
Setelah melalui perjalanan panjang selama tujuh belas jam. Akhirnya, pemuda bernetra cokelat pekat dan berlesung pipi itu telah sampai di tempat yang tak asing di benaknya. Tempat di mana banyak sekali kenangan-kenangan manis yang tercipta antara dirinya dan juga sang kekasih tercinta.
Rasa rindu perlahan menelusup ke dalam jiwa. Kepingan-kepingan masa lalu bak sebuah fuzzle yang semula tercecer dan kini tersusun utuh kembali.
"Aku merindukanmu, Amanda..." desah Matthew, memberhentikan mobilnya dan menatap ke arah di mana dia mengungkapkan perasaan pada sang gadis pujaan beberapa tahun silam. "Terlalu banyak kisah manis tentang kita berdua. Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu dengan mudah?"
Matthew menghela napas lalu mengambil gambar menggunakan ponsel miliknya. Dia mengirimkan foto tersebut pada Amanda, tanpa disertai kata-kata. Sebab gambar yang dia kirimkan, sudah cukup mengatakan segalanya.
"Maaf Amanda... aku tidak mampu membuangmu dari pikiranku. Kamu adalah setengah nyawaku..." desah Matthew, lalu mematikan dan menyimpan kembali telepon genggamnya ke atas dashboard. Dia tidak ingin membuang-buang waktu dengan menunggu balasan dari sang mantan kekasihnya tersebut.
"Aku harus melanjutkan perjalanan, hanya tinggal beberapa menit lagi aku akan sampai." Matthew menyalakan kembali mobilnya dan melajukan dengan kecepatan sedang. Sebab bangunan yang ingin dituju olehnya saat ini, sudahlah terpampang nyata di depan mata.
Perlahan, Matthew mulai memasuki tempat parkir Rumah Sakit. Berkali-kali dia menghembuskan napas, meredakan kegelisahan yang menukik ke dalam ulu hati. Sebab hingga detik ini, dia masih belum bisa sepenuhnya percaya akan kenyataan, bahwa wanita yang dia rindukan bertahun-tahun lamanya ternyata masih hidup sampai saat ini.
"Ya Tuhan... benarkah dia mommy-ku? Kau tidak sedang mempermainkan perasaanku lagi, 'kan, Tuhan?" lirihnya, dengan suara tertahan di tenggorokan.
Matthew meyakinkan dirinya, lalu keluar dari mobil dengan detak jantung yang bertalu-talu. Selangkah demi selangkah, dia menyusuri bangunan yang didominasi cat warna putih seraya menundukkan kepala. Lantaran dia menyadari akan berpasang-pasang mata yang menyoroti dirinya dengan ribuan tanya.
Semua itu adalah wajar mengingat bagaimana dekatnya hubungan Matthew dengan Amanda selama ini. Di mana jalinan cinta mereka, sudah menjadi rahasia umum di kalangan para pekerja Rumah Sakit tersebut.
Gerak langkah kaki perlahan membawanya menuju lantai dua. Dan kini, pemuda itu telah berada di koridor ruang perawatan yang sepi dari orang berlalu lalang. Dia menghampiri bagian informasi, lalu menanyakan ruangan di mana ibunya mendapatkan perawatan.
__ADS_1
Seorang perawat menunjuk kamar yang bersebelahan dengan tempat peribadatan. Matthew mengangguk dan dengan setengah berlari, dia mendekati ruangan yang ditunjukkan kepadanya.
Pemuda berlesung pipi itu berdiri mematung di depan kamar seraya menatap sang ibu dari kaca yang terdapat pada daun pintu. Seluruh tubuh bergetar, kebimbangan menguasai diri.
"Aku datang, Mom..." Matthew membuka pintu, sedikit demi sedikit. Wanita tua yang tengah terduduk melamun di atas ranjang, sontak melihat ke arahnya dengan mata berkilatan bahagia.
Keduanya sama-sama terbungkam. Namun, saling menatap penuh rindu. Walau seribu tanya di dalam dada menghantui pikiran, tetapi ikatan kuat antara anak dan seorang ibu, tidak akan pernah terkalahkan.
Matthew berjalan mendekat, bibirnya bergetar dengan linangan rasa haru yang mengembun di pelupuk mata. Kebahagiaan sudah tak bisa lagi terbendung, tumpah ruah dalam pelukan hangat seorang ibu.
