
Melihat tidak ada satu pun yang peduli dengan nasib Lavina, Amanda bergerak cepat tanpa banyak berpikir. Dia memangku wanita itu, meski tenaganya tak cukup kuat.
Sedikit terkeok-keok, Amanda membawa Lavina ke luar gedung untuk mencari bantuan. Beruntung ada dua pria berseragam lengkap yang berkenan menolong Lavina dan segera melarikan perempuan itu ke Rumah Sakit terdekat.
Di sisi lain, Samuel tengah menyeret Lucas seperti seekor binatang jalangg. Keberadaan keduanya dijaga ketat oleh orang-orang kepercayaan Samuel. Mereka memasang mata serta telinga, melindungi sang pemimpin dari serangan musuh yang bisa kapan saja mengancam keselamatan jiwa.
Lima mobil tahanan yang terbuat dari bahan anti ledakan dan anti peluru, telah siap untuk menerjang badai. Sejumlah pasukan dilibatkan lantaran mereka akan melewati mara bahaya yang telah menunggu di depan sana.
"Cepat, masuk!!" Samuel mendorong Lucas agar segera naik ke dalam kendaraan yang berbentuk seperti truk. Pria tua itu mengeraskan tubuhnya karena tidak ingin mematuhi perintah Samuel. Dengan terpaksa, pria berseragam itu menendang bokong Lucas. Pria tua itu tersungkur dengan wajah mengenai benda keras.
"Kamu tidak tahu siapa aku, bocah sialan!!" geram Lucas, tersulut amarah.
"Tentu saja aku tahu. Kamu adalah Lucas Denver Alonzo, si laki-laki tua tak berguna yang sebentar lagi akan menghirup aroma kematian!!" Samuel naik ke atas mobil, lalu membetot rambut Lucas agar pria tersebut masuk ke dalam mobil tanpa harus disuruh.
"Sakit, bodoh!!" sembur Lucas lantaran Samuel menarik rambutnya sangat kencang. Dia duduk berhadapan muka dengan Samuel dan menyorotkan tatapan kebencian pada pemuda di depannya.
"Itu belum ada apa-apanya Lucas. Kematian yang akan menjemputmu, rasa sakitnya berkali-kali lipat dari ini," sahut Samuel dengan tatapan tak kalah mematikan. "Bisakah kamu bayangkan, bagaimana rasanya ketika malaikat maut mencabut nyawamu secara perlahan?"
"Diam, brengsek!!" murka Lucas ingin menghajar Samuel, membabi buta. Namun, pemuda tersebut lebih dahulu meninju mukanya berkali-kali.
"Ayo sini, lawan aku!!" tantang Samuel, menggerak-gerakkan jari-jarinya.
Lucas beranjak seraya mengerang dan mengupat-ngapitkan kedua tangan yang terkekang sebuah borgol. Samuel membalas dengan menerjangkan sebuah tendangan keras dan mengenai perut Lucas. Pria tua itu mengaduh kesakitan, berjumpalitan di atas lantai mobil.
Samuel hanya cengengesan dan tidak mempedulikan rengekan Lucas yang semakin lama semakin kencang.
Mobil terus melaju dengan cepat dan sudah jauh meninggalkan lokasi semula menuju tempat yang dituju yakni penjara khusus. Lucas sengaja dipindahkan ke sana untuk meminimalisir serangan dari orang-orang suruhannya.
Pria tua itu kini sudah lebih tenang, dia kembali duduk sembari bersandar dengan mata terpejam, berpura-pura tertidur.
__ADS_1
Sementara Samuel, kedua matanya tidak lepas dari mengawasi gerak-gerik Lucas yang selalu mencuatkan rasa curiga. Di saat semua orang tertidur, hanya dialah yang tetap terjaga. Menajamkan penglihatan serta pendengaran. Karena dia sangat yakin orang-orang Lucas tengah menyiapkan siasat untuk melepaskan pemimpin mereka.
Hal yang dikhawatirkan pun terjadi, dua mobil yang berada di posisi paling belakang terjungkal berguling-guling karena hantaman peluru torpedo yang diluncurkan dari atas helikopter. Dan sekarang, dua mobil yang berjejer di depan turut terjungkal lantaran terjangan peluru berukuran besar tersebut.
