
Tidak terasa, satu minggu telah berlalu. Kehidupan terus berjalan, waktu berputar dan masa kini telah menjadi masa lalu. Asa dan mimpi saling berkejaran di antara keputus asaan jua kepasrahan.
Kejahatan akan ada masanya redup dan kebaikan akan gemilang. Menggantikan setiap prahara dengan senyuman kebahagiaan. Seperti mentari yang menghapus awan kegelapan.
"Terima kasih banyak karena kalian telah menolong dan mengizinkan saya tinggal di sini untuk beberapa waktu," ucap Matthew pada sepasang suami istri yang sudah melepaskannya dari jeratan maut.
"Sama-sama, Nak... kami juga senang ada kamu di rumah ini," sahut Janic, berkaca-kaca.
"Sampai kapan pun, rumah ini selalu terbuka untukmu," tambah Elio, merangkul pundak sang istri yang kini terisak.
"Saya benar-benar beruntung dipertemukan dengan orang baik seperti kalian, Tuan Elio dan Nyonya Janic," ucap Matthew terharu, akan kebaikan yang tidak akan bisa terbalas oleh apa pun juga.
"Karena kamu pun orang baik, Nak. Orang baik, akan dipertemukan dengan orang baik juga," sahut Elio. "Teruslah menebar kebaikan. Jangan pernah ada kata lelah selama napas masih di dalam dada." Elio melepas rengkuhan tangannya dari pundak Janic, lalu mendekap hangat tubuh Matthew. Bagaikan seorang ayah yang memeluk putranya.
"Sebenarnya saya masih betah tinggal di sini, tapi hati saya benar-benar tidak tenang. Takut ada sesuatu hal, yang terjadi pada adik saya," imbuh Matthew, merangkul tubuh Janic.
Janic mengangguk dan mengusap-ngusap punggung Matthew. "Nanti, ajaklah adikmu ke mari. Aku akan senang sekali menyambut kalian."
"Pasti... itu pasti. Saya pasti akan kembali menemui kalian, dengan membawa adik saya," balas Matthew, melepas pelukannya. "Saya harus pergi sekarang. Sekali lagi, terima kasih..." Matthew berjalan mundur perlahan.
Selangkah demi selangkah, pemuda itu meninggalkan tempat yang telah membuatnya seakan terlahir kembali. Lambaian demi lambaian, mengiringi kepergiaannya menyeberangi lautan luas.
Menggunakan kapal sewa penduduk setempat, Matthew akan bertolak ke pulau seberang yang menghabiskan waktu sekitar satu jam. Senyuman kebahagiaan terus saja terlukis di bibir naturalnya sebab dia akan pulang untuk menemui si gadis manis, yang sudah dia anggap seperti adik sendiri.
Satu jam terasa bagaikan sepuluh tahun. Matthew tidak bisa duduk dengan tenang. Lantaran, dia benar-benar gelisah. Pikirannya terus saja tertuju pada Ivana. Satu minggu meninggalkan gadis itu tanpa pesan atau kabar, menjadikan rasa bersalah menggerogoti hatinya.
"Aku pulang, Ivana. Please, jangan marah padaku," gumam Matthew, menatap lautan yang nampak tiada ujungnya.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, seorang gadis berdiri termenung dengan tangan menopang dagu di depan sebuah jendela. Dia memikirkan sang pujaan hati, yang dia rindukan kehadirannya.
Gundah jua gulana menerpa isi pikirannya. Akankah suatu saat Tuhan mempertemukannya kembali dengan pria itu, ataukah Tuhan memiliki rencana yang lain? Dia belum ingin berpikir terlalu jauh sebab hatinya terlalu berat menerima kenyataan.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Natasha, sang ibu. Dia menangkap guratan kesedihan di wajah putrinya. "Apa kamu ada masalah? Atau... kapten Samuel menyakitimu? Katakan pada Mommy..." pinta Natasha pada Ivana.
Gadis berusia tujuh belas itu menggelang-gelengkan kepala dan berusaha untuk tersenyum, meski hatinya berduka. "Tidak ada apa-apa kok Mom. Kapten Samuel? Dia memperlakukanku dengan baik. Mommy tidak perlu cemas."
"Lalu, kenapa kamu terlihat bersedih?" Natasha merapikan anak rambut Ivana yang menutupi wajah. "Dulu, kalau kamu ada masalah. Kamu selalu mencari Mommy untuk bercerita, tapi sekarang kamu memilih bungkam. Apa Mommy tidak boleh tahu masalahmu?" tekan Natasha mengkhawatirkan putrinya.
