
"Saya bersumpah, bahwa saya akan menerangkan dengan sebenarnya dan tiada lain dari pada yang sebenarnya. Semoga Tuhan menolong saya." Allison mengucapkan sumpah saksi dengan lantang. Tidak ada garis keraguan ataupun ketakutan di wajahnya. Dia telah bersiap untuk melawan Lucas, lelaki yang hingga detik ini masih dia cintai.
"Anda kenal dengan pria yang berdiri di hadapan Anda?" tanya penuntut umum pada Allison.
Wanita paruh baya itu menoleh ke arah pria yang menanyainya, lalu menganggukkan kepala. "Kenal, bahkan sangat kenal!"
"Bisa dijelaskan sedikit, status Anda dengan saudara terdakwa?" pinta sang penuntut umum.
"Tentu saja, bisa. Pria di hadapan saya bernama Lucas Denver Alonzo, yang sampai saat ini masih berstatuskan suami saya" jawab Allison, menatap tajam wajah Lucas.
"Saya dengar dari putra Anda, bahwa saudara terdakwa menyekap Anda, istrinya sendiri selama dua puluh tahun. Benarkah itu?" tanya penuntut umum. "Lalu karena hal apa dia memperlakukan Anda bak seekor binatang?" tekannya, menatap wajah Allison, lalu memicingkan mata ke arah Lucas.
Allison menghembuskan napas, menarik kepalanya ke bawah untuk sesaat lalu mendongakkan kepala. "Benar. Pria bajingan ini telah menyekap saya dua puluh tahun lamanya di dalam gudang tua bersama puluhan ntah ratusan mayat, orang yang dia bunuh secara keji!!"
"Keberatan!! Wanita ini bohong Yang Mulia! Bahkan saya tidak mengenal dia!!" sergah Lucas, menunjuk muka Allison.
"Keberatan ditolak," sahut hakim, singkat. "Silakan jaksa penuntut umum untuk melanjutkan pertanyaan Anda."
"Apa-apaan ini? Apakah Anda sudah disuap, bisa-bisanya berbalik membelot dari keadilan?!" teriak Lucas, dengan jari telunjuk mengarah kepada pria yang duduk di meja hakim. "Apa bayaran dari wanita ini lebih besar dari harga diri Anda, Yang Mulia?" tuduhnya karena rasa kecewa.
"Jaga bicara Anda, Tuan Lucas! Persidangan belum selesai!" jawab hakim, tidak ingin menyahuti selorohan Lucas.
"Lanjutkan, jaksa penuntut umum!" titah hakim pada pria yang berdiri di depan Allison.
"Ceritakan alasannya, kenapa Anda bisa disekap selama itu? Apa Anda mengetahui kejahatan pria ini, yang tak lain adalah suami Anda?" tanya jaksa penuntut.
__ADS_1
Allison mengangguk pasti seraya menatap lurus ke arah sang suami. "Iya! Saya disekap dan dipasung selama dua puluh tahun karena saya mengetahui semua kejahatan suami saya. Dia menyelundupkan narkoba, menculik anak-anak remaja lalu dijual untuk dijadikan pelacurr! Bahkan tidak sedikit dari sekian remaja itu yang dia perkosa lalu dibunuhh tanpa ampun!"
"Bohong Yang Mulia..." erang Lucas, semakin terpojok. "Jangan percaya dengan omongan nenek peot ini! Jelas-jelas saya tidak mengenalnya!!" kelit Lucas.
Allison terkekeh lalu menunjukkan Marriage Certificate. "Ini surat nikah antara saya dengan si bajingan ini. Silakan diperiksa dan saya bisa menjamin keabsahannya!"
Jaksa penuntut umum mengambil surat tersebut dari tangan Allison, lalu diserahkan kepada bagian pemeriksa alat bukti perkara. "Silakan diperiksa."
Ketiga orang yang mengenakan jubah hitam terlihat sangat serius, bergantian memeriksa validitas dari surat nikah yang disodorkan kepada mereka. Kening-kening mengerut, dengan kepala turut manggut-manggut. Ketiga orang pemeriksa tersebut serempak mengatakan bahwa surat nikah itu asli adanya.
"Kamu tidak bisa menyangkal lagi, Lucas!!" cibir Allison merasa puas. "Geledah saja istana pria keparat ini, maka kalian akan menemukan tulang belulang orang-orang yang mati karena ulahnya!" sambung Allison, menarik bibir ke salah satu sudut.
