Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 93 I Love You, Mom


__ADS_3

Seratus kantong jenazah berisikan tulang belulang, berhasil diamankan. Semua anggota bekerja keras untuk mengeluarkan sisa-sisa kehidupan yang telah direnggut oleh manusia biadab bernama Lucas.


Rasa lelah, rasa sesak tidak sedikit pun mereka pedulikan. Meski keringat semakin bercucuran serta ruang bernafas kian terbatas, tetapi demi tugas yang diemban, semua itu tidaklah menjadi soalan.


"Ayo semangat, semangat!!" Samuel memberi dukungan untuk seluruh anak buahnya, meski dia sendiri dalam kondisi kelelahan karena turut terjun untuk mengangkat tulang-tulang tersebut. "Dua puluh menit lagi. Setelah itu kita lanjutkan pekerjaan ini esok hari," ucapnya sebab stamina semua anggota mulai melemah.


"Siap, Kapten!" Suara anak buah Samuel menggaung sebab tengah berada di dalam lubang tempat pembuangan mayat.


Hari semakin gelap, tenaga-tenaga telah terkuras habis. Beberapa anak buah Samuel yang baru saja keluar dari lubang tersebut langsung saja terkapar karena rasa lelah yang teramat.


"Masih ada sehari lagi, sekarang kita kembali dulu saja ke markas. Istirahatkan tubuh kalian agar esok pagi kembali bugar dan bersemangat!" ucap Samuel, mengepalkan tangan kanan.


"Baik, Kapten!" jawab sang anak buah, di sisa tenaganya.


Semua beranjak dari istana Black Angel menuju markas yang lokasinya tidak jauh dari bangunan megah tersebut. Mereka berjalan tertatih-tatih seraya mengangkut kantong-kantong jenazah yang tidaklah ringan.


"Ayo cepat-cepat! Semangat semuanya!!" pekik Samuel.


Melihat sang atasan tidak sedikit pun menampakkan rasa lelah, semua turut terpacu tidak ingin kalah. Langkah gontai kini menghentak, melewati setapak demi setapak jalanan berdebu.


Lima belas menit berlalu, semua telah tiba di markas dan langsung membantingkan tubuh-tubuh ringkih di atas rumput. Namun, tidak dengan Samuel. Pemuda itu nampak termenung menatap langit yang telah gelap gulita. Ntah apa yang dipikirkan olehnya sebab kedua telinga menuli meski telepon genggam sedari tadi berdering nyaring.


"Coba lihat Kapten Samuel, sepulang dari istana Lucas melamun terus," bisik seseorang, menyenggol-nyenggolkan sikut ke lengan temannya.


"Palingan juga urusan perempuan," sahut yang lain.


"Perempuan? Memangnya Kapten Samuel suka sama perempuan? Selama ini kita tidak pernah lihat dia bareng perempuan. Sampai-sampai beredar gosip, kalau dia itu maho!" seloroh salah satu dari anak buah Samuel.


"Jaga bicaramu! Tidak mungkin pria segagah Kapten Samuel, maho!"


"Why not? Bisa saja, 'kan, akibat depresi?! Setelah kematian calon tunangannya, Kapten Samuel tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun?!" sahut pria bertahi lalat.


"Kalian berdua salah, aku sangat yakin dia lagi teringat sama istri Lucas yang cantik dan montok itu!" Seseorang turut menimpali obrolan kedua temannya.


"Maksudmu, Nyonya Amanda?" bisik pria bertahi lalat.


"Siapa lagi? Apa kalian tidak memperhatikan bagaimana tatapan Kapten Samuel melihat wanita itu?" tanya pria berambut blonde.


Kedua anak buah Samuel lainnya geleng-geleng kepala lantaran tidak pernah menangkap raut berbeda dari paras sang atasannya itu.


"Sudah... kalian masuklah ke dalam tenda. Gunakan waktu yang ada buat beristirahat, bukan malah dipakai menggosip macam nyonya-nyonya sosialita!" tegur seorang pria yang sejak tadi hanya menguping obrolan teman-temannya.

__ADS_1


"Ya, ya, ya..." sahut semua yang tengah membahas masalah pribadi atasannya. Mereka bertiga cepat-cepat beranjak, sebelum pria yang menegur barusan melaporkan mulut-mulut lemas mereka kepada Samuel.


Di sudut lain, lelaki bernetra cokelat masih asyik masyuk dengan khayalannya sendiri. Perasaan tak biasa yang perlahan menelusup ke dalam hatinya, mengusik pikiran serta hari-hari yang mendadak terasa hampa.


