
Seorang gadis berdiri membeku seraya menundukkan kepala. Dia terlalu takut untuk menatap pria yang selalu mengusik ketenangan hidupnya. Masih terlihat jelas bagaimana seringai sadis pria itu ketika memaksa sang kakak untuk memuaskan nafsuu bejatnya.
Memori-memori lama kembali berkelibatan, gadis itu berteriak histeris. Menutup kedua telinga seraya mengatup mata. Trauma yang mendalam, seakan membuatnya setengah gila. Dia hilang kendali, terus berteriak di tengah-tengah tangisan lara.
"..." Lucas terbahak-bahak. "Lihat, Yang Mulia! Orang gila kedua mau memberikan kesaksian. Mau ditaruh di mana wajah hukum kita?" cibir Lucas, menunjuk-nunjuk muka Ivana.
Matthew bergerak cepat. Dia menarik langkah seribu dan langsung merengkuh tubuh Ivana, menenangkan gadis itu. "Aku ada di sini, tenanglah Ivana. Lawan ketakutanmu, jangan biarkan pria biadab seperti Lucas hidup damai. Jangan sia-siakan pengorbanan kakakmu. Bangkit, ayo bangkit Ivana!!"
Gadis berusia tujuh belas tahun itu mengangguk-anggukkan kepala. Perlahan, dia sudah bisa menguasai dirinya sendiri. Teriakan histeris berangsur mereda, tubuh yang bergetar pelan-pelan menghilang.
Matthew menarik wajah sang gadis lalu merangkum kedua pipinya seraya menatap hangat. "Aku ada di sini, di sisimu Ivana. Kamu harus kuat, demi kakakmu. Demi mom, dad, your brother and also for me...!"
Ivana manggut-manggut dan tersenyum tipis. "Aku kuat, aku bisa!"
"Ya... aku kuat, aku bisa!" ulang Matthew, meneguhkan hati Ivana.
"Drama apa lagi ini?" gerundel Lucas, menggerak-gerakkan sebelah kakinya. "Mana bisa orang gila diperbolehkan jadi saksi?!" Lagi-lagi, Lucas berulah.
Matthew memicingkan mata lalu menyahuti perkataan Lucas, sangat lantang. "Gadis yang berdiri di belakangku bisa seperti ini, itu lantaran perbuatanmu, Lucas!! Gara-gara kebejatanmu, dia mengalami trauma sampai sekarang!!"
Hakim mengetukkan palu sebanyak satu kali sebab keributan yang tercipta di tengah-tengah prosesi persidangan. "Dimohon Anda berdua tetap tenang. Dan biarkan saksi meyampaikan kesaksiannya."
"Baik Yang Mulia. Mohon maaf atas kegaduhan ini," balas Matthew dan kembali ke tempat duduknya.
"Benar, nama Anda Ivana Shawnette?" tanya jaksa penasehat.
"Be-benar. Nama saya Ivana Shawnette," jawab Ivana terbata-bata.
__ADS_1
"Nama family Anda sama persis dengan saksi sebelumnya ya?" kelakar jaksa penasehat umum.
"Ya?" sahut Ivana, kebingungan.
"Saya hanya bercanda, lupakan saja, Nona!" seru jaksa penasehat. "Anda mengenal pria yang berdiri di hadapan Anda sekarang?"
"Sangat... sangat mengenal," jawab Ivana.
"Wow... Anda sangat mengenal terdakwa rupanya? Apa Anda salah satu perempuan penghibur yang menjajakan tubuh demi uang?" tekan jaksa penasehat umum.
"Keberatan Yang Mulia!" bela Samuel, berdiri dan mengacungkan telapak tangan.
"Keberatan ditolak," sahut hakim.
"Silakan dilanjutkan jaksa penasehat..." titah hakim pada pria yang menginterogasi Ivana.
"Di-dia menculik saya dan kakak saya. Dan bukan hanya kami yang ada diculik, melainkan sepuluh anak remaja seusia dengan kami," jawab Ivana, lugas.
"Pria ini atau pria lain?" tanya jaksa, sengaja ingin menekan mental Ivana.
"Pri-pria lain..." lirih Ivana.
"Gadis ini plin-plan sekali. Tadi dia bilang bahwa si terdakwa yang menculiknya. Sekarang yang dia katakan lain!" kekeh jaksa penasehat umum.
Ivana mendengkus, tubuhnya gemetaran. Dia menatap ke arah Matthew lalu ke arah Samuel. Dan seketika, keberanian pun muncul begitu saja di dalam dirinya.