Kini hanya tersisa satu kendaraan yang masih melaju, yaitu mobil yang membawa Lucas di dalamnya. Samuel membuka pintu mobil lalu mengacungkan sebuah senapan anti pesawat. Dia mengunci target dengan cepat dan BOOM, tembakan pun meluncur. Helikopter meledak di udara dan menjadi serpihan-serpihan yang berterbangan di angkasa.
"Segitu saja kemampuan anak buahmu Lucas?" cibir Samuel, memasukkan kembali senjata berukuran besar tersebut ke dalam mobil.
Lucas bertepuk tangan, menyahuti selorohan Samuel. "Aku akui kamu memang cerdik Kapten! Tapi itu karena keberuntungan sedang berpihak. Lihat saja, suatu saat kesialan akan menimpamu. Dan ketika itu, riwayat seorang Kapten Samuel akan tamat!!"
"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan tamat!!" balas Samuel, tersenyum miring.
Mobil yang semula melaju, terpaksa berhenti mendadak sebab di depan sana berjajar anak buah Lucas menodongkan senjata dengan peluru tembus baja. Mereka telah mengunci sasaran, bersiap membidik target pihak lawan.
"Ada apa ini, kenapa mobil berhenti?" Samuel bertanya seraya membuka sekat yang membatasi dirinya dengan sopir mobil tahanan tersebut.
Kening pria bernetra cokelat tersebut mengerut, melihat ke posisi di mana bahaya sedang menunggu. "Tabrak saja mereka!!"
"Ta-tabrak?" ulang anak buah Samuel.
"Iya tabrak! Apa kalimatku kurang jelas?" geram Samuel lantaran bawahannya itu malah balik bertanya.
"Tapi Kapten, coba perhatikan senjata yang mereka bawa," pintanya gelagapan.
"Aku bilang tabrak ... tabrak!!" sentak Samuel, tidak sabar. "Kau mau menuruti perintahku dan tetap hidup atau mati konyol dan terkenang sebagai seorang pecundang?" teriaknya, tidak ingin disergah.
"Si-siap, Kapten. Perintah, kami laksanakan!" Anak buah Samuel menginjak dalam pedal gas dan mobil pun meluncur menghantam apa pun yang berada di depannya.
Tembakan demi tembakan dari senjata laras panjang, terpental begitu saja dari badan mobil. Kendaraan yang membawa Lucas bisa melewati rintangan dengan sangat mudah.
__ADS_1
"Lucas... Lucas, posisi kita 2:0. Berusahalah lebih keras lagi karena otakmu tidak secerdas otakku!!" Samuel terbahak-bahak, mengolok-olok pria di hadapannya.
"Sialan kamu, bocah gila...!" berang Lucas sebab Samuel berhasil menggagalkan upaya pelolosannya.
"Bukan aku yang gila, tapi otakmu dan anak buahmu yang sama-sama memble!" hina Samuel, terpingkal-pingkal. "Come on, Lucas! Aku tak sedungu seperti yang kamu kira. Harusnya kamu tahu itu!" Samuel terus tertawa mencemooh kebodohan Lucas serta anak buahnya.
Lucas menggeram kesal. Kali ini dia tidak bisa berkutik, Samuel benar-benar sudah membuatnya mati kutu.
...***...
Sementara di depan ruang operasi, Amanda tengah mondar-mandir menunggu informasi mengenai ketersedian darah. Pasalnya sekarang ini, kondisi Lavina berada di ujung tanduk. Dia kehabisan banyak sekali darah dan membutuhkan transfusi secepatnya.
"Bagaimana keadaan Nyonya Lavina?" tanya Abigail, yang menyusul sang kekasih hati ke Rumah Sakit.
"Ah, kamu Abigail," desah Amanda menoleh sesaat pada pemuda yang terlihat gusar. "Lavina kritis, dia kehabisan banyak darah," sambungnya, bimbang.
"Apa golongan darah Nyonya Lavina?" tanya Abigail lagi.
"Golongan darah Lavina A negatif dan golongan darah itu sangatlah langka," lirih Amanda, resah akan nasib madunya yang tengah berjuang untuk hidup.
"Golongan darah saya juga A negatif, Nyonya Amanda," sahut Abigail penuh harap.
"Be-benarkah itu?" Mata Amanda berbinar-binar.
"Tentu saja benar, Nyonya. Untuk apa saya berbohong," balas Abigail akan pertanyaan Amanda.
Gadis bernetra biru safir mengangguk-anggukkan kepala dan menuntun tangan Abigail menuju ruang laboratorium. "Ikut aku kalau begitu."
...*****...
__ADS_1