Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 77 Obat


__ADS_3

Hari telah beranjak kelam. Matahari bergulir ke peraduan. Rembulan mengangkasa, memancarkan berkas sinar putih pada alam semesta yang telah gelap gulita. Dan di sini, di dalam ruangan yang tak kalah pekat, ada sepotong hati yang tengah merenungkan kesalahan diri.


Mengingat kebejatan yang telah dilakukannya serta menyesali akan sikap amoral terhadap seorang wanita. Api dendam bukan hanya meluluh lantahkan orang-orang di sekitar. Namun, juga menghancurkan diri sendiri pada akhirnya.


Seorang pria terisak, mengutuk diri yang kini teramat hina, di hadapan manusia lainnya jua di hadapan Tuhan. Sebab perilakunya tak ubahnya bak seorang keparat, busuk dan memalukan.


Lambat laun, suara isakan pun lenyaplah sudah sebab pria tersebut telah terlena oleh nyanyian-nyanyian malam. Terbaring kaku, di antara hening dan juga kelam.


Di tengah-tengah koridor yang senyap, yang mana membuat bulu roma menyangkak. Seorang gadis berjalan gusar seraya celingukan memperhatikan ke sekitar. Dia mengenakan scarf di kepala dan jua kaca mata hitam, menjadikan jalanan yang dilalui terasa semakin mencekam.


"Astaga... gelap dan sepi sekali. Ini Rumah Sakit apa kuburan ya?" gumam Amanda mendorong kaca mata yang sedikit melorot di atas hidung.


"Bagaimana tidak gelap, Nak. Kamu memakai kaca mata berwarna hitam," sahut seorang wanita tua, bersuara lirih.


Amanda membuka mulutnya ingin menjawab sahutan suara wanita tersebut. Namun, menyadari di sekitarnya tidak ada siapa pun. Gadis itu sontak menarik langkah kaki seribu seraya memekik ketakutan. "Setan....!"


Gadis bernetra biru safir berlari tunggang langgang sebab didera ketakutan. Ntah mengapa keberanian dirinya tiba-tiba ciut atas hal yang tidak dapat dipahami oleh akal manusia tersebut.


"Oh My Gosh!" Amanda terengah-engah dengan badan membungkuk, di depan pintu kamar dengan nomor 113. "Ada gila-gilanya Rumah Sakit ini!" keluhnya sembari mengusap-usap dada yang kembang-kempis.


Kembali mengingat hal menyeramkan tadi, Amanda lekas-lekas masuk ke dalam ruangan yang dituju, di mana Samuel tengah mendapatkan perawatan. Namun, hampir saja Amanda berteriak sebab kamar pria itu pun sama-sama dalam keadaan gelap gulita.


"Ya Tuhan..." Amanda menghela napas. Dia meraba-raba dinding ruangan lantaran mencari stop kontak. Gadis itu pun menjerit ketakutan karena tangannya mengenai sesuatu yang hangat dengan tubuh menubruk benda keras juga besar.


Lampu ruangan tiba-tiba menyala. Amanda masih menjerit-jerit seraya memejamkan mata. Karena dia pikir, sosok di depannya itu adalah sejenis hantu.

__ADS_1


Sapuan angin menerpa wajah Amanda sebab sosok yang menatap bingung ke arahnya, menghembuskan napas kasar.


"Untuk apa kamu datang ke ruanganku?" geram sosok yang ditakuti Amanda tersebut.


Kelopak mata gadis bersurai cokelat keemasan, spontan merekah sempurna. Mengharuskannya bersitatap dengan sosok yang menatap dalam ke arahnya.


"Kamu merindukanku, hm...? Atau... kamu ketagihan akan sesapanku yang kuat di atas dadamu?" Samuel berjalan, merapatkan jarak. Memaksa Amanda untuk turut berjalan ke belakang, menghindar dari terjangan pria buas di depannya. Namun sayang, dia terpojok. Sebab di belakang punggungnya adalah sebuah pintu.


"A-aku..." sahut Amanda terputus.


Samuel mencondongkan wajahnya lalu berbicara di samping ceruk leher Amanda. "Aku tahu yang ada di dalam pikiran wanita sepertimu, penuh muslihat! Sebelum apa yang diinginkan tercapai, kau akan terus melancarkan umpan! Bukan begitu?"


Amanda mencebikkan bibir lanjut menginjak punggung kaki Samuel sekuat mungkin. Dia mendorong dada pemuda itu dan berlalu dari hadapan Samuel, berjalan ke arah ranjang pasien.


"Duduk di sini!" pinta Amanda menepuk-nepuk pinggiran ranjang.


"Ada apa menyuruhku duduk di pinggiran ranjang?" tanya Samuel mendaratkan tubuhnya di tempat yang diarahkan Amanda. "Ah... aku tahu, kamu pasti ingin melahapku juga, 'kan?" terkanya seraya mengusap-usap benda perkasanya yang tiba-tiba mengembung di balik celana pasien.


