
Di saat semua orang tengah terkapar karena kelelahan, tidak sedikit pun terpikir oleh mereka bahwa akan terjadi ledakan yang kedua. Dan kali ini suara ledakan tersebut berasal dari dalam istana.
Orang-orang berhamburan untuk menyelamatkan diri. Sebab api dari ledakan tersebut cepat sekali menyebar dan menyambar barang-barang di sekitarnya.
Titik-titik api mengamuk, memberanguskan apa pun yang tersentuh olehnya. Istana indah nan megah sekejap mata berubah mengerikan dan memilukan sebab jerit tangis penghuni istana yang terkena jilatan api tersebut.
"Suara apa lagi itu, Tuhan?" gumam Lucas tiba-tiba teringat pada Sang Maha Pencipta. Seperti sebuah keajaiban, kata Tuhan meluncur dari mulut busuknya.
"Apa kalian mendengar suara menggelegar barusan?" tanya Lucas pada anak buahnya dan para anggota pemadam kebakaran yang sudah kehabisan tenaga.
"I-iya, Bos. Kami juga mendengarnya," sahut salah satu anak buah Lucas. Namun, tetap dengan posisi terlentang di lantai.
"Betul Tuan, sepertinya ada ledakan susulan," tambah anggota pemadam kebakaran yang kesusahan bergerak sebab dua jam berperang dengan si jago merah, menghabiskan seluruh energi yang mereka miliki.
"Kalau kalian mendengar suara ledakan itu, kenapa masih saja berdiam diri di sini?" berang Lucas geregetan sebab semua anak buahnya tidak ada satu pun yang bergerak.
"Ka-kami lelah, Bos!!" jawab si anak buah lunglai.
Lucas sontak berdiri lantas menendang-nendang kaki anak buahnya. "Ayo bangun! Ayo berdiri! Cepat!!!"
Namun, tidak ada satu pun yang menggubris titah tuannya. Dengan terpaksa, Lucas memerintah mereka dengan ancaman keras. "Ayo bangun semua. Kalau tidak, aku pecahkan kepala-kepala tolol kalian satu per satu!!"
Semua orang terpaksa menarik tubuhnya berdiri, kemudian berjalan lunglai sembari mengeret-ngeret alat pemadam yang tiba-tiba terasa berat. Mereka bergerak sangat lambat, sedangkan kebakaran bertambah hebat.
__ADS_1
Sementara itu, di dalam sebuah ruangan di lantai dua. Seorang wanita mulai dilanda kepanikan sebab indra penciuman mengendus bau sesuatu yang terbakar. Asap putih mulai menyelinap, masuk dari celah-celah pintu. Dia terperangah sembari menyentakkan alat yang mengapit tangan serta kakinya.
"Ya Tuhan... ada asap!" pekik Amanda melihat kepulan kabut putih dari renggangan bawah pintu. "Apa di luar sana sedang ada kebakaran? Tadi aku mendengar suara dentuman keras dari lantai dasar," terka Amanda menatap ke sekeliling yang mulai samar-samar terlihat.
Asap semakin memenuhi ruangan yang ukurannya sekira 500 cm x 500 cm. Oksigen di ruangan yang amat luas itu, perlahan berkurang tergantikan dengan karbon monoksida serta nitrogen oksida.
"Tolong... tolong aku...! Siapa pun di luar sana, tolong aku!!" teriak Amanda mulai ketakutan lantaran asap semakin menggumpal. "To-tolong..." pekiknya lagi kemudian terbatuk-batuk sebab merasakan sesak di dadanya. Zat-zat beracun terhirup ke dalam paru-paru.
Sosok pria misterius yang tak lain adalah Samuel, tengah mencari ruangan Lucas di mana pria lapuk itu menyimpan arsip-arsip berharga. Terutama nota-nota penjualan yang bisa dijadikan barang bukti untuk menjeratnya ke tiang gantungan.
Pemuda itu membuka setiap pintu tertutup untuk menggeretak, hingga langkah kakinya sampai pada ruangan yang pintunya dilapisi emas. Dia menyeringai senang sebab sudah menduga kalau tempat dia berdiri adalah ruang pribadi musuhnya.
