
"Kenapa denganmu, Anna? Keluar dari kamar maduku sambil bersungut-sungut?" tanya Bellen yang tidak sengaja melewati kamar Amanda. Dia melihat pembantunya itu tengah menggerutu dengan mulut menguncup.
"Ah... Nyonya mengagetkan saya," keluh Anna mengusap-usap dadanya. Dia menutup pintu kamar Amanda dengan rapat lalu mengibaskan tangan meminta Bellen untuk mengikutinya.
"Ada apa?" Bellen bertanya heran pada wanita di sampingnya.
Anna meminta untuk Bellen menunduk karena dia ingin mengungkapkan sesuatu pada majikannya itu. "Aku menangkap gelagat yang mencurigakan dari nyonya Amanda."
"Gelagat mencurigakan? Apa itu?" Kening Bellen mengerut.
"Itu Nyonya... baju yang dia kenakan, lusuh dan ada bekas noda tanah. Seperti habis dari suatu tempat," jelas Anna berbisik-bisik lantaran takut ada yang menguping obrolannya.
"Tapi bagaimana mungkin? Sudah dua hari ini, dia dikurung di kamarnya?!" sentak Bella tidak mudah percaya begitu saja meski informasi yang Anna berikan adalah kabar sangat bagus untuknya.
"Tolong bicara pelan-pelan, Nyonya. Nanti kalau tuan Lucas dengar, bisa habis saya dibuatnya," pinta Anna sebab dia baru sebatas menerka, belum memiliki bukti akurat. Kalau Lucas sampai mengetahui ucapannya pada Bellen, pria tua itu bisa melenyapkan nyawanya tanpa ampun.
"Iya maaf, Anna. Aku cuman terlalu kaget," balas Bellen merendahkan intonasi suaranya.
"Kalau Nyonya tidak percaya, silakan cek sendiri. Ini kunci pintu kamar nyonya Amanda." Anna menyerahkan benda yang terbuat dari stainless tersebut pada sang majikan.
Bellen terpaku sesaat kemudian meraih benda yang diberikan pembantunya itu. "Baik, aku cek sekarang. Awas saja kalau kamu berbohong, Anna!!"
"Ampun, Nyonya. Mana mungkin saya berani membohongi Anda?!" tandas Anna menundukkan kepala sembari memainkan apron.
Bellen memutar-mutar benda tersebut lalu memasukkannya ke dalam silinder kunci. Pintu kamar pun terbuka, Bellen melihat Amanda tengah asyik menyantap makan siang di pinggir jendela. Mata bulatnya memindai pakaian sang madu. Namun, terlihat rapi dan bersih. Tidak seperti yang diungkapkan Anna.
"Astaga... apa penghuni istana ini semuanya tidak punya etika?!" kesal Amanda karena untuk kedua kalinya, seseorang masuk ke dalam ruang pribadi tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Bellen masih saja memperhatikan midi dress yang dikenakan Amanda dan sama sekali tidak menemukan keanehan seperti yang dikatakan pembantunya. "Maaf... aku cuman mau numpang ke toilet!"
Amanda mengernyit dan matanya menyipit. "Apa aku tidak salah dengar Bellen? Kamu mau numpang ke toilet? Kamu kira istana ini rumah sewa yang toiletnya mampet dan mesin airnya tidak menyala?"
"Kamu mau aku pipis di sini?" kelit Bellen memegangi bagian selangkangannya seperti menahan sesuatu.
__ADS_1
Amanda berdecak, "Cepat sana dan siram yang bersih! Aku tidak mau ya, toilet kamarku jadi bau pesing!"
"Orang cantik sepertiku, mana ada bau pesing!" decih Bellen buru-buru masuk ke dalam kamar kecil. Dia mengunci pintu dan mulai mencari apa pun yang bisa dijadikan sebagai barang bukti.
"Aku benar-benar penasaran, apa benar yang dikatakan Anna tadi?!" Bellen menelusuri setiap sudut kamar mandi. Namun, tidak menemukan apa-apa. "Ah... apa Anna berbohong?"
Bellen menyiram pakaiannya sendiri sebab tengah merencanakan sesuatu. Dan dua menit kemudian, dia keluar dari kamar mandi seraya menunjukkan bajunya yang basah.
"Amanda... lihat bajuku kuyup begini..." rengek Bellen pada madunya di depan pintu.
"Astaga... kenapa bisa basah begitu? Kamu seperti anak kecil saja, Bellen!" sahut Amanda geleng-geleng kepala keheranan.