Ivana mendengus lalu menghadapkan badannya ke arah sang ibu. Dia menelan saliva dan menundukkan kepala. "Aku merindukan seseorang, Mom."
"Merindukan seseorang?" ulang Natasha. "Siapa, Nak. Apa kakakmu?" tanyanya, meski dia mengira yang dirindukan sang anak adalah orang lain.
Kepala Ivana menggeleng. "Bukan, Mom...."
"Kalau bukan rindu kakakmu, lalu pada siapa?" desak Natasha, penasaran.
"Seorang laki-laki?" Kening Natasha mengerut.
Ivana mengangguk. "Aku merindukan laki-laki yang sudah menolongku, Mom. Dia pasti mencariku karena menghilang dari tempat persembunyian...."
Seutas senyuman terlukis di bibir Natasha. Dia menarik dagu Ivana, wajah gadis itu pun terangkat. "Coba Mommy tebak... kamu mencintai lelaki itu? Benarkan?"
Wajah Ivana langsung saja bersemu merah, tangannya memainkan ujung pakaian dengan menggulung-gulungnya. "Iya, Mom. Aku mencintainya, tapi...."
"Tapi apa?" tanya Natasha.
__ADS_1
"Tapi umur laki-laki itu terpaut delapan tahun denganku. Usianya dua puluh lima tahun," ungkap Ivana, menyerengeh.
Bibir Natasha terbuka dan membentuk huruf o. "Apa Mommy tidak salah dengar? Kamu menyukai pria dewasa? Jangan bilang, kalau kamu dengan pemuda itu, sudah...."
Ivana melotot. "No, Mommy... aku tidak melakukan apa-apa sama dia. Laki-laki itu menjagaku dengan sangat baik. Dia tidak pernah bersikap kurang ajar ataupun memanfaatkan kesempatan!"
Natasha terkekeh atas reaksi sang anak. "Tidak terasa, ternyata anak Mommy semakin dewasa. Mommy dan daddy, bertambah tua...."
"Jangan bilang begitu..." rengek Ivana, manja. Dia melingkarkan tangannya ke leher sang ibu, lalu bersandar pada pundak yang selalu ada untuknya ketika terpuruk ataupun bahagia. "I love you, Mom...."
"I love you, too my darling...."
...***...
Setelah berlayar kurang lebih satu jam, Matthew akhirnya telah sampai di tempat yang dituju. Penuh semangat, dia melompat dari atas kapal feri lalu berlari sekencang mungkin ke arah cottage.
Senyuman terus saja tersungging dari wajah Matthew. Dia menggedor-gedor pintu, lantaran sudah tidak sabar ingin mendekap erat sang gadis yang dia rindukan. Namun, selama itu dia mengetuk pintu tidak ada sekalipun jawaban.
"Ivana... aku kembali Ivana..." pekik Matthew bolak-balik mengintip dari balik jendela. "Ivana... ini aku, Matthew. Keluarlah! Jangan takut...."
Matthew menoleh ke arah kenop pintu. Barulah dia menyadari kalau ada yang janggal dengan penghalang rumahnya itu, yang rusak akibat sebuah tembakan.
"Astaga..." Mata Matthew menyalang tajam lalu mendorong sekuat mungkin pintu rumahnya. Dia langsung masuk dan berlarian ke sana kemari, sembari memanggil nama sang gadis. "Ivana... kamu di mana? Lihat... aku sudah pulang. Apa kau tidak merindukanku?" pekiknya merasa gusar.
Matthew, membuka pintu kamar satu per satu termasuk kamar Ivana. Tatapannya berubah sendu melihat kondisi kamar yang porak-poranda dan tak lagi berbentuk seperti semula. Kapas-kapas berserakan di atas ranjang dan terdapat noda darah yang mengering, menempel kuat di atas lantai.
Seketika, pandangan mata berubah gelap gulita sebab dunia seakan runtuh seketika hanya dalam sekejap. Pemuda yang dirundung kekalutan terduduk lesu di lantai. Dia merasa bersalah dan menyalahkan dirinya sendiri dari apa yang sudah terjadi. Dia pun berteriak sehisteris mungkin, meluapkan sesak di dalam dada.
__ADS_1
"Ivana...."
...*****...