
Hari kelam itu sebentar lagi akan tiba. Semua orang tengah mempersiapkan segala sesuatunya penuh suka cita. Tetapi tidak dengan gadis berambut cokelat keemasan. Air matanya berderai lara, membasahi riasan juga pakaian pengantin tiada henti. Ia menatap bayangan wajahnya sendiri dari balik cermin. Tak ada sedikit pun guratan kebahagiaan terpancar, yang ada hanyalah kesedihan jua kepedihan.
Tidak pernah terpikir oleh gadis malang itu bahwa hari terindah yang selama ini diangankan, ternyata berakhir memilukan. Khayalannya untuk bisa bersanding dengan lelaki pujaan, pupus sudah untuk selama-lamanya.
"Kenapa Anda terus saja menangis, Nona? Harusnya Anda senang karena dalam beberapa saat lagi akan menjadi Nyonya Lucas Denver, pria terkaya di Magnolia village," ujar penata rias memasangkan veil ke kepala Amanda. "Banyak perempuan di luaran sana yang ingin menjadi istri atau hanya sekedar dayang-dayang tuan Lucas. Dan Anda sungguh beruntung karena bisa menghancurkan mimpi-mimpi mereka," ujarnya lagi bernada sinis.
"Apa aku terlihat peduli? Apa aku terlihat menginginkan pernikahan ini? Aku bukan bagian dari perempuan-perempuan itu, yang memilih menikah dengan pria tua hanya karena harta kekayaan!" geram Amanda sebab dia merasa terpojok. Selorohan penata rias tersebut secara tidak langsung merendahkan martabatnya sebagai perempuan terhormat.
"Lalu, kenapa Anda bersedia dinikahi Tuan Lucas? Bisa saja, 'kan' Anda menolak?" sindir si perias lagi.
"Tidak semua urusan orang lain harus kamu ketahui. Lebih baik fokus saja dengan tugasmu meriasku sampai tuntas. Setelah itu, pergilah dari ruangan ini sesegera mungkin!" tegas Amanda tidak suka kalau orang lain terlalu mengusik masalah pribadinya. Dia memiliki privacy yang hanya disimpan untuk diri sendiri.
"Maafkan saya Nona, kalau perkataan saya menyinggung...."
"Semestinya kamu menyadari itu dari tadi!" kesal Amanda. "Lagi pula sebelum melontarkan kata-kata, pikirkan dulu baik-baik. Bukan setelah berbicara, baru berpikir!" Amanda berdiri seraya mengangkat gaun pengantinnya.
"A-Anda mau ke mana, Nona?" tanya si perias gugup. Ia khawatir kalau Amanda akan melarikan diri.
"Aku mau ke toilet. Kamu mau ikut?" balas Amanda menatap dengan ujung mata.
"Ma-maaf, saya pikir—"
"Aku tidak akan mungkin kabur. Menikah dengan tuan Lucas Denver adalah impian semua wanita, bukan?" sarkas Amanda. Dia berjalan dengan susah payah menuju kamar mandi sembari menenteng gaunnya yang menjuntai ke atas lantai.
"Mana pengantinku?" tanya Lucas, sesaat setelah Amanda masuk ke dalam bilik mandi. Dia merasa cemas sebab tidak mendapati gadisnya di ruangan tersebut.
"Nona Amanda ada di kamar mandi, Tuan," jawab si perias menunjuk pintu yang tertutup.
__ADS_1
Lucas menghela napas lega. "Aku kira dia akan meninggalkanku lagi."
Pria berusia enam puluh tahun itu berjalan menuju tempat di mana Amanda tengah meratapi diri, duduk dengan gusar di atas kloset.
"Amanda sayang... keluarlah. Orang-orang sudah menunggu kita!" ujar Lucas mengetuk pintu kamar mandi. "Cepat sayang... sebelum kesabaranku habis!!" geramnya sebab tidak ada sahutan dari si calon istri.
Lucas menempelkan cuping telinga ke daun pintu, terdengar olehnya isakan dari dalam bilik dingin tersebut. Dia pun berjalan mundur memberi ancang-ancang. Kemudian berlari cepat untuk mendobrak pintu.
Daun pintu terbuka, Amanda sontak tersentak sembari sesenggukan. Tangannya gemetaran karena melihat kilatan amarah dalam bola mata calon suaminya.
"Sepertinya, kamu ingin aku bersikap kasar. Baiklah!" Lucas menampar wajah Amanda berkali-kali, hingga kepalanya bergulir ke kiri dan ke kanan dengan cepat. Pria tak berhati itu menarik dagu Amanda kemudian melumatt bibirnya, lantas menggigit kencang hingga menitikkan darah. "Ini sedikit pelajaran karena kamu berani mengacuhkanku, Amanda! Sekarang rapikan dirimu, aku tunggu di luar!" Lucas menghempaskan wajah Amanda lalu beringsut dari kamar mandi.