"Iya memang yang menculik saya bukanlah dia, tapi mereka adalah orang-orang suruhan orang ini!" tunjuk Ivana. "Dia juga yang sudah menodai saudara perempuan saya!" geram Ivana, berselimut kebencian.
__ADS_1
"Bohong Yang Mulia!!" sergah Lucas. "Apa kalian bisa memercayai omongan perempuan gila ini? Dia sama seperti wanita tua tadi, terlalu banyak berhalusinasi!!"
"Berhalusinasi Anda bilang? Saya berhalusinasi?" geram Ivana. "Kakak saya satu-satunya meninggal dunia di depan mata, apa itu juga halusinasi? Ketika orang-orang suruhan Anda menembakinya hingga tak bernyawa, apa itu berhalusinasi?" Ivana geleng-geleng kepala dan tertawa miris.
"Dari saya cukup sekian, Yang Mulia," ucap jaksa penasehat umum. Dia membungkukkan badan sekilas, lalu beranjak ke tempat semula.
Kini giliran jaksa penuntut umum yang memberikan pertanyaan kepada saksi. "Bisa Anda ceritakan, dengan cara apa Anda bisa meloloskan diri? Ceritakan segamblang-gamblangnya!"
Ivana menahan saliva dan untuk kesekian kalinya, menghela napas panjang. "Malam itu, kami dibawa menggunakan truk menuju dermaga. Saya tidak tahu, bedebah-bedebah itu mau menggiring kami ke mana. Yang saya dengar secara tidak sengaja, kalau mereka akan membawa kami berlayar ke negara P. Mereka akan menjual kami dan dijadikan wanita penghibur."
Ruang sidang sangat senyap, semua orang tengah menyimak dan menelaah setiap kata yang keluar dari mulut Ivana. Sementara gadis itu nampak terbungkam sesaat, berkali-kali dia menelan saliva dan menahan tangisan.
"Saudara perempuan saya, menyiapkan rencana untuk kami melarikan diri. Saat itu pikiran saya sangat kalut dan juga begitu ketakutan. Saya hanya mengiyakan perintahnya untuk melompat dari atas kapal laut lalu berenang tanpa sekalipun menoleh ke belakang." Ivana kembali menjeda kalimatnya karena rasa sesak di dada semakin menjadi-jadi. "Saya berenang dan terus berenang, hingga kedua telinga ini menangkap suara berondongan peluru. Rupanya kakak saya satu-satunya, ditembaki orang-orang biadab itu..." raung Ivana, teringat kembali pada pengorbanan terbesar sang kakak.
"Sungguh tragis nasibmu, Nak..." sahut jaksa penuntut umum pada Ivana. Dia menyeka air mata yang tak terasa mengembun begitu saja di balik kelopaknya.
"Baik, dari pernyataan saksi sudah jelas bahwa saudara terdakwa melakukan bisnis terlarang. Yakni, menjual korban-korban penculikan yang mana mereka adalah perempuan berusia belia untuk dijadikan wanita tuna susila! Dia dan anak buahnya juga telah melakukan perbuatan amoral serta pembunuhan!! Dari saya sudah cukup, Yang Mulia," ujar sang jaksa kepada hakim ketua.
"Baik, terima kasih..." jawab hakim singkat. Terdengar helaan napas berat. Raut wajahnya pun terlihat sangat tertekan lantaran kasus yang harus dia putuskan hari ini adalah kasus terbesar yang pernah ditangani sepanjang hidupnya.
Hakim beserta penyelidik, penyidik dan keterangan ahli tengah berembuk dan kembali menelaah semua barang bukti dan pernyataan saksi-saksi yang mana sebetulnya semua sangat memberatkan si terdakwa.
"Berdasarkan pertimbangan hakim yang didasarkan pada bukti-bukti serta pernyataan dari saksi-saksi yang ada, hakim memutuskan saudara Lucas Denver Alonzo dinyatakan bersalah dan mendapatkan hukuman mati!" ucap hakim, tegas. "Dengan ini sidang dinyatakan ditutup." Hakim menetukkan palu sebanyak tiga kali.
Suasana ruang persidangan riuh seketika. Suara pekikan kebahagiaan bersambut padu dengan suara erangan kemarahan dari seorang pria, yang tak lain tak bukan, Lucas Denver Alonzo.
"Apa-apaan ini? Saya tidak terima diperlakukan tidak adil! Harusnya kalian seret juga inspektur Gibson juga wali kota Hamburger....!!!" teriak Lucas, mengamuk dan menyerang membabi buta orang-orang yang berada di dekatnya, jaksa penuntut umum serta Samuel.
__ADS_1
...*****...