"Aku tidak sengaja memutar keran shower. Jadi, ya... seperti yang kamu lihat." Bellen menarik kedua pundaknya ke atas. "Apa aku bisa meminjam pakaianmu?" kilahnya karena masih ingin mencari pakaian kotor yang dimaksud dan membuktikan tuduhan sang pembantu.
Amanda mengendus hal menyangsikan dari gerak laku istri keempat Lucas tersebut. Dia langsung saja teringat pada sikap Anna tadi yang memandanginya tidak ramah. "Ayolah Bellen... kamar kita, 'kan, berdekatan. Kamu ganti saja di kamarmu!"
"Ta-tapi... aku kedinginan, Amanda!!" sergah Bellen pura-pura menggigil.
Amanda geleng-geleng kepala. "Aku tidak suka meminjamkan barang pribadiku pada siapa pun. Terlebih pada orang sepertimu!!"
Amanda bersandar ke daun pintu sembari menghela napas. "Sepertinya mereka mencurigaiku. Aku harus lebih berhati-hati."
Perempuan muda itu menarik sebuah kursi dan digunakan untuk mengganjal kenop pintu agar orang lain tidak seenak hati memasuki kamarnya tanpa permisi.
Amanda merebahkan tubuh di atas ranjang dengan merentangkan kedua tangan. Dia ingin merehatkan fisik dan mindanya. Namun, bayangan Matthew dan Samuel berkelibatan silih berganti.
"Ah... aku merindukanmu, Matthew. Kamu di mana sekarang?"
"Ya Tuhan... kenapa laki-laki sialan itu muncul terus bagaikan hantu?" Amanda memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Enyahlah kalian berdua dari pikiranku. Aku ingin tidur dengan nyenyak...!!" teriak Amanda lalu membekap wajahnya menggunakan bantal.
...***...
__ADS_1
PRANKKK!!!
Terdengar suara kaca jendela pecah lantaran hantaman benda keras. Samuel yang tengah membersihkan senjata api miliknya sontak beringsut untuk mengecek apa yang terjadi.
Pemuda itu mendapati batu besar dan sebuah kotak di atas lantai, di dekat pecahan kaca-kaca. Dia meraih kotak berwarna hitam tersebut lanjut mengocok-ngocoknya. "Apa ini?"
Samuel membuka tutup kotak itu dengan perlahan dan penuh kewaspadaan. Namun, alangkah terkejutnya dia saat melihat benda apa yang tersimpan di dalamnya.
Sontak saja pemuda itu melempar si kotak misterius sebab yang terdapat di dalamnya adalah sebuah jantung yang masih lengkap dengan darah segar. "Apa-apaan ini?!"
Samuel mengambil batu yang digunakan untuk memecahkan jendela rumah sebab dia mendapati secarik kertas menempel di atasnya, yang ternyata adalah surat kaleng. Dia membaca kata per kata isi dari surat tersebut yang membuatnya berang.
...Selamat malam, kapten Samuel....
...Saya mengirimkan jantung anak buah Anda yang bernama Peeter....
...Saya akui, anak buah Anda memanglah cerdik. Namun sayang, mata dan telinga saya jauh lebih tajam dan jeli!...
...Anda bermain-main dengan saya. Itu artinya Anda menabuh genderang perang! Karena itu, tunggu saja pembalasan berikutnya dari saya!...
...With Love,...
...Your Enemy...
Setelah selesai membaca isi surat kaleng tersebut, Samuel meremas lantas melemparnya. Raut wajah berubah merah padam dengan kedua rahang mengeras tegas. Tangan mengepal kuat disertai deru napas kasar.
Kalimat di atas, mungkin bisa sedikit menggambarkan, bagaimana perasaan pemuda itu saat ini.
"Lucas Denver...!!!" erang Samuel gemetaran, menampilkan urat-urat merah di kedua sklera mata (bagian mata yang berwarna putih). "Kamu benar-benar membuatku marah...!!" teriaknya menggemuruh di seisi ruangan.
"Rupa-rupanya... gertakan dariku tidak membuatmu jera! Kamu sangat licik dan licin, Lucas. Tidak salah kalau orang-orang memanggilmu dengan sebutan king cobra!"
Di belakang sebuah pohon besar, ada seorang pria merekam kemarahan Samuel. Dia mengirimkan video itu kepada orang yang menyuruhnya, yakni inspektur Gibson sebagai tanda bahwa dia telah melakukan tugas dengan baik.
__ADS_1
"Inspektur Gibson pasti akan senang dengan rekaman ini...."
...*****...