasihan!" gumam Lavina yang masih terdengar jelas oleh telinga Bellen.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2