"Saya kembali menegaskan, jangan percaya pada wanita ini! Dia gila! Dia tidak waras! Apa yang dia katakan hanya berdasarkan halusinasi!" teriak Lucas, seperti orang gila.
"Dari reaksimu, terlihat sangat jelas sebenarnya siapa yang gila. Siapa yang tidak waras..." sahut Allison, setenang mungkin.
"Saya saksinya! Saya salah satu dari ratusan gadis-gadis tak berdosa yang diculik dan akan dikirim ke luar negeri! Namun, Tuhan berbaik hati, hingga saya berhasil meloloskan diri!" sahut seseorang dari arah pintu ruang sidang.
"Siapa lagi ini?" gumam hakim, melihat seorang gadis muda berjalan gontai ke dalam ruangan persidangan.
"Dia adalah saksi yang akan saya hadirkan, Yang Mulia. Sekarang dia sudah berada di tengah-tengah persidangan. Gadis malang ini, korban dari kebiadaban si terdakwa!" jawab Samuel, tersenyum lebar.
"Silakan Anda duduk dulu. Setelah saksi kedua selesai memberikan kesaksian, maka giliran Anda," titah hakim pada gadis yang baru saja sampai. Ya, gadis itu adalah Ivana. Dia berhasil diselamatkan oleh orang-orang Samuel dan datang di waktu yang sangat tepat.
"Ivana, kau?" sapa Matthew, dengan senyuman mengembang.
__ADS_1
Wajah sendu Ivana langsung saja sumringah, ketika menyadari bahwa pria yang duduk sejajar dengannya adalah sang kekasih hati. "Matthew...."
Pria berlesung pipi menganggukkan kepala dan terlihat begitu bahagia sebab dipertemukan kembali dengan gadis yang sangat dia rindukan. Dan satu hal yang membuatnya merasa senang adalah gadis itu dalam keadaan baik-baik saja.
"Pertanyaan terakhir dari saya, Nyonya," ucap penuntut umum kembali berucap setelah kondisi kembali tenang. "Lalu, bagaimana akhirnya Anda bisa keluar dari tempat penyekapan itu? Bukankah Anda dalam kondisi terpasung?"
Allison mengitarkan wajahnya ke arah Amanda. "Karena gadis itu. Dia yang telah berbaik hati mengeluarkan dan menyelamatkan saya...."
"Dari saya sudah cukup Yang Mulia," ujar jaksa penuntut umum, membungkukkan badan sesaat lalu beranjak untuk kembali ke tempatnya.
"Bagaimana jaksa penasehat, apakah ada pertanyaan untuk saksi?" tanya hakim pada pria yang duduk tidak jauh dari tempat Lucas berdiri.
"Tidak ada, Yang Mulia," sahut penasehat umum disertai gelengan kepala.
Lucas lagi-lagi dibuat berang. "Dasar tidak becus! Saya membayarmu dengan mahal, tapi kamu malah mengecewakan!!"
"Baik, silakan kembali ke tempat Anda, Nyonya Allison," titah hakim pada wanita paruh baya yang telah selesai bersaksi.
Allison turun dari atas podium lalu tersenyum hangat ke arah Amanda. Dia menggapai tubuh gadis yang baginya bak dewi penolong dan mendekapnya saat erat. "Terima kasih, Nak... terima kasih...."
Semua orang turut terharu melihat pemandangan yang amat menyentuh kalbu, terlebih Matthew. Sebab menyaksikan dua wanita yang dia cintai tengah saling bercengkerama.
Di salah satu sudut, ada lelaki yang tanpa sadar menyimpulkan senyuman. Tatapannya seakan terkunci untuk terus memandangi sang gadis yang dicap buruk di matanya.
"Selama ini aku ternyata salah menerka. Ternyata dia baik, bahkan sangat baik. Aku tidak menyangka sedikit pun bahwa dia bukan hanya parasnya saja yang cantik, tapi hatinya juga," batin Samuel di dalam hati. "Ah... ada apa dengan otakku ini?!" Samuel menggeleng-gelengkan kepala, berusaha melawan apa kata hatinya. Perhatiannya kembali teralihkan sebab hakim memanggil saksi terakhir, yakni Ivana.
__ADS_1
"Kepada saudari Ivana, kami persilakan untuk memberikan kesaksian," ujar panitera. Ruang sidang pun kembali hening dan tegang lantaran kehadiran Ivana akan menjadi penentu bagaimana akhir dari kasus Lucas. Apakah dia bakal mendapat hukuman setimpal atau tetap terbebas dari segala dakwaan.
...*****...