Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 90 Cemburu


__ADS_3

BUGGG!!!


Samuel menonjok muka Lucas sebab pria tua itu menyerangnya secara tiba-tiba. Dua orang dari pihak keamanan, sigap bergerak dan mencekal masing-masing tangan Lucas.


"Bawa dia ke dalam sel tahanan! Jangan lupa penjagaan diperketat karena saya yakin para cecunguk pengabdi si bangkotan ini akan melakukan penyerangan!!" titah Samuel pada bawahannya.


"Dengan cecunguk saja, kamu sudah ketakutan anak muda. Bagaimana dengan ular sepertiku?" sahut Lucas, belum juga jera.


"Silakan kau bicara sepuasnya Lucas! Sebelum tiang gantungan dan peluru milikku ini melesat cepat menembus jantung dan menghancurkan sel-sel darah dalam tubuhmu itu!" geram Samuel, memanas-manasi musuh terbesarnya itu.


"Diam kau bocah ingusan!!" erang Lucas, meronta-ronta ingin membalas perlakuan Samuel yang sudah berani memukul wajahnya.


"Mau apa kau, Lucas? Mau menghajarku?" tanya Samuel menyodorkan pipi sebelah kanan. "Hajar saja kalau bisa!!" tantangnya, mengolok-olok pria yang dilanda kemurkaan tersebut.


"Brengsek kau, bocah gila!!" berang Lucas, dengan tubuh yang berguncang hebat sebab ingin melepaskan diri dari cekalan pihak keamanan lalu menghantam wajah Samuel menggunakan kepalan tangannya.


"Bawa dia cepat! Sebelum dia mengamuk dan menggigit kalian layaknya anjing rabies!" suruh Samuel, mengibas-ngibaskan tangannya.


"Siap Kapten!!" sahut dua orang yang mengamankan Lucas. Mereka menyeret pria itu meski sedikit kewalahan sebab Lucas masih saja meronta-ronta.


"Terima kasih, Kapten..." ucap seseorang pada Samuel, setelah Lucas berhasil diamankan.


Pria berseragam itu tiba-tiba kehilangan taringnya, dia mematung dengan mata tak berkedip sedikit pun.


"Hallo, Kapten... saya sedang berbicara dengan Anda," sambung seseorang bernetra biru safir, menggerak-gerakkan telapak tangan di depan muka Samuel.


Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya dan tersenyum begitu canggung. "Ah... Nona Amanda, maaf tadi saya sedang memperhatikan Lucas. Jadi, tidak menyadari keberadaan Anda di sini."


"Tidak apa-apa, Kapten," sahut Amanda, bersikap semanis mungkin. "Selamat ya..." Amanda menyodorkan tangan kirinya.


"Selamat untuk apa?" Kening Samuel mengerut. Otaknya mendadak beku, sulit untuk berpikir.

__ADS_1


"Selamat karena sudah memenangkan persidangan ini," jawab Amanda sumringah. "Dan sekali lagi, saya ucapkan terima kasih. Berkat Anda, saya bisa sedikit bernapas lega. Karena terbebas dari belenggu si keparat itu!" geram Amanda, mengingat perbuatan sang suami terhadap ayahnya.


"Kenapa berterima kasih? Seharusnya Anda merasa sedih sebab sebentar lagi, Anda akan menyandang status janda," balas Samuel, bernada sinis.


Amanda terkekeh dan mengukir senyuman tanpa beban. "Itu lebih baik bagi saya, Kapten. Karena berpisah dengan Lucas adalah harapan terbesar saya saat ini...."


"Oh... begitu?" ledek Samuel, ntah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"Ehm... apa saya mengganggu?" deham Matthew, menghampiri Amanda yang tengah bercengkerama dengan pria gagah di hadapannya.


Amanda sontak menoleh dan menyunggingkan senyuman kepada lelaki yang hingga detik ini masih bertahta di lubuk hatinya. "Matthew...."


"Apa kau tidak merindukanku, Amanda?" Matthew melebarkan kedua lengannya, berharap sang pujaan hati menelusup ke dalam tubuh hangatnya.


"Tentu saja aku merindukanmu, Matthew." Bola mata Amanda berkaca-kaca, lalu menyambut pelukan hangat sang kekasih hati. "Aku merindukanmu, sangat..." Amanda mengeratkan rengkuhannya, demikian juga dengan Matthew. Pemuda itu menghujani puncak kepala sang gadis dengan kecupan penuh cinta jua kerinduan.


Benih-benih cinta di antara keduanya masih bersemi seperti semula. Mereka saling berbagi kehangatan serta melepas kerinduan. Hingga tidak menyadari ada dua pasang mata yang menatap penuh kecemburuan.