Gadis malang itu berdiri lalu berjalan terseok-seok berpegangan pada dinding. Bahunya begetar hebat karena isakan dan rasa sakit di kedua pipinya.
"Ya Tuhan, Nona!" pekik si perias lalu berlari untuk memapah Amanda. Ia mendudukkan gadis itu di atas ranjang kemudian mencabut beberapa helai tisu untuk mengelap darah di sudut bibir.
"Apa kamu masih berpikir kalau menjadi istri seorang pria biadab, adalah keuntungan?" erang Amanda menatap tajam ke arah si perias. Dia menyeringai, saat wanita di hadapannya itu membersihkan bercak darah di atas bibir.
Amanda mengangguk tipis lalu beringsut seraya menghela napas. Dia melirik ke arah cermin sekilas dan berdoa di dalam hatinya. "Kuatkan aku Tuhan...."
Meski langkahnya terasa kian berat, gadis bergaun pengantin itu beranjak setapak demi setapak, menghampiri sang calon pendamping yang menunggu di depan pintu.
"Aku sudah siap." Amanda berdiri tegar di samping Lucas. Wajahnya mendongak angkuh, menyembunyikan awan kelabu yang bersarang di kedua netra.
Lucas mengukir senyuman lalu menggandeng lengan calon istrinya. "Bagus... bersikap manislah seperti ini. Maka hidupmu akan aman."
"Mana papaku?" tanya Amanda karena sampai detik ini dia tidak bertemu dengan Omran. Setiap dia meminta untuk melihat keadaan sang ayah, Lucas selalu banyak berdalih.
__ADS_1
"Ayahmu ada di kamarnya. Dia sudah memberikan restu untuk kita. Jadi, kamu tidak perlu khawatir," jawab Lucas.
"Aku ingin berbicara dengan papaku sekali saja, sebelum kita menikah!" ketus Amanda lantaran dia merasa tidak tenang bila tidak menemui ayahnya, di momen bersejarah yang akan mengubah hidupnya 180 derajat.
Meski Omran telah membuat kecewa dan menjeremuskan putrinya. Namun, lelaki itu tetaplah seorang ayah yang selalu berada di dalam hati sang anak. Seberapa pun amarah yang menyelimuti hati, akan selalu ada kata maaf untuk lelaki yang telah memberi banyak cinta juga kasih sayang.
"Setelah kita menikah, barulah aku mengizinkan untuk bertemu papamu. Dan sekarang, ikut denganku karena nama kita sudah berulang kali dipanggil," jawab Lucas.
Amanda mendesis, "Berunding denganmu hanya menambah kekesalan saja!"
Lucas terkekeh, "Karena itu, cukup turuti saja perkataanku! Aku diciptakan oleh Tuhan bukan untuk ditentang, ingat itu!"
Lucas menyeret tangan Amanda di hadapan orang-orang. Dia memperlihatkan sosok seperti apa dirinya. Penuh kekuasaan serta kekuataan.
"Calon mempelai perempuan sudah ada di hadapan Anda, Bapa. Jadi, nikahkan kami secepatnya," tekan Lucas sudah tidak sabar ingin segera memiliki Amanda seutuhnya dan mengikat gadis itu dengan janji suci di hadapan Tuhan, hingga akhir hayat.
Pemimpin upacara pernikahan membacakan prosesi, setahap demi setahap. "Apakah Anda bersedia menikah dengan Nona Amanda Shwanette dan sehidup semati dengannya?"
"Iya, saya bersedia," jawab Lucas yakin.
"Apakah Anda bersedia menikah dengan Tuan Lucas Denver dan sehidup semati dengannya?" tanya pemimpin upacara pernikahan pada Amanda.
Gadis yang mengenakan pakaian pengantin tidak menjawab. Ia menggigit bibirnya menahan tangisan. Ruang pemberkatan hening, menantikan jawaban dari calon mempelai perempuan yang tertunduk dan tidak bersuara.
"Sekali lagi, apakah Anda bersedia menikah dengan Tuan Lucas Denver dan sehidup semati dengannya?"
Amanda tetap saja terdiam, lidahnya kelu untuk sekedar berucap iya atau tidak. Terlalu banyak peperangan di dalam batinnya membuat dia termangu dalam kebimbangan.
__ADS_1
"Jangan menikah dengan Daddy-ku, Amanda. Kumohon ...!" teriakan seseorang menggiring perhatian semua orang, dari kedua mempelai yang tengah berbahagia, beralih pada pemuda yang saat ini berdiri di tengah-tengah kebisuan.
...*****...