
"Mom masih punya utang penjelasan padaku," gerundel Matthew, yang masih dilanda rasa penasaran mengenai pertemuan Amanda dengan ibunya.
"Utang penjelasan? Utang penjelasan apa?" Allison berpura-pura tidak ingat akan pertanyaan sang anak.
"Ayolah, Mom... jangan menggodaku," rajuk Matthew, melipat bibirnya persis layaknya anak kecil.
"Iya-iya... Mom ceritakan. Sabarlah sedikit!" Allison terkekeh dan menangkup sebelah pipi sang anak. "Amanda tidak sengaja menemukan Mom di gudang dan dengan kebaikan hatinya, dia mengeluarkan Mom dari tempat menakutkan itu. Mom salut sekali akan keberaniannya, meski...."
"Meski apa, Mom?" potong Matthew tidak sabar.
"Meski hampir saja keselamatan nyawanya terancam sebab anak buah daddy-mu memergoki gadis itu menyelinap masuk ke dalam tempat Mom disekap," jawab Allison.
"Lalu, dengan cara apa Amanda bisa selamat? Karena yang aku tahu, daddy maupun anak buahnya sama-sama kejam!" Kedua alis Matthew bertautan lantaran terlalu keras berpikir. "Apa jangan-jangan... dia merayu anak buah daddy, seperti halnya dia menggoda daddy?" tuding Matthew, walau dia tahu betul Amanda bukanlah gadis sebagaimana yang dia tuduhkan.
"Amanda gadis yang baik, tidak seperti yang kamu sangkakan barusan, Nak..." sergah Allison atas ucapan putranya. "Malam itu semuanya terjadi begitu cepat. Mom hanya bisa menyaksikan kejadian di depan mata tanpa sanggup melakukan apa pun untuk menolongnya, tapi Amanda benar-benar berani. Dia melawan anak buah daddy-mu hingga berhasil menembaknya," papar Allison, mengenang malam menegangkan. Di mana menjadi pertemuan pertamanya dengan Amanda.
"Amanda memang gadis yang sangat baik dan lugu, tapi itu dulu. Sebelum aku tahu bagaimana dia yang sebenarnya," sahut Matthew dingin. "Ternyata dia sama saja dengan perempuan lainnya. Tidak melihat ketulusan, tapi yang dia pandang hanya kemewahan juga nama baik! Padahal aku kurang apa, Mom?" kekehnya di balik kekecewaan.
Allison tersenyum getir dan menarik wajah Matthew agar menoleh ke arahnya. "Mom melihat ketulusan di mata gadis itu. Mungkin ada hal yang tidak kamu ketahui, mengenai alasan di balik pernikahannya dengan daddy-mu?!"
Matthew mengangkat kedua pundaknya ke atas. "Ntahlah, Mom. Memikirkan dia hanya membuat aku bertambah benci!"
Allison meletakkan telapak tangannya di atas dada sang anak. "Ikuti apa kata hati kecilmu, Nak. Mommy yakin, jauh di lubuk yang terdalam sebenarnya kamu mempercayai gadis itu. Kamu hanya perlu sedikit menurunkan ego dan belajarlah untuk memaafkan...."
"Nanti aku pertimbangkan, Mom..." sahut Matthew, masih melawan perasaannya sendiri.
__ADS_1
Allison geleng-geleng kepala. "Kamu persis seperti daddy-mu, keras kepala!!"
"No Mom... aku tidak seperti daddy!" sergah Matthew tidak terima, bila disamakan dengan pria yang dia benci dengan segenap hatinya itu.
"Kalau begitu, buktikanlah...! Buktikan, kalau darah Allison lebih kuat dari pada darah Lucas Denver di urat nadimu!" tantang Allison pada putranya.
"Mom..." rajuk Matthew, manja.
Allison menjawil gemas kedua pipi putranya. "Usiamu sudah dewasa, tapi masih saja berlagak seperti anak kecil!!"
Matthew menyerengeh, memperlihatkan sepasang lesung pipinya. "Aku memang anak kecil, Mom. Dan akan selalu menjadi anak kecilmu, sampai kapan pun!"
"My naughty Boy..." Allison menarik-narik kedua pipi putranya sembari tertawa renyah.
Wanita tua itu sudah lupa kapan terakhir kali tertawa lepas seperti ini. Satu yang pasti, sebelum suaminya berubah menjadi seekor monster. Dia adalah wanita paling beruntung di dunia karena mendapatkan suami sebaik dan setampan Lucas. Namun, semuanya berubah saat pria itu mulai terjerumus pada lembah kenistaan.
