
"Jaga mulut busukmu itu Lucas. Kamu tidak berhak menyebutku seorang lacur!!" teriak Amanda naik pitam lantaran hinaan Lucas yang tidak berdasar terhadapnya.
"Kalau bukan pelacur, lalu apa namanya, jalangg?" cibir Lucas dengan kata-kata yang lebih kasar. "Bermesraan dengan laki-laki lain, sementara statusmu adalah istriku, bukankah itu tingkah laku seorang lacur?" Lucas menunjukkan rekaman video di mana Amanda tengah bercumbu dengan putranya di taman. Mata Amanda membola, terkesiap dengan apa yang diperlihatkan Lucas padanya. Dia tidak menyangka sedikit pun kalau kejadian malam itu diabadikan oleh seseorang.
"Kenapa, kaget?" sinis Lucas dan kembali berjalan mendekat. "Bukankah aku sudah memperingatkanmu, Amanda? Jangan pernah bermain api denganku karena aku tidak segan-segan untuk menghukummu!!" sembur Lucas.
"Tapi kenapa harus papa yang kamu hukum atas kesalahan yang aku perbuat?" lirih Amanda. "Lalu mengapa kamu begitu tega menghilangkan nyawa orang yang tidak bersalah? Kalau mau menghukum, hukumlah aku...!!!" raungnya semakin histeris.
Lucas tertawa lepas. "Ya... itulah hukuman yang pantas buat seorang pengkhianat. Kematian, kepedihan, rasa bersalah dan rasa sakit!"
"Kamu bukan manusia, Lucas. Melainkan iblis!!" jerit Amanda merasa terpukul karena kematian Omran tak lepas dari kesalahannya. "Aku bersedia menikah dengan pria keparat sepertimu, itu demi papaku! Tapi kamu malah membunuhnya. Jadi, aku minta. Ceraikan aku sekarang juga!" raung Amanda merasa ditipu mentah-mentah oleh Lucas.
Andai saja dia tahu kalau Lucas akan mengingkari janji, pasti tidak akan semudah itu untuk menyerahkan diri. Semua ini dia lakukan demi sang ayah, demi keselamatan jiwanya. Akan tetapi, apa yang terjadi? Ayahnya tewas mengenaskan di tangan si pria bedebah.
"Menceraikanmu?" Lucas tergelak, menertawakan ucapan Amanda yang terdengar bagai sebuah lelucon untuknya. "Tidak ada di dalam kamus seorang Lucas Denver, melepaskan sesuatu yang sudah menjadi hak milik. Sekali milikku, selamanya akan menjadi milikku!" geram Lucas.
Pria tua itu melangkah perlahan sembari melepaskan pakaian. Sorotan mata dengan urat-urat merah menambah kesan kalau dia adalah iblis bukan manusia.
"Kamu mau apa?" Amanda melangkah mundur seraya berpegangan pada benda yang ada di dekatnya. "Jangan mendekat, aku tidak sudi untuk kamu sentuh kembali." Amanda berlari ke arah pintu agar terhindar dari amukan nafsuu sang suami. Sayangnya, Lucas lebih dulu menyergap tubuhnya.
"Kamu milikku, Amanda. Dan akan tetap begitu!" Lucas mengangkat tubuh istrinya lalu dihempaskan ke atas ranjang. Dia merobek pakaian Amanda, bersikap kasar serta brutal.
"Lihat apa yang akan aku lakukan. Kali ini, aku tidak akan membuang-buang waktu untuk merangsangmu. Jadi, rasakan ini!!!" Lucas menghentakkan miliknya sekaligus, dengan keadaan area senggama Amanda masih kering dan seret.
Amanda memekik kesakitan sementara Lucas nampak geregetan. Dia ingin sekali membobol selaput dara milik istrinya itu, tetapi lagi-lagi gagal. Karena miliknya lebih dulu ejakulasi dan langsung mengerut seketika.
"Ah... padahal tinggal sedikit lagi. Aku bisa merasakannya. Benang tipis itu sedikit lagi berhasil aku koyak!!" berang Lucas lalu melampiaskan kekesalannya dengan menggigit leher Amanda.
Amanda terkekeh, "Kamu sudah lemah, Lucas. Kamu tidak berguna sebagai laki-laki. Yang kamu bisa, hanya bersembunyi di balik kekuasaanmu itu...!!"
__ADS_1
"Diam kamu, pelacur...!!" Lucas menampar wajah Amanda berkali-kali. Tersinggung akan perkataan yang menginjak harga dirinya sebagai seorang laki-laki perkasa.
Amanda terbahak-bahak. "See... sikapmu barusan, memperjelas sisi lemahmu. Kamu payah, kamu lemah, kamu tidak berguna. Barangmu itu cuman ukurannya saja yang besar, tapi merenggut keperawananku saja tidak becus! Aku jadi curiga, jangan-jangan kedua istrimu itu, mencari kepuasaan dengan laki-laki lain di luaran sana."
"Diam kataku, diam...!!" Lucas kembali menggampar wajah Amanda. Meski luka memar mulai terlihat serta cairan berwarna merah sudah menitik di sudut bibir, dia tidak peduli. Lucas terus saja memukuli pipi istrinya itu.
