
"Apa ada orang di sini?" teriak Amanda yang menggaung di dalam ruangan kosong tersebut. Suaranya menjadi terdengar menyeramkan sebab gaungan berbunyi berkali-kali di antara dinding-dinding lapuk termakan usia. Belum lagi keadaan tempat yang minim pencahayaan, menambah kesan angker seperti latar dalam sebuah film horor.
Amanda berjalan merayap, menengokkan kepala mencari apa yang ingin dia temui. Akan tetapi, ruangan tersebut benar-benar kosong. Hanya ada jaring laba-laba bersarang serta kain putih lusuh membentang menghiasi di setiap sudutnya.
"Ayo keluarlah... aku bukan orang jahat!" Amanda masih berusaha berbicara sebab dia sangat yakin kalau di dalam gudang itu ada seseorang bersembunyi atau berdiam diri.
Amanda melirik ke kiri juga ke kanan. Sesekali melihat ke atas langit-langit. Namun, dia tidak memperhatikan pijakannya dan tidak sengaja menginjak bangkai tikus yang kondisinya masih segar.
"Haiisshh... menjijikkan sekali. Iyyyuuhhh!!" Amanda mengibas-ngibaskan sepatu agar bagian dalam badan tikus itu terlepas dari alasnya. "Bau sekali... aku ingin muntah rasanya...!" Amanda berkali-kali menjulurkan lidah lantaran rasa mual yang menyerang ke dalam ulu hati.
"Sial!!" maki Amanda sebab dia tidak tahan dengan aroma yang amat menusuk hidung tersebut. Dan pada akhirnya, dia menumpahkan semua makanan dari dalam perut hingga bersisakan cairan bening.
Amanda menyeka tetesan bekas muntahan di bawah bibirnya menggunakan lengan baju. Sembari menggeleng-gelengkan kepala karena kepalanya seakan berputar.
"Kamu hanya perlu duduk dan istirahat sejenak, Amanda!" ucapnya menenangkan diri sendiri dan menopangkan tangan pada sebuah kotak kayu.
Sebelum menemukan apa yang dicari. Apa pun yang terjadi, tidak akan menyurutkan tekad untuk memecahkan teka-teki yang menganggu pikiran beberapa malam terakhir.
Sepuluh menit sudah cukup untuk untuknya beristirahat. Dirasa tenaga mulai pulih, Amanda kembali bergerak untuk menelusuri ruangan tersebut. Dia sangat yakin, kalau dia akan mendapatkan sebuah petunjuk.
Amanda meraba-raba dinding seperti adegan di dalam film-film misteri. "Tidak ada apa-apa. Ya Tuhan... ruangan ini sangat kosong!"
"Ah, aku tidak akan menyerah. Dinding yang aku raba, baru bagian ini saja. Masih ada tiga bagian lainnya." Amanda bergerak perlahan dengan perasaan harap-harap cemas. Dan usahanya membuahkan hasil setelah menelusuri dinding-dinding itu selama tiga puluh menit. Dia tidak sengaja menekan tembok yang menjadi kunci sebuah ruangan rahasia.
__ADS_1
Dinding yang mana seluruhnya ditutupi jaring laba-laba, pelan-pelan bergeser lantas terbuka. Dan nampaklah sebuah kamar yang di dalamnya sangat gelap gulita. Amanda menyalakan senter yang melingkar di kepala dan diarahkan pada ruang rahasia tersebut.
Amanda menelan saliva kasar dan mengerutkan kening lantaran tempat yang dia pijak saat ini bagaikan sebuah lorong panjang tidak ada ujungnya.
"A-ada orang di sini?" Nyali Amanda mulai ciut lantaran bau amis yang menyengat. "To-tolong jawab aku..." lirih Amanda, kakinya menendang sesuatu.
Gadis itu sontak menjerit sebab melihat sosok menakutkan di depannya tengah terpasung dengan mulut tersumpal sebuah kain. Amanda berjalan mundur dan menubruk apa pun di belakangnya dan tanpa sengaja menyentuh tombol lampu.
Ruang tersembunyi yang gelap gulita tersebut mendadak terang. Memperlihatkan seluruh isinya yang terdapat botol bekas obat-obatan serta makanan basi.
Tatapan Amanda berkeliling dan berakhir pada sosok yang ditakuti tadi dan ternyata adalah seorang wanita tua dengan kondisi badan yang amat menyedihkan karena sekujur tubuhnya dipenuhi nanah.