Allison mengangguk. "Begitu pun juga dengan Mommy, Nak. Tiada lagi kebahagiaan yang Mom pinta pada Tuhan karena kamulah kebahagiaan Mommy satu-satunya...."
Matthew memeluk Allison untuk kesekian kalinya. Seakan tidak ingin melepaskan sosok yang sangat dia sayangi, segenap jiwa serta raganya itu.
"Dan kebahagiaan kita berdua, tidak lepas dari campur tangan Amanda. Karena gadis itulah, Mom bisa berada di sini dan berjumpa denganmu. Ingat itu baik-baik ya, Nak...!" Allison membelai lembut puncak kepala putranya. "Hapus amarah juga dendam di hatimu. Berdamailah dengan diri sendiri sebab itu adalah hakikat sebenar-benarnya sebuah kebahagiaan."
Saat ini, Matthew tidak ingin menjawab ataupun menyergah nasehat Allison terhadapnya. Dia hanya perlu mendengarkan seraya mencerna dari kata per kata yang diucapkan sosok malaikat tak bersayap tersebut kepadanya.
...***...
__ADS_1
Satu hari menjelang sidang perdana suaminya, membuat Amanda membutuhkan waktu untuk menjernihkan pikiran. Selama satu minggu, hanya mengurung diri di kamar, lambat laun membuat dara berusia dua puluh tahun itu merasa bosan. Terlebih, tidak ada yang bisa dia lakukan di istana. Selain menjalani hari-hari bak seorang ratu dari dunia antah berantah.
Hari ini gadis benetra biru, kembali keluar dari istana melalui pintu rahasia. Dia sudah merindukan udara kebebasan, di mana seakan terlepas dari belenggu pernikahan tanpa makna, meski hanya untuk sementara.
Di depan sebuah danau yang sepi dan ditemani gesekan suara dedaunan tertiup angin. Gadis itu termenung seorang diri, merenungi nasibnya yang kian hari semakin tidak terarah.
"Sampai kapan hidupku akan seperti ini, Tuhan...?" keluh Amanda seraya melempar kerikil ke tengah danau. "Andai saja ada seorang pengacara yang mau membantuku dengan suka rela, tapi sayang itu hanyalah sekedar khayalan. Semua hal yang ada di tempat ini, dalam kendali kekuasaan Lucas. Lalu aku bisa apa?" Amanda menghela napas.
"Semua orang memiliki pilihan. Ntah menolak atau menerima, yang pasti apa pun itu akan ada konsekuensi dari apa yang kita pilih. Seperti halnya kebodohanmu yang memilih seorang suami lantaran kekayaannya," cibir seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik punggung dan berdiri begitu rapat dengan tubuh Amanda.
Amanda mendengus kesal karena mengenali suara yang berbicara padanya saat ini. Dia membalikkan badan sekaligus dan sontak tersentak sebab bibirnya menempel begitu saja dengan bibir seseorang tersebut.
Gadis itu langsung menjauhkan tubuhnya dengan melangkah ke belakang. Namun, seseorang tersebut menarik pinggang sang gadis dan kembali merapatkan tubuh keduanya. "Mau ke mana, hm...? Kamu yang lebih dulu menciumku, lalu pergi begitu saja?"
"A-aku tidak sengaja. Aku tidak tahu kalau posisi berdirimu sedekat itu!" sergah Amanda, menggerak-gerakkan badannya agar bisa terlepas dari dekapan pria di hadapannya.
"Benarkah? Bukan karena sengaja mencuri-curi kesempatan sebab kamu merasa kesepian, Nyonya Lucas?" sinis seseorang itu, yang tak lain adalah Samuel.
Amanda menyalang murka karena selorohan laki-laki tersebut terhadapnya. "Apa maksudmu, Kapten Samuel?"
"Apa harus aku perjelas, Nyonya Lucas?" tekan Samuel. "Baiklah... aku perjelas, mungkin karena otakmu kurang pintar. Jadi, sulit buat memahami perkataanku!"
Samuel memiringkan kepalanya lalu menghembuskan napas hangat ke atas wajah Amanda. "Kamu wanita kesepian yang merindukan belaian dari seorang pria. Karena itu, menyadari bahwa aku berdiri di dekatmu. Kamu pura-pura terkejut agar bisa mencumbu bibirku ini, lalu menjeratku dengan tubuh murahanmu itu! Benarkan, dugaanku?"
Amanda menahan saliva dan tanpa berpikir panjang, dia melayangkan tamparan keras ke atas wajah Samuel. "Suatu saat, kamu akan menyesal karena pernah menghinaku, Kapten Samuel!!!"
__ADS_1
...*****...