"Aku Matthew, Mom... putramu," isaknya mendekap erat tubuh ringkih sang ibu. "Aku merindukanmu, Mom. Sangat... selama ini Mom di mana? Kenapa tidak mau menemuiku? Apa Mommy marah karena aku anak yang nakal, iya?" tangisnya semakin membuncah, mengingat hidup yang penuh derita sebab kehilangan sosok ibu sejak usia lima tahun.
Allison mendorong lembut tubuh putranya lantas merangkum wajah yang diidam-idamkannya itu. Dia meraba-raba paras sang anak yang selama ini hanya bisa dia tatap dari layar telepon, lalu tersenyum sendu. "Benarkah ini kamu, Nak? Putraku? Pelita hidupku? Darah dagingku? Seluruh nyawaku?"
Allison menarik tubuh Matthew ke dalam pelukannya lalu memberondong pemuda itu dengan kecupan yang telah lama tidak dia berikan.
Keduanya meraung-raung, mencurahkan segala yang ada di dalam hati. Bukan hal mudah memendam penderitaan selama dua puluh tahun lamanya. Di saat kebahagiaan menjelang, jutaan air mata tak akan mampu melerai.
"Mom selama ini ke mana? Kenapa dad bilang kalau Mom sudah meninggal? Apa Mom tidak tahu kalau hidupku kesepian?" Bagaikan seorang anak kecil, Matthew merajuk pada ibunya seraya terisak-isak. "Apa Mom membenciku? Apa karena aku anak yang tidak patuh? Sehingga Mom meninggalkanku?"
Allison geleng-geleng kepala karena pertanyaan-pertanyaan putranya. "Tidak Nak, tidak... justru Mom sangat merindukanmu selama ini. Mom... Mom... selama dua puluh tahun disekap dan dipasung oleh daddy-mu di gudang tak terpakai."
__ADS_1
"Di-disekap? Di-dipasung oleh daddy?" lirih Matthew, tubuhnya melemas seketika. Air mata pun tiba-tiba mengering. "Kenapa daddy sejahat itu pada kita, Mom? Kenapa??!" teriak Matthew, dengan api amarah membara di dalam dada.
"Sabar, Nak. Tahan emosimu... bagaimanapun dia, Lucas tetaplah daddy-mu. Laki-laki yang harus kamu hormati sebab darahnya mengalir dalam darahmu," cakap Allison mengusap-usap punggung sang anak.
"Ayah macam apa yang selalu merenggut kebahagiaan dari tangan anaknya sendiri, Mom? Dia sudah merebut Mom, lalu merampas kekasihku juga..." rengek Matthew. Tubuhnya melungsur, dia merebahkan kepala di atas pangkuan sang ibu seraya tersedu-sedan.
"Ya Tuhan... maafkan Mom yang tidak bisa membela dan menjagamu, Nak..." kata Allison membelai kepala putranya. "Mom turut bersedih, dengan kejadian yang kamu alami. Tapi Mom yakin, suatu hari daddy-mu pasti akan berubah. Dia pasti akan sadar...."
Matthew berdecih, "Tidak ada yang bisa diharapkan dari si bedebah itu, Mom. Hatinya sudah beku, mati. Tidak ada lagi nurani...."
Allison mendesah, "Mom tidak ingin membicarakan pria itu lagi. Mom hanya ingin berbagi kerinduan denganmu, Nak...."
Matthew mengangguk tipis dan memandang wajah ibunya. "Maafkan aku karena telah membangkitkan luka lama di hati Mom...."
"Tidak apa-apa, Nak..." jawab Allison singkat, seraya mengusap-usap pucuk kepala putranya.
Matthew seketika bangkit dari posisinya dan duduk di depan sang ibu. Sebab dia teringat kembali mengenai pertemuan Allison dengan kekasihnya. "Oh iya Mom, bagaimana ceritanya bisa bertemu dengan Amanda? Bukankah Mom disekap di dalam gudang, yang aku saja tidak tahu gudang yang mana?!"
Sebelum menjawab, Allison menanyakan perihal Amanda terlebih dahulu kepada putranya. "Apa kekasih yang kamu maksud adalah... Amanda?"
Matthew mengangguk lesu lalu menundukkan kepala. "Iya, Mom. Amanda dulu kekasihku, sebelum daddy merampasnya. Padahal, aku ingin melamarnya waktu itu...."
__ADS_1
Allison bisa merasakan kesedihan juga kegetiran, dari raut serta ucapan putranya. Dia sangat menyesal sebab tidak bisa menemani sang buah hati, di saat dia membutuhkan dukungan darinya.
...*****...