
Malam ini sesuai dengan yang sudah direncanakan. Amanda akan menyelinap masuk ke gudang misterius yang membuatnya hampir mati karena rasa penasaran. Dia ingin memastikan apakah di dalam gudang tersebut ada kehidupan atau tidak. Sebab dia sangat yakin suara lirihan yang dia dengar malam itu, adalah tangisan seseorang.
Selepas makan malam, Amanda berniat untuk langsung bertolak kembali ke kamarnya. Dia menjalankan siasat dengan bertingkah seperti orang yang tengah mengantuk. Berkali-kali, dia menutupi mulutnya berpura-pura menguap, dengan kedua mata dibuat lengar.
"Aku ke kamar duluan ya, mataku sudah teler begini," pamit Amanda pada semua orang yang berada di meja makan. Dia mendorong kursi lanjut berdiri dan membungkukkan badan.
"Habis makan, langsung tidur? Apa kamu tidak sayang dengan badan seksimu itu? Apa kamu tidak takut jadi gembrot, maduku?" sinis Bellen, menggembungkan kedua pipi lanjut tertawa geli.
"Justru, aku lebih suka kalau dia berubah gemuk. Apalagi, gemuk karena hamil anakku," sahut Lucas, percaya diri.
"Ayolah... perempuan ini, bagaimana bisa hamil? Kalau barangmu saja seperti buah pisang yang kematangan, loyo dan lembek?" cibir Bellen, melihat ke arah Amanda dengan ekor matanya, lalu menatap Lucas seraya menarik kedua alis ke atas.
"Meski sekarang loyo dan lembek, tapi dulu pernah membuatmu terbang melayang, bukan?" sahut Lucas tak ingin kalah.
"Iya... itu, 'kan', dulu. Sekarang, sudah jauh berbeda. Lihat! Aku dan Lavina saja sampai detik ini tidak memiliki keturunan. Itu karena kualitas spermamu sangat rendah!" ucap Bellen tanpa rasa takut.
"Mulutmu benar-benar berbisa, Bellen!!" geram Lucas atas perkataan istri ke empatnya yang sudah kelewatan batas.
"Sudah pasti mulutku berbisa karena aku bagaikan seekor ular!" Bellen menjulur-julurkan lidahnya, persis seperti binatang yang dia sebutkan barusan.
"Lama-lama, aku gunting juga lidahmu itu!" geram Lucas sebab sang istri tanpa gentar menentang dirinya.
"Coba saja kalau berani!" tantang Bellen berdiri lalu berkacak pinggang. "Maka aku akan memotong ke-maluanmu yang hanya berfungsi sebagai pajangan itu!" tunjuknya pada arah selangkangann Lucas.
__ADS_1
Amanda beserta Lavina, merasa jengah dengan kelakuan Lucas juga Bellen yang memperdebatkan hal tidak berfaedah. Mereka berdua memutuskan untuk beranjak ke kamar. Dari pada berdiam diri dan menonton percekcokan yang tiada habisnya, hanya membuat pening kepala dan turut terbawa gila.
...***...
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sedari tadi, wanita bernetra biru itu nampak mondar-mandir di depan jendela seraya bertopang dagu. Setiap dua detik sekali, dia menengokkan kepala ke arah jam dinding. Memperhatikan waktu yang terasa begitu lama berputar.
"Ya Tuhan... kalau ditunggu-tunggu begini. Terasa sekali alotnya," gumam Amanda, tidak sabar untuk segera melancarkan rencananya.
Sudah sejak empat jam yang lalu, dia berjalan bolak-balik tiada henti. Sesekali melirik jam di dinding, diselingi menatap rembulan dari balik jendela kamar.
"Ah... kalau sedang tegang seperti ini, otakku suka tiba-tiba membeku!" Amanda menepuk jidat lanjut mengecek keadaan sekitar dari kamera pengintai yang dia tempel di beberapa titik. Kamera-kamera tersebut langsung terhubung dengan telepon genggamnya.
"Semoga, kamu bisa kuandalkan! Come on my babies!" Amanda duduk di atas ranjang dan mulai mengecek tangkapan dari kamera pengintai yang ukurannya sebesar semut Amazon. Selain itu, benda tersebut berwarna hitam pekat, sangat membaur dengan warna tembok istana. Jadi, sangat mudah untuk melekatkannya tanpa sepengetahuan orang-orang juga luput dari pantauan cctv.