Wanita itu seakan meminta tolong, dia menggeram dan meliuk-liukkan badannya meski dengan gerakan lemah. Amanda menghela napas, terdiam sesaat untuk mengontrol diri.
Wanita tua itu menggeram lebih kencang dengan mata yang terbuka sempurna. Sebab di belakang Amanda saat ini telah berdiri orang suruhan Lucas menodongkan senapan ke arah kepala belakangnya.
"Te-tenang... aku tidak akan menyakiti Nyonya." Amanda merentangkan tangan dengan sedikit membungkukkan badan. Namun, sosok menakutkan itu terus saja menggeram dan menggoyang-goyangkan badannya.
Amanda terperangah, saat merasakan ujung senapan menempel tepat di bagian tengkuk kepala.
"Angkat tangan!" titah seorang pria.
Perempuan muda itu menarik kedua tangan ke atas. Pria yang menodongkan senapan membentot tangan Amanda ke belakang pinggang dan mencengkeram kuat. "Ikut dengan saya untuk menghadap bos Lucas!!"
__ADS_1
Amanda terdiam dan mengeraskan badan. Pria tersebut merasa geram, dia menyentak tangan istri tuannya sangat kasar. "Ayo ikut dengan saya! Kita lihat apa yang akan bos Lucas lakukan pada istri kebanggannya ini!"
Amanda memutar tubuh dan tangannya, membuat lengan anak buah Lucas terpelintir. Dia menghentakkan kepalanya ke dahi pria tersebut lalu menendang jemari yang memegang senapan.
Senjata api itu terlepas dari tangan si lelaki. Amanda buru-buru untuk mengambil senapan tersebut dari atas lantai. Akan tetapi, anak buah Lucas lebih dahulu menjambak rambutnya. Kepala Amanda mendongak, dia meringis kesakitan. Dan kini napasnya tersengal-sengal sebab laki-laki tersebut mencekik leher Amanda menggunakan lengan.
"Aku tidak melihat kamu siapa. Aku hanya ingin bos Lucas memberikanku penghargaan karena berhasil memergoki istrinya menyelinap ke dalam daerah terlarang!" kata anak buah Lucas dengan otak liciknya.
Amanda membuka mulut lebar-lebar lalu menggigit sekencang mungkin lengan anak buah Lucas. Pria tersebut mengerang dan jeratannya di leher Amanda terlepas seketika. "Ah... wanita sialan!!"
Wanita muda itu tak ingin membuang-buang kesempatan saat pria di belakangnya sedang posisi lengah. Dia mengambil senapan tersebut kemudian membalikkan badan sekaligus.
Anak buah Lucas langsung saja mengangkat kedua tangan ke atas dan memandang dengan raut menyepelekan. "Tembak saja, kalau bisa! Aku sangat yakin, perempuan manja sepertimu tidak tahu bagaimana cara menggunakan senapan itu."
"Benarkah itu?" balas Amanda tak kalah meremehkan. Dia menarik majukan barrel senapan lanjut menekan pelatuk. "Selamat datang di neraka..." Sebuah peluru melesat cepat dari arah muzzle (moncong) senjata api laras panjang tersebut dan tepat mengenai tengah-tengah kening anak buah Lucas.
Tidak ada pekikan maupun erangan sebab tubuh pria di hadapan Amanda langsung terpental dan terlengar di atas lantai. Matanya terpejam, kepala terkulai dan deru napas pun berhenti untuk selamanya.
"Jangan pernah meremehkan seorang Amanda Shawnette! Karena aku bisa sejinak burung merak, tapi aku pun bisa segarang singa betina!" Amanda melempar benda yang dia pegang lalu badannya tiba-tiba terhuyung ke belakang.
Sekujur tubuh terasa lemas dengan tangan serta kaki gemetaran. Di balik ketegarannya, dia adalah gadis manis yang tidak pernah menyakiti siapa pun. Dan malam ini, untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia telah menghilangkan nyawa seseorang dengan tangannya sendiri.
"A-aku membunuhnya, ya Tuhan..." Amanda mengusap wajah lalu terduduk lesu di lantai. Berkali-kali dia menyugar rambutnya, menatap pria yang terbukur kaku. Air mata pun tiba-tiba mengering, yang ada kini hanya kekalutan dan jiwa yang tertekan.
__ADS_1
...*****...