Wajah Amanda melongo lantaran terkesiap dengan apa yang meluncur dari mulut Samuel. Dia menoyor kening pemuda itu seraya bersungut-sungut. "Ya ampun... otakmu menjijikkan sekali, Kapten Samuel...! Dengan profesi dan sederet bintang penghargaan yang kamu dapatkan. Rasa-rasanya tidak sejajar dengan mulutmu yang penuh kotoran!"


"What?" Biji mata Samuel menyala-nyala lantaran dibuat murka oleh celotehan Amanda. Dia sudah bersiap melayangkan pukulan pada wajah gadis di depannya. Namun, gerakan cepat Amanda pada kain putih yang melintang di atas dahinya. Membuat amarah berubah menjadi erangan kesakitan.


"Apa yang kamu lakukan? Apa kau ingin membunuhku?" tuduh Samuel lantaran Amanda melepas perban di atas keningnya, benar-benar kasar.


"Sudah diam saja...!" balas Amanda santai. Dia mengeluarkan racikan obat dari dalam tas yang disimpan di atas ranjang.

__ADS_1


"Obat apa itu? Kamu mau meracuniku?" Samuel gelagapan dan menggeser posisi duduknya.


Amanda mendengkus lalu memegang kedua pipi Samuel dan menarik ke arahnya. "Otakmu harus dibersihkan, Kapten! Kalau dibiarkan kotor seperti ini, saya khawatir Anda akan mati di usia muda!"


Mata Samuel membola terlebih melihat di jari telunjuk Amanda menempel bubuk berwarna hijau. Dia melengoskan muka. Namun, Amanda menarik kasar wajah pemuda itu dan sedikit mencubitnya.


"Ini itu obat alami yang terbuat dari tanaman khas desa Magnolia. Aku susah payah mencurinya dari istana Lucas. Sekarang kamu diamlah!" sentak Amanda, kesal sebab Samuel terus saja menudingnya. Melihat raut kesangsian di wajah Samuel, Amanda pun kembali menjelaskan khasiat ramuan yang dia pegang. "Obat ini sangat mujarab menyembuhkan luka. Setelah satu atau dua hari lalu, lukamu pasti mengering." Amanda mengarahkan jari telunjuk ke atas kening Samuel. Akan tetapi, pria itu mencekal lengannya.


"Pelan-pelan... ini sakit sekali. Kemarin kau menumbuknya sekuat tenaga," rajuk Samuel lalu melepaskan cekalannya.


Amanda tersenyum tipis kemudian menganggukkan kepala. "Makanya kau diamlah. Jadi, aku bisa lebih berkonsentrasi!"


Kali ini, Samuel mendengarkan perkataan Amanda untuk diam terpaku tidak bergerak. Namun, dadanya tiba-tiba berdetak cepat lantaran matanya terbius oleh kecantikan paras Amanda juga belahan indah yang terpampang di depan mata. Karena saat ini posisi badan Amanda sedikit membungkuk ke arahnya.


"Benar yang dikatakan gadis ini, otakku memang sudah kotor!" ucap Samuel di dalam hati. Akhirnya dia memilih mengatup kedua mata. Menghindari dari godaan-godaan yang bisa meracuni sisa akal sehatnya.


"Tahan sedikit lagi ya..." ucap Amanda lembut, mengoleskan ramuan tersebut ke atas luka basah. Samuel berdesis lantaran rasa pedih efek dari obat alami tersebut. "Perih ya? Itu hanya untuk beberapa saat saja kok. Setelahnya nanti akan terasa hangat kemudian dingin. Dan kalau lukanya mulai mengering, akan sedikit gatal." Amanda mengambil perban baru dari dalam laci lalu melingkarkannya ke atas dahi.


"Kenapa kau bersikap baik padaku? Apa maumu? Cepat katakan!!" Samuel menarik pinggang Amanda, membidik dengan tatapan penuh curiga.


"Pertama, aku hanya merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Anda kemarin siang. Dan kedua, besok adalah hari di mana sidang perdana suamiku diselenggarakan. Aku hanya ingin, Anda dalam kondisi baik-baik saja ketika melawan suamiku. Aku hanya ingin, Anda memenangkan kasus Anda atas Lucas. Hanya itu..." Amanda melepaskan tangan Samuel dari pinggangnya lalu mengenakan kembali kaca mata hitam juga scarf untuk menutupi kepala, sebagai usaha penyamarannya.


"Sampai jumpa besok di pengadilan, Kapten Samuel!" Amanda menarik diri dari kamar laki-laki yang masih mematung karena otaknya sibuk menelaah ucapan-ucapan Amanda barusan.


"Sampai jumpa juga, Amanda..." balas Samuel setelah gadis itu sudah tak lagi terlihat.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2