"Matthew... aku harus berterima kasih padamu. Karena sebelum kamu meninggalkan istana terkutuk ini, kamu masih sempat memberikan benda-benda yang mulanya aku tidak paham diperuntukkan buat apa," ucap Amanda mengingat kebaikan hati sang mantan kekasih. "Aku merindukanmu, Matthew... sekarang, kamu di mana?" sambungnya bernada lirih dan diakhiri helaan napas resah.
Amanda buru-buru menepis kegalauan yang menyapa pikirannya. Sebab ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar urusan cinta. Perempuan muda itu kembali fokus pada benda yang dia pegang saat ini.
Senyuman miring pun tersungging saat menyaksikan orang-orang yang semula masih terjaga, kini tertidur nyenyak. Tepat pukul satu malam sesuai dengan prediksinya.
"Yes, aku berhasil. Thanks God!!" Amanda menangkup kedua tangan di depan dada seraya memandang langit-langit kamar begitu sumringah.
Gadis dengan rambut cokelat keemasan itu, mengenakan pakaian serba hitam. Tidak lupa masker senada, untuk menyamarkan wajahnya dari pengawasan keamanan. Dia mulai bergerak, menuruni dinding menggunakan tali-temali seperti terakhir kali melarikan diri dari kamarnya.
__ADS_1
Amanda mengendap-endap sembari menggulirkan kepala ke sana ke mari, untuk memastikan keadaan di dekatnya aman terkendali. Dia bergerak perlahan, selangkah demi selangkah bak seorang penyelinap handal yang tengah melancarkan aksinya.
Dua puluh menit, waktu yang dilalui penuh akan ketegangan. Membawa Amanda pada tempat yang membuat rasa ingin tahunya meninggi. Dan sekarang, gadis itu telah berdiri tegak di depan sebuah pintu usang.
"Pintu ini dikunci menggunakan gembok," bisik Amanda, memikirkan sesuatu. Dia menarik jepitan berwarna hitam dan tipis dari dalam rambut, lanjut meluruskannya.
Jepitan tersebut dimasukkan ke dalam silinder kunci gembok. Dan dalam hitungan beberapa detik, benda berbahan besi itu langsung saja terbuka sangat mudah.
"Yes, aku berhasil!!" sorak Amanda. Namun, buru-buru dia mengatup mulut, mengontrol emosinya. "Jangan berisik Amanda..." gerutunya pada diri sendiri.
Amanda melepaskan rantai besi lalu menggeserkan kotak-kotak yang menghalangi jalan langkahnya. Dia menghembuskan napas kasar, kemudian menelungkup kedua tangan di depan bibir, melafalkan doa-doa kepada Tuhan di dalam hati.
"Lindungi aku, Tuhan!" Amanda kembali menghembuskan napas menempelkan kedua telapak tangan di atas daun pintu. "Ayo Amanda... jangan buang-buang waktu!"
Amanda mendorong daun pintu secara perlahan. Namun, dengan tenaga penuh. Sebab pintu usang tersebut ternyata sangatlah berat. Tidak seperti tampilannya yang terlihat koyak dan dimakan rayap.
"Astaga... berat sekali pintu ini." Amanda terus mendorong, meski keringat mulai menitik tak karuan. "Otakku ingin mnyerah, tapi hatiku berkata aku harus terus maju!" Amanda mengerang dan mengeluarkan seluruh energi yang dia punya.
Daun pintu pun terbuka, raut kebahagiaan terpampang jelas di wajah Amanda. Dia cepat-cepat masuk ke ruangan yang terlihat seperti gudang tak terpakai tersebut.
Namun, gadis itu sontak tertegun sebab tidak mendapati siapa pun di dalam gudang tersebut. Dia berjalan, memutar kepala ke sekeliling dengan tatapan hampa.
"Tidak mungkin, di sini tidak ada siapa-siapa! Lebih tidak mungkin kalau suara yang aku dengar malam itu adalah suara setan. Lantaran aku tidak percaya dengan hal di luar nalar seperti itu!" Amanda terus mengoceh dan memperhatikan ke setiap sudut ruangan.
__ADS_1
...*****...