
"Kamu di mana betina kecil? Keluarlah sebelum kesabaranku habis!!" Leo membuka pintu kamar terakhir dan tidak menemukan gadis yang dia cari. Dia mengerang kesal lalu menembaki barang-barang di dalamnya. Kapas berserakan, kaca jendela pecah berkeping-keping lantaran terkena amukan si anjing jantan.
"Ayo cari gadis itu sampai dapat!! Mungkin dia bersembunyi di dalam lemari atau ruang bawah tanah!!" titah Leo geram lantaran kebahagiaan yang dia rasakan hanya separuh. Sebab separuhnya lagi tak nampak dalam pandangan.
Leo bergegas dari kamar tersebut dan tidak menyadari akan kejanggalan di dalamnya. Dia masih berusaha mencari gadis itu bersama anak-anak buahnya ke setiap sudut. Akan tetapi, nihil. Dia tidak mendapati apa pun selain bangunan kosong dan sunyi.
"Bos... coba lihat ke mari, Bos...!" pekik sang anak buah menunjuk-nunjuk ke dalam kamar yang terakhir disinggahi Leo tadi.
"Ada apa?" tanya Leo malas.
"Bos lihat sendiri saja," imbuh si anak buah.
"Aku sudah mengecek kamar itu tadi dan tidak ada gadis sialan di sana," jawab Leo melengos.
"Lihat sekali lagi, Bos!" pinta sang anak buah karena dia yakin apa yang dia temui ada kaitannya dengan Ivana.
Leo berjalan gontai ke arah kamar yang disinggahi terakhir kali. Sambil berjalan, dia monoyor kepala sang anak buah hingga membentur dinding di belakangnya.
"Mana, mana, mana? Tidak ada apa-apa di sini." Leo berputar-putar dengan kedua tangan merentang.
Si anak buah mendengus kasar sembari mengusap-usap kepala bagian belakang dan berjalan menghampiri Leo. "Lihat di bawah itu, Bos! Ada darah segar."
Kepala Leo langsung tertarik ke arah di mana tetesan darah mengotori lantai. Keningnya mengerut, dia merundukan badan lalu mencolek cairan berwarna merah pekat tersebut dan mencium baunya.
"Iya benar, ini darah. Dilihat dari kekentalannya, darah ini belum lama menetes," beber Leo lalu berdiri. "Sepertinya ada orang lain yang lebih dulu tiba di tempat ini. Ah... sial!!" Leo menendang dan memukuli anak buahnya sebagai pelampiasan kekesalan.
"Siapa yang sudah berani-beraninya menikungku?" berang Leo kembali menghantam lelaki di depannya dengan pukulan-pukulan keras. "Ah...!!!" desahnya kasar, menjambak pucuk rambut.
"Lalu apa rencana kita selanjutnya, Bos?" tanya si anak buah yang dipukuli tadi. Dia sengaja mengalihkan kemarahan Leo dengan bertanya agar pria itu lebih sibuk dengan pikirannya.
Leo sudah bisa menguasai diri sendiri dan mulai memikirkan rencana selanjutnya. Dia memerintahkan semua anak buah untuk memeriksa keadaan di sekitar cottage, berharap menemukan suatu petunjuk mengenai hilangnya Ivana dari tempat persembunyian.
Semua orang segera bergegas untuk mencari tanda yang bisa menjadi acuan kepergian Ivana dari lokasi terakhir pengasingan.
"Aku harus bilang apa pada Lucas? Pria tolol itu pasti akan mengolok-olok dan memakiku karena gagal membawa gadis itu pulang!" gerundel Leo memikirkan hal menjengkelkan kalau kembali dengan tangan kosong.
__ADS_1
...***...
"Kalian mau membawaku ke mana?" rengek Ivana, masih mengira kalau pria-pria yang bersamanya saat ini adalah orang-orang jahat. Dia tidak bisa melihat muka-muka pria tersebut lantaran terhalang penutup wajah, kecuali Samuel.
"Aku ingin pulang. Kumohon... kembalikan aku ke tempat tadi..." rengek Ivana lagi. "Kalau kalian tidak mau putar balik, aku loncat nih!" ancamnya pura-pura membungkukkan punggung.
Samuel menoleh sepintas dan kembali tak acuh. Ancaman Ivana bagai bulu halus yang menggelitik cuping telinga. Menggelikan, tetapi tak bermakna apa pun.
"Loncat saja, sana!!" suruh Samuel menantang gadis itu untuk terjun ke lautan. "Kenapa masih diam saja? Ayo loncat! Katanya mau melompat dari helikopter?" cibir Samuel, mencemooh gadis manja yang hanya bisa menggertak.
"Iya, ini aku mau melompat!!" Ivana beranjak dan berdiri di depan lawang tanpa pintu. Dia berpegangan erat sembari memejamkan mata sebab dia takut akan ketinggian.
"Ayo loncat!" Samuel masih menekan Ivana sembari cengengesan.
"I-iya... ini aku juga mau loncat! Sabar sedikit, kenapa!" sahut Ivana dengan lutut gemetaran. Jangankan untuk lompat dari ketinggian, sekedar melihatnya pun dia tidak sanggup.
"Coba sini lihat!" titah Samuel mengarahkan kamera ponsel ke wajah Ivana. "Say, cheseeee..." ledek Samuel, menambah kedongkolan pada diri gadis di depannya.
Pemuda itu hanya tergelak melihat wajah merah padam Ivana. Dia begitu senang mengusili perempuan yang usianya tidak jauh beda dengan sang adik.