"Apa aku sudah gila, Tuhan... memikirkan istri seseorang?" gumam Samuel, menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang berkerlipan. Namun, yang muncul di matanya kini hanya paras seorang wanita yang sudah lama tidak dia jumpai.


"Duar...!!" Seseorang tiba-tiba datang mengagetkan Samuel.


Pria muda itu sontak terkesiap dan langsung saja menodongkan senjata apinya. "Astaga... Jeanny! Hampir saja aku menembakkan pistol ini ke kepalamu!!"


Jeanny hanya cengengesan karena sudah berhasil mengerjai sahabatnya itu. "Lagian, aku berdiri di belakangmu sudah setengah jam. Dan selama itu pula, kamu hanya bengong melihat ke arah langit."


"..." Samuel menghela napas. "Aku cuman kelelahan saja, Jen," kelit Samuel menyembunyikan hal besar pada teman karibnya itu.


"Boleh aku duduk di sini?" tunjuk Jeanny pada kursi lipat yang kosong.


Samuel terkekeh, "Apa aku tidak salah dengar? Biasanya juga kamu duduk di mana saja sesuka hati!"


Jeanny tidak mengubris ledekan Samuel, dia duduk di samping teman karibnya itu dan turut menatap langit. "Apa yang kamu lihat? Langit atau wajah seseorang?"


Samuel menoleh dengan kedua alis terangkat tegak. "Pertanyaan yang aneh!"


"Jangan bilang kalau kau sedang jatuh cinta," seloroh Samuel, sekenanya.


Jeanny menelan saliva dan bibirnya bergetar. "Terkaanmu benar, Sam."


"Really?" sahut Samuel, antusias.


"Yash!" jawab Jeanny.


"Siapa pria beruntung itu? Cepat katakan padaku!" pinta Samuel, berbinar.


"Em..." Jeanny nampak berpikir. "Pria itu...."


"Kapten!!" panggil anak buah Samuel menyela obrolan Samuel dan Jeanny.


"Ada apa, Alex?" kesal Samuel karena merasa terganggu.


"Maaf, Kapten. Ada panggilan dari pusat," jawab si anak buah.


"Oh..." Samuel manggut-manggut.

__ADS_1


"Sebentar ya Jen." Samuel bergegas ke dalam tenda untuk menerima panggilan dari atasannya.


Jeanny hanya mengangguk. kepalanya berputar mengikuti ke mana arah Samuel berjalan. Dia menghembuskan napas panjang seraya berkata-kata. "Ternyata sesulit ini untuk menyatakan cinta, tapi aku tidak akan menyerah. Sebelum dia kembali bertugas di kota, aku harus mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya!"


...***...


"Hati-hati." Amanda membantu Matthew turun dari atas ranjang dan memapahnya menuju kursi roda.


"Biar Mom saja yang membawa tas-tas milik Matthew." Allison menarik tas berukuran besar dari bahu Matthew.


"Kalian akan pulang ke mana?" tanya Amanda pada Allison juga Matthew.


"Kami akan pulang ke apartemen Matthew saja, di kota," jawab Allison.


"Oh, kenapa tidak ke istana?" Amanda kembali bertanya.


"Itu bukan rumah kami. Aku dan Mom sementara waktu akan tinggal kota, sampai hari eksekusi daddy selesai," tambah Samuel.


"Sementara?" tanya Amanda lagi, terkejut.


"Kenapa kaget?" tanya Matthew.


"Ti-tidak kenapa-kenapa," lirih Amanda, berpikiran terlalu jauh. "Kalau cuman sementara, itu artinya kita akan terpisah lagi?"


"Tidaklah, Manda. Karena nanti aku akan membeli sebuah rumah untuk kita bertiga," ujar Matthew menggenggam tangan wanitanya.


"Ma-maksudnya?" Amanda dibuat bingung oleh ucapan Matthew. Otaknya mendadak beku, dia tidak bisa mencerna perkataan Matthew dengan baik.


"Sejak kapan kamu jadi lemot begini, Manda sayang...?" Matthew cengengesan dan menarik hidung mancung kekasihnya.


"Sakit tahu!" Amanda merajuk. Bibirnya dilipat, persis seperti anak kecil.


"Kamu kok menggemaskan sih sayang." Matthew menguyel-nguyel kedua pipi Amanda.


"Matthew! Sakit..." rengek Amanda, manja.


"Kalian berdua ya... melupakan keberadaan Mom di sini!" protes Allison berpura-pura marah. "Mom juga bisa merajuk kok!" Allison melipat kedua lengannya dan memasang raut sebal.


Matthew dan Amanda tertawa bersama lanjut mendekap tubuh Allison berbarengan. "I love you, Mom...."


...*****...

__ADS_1


__ADS_2