Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 64 Mayat


__ADS_3

"Emphhh... emphhh... emphhhh..." Wanita misterius itu menggeram untuk menyadarkan Amanda. "Ehmphhh... emphhh... geramnya lagi dari balik penyumpal mulut.


Amanda yang sudah terlalu lama larut dalam kebimbangan, kini mulai berangsur tersadar. Dia harus bisa menguasai dirinya sendiri sebab waktu terus berputar dan tak akan bisa kembali.


"Kamu kuat Amanda... kamu bisa melalui semua ini. Come on girl!!" katanya, mengembalikan semangat yang baru saja meredup. Dia perlahan bangkit, dibantu dengan kedua tangan yang menopang pada dinding lantaran kedua lututnya masih terasa lemas juga bergetar.


Kini, Amanda telah berdiri tegak kembali. Dia berjalan gontai ke arah wanita dengan tubuh yang dipenuhi nanah itu. Bau amis yang menyengat, tidak dia indahkan. Karena apa yang tertanam pada jiwa Amanda adalah, bila kamu sudah berani memulai maka kamu harus bisa mengakhiri.


"Tenang ya Nyonya, saya bantu melepaskan penyumpalnya," cakap Amanda membungkukkan badan lalu membuka kain lusuh yang digunakan untuk menyumbat suara.


"Te-terima kasih, Nak..." ucap wanita itu sangat lirih.


"Sama-sama Nyonya. Kalau boleh tahu, Anda ini siapa? Kenapa bisa ada di ruangan menjijikkan ini? Dan kenapa juga, Anda dipasung seperti seorang pesakitan?" berondong Amanda lantaran rasa penasaran semakin meluap tak tertahan lagi.


Wanita itu menghela napas seraya menatap ke arah Amanda dan berbalik bertanya. "Kamu sendiri siapa? Kenapa bisa sampai di sini? Karena gudang ini adalah daerah terlarang untuk siapa pun...."


"Nama saya Amanda, Nyonya. Saya... saya istri keenam tuan Lucas," jawabnya ragu-ragu.


Raut wajah wanita di depan Amanda menampilkan kesedihan jua kekecewaan yang mendalam. "Sebaiknya, kamu cepat pergi dari sini. Karena kalau sampai suamimu tahu akan keberadaanmu, dia pasti tidak akan memberikan pengampunan. Lucas akan menyiksa dan membunuhmu tanpa belas kasihan!!"


"Anda belum menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tadi, Nyonya..." imbuh Amanda. Dia ingin mendapatkan jawaban dari rasa keingin tahuannya yang semakin membuncah.


Wanita misterius mendengkus. "Nanti aku jawab. Sekarang, kamu urusi dulu mayat anak buah Lucas itu. Sebelum orang-orang menyadari dan mencarinya ke mari!"


"I-iya, Nyonya." Amanda bergegas menuju jenazah anak buah Lucas lalu berdiri mematung. Dia berjalan mondar-mandir memikirkan bagaimana cara menghilangkan jejak dari pria yang sudah dihabisinya tadi.

__ADS_1


"Nyonya... apa di gudang ini terdapat ruang bawah tanah atau sejenisnya?" tanya Amanda pada si wanita misterius.


Wanita itu nampak tengah mengingat sesuatu, lalu dia manggut-manggut dan tersenyum tipis. "Ada, di sini ada ruang bawah tanah, tapi...."


Amanda mengerutkan keningnya. "Tapi apa, Nyonya?"


"Ruangan itu tempat pembuangan bangkai-bangkai manusia yang sudah dibunuh oleh Lucas. Dan sekarang, di sana banyak tulang belulang berserakan. Tempat itu ada di ujung lorong, tinggal kamu nyalakan saja lampunya. Nanti akan kelihatan."


Amanda menelan saliva berkali-kali seraya mengusap wajahnya kasar. Belum usai juga penderitaan yang dia alami malam ini. "Apalagi ini Tuhan....?"


Amanda tertunduk lesu sesaat, lalu mendongak penuh semangat. "Ayo Amanda... kamu bisa. Kamu pasti bisa!!! Go... go... go... si gadis aquarius!!"


Wanita misterius hanya tersenyum dingin, antara bangga akan keberanian gadis di depannya juga merasakan khawatir yang teramat sangat. Kemalangan yang dialami bertahun-tahun lamanya, tidak ingin terjadi juga pada wanita tidak berdosa lainnya.