Amanda tidak berhenti tertawa, meski kondisi hati sebetulnya tercabik. Dia tidak ingin mengeluarkan air mata untuk pria bedebah yang tidak memahami apa arti cinta juga kehormatan. "Kamu lemah Lucas, sadar dirilah...."
"Ahrgh..." erang Lucas lantas melayangkan tamparan terakhir.
Setelah puas menghajar Amanda, Lucas menarik diri dari tubuh istri mudanya itu. Sembari memberang, dia keluar dari kamar meninggalkan Amanda dengan jenazah Omran yang masih dalam kondisi menggantung.
"Setiap orang memiliki kekuatan juga kelemahan. Dan kelemahanmu itu yang akan menghancurkan dirimu sendiri, Lucas!!!" gumam Amanda.
Di sisa tenaga yang dimiliki, Amanda beringsut lalu berjalan selangkah demi selangkah. Dia kembali meraung ketika melihat wajah sang ayah yang berlumuran darah. Tangannya gemetaran memeluk kaki pria itu. Lalu dia terdiam, terpikir akan sesuatu.
Lima menit kemudian, dia sudah berada di kamar semula. Dia membidikkan kamera ponsel ke arah Omran lalu mengambil beberapa foto untuk dikirimkan pada asisten sekaligus sahabatnya, Ann.
✉ Amanda
Ann papaku meninggal, dibunuh suamiku. Aku mohon, tolong hubungi siapa pun untuk mengeluarkanku dari rumah bak neraka ini. Aku takut Ann... aku takut.
Aku kirimkan foto papaku, yang tewas mengenaskan di tangan Lucas.
📩 Ann
Ya Tuhan... aku kira kamu bahagia dengan pernikahanmu itu, Amanda. Ternyata...
Oke-oke, aku punya sepupu seorang intelijen. Aku harap dia bersedia membantu.
__ADS_1
✉ Amanda
Terima kasih, Ann. Terima kasih.
Setelah mengirimkan beberapa pesan singkat, Amanda lanjut menarik sebuah kursi yang berada di dekat posisi Omran menggantung untuk dijadikan pijakan. Dengan kaki gemetaran, dia menaiki kursi itu lalu melepas tali tambang yang menjerat leher sang ayah. Sekuat tenaga, Amanda menahan tubuh Omran agar tidak terjatuh. Namun, tangannya tidaklah begitu kuat. Jenazah Omran terbanting ke atas lantai berikut juga dengan dirinya.
Amanda tidak tahu harus melakukan apa. Ingin sekali, dia mencabut kapak yang menancap di kepala sang ayah. Akan tetapi, dia tak kuasa. Yang dia bisa lakukan saat ini hanya meraung serta meratap. Menangisi sang ayah yang beristirahat untuk selama-lamanya.
...***...
"Bagaimana dengan kondisi gadis itu?" tanya Matthew sesampainya di sebuah gubuk. Dia menitipkan Ivana pada wanita tua yang tak lain adalah adik kandung Allison.
"Anak itu baik-baik saja, sekarang dia sudah mau berbicara denganku," jawab wanita tua mengusap-usap pundak Matthew seakan memahami kalau keponakannya tengah melewati masa-masa sulit.
"Terima kasih banyak, Aunty. Hanya Aunty yang aku punya saat ini," ucap Matthew lalu memeluk sang tante.
"Ceritakan pada Aunty, apa yang terjadi? Apa Lucas menyakitimu lagi? Apa pria bajingan itu menyakiti keponakan tersayang Aunty?" tanya Allina pada Matthew.
Pemuda malang itu terduduk lesu di atas kursi lalu menundukkan kepala dengan kedua tangan sebagai topangan. "Daddy menikahi kekasihku, Aunt!!"
Allina memekik, "Apa? Dia menikahi kekasihmu? Pria tidak tahu diri itu masih saja terpikir untuk menikah lagi? Astaga... padahal barangnya saja sudah tidak sanggup berdiri lama!!!"
Matthew menoleh ke arah Allina, antara kesal bercampur ingin tertawa karena selorohan tantenya itu. "Iya, Aunt. Dia menikahi Amanda. Aku sudah menyiapkan segalanya untuk melamar kekasihku, tapi daddy merusak kebahagiaanku!!"
Perasaan Allina terenyuh sebab dia bisa melihat dengan jelas kabut kesedihan menyelimuti wajah sang keponakan. Dia mendekap tubuh kekar. Namun, ringkih. Lalu membawanya ke dalam pelukan. "Kalau mau menangis, menangislah Matthew. Menangis tidak membuatmu lemah. Kita manusia ada saatnya benar-benar terpuruk. Dan kalau dengan menangis bisa sedikit meredakan rasa sesak di dadamu, maka menangislah...."
Matthew membalas pelukan Allina, kemudian menangis sejadi-jadinya. Meluapkan kesedihan juga kepedihan yang menggerogoti hati. Dia butuh sandaran, dia butuh seseorang. Dia merindukan sang ibu yang telah lebih dulu pergi ke tempat yang abadi.
...*****...
__ADS_1