Ivana geregetan, menyatukan kedua giginya seraya mengeratkan kepalan. Dia menghentak lantai helikopter dan kembali duduk di samping anak buah Samuel.
"Terus, kalian mau membawaku ke mana? Kenapa kalian menculikku? Sebenarnya siapa kalian? Dan bagaimana kalian bisa menemukanku di pulau terpecil ini? Kalian benar-benar polisi atau orang-orang suruhan yang akan menjualku ke luar negeri?" cerocos Ivana tanpa jeda dan helaan napas.
Samuel mendengus kesal lalu melepas kedua kaos kakinya. Dia menghampiri Ivana lanjut menyumpal mulut gadis itu menggunakan kaos kaki miliknya tersebut.
Ivana langsung terdiam dengan kedua netra membola. Antara rasa jijik juga emosi, keduanya bersatu padu bergemuruh di dalam dada.
"Nah, kalau kamu diam seperti ini, 'kan, manis..." puji Samuel terkekeh-kekeh.
Ivana mencabut kaos kaki dari dalam mulut dan menjulurkan lidah seakan ingin muntah. Dia melempar kaos kaki itu ke arah muka Samuel. "Sialan! Bau sekali kaos kakimu!!"
Samuel hanya pringas-pringis mendengar omelan Ivana. "Makanya diamlah! Bagus kami yang lebih dulu menemukanmu dan bukan orang suruhan Lucas."
Mendengar nama Lucas, si gadis remaja memaku seketika. Bayangan pria bedebah itu kembali mengusik ketenangan batin.
__ADS_1
...***...
Amanda terpaksa menuruti permintaan Lucas untuk menemani pria tua itu ke acara makan malam bersama investor. Dia terlihat sangat anggun dengan dress hitam dan heels berwarna silver.
Pria yang menantinya di lantai dasar, hingga ternganga melihat kecantikan luar biasa yang disempurnakan oleh lekuk tubuh bak barbie hidup. Namun, sayang keindahan yang terpampang di depannya itu hanya bisa dipandangi tanpa bisa dinikmati secara utuh.
"Oh, My Gosh. You look so gorgeous, darling!" puji Lucas pada Amanda di depan kedua istrinya yang lain. Bellen hanya mencebikkan bibir mendengar sanjungan yang dilayangkan Lucas pada istri mudanya. "Aku yakin, kamu akan menjadi ratunya malam ini, sayang...."
Amanda memutar bola matanya, jengah dengan celotehan Lucas. "Tidak perlu memujiku seperti itu, Tuan Lucas. Aku memang cantik, tapi sayang... kamu tidak bisa memuaskanku di ranjang. Rasa-rasanya tidak berguna kecantikan ini kalau memiliki suami impoten sepertimu, Lucas!!"
Lavina menutupi mulutnya, menahan diri dari menertawakan sang suami. Berbeda dengan Bellen yang terpengarah sebab tidak menyangka kalau madunya itu bisa selancang itu berbicara pada Lucas.
Pria tua yang saat ini nampak menawan dengan balutan tuxedo hitam, menahan sekuat hati amarah yang menggerogoti kesabaran di dalam jiwa. Karena dia tidak ingin suasana hatinya dirusak oleh gadis sialan tidak tahu diri.
"Sudah jam enam lebih lima menit, sebaiknya kita pergi sekarang." Lucas mengulurkan tangan ke arah Amanda untuk menggandeng gadis itu menuju mobil mewah yang sudah menunggu di depan pelataran istana.
Amanda mendesah dan menyambut uluran tangan Lucas kepadanya dengan terpaksa sebab dia sedang tidak ingin berdebat dengan suaminya.
Sementara itu, Bellen dan Lavina berjalan mengekor di belakang. Bagaikan dua dayang-dayang yang menemani ratu dan raja keluar dari kerajaan.
Bellen terus merengut sebab merasa tersisihkan akan kehadiran Amanda di tengah-tengah rumah tangganya bersama Lucas. Dia yang selama ini dipuja-puja, dengan sangat mudah di campakkan lantaran kedatangan wanita yang lebih segalanya dari dia.
Lucas beserta ketiga istrinya masuk ke dalam mobil dan sama-sama duduk di kursi penumpang. Pria itu nampak percaya diri sebab dikelilingi oleh wanita-wanita cantik dan seksi.
"Sepanjang pernikahanku dengan Amanda, kita belum pernah mencoba bermain berempat. Pasti akan lebih menyenangkan rasanya dari pada thre-e some!" celetuk Lucas tidak tahu diri.
Bellen menggeronyotkan bibir seraya memainkan kuku-kuku indahnya. "Ingat akan kelemahanmu, Lucas! Jangankan untuk bercinta dengan kami bertiga, masuk mulutku saja belum apa-apa sudah menyembur!"
Cibiran Bellen ditanggapi tawa renyah oleh kedua istrinya. Sementara sang sopir, melipat bibirnya menahan suara kekehan ataupun cekikikan. Dia hanya bermain mata pada Lavina di saat Lucas sibuk menggerutu lantaran semua wanitanya mencemooh kepayahan dirinya dalam memberi nafkah batin.
"Diam kalian!! Sekali lagi aku mendengar suara cekikikkan, aku hancurkan kepala-kepala kalian satu per satu!!" geram Lucas menodongkan sebuah revolver (Jenis senjata api) ke arah istri-istrinya.
Ketiga wanitanya itu sontak terdiam dan mengunci mulut rapat-rapat. Dari pada mati konyol di tangan pria si pria tolol.
...*****...
__ADS_1
...Bonus visual Amanda pakai evening dress...