"Aku sangat yakin, semua arsip-arsip berada di ruangan ini." Samuel menempelkan sebuah bom berkekuatan rendah ke atas pintu. Dalam hitungan beberapa detik, daun pintu pun hancur berkeping-keping.
Amanda yang mendengar ledakan di dekatnya, otomatis menjerit lantaran terkejut akan suara memekikkan telinga tersebut. Dia menoleh ke arah pintu yang jebol dan membeliak kaget.
Samuel berdiri di depan Amanda lantas memicingkan mata. "Bukan urusanku! Kamu berusahalah buat melepaskan diri sendiri. Kalau tidak bisa? Tunggu saja ajalmu di sini!"
Amanda terkekeh. Akan tetapi, sembari terisak dalam satu waktu. "Benar juga ya, lebih baik aku mati pelan-pelan. Menyusul papa yang sudah lebih dulu ke surga. Karena untuk apa aku bertahan hidup, semuanya sudah hancur lebur!"
Samuel berdecih, "Dasar wanita, terlalu banyak drama!!"
Pemuda yang memiliki ciri khas selalu mengenakan piercing di telinga, menganggap ucapan Amanda hanya omong kosong belaka. Tanpa menaruh rasa simpati sedikit pun, dia melewati Amanda dan bergegas mencari brankas tempat disembunyikannya dokumen-dokumen penting.
__ADS_1
"Di mana Lucas menaruh arsip-arsip yang aku butuhkan?!" gerundel Samuel meraba-raba dinding dan lemari buku mencari kunci ruang rahasia. Dia menarik lukisan-lukisan dan melemparkan ke sembarang arah. "Brengsekk! Di mana laki-laki sialan itu menyimpan brankasnya?" kesal Samuel menyeka wajahnya kasar.
Senyuman licik seketika terukir dari bibir merah kehitaman. Dia berlari ke arah Amanda lalu mengepit kedua pipinya. "Katakan padaku di mana suamimu menyembunyikan surat-surat penting?"
"U-untuk apa?" tanya Amanda menatap sendu dengan napas terengah-engah karena rasa pengap di dada.
"Bukan urusanmu!" sahut Samuel dengan kalimat pamungkasnya.
Amanda terkekeh. "Kaku sekali kamu! Seperti anak kecil yang sedang belajar bicara. Mengulang-ulang kata yang sama."
Samuel berdecak, "Cepat katakan di mana si brengsek Lucas meletakkan dokumen-dokumen berharga?!"
Amanda memiringkan kepala lalu mengarahkan jari telunjuk pada lantai yang berbeda warna. "Di sana. Lucas menyimpan semua barang berharga di sana!"
Samuel berjongkok dan turut memiringkan kepala. Melihat ke mana arah jari telunjuk Amanda menjulur. Dia mengulum senyum dan cepat-cepat beranjak ke tempat yang dituduhkan Amanda barusan.
Samuel mengeluarkan sebuah alat canggih yang digunakan untuk mendeteksi kunci otomatis brankar. Dan dalam hitungan kurang dari satu menit, benda yang terbuat dari besi itu pun berhasil dibobol olehnya.
Seringai bahagia tertarik di kedua sudur bibir, Samuel memasukkan arsip-arsip tersebut ke dalam tas ransel anti api yang dia bawa di punggungnya. "Akhirnya aku berhasil mendapatkan ini semua! Satu per satu, aku akan menghancurkan milikmu, Lucas!!"
Setelah memasukkan semua yang dia butuhkan. Samuel lekas-lekas beringsut untuk keluar dari ruangan Lucas. Dia berdiri sejenak di depan Amanda lalu menoleh sesaat. Hatinya tidak sedikit pun tergetar melihat Amanda dengan keadaan yang memprihatinkan.
Perempuan bersurai cokelat keemasan mengangkat kepala dengan susah payah, kemudian tersenyum tipis di antara parasnya yang kuyu. Dia menarik napas pendek dan beberapa saat kemudian, matanya mengatup tanda hilang kesadaran. Tubuh lemahnya terjungkal dengan wajah mengenai alat pancungan.
__ADS_1
Samuel mendengkus, ada rasa iba menyergap ke dalam relung hati melihat kondisi gadis tak bersalah terkena dampak penyerangannya. Namun, dia menafikan meski hati kecilnya meronta-meronta karena kebencian serta dendam yang menutupi nurani.
...*****...