Cukup lama keduanya dalam posisi saling berpelukan, hingga teriakan orang-orang menggema di dalam ruangan tidak kedap suara tersebut.


Matthew terkesiap lantaran sosok yang dia kenali tengah membidikkan senjata api ke arah wanita yang sedang dia rengkuh. Satu tembakan pun meluncur, pemuda berlesung pipi itu berteriak kencang dan mendorong tubuh kekasih hatinya. "Amanda awas...!!!"


DORRRR!!!


Sebuah peluru tajam, yang semula ditujukan ke arah punggung Amanda. Menancap kokoh di dalam dada kanan Matthew. Pemuda itu seketika tumbang, tubuhnya terjungkal ke belakang.


"Matthew..." pekik Amanda, melihat sang kekasih terhempas ke atas lantai. Dia berlari sekuat tenaga, seraya menjerit memanggil nama pemuda tersebut.


Tembakan kedua dan ketiga kembali menggaung. Namun, kali ini bukan berasal dari senjata api yang dipegang Lucas. Melainkan dari pistol yang digenggam Samuel. Dia menembaki tubuh pria tua itu dan mengenai telapak tangan kanan serta kaki kirinya.


Senjata api pun terlepas dari tangan Lucas, bedebah itu merintih kesakitan. Terlebih saat sebuah balok dihantamkan ke arah tangannya yang terluka.

__ADS_1


"Mati saja kamu Lucas...!!" Allison memukul tangan kanan, lanjut kaki kiri suaminya berkali-kali. "Iblis sepertimu tidak layak untuk hidup...!!" raung Allison.


Setelah puas memukuli suaminya, Allison melempar sebilah kayu tersebut, lalu berlari kencang ke arah Matthew yang tidak sadarkan diri di atas pangkuan Amanda.


Sekarang giliran Samuel. Dia menarik leher Lucas, lanjut membantingkan tubuh pria itu hingga membentur dinding. Dia melangkah perlahan, lalu mengangkat kaki kanan dan menginjak bagian kaki Lucas yang terluka. Pria tua itu mengerang hebat lantaran rasa sakit yang berkali-kali lipat.


"Memohonlah padaku, Lucas!" Samuel menekan lebih dalam injakkan kakinya. "Masih belum jera juga, hm...?"


"A-ampun... aku sudah tidak kuat. Ini sakit sekali..." rengek Lucas, mengaku kalah.


Samuel menarik pijakannya dari atas kaki Lucas. "Aku sangat senang melihat pria bajingan sepertimu memohon belas kasihan dariku!!"


"Bawa bedebah ini ke Rumah Sakit, setelah itu seret ke sel tahanan!" titah Samuel pada anak buahnya. "Ingat, jangan sampai kecolongan lagi! Karena saya bisa memecat kalian berdua saat ini juga!" ancamnya, lalu menelepon ambulan sembari beranjak menghampiri Matthew.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Samuel, turut berjongkok di depan Amanda.


"Anda bisa melihatnya sendiri, Kapten!" kesal Amanda lantaran pertanyaan Samuel terlalu mengada-ada. Jelas-jelas kondisi Matthew sedang tidak baik-baik saja. Tidak seharusnya dia bertanya seperti itu.


Samuel mengangguk-anggukkan kepala. "Sebentar lagi ambulan datang, tenanglah. Dia akan baik-baik saja. Pendarahannya sudah berhasil dihentikan, 'kan?"


Amanda mengangguk lemah dan menatap Samuel dengan raut tak biasa. "Terima kasih, Kapten...."


"Sama-sama, Nona Amanda..." sahut Samuel. "Nah, itu ambulannya sudah datang," sambungnya setelah mendengar suara sirine ambulan.


Samuel bergegas untuk menghampiri tenaga medis yang baru saja tiba. Saat ini, dia merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi di ruang persidangan. Sebab si terpidana berhasil lolos dari pengamanan kedua bawahannya.


"Sabar, Nak..." lirih Allison, tak kalah berduka. "Matthew anak yang kuat. Dia pasti selamat, percaya padaku." Allison menyatukan kepalanya dengan kepala Amanda, lalu turut terisak menatap wajah putranya yang semakin memucat.


"Demi perempuan itu, Matthew rela mengorbankan nyawanya. Aku hanya dianggap seorang adik, tidak lebih dan tidak kurang." Ivana bermonolog di dalam hati, menatap sendu sang pujaan hati yang kini tengah dikerubuni dua orang tenaga medis dan orang-orang yang menyayanginya. "Mestinya aku yang di sana dan bukan dia...."


...*****...

__ADS_1


__ADS_2