Bertahun-tahun, bahkan mungkin belasan tahun atau justru puluhan tahun, dia dipasung dan diperlakukan sangat tidak adil oleh Lucas. Kondisinya semakin memprihatinkan ketika virus herpes mulai menggerogoti tubuhnya. Dia sudah meminta kematian pada Tuhannya. Namun, hingga saat ini Sang Pencipta masih saja memberinya kehidupan.


Amanda menyalakan senter yang berada di kepalanya. Akhirnya dia menemukan apa yang dicari yakni saklar lampu yang akan menerangi lorong yang membawanya ke ruangan bawah tanah.


Kondisi lorong itu lebih membuat bulu kuduk bergidig sebab selain ukurannya yang sempit juga bekas-bekas darah yang sudah kering masih terlihat dengan sangat jelas. Ntah sudah berapa puluh atau mungkin ratusan orang diseret menuju tempat pembuangan tersebut.


Gadis bernetra biru menghembuskan napas kasar untuk meredakan kegelisahan. Kemudian dia berjalan kembali ke arah mayat yang kulitnya sudah memutih.


"Kamu pasti bisa Amanda...!!" pekiknya, lalu menarik kedua tangan pria yang sudah tidak bernapas itu dan mulai menyeretnya dengan susah payah. Dia nampak mengernyih lantaran badan mayit itu ternyata lumayan berat.


Sedikit demi sedikit, mayat itu sudah melewati lorong. Amanda terpaku sesaat sebab untuk bisa sampai ke ruang bawah tanah harus melewati puluhan tangga dengan bentuk yang berkelok-kelok.

__ADS_1


"Ya Tuhan... masih ada rintangan satu lagi?" Amanda geleng-geleng kepala, rasa-rasanya dia sudah tidak sanggup dengan apa yang dilihatnya. Namun, dia harus memaksakan diri karena sudah melangkah sejauh ini.


Susah payah, Amanda mengeret mayat tak berguna yang hanya menyusahkannya saja. Meski berkali-kali dia hampir terjungkal lantaran pijakan tangga yang berukuran kecil dan sedikit rapuh. Beruntung, dia masih bisa menjaga keseimbangan tubuh.


Amanda sudah melewati kelokan yang pertama. Kini, dia akan melewati kelokan yang kedua. Pakaiannya sudah basah oleh peluh karena rasa lelah juga ketakutan yang semakin merongrong raga.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi dan Amanda belum juga keluar dari tempat menjijikkan itu. Dia masih memeras tenaga dengan memberentangkan mayat itu ke dalam tempat pembuangan.


Amanda terengah-engah merasakan penat dan deru napas yang sangat cepat. Di depannya kini sebuah pintu kayu tertutup dengan rapat. Amanda mendorongnya sekuat tenaga dan hampir saja terperosok sebab ruang pembuangan bangkai-bangkai manusia itu berbentuk seperti sebuah sumur yang dalam.


"... hampir saja...."


Gadis bersurai cokelat keemasan itu menyeret si jenazah lalu mendorongnya untuk dibuang ke dalam sumur yang gelap. Namun, baunya sangat tidak sedap.


Sosok tanpa nyawa itu kini sudah bertemu dengan penghuni lainnya. Wujudnya tak lagi terlihat oleh kasat mata. Amanda tertawa sembari terisak. Kini sesak di dalam dadanya, terlerai juga melalui tangisan.


"Tidak, tidak... aku tidak boleh terlarut dalam kepedihan. Semuanya belum usai, masih banyak yang harus aku kerjakan!!" Amanda mengeringkan air mata dan lekas-lekas beranjak dari tempat yang baginya bak gerbang neraka.


Menaiki anak tangga yang tinggi serta curam ternyata membutuhkan tenaga yang sangat ekstra. Amanda yang sangat kelelahan, akhirnya berjalan merangkak seperti anak bayi.


Semua tulang di dalam tubuh terasa remuk redam. Apalagi setelah sampai di tempat semula, Amanda disuguhi genangan darah segar yang tentunya harus dibersihkan untuk menghapus jejak dan menghilangkan kecurigaan.


"Ya Tuhan...!" teriak Amanda lalu menjungkalkan badannya ke atas lantai dengan posisi terlentang.


"Sebentar lagi pagi, Nak. Orang-orang suruhan Lucas pasti akan mengecek keadaan di sekitar. Kau kembalilah ke kamarmu sekarang. Biar masalah darah ini, aku yang urus," lontar wanita misterius sebab merasa iba dengan kondisi Amanda.

__ADS_1


Amanda geleng-geleng kepala. "Tidak Nyonya, saya harus menyelesaikannya dengan tangan saya sendiri, apa pun resikonya."


...*****...


__ADS_2