Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 83 Tubruk


__ADS_3

BUGGGG!!!


Kendaraan yang berada paling belakang, dihantam keras oleh sebuah mobil yang tidak tahu datangnya dari arah mana. Kendaraan itu berputar-putar, lanjut berguling-guling sejauh seratus meter.


Ivana serta keluarganya dilanda kepanikan. Kepala mereka berputar-putar untuk melihat apa yang tengah terjadi lantaran suara yang menggema tersebut.


"A-ada apa ini, Sheriff? pekik Natasha, was-was sebab apa yang ditakutkannya sedari tadi, ternyata menjadi kenyataan.


"Sepertinya ada pihak yang ingin menyerang kita!" jawab Sheriff melajukan kendaraannya dengan lebih kencang.


Namun, suara hantaman terdengar untuk kedua kalinya sebab mobil yang berada di garis depan ditubruk oleh sebuah truk berukuran besar. Mobil itu pun otomatis terbalik dan terseret sangat jauh hingga menabrak pembatas jalan lalu terperosok ke dalam jurang.


Ivana menjerit-jerit begitu pun juga dengan ibunya serta sang adik. Mereka bertiga saling berpelukan, sedangkan Christ nampak tegang memperhatikan keadaan di sekitar.


Sheriff memundurkan kendaraannya, tetapi sebuah mobil berwarna hitam menabrak bumper bagian belakang mobil yang dikendarai olehnya. Dia pun kembali menancap gas. Namun, lagi-lagi sebuah mobil muncul secara tiba-tiba dan menubruk bumper bagian depan tak kalah kencang.


Kendaraan yang membawa Ivana pun terkunci, tidak dapat bermanuver ke segala arah sebab terhalang oleh dua mobil yang menabraknya tadi. Terlebih saat ini beberapa orang bertopeng, berdiri berkeliling menodongkan senjata laras panjang.


Dua orang membuka pintu dengan kasar seraya menumbuk kaca jendela menggunakan ujung senapan. "Buka! Jika tidak, kami ledakkan mobil ini sekarang juga!"


Sheriff terpaksa membuka kunci mobil lantaran takut akan ancaman yang dilontarkan orang asing tersebut. Dan dua orang pria yang mengenakan topeng membungkuk, membidikkan senjata ke arah Christ serta Ivana.


"Keluar!!" Salah seorang dari mereka membetot lengan Ivana dan menariknya dari dalam mobil. Dia membenturkan Ivana ke jendela mobil lalu mengeluarkan seutas tali dan mengikat kedua pergelangan gadis itu. "Ikut saya!" titahnya seraya mendorong kasar punggung Ivana agar mengikuti arahannya.


Pria bertopeng hitam tersebut menghempaskan tubuh Ivana ke dalam mobil lalu memasangkan sebuah head phone agar tidak bisa menguping obrolan di dalam mobil. Setelah itu, dia menyumpal mulut Ivana dan memasukkan penutup muka, membungkus kepala gadis itu.


Ivana meronta-ronta. Namun, dia tidak bisa bergerak secara leluasa lantaran kedua pergelangan tangan dalam kondisi terikat dengan masing-masing lengan dicengkeram kuat dua pria asing yang duduk di sampingnya.


Sementara di kendaraan semula, Christ maupun Natasha berteriak-teriak seraya menangis histeris. Melihat putri kesayangan mereka dibawa paksa tanpa ada perlawanan sedikit pun. Keduanya merasa terpukul lantaran tidak mampu menyelamatkan Ivana dari jeratan para penjahat.

__ADS_1


"Lepaskan anak saya, brengsek!!" teriak Natasha memukuli orang yang menodongkan senjata padanya. Begitu pun juga dengan Christ, dia meninju orang tersebut berkali-kali.


"Apa kalian mau, saya pecahkan kepala anak ini?" ancam pria bertopeng pada Natasha juga Christ, dengan menjambak rambut Leo, anak laki-laki mereka.


Natasha buru-buru menarik dan memeluk anak bungsunya itu. "Ja-jangan sakiti putraku. Tolong ampuni kami dan kembalikan Ivana pada kami, Tuan...."


Natasha meminta belas kasihan pada pria yang wajahnya saja tidak dapat dia kenali. Begitu pun juga dengan Christ, kini dia berlutut memohon agar Ivana dikembalikan kepada mereka.


"Tuan... tolong berikan Ivana pada kami. Apa pun yang kalian inginkan, kami akan menurutinya," pinta Christ menelungkupkan kedua tangan.


"Saya hanya pesuruh, tidak bisa menjamin keselamatan putri kalian karena nasibnya kini ada di tangan tuan Lucas!" Pria yang menodongkan senjata tersebut keluar dari mobil lalu menembak dua pria yang duduk di belakang kemudi, dari jarak dekat.


Darah segar pun memuncrat ke segala arah bersamaan dengan suara tembakan yang amat memilukan di pendengaran setiap orang.


Natasha spontan menelungkup tubuh putranya, menutupi wajah dan telinga anak itu dari melihat juga mendengar adegan mengerikan di depannya.


Selepas kepergian orang-orang bertopeng, Natasha meraung-raung seraya memeluk Leo. Christ turut mendekap kedua orang yang dia cintai. Dia melipat bibirnya menahan deraian air mata sebab tidak ingin terlihat lemah di hadapan istri juga putranya.


"Hai Abigail..." sapa Amanda yang sudah kembali ke Rumah Sakit sesuai dengan janjinya.


Abigail yang tengah terbaring di atas kursi tunggu, terperanjat dan buru-buru menarik tubuhnya lalu duduk dengan tegak. "Ny-Nyonya Amanda, Anda sudah kembali ke sini...."


Amanda mengangguk seraya tersenyum tipis. "Semalaman, aku tidak bisa tidur. Pikiranku terus saja tertuju pada Lavina. Bagaimana dia sekarang? Apa dokter mengatakan sesuatu?"


Abigail geleng-geleng kepala. "Mereka tidak mengatakan apa-apa. Saya sendiri bingung, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan nyonya Lavina di dalam sana."


Amanda menghembuskan napas, lalu duduk di samping Abigail. "Ya Tuhan... apa tidak ada satu orang pun yang keluar dari ruangan itu?"


"Ada. Dokter maupun perawat hilir mudik sejak tadi malam, tapi mereka tidak ingin memberikan kejelasan sedikit pun juga..." lirih Abigail, terlihat telah pasrah akan ketentuan Tuhan pada sang kekasih.

__ADS_1


"Sabar ya..." ujar Amanda, menaruh tangannya di atas pundak Abigail.


"Terima kasih, Nyonya," balas Abigail, menurunkan tangan Amanda dari atas bahunya. Pemuda itu tidak suka kalau ada orang lain yang menyentuhnya. Cinta dan seluruh tubuhnya adalah milik Lavina, hanya untuk wanita itu seorang.


"Nyonya Amanda?" panggil Abigail menoleh ke arah perempuan yang duduk di pinggir.


"Ya, Abigail?" sahut Amanda, menarik kedua alisnya ke atas.


"Saya ingin berdoa, boleh titip nyonya Lavina sebentar saja?" tanya Abigail, dengan suara mendalam.


Amanda menganggukkan kepala seraya menyunggingkan senyuman. "Tentu saja bisa, pergilah...."


"Terima kasih," jawab Abigail, lalu beranjak menuju tempat ibadah yang berada di Rumah Sakit tersebut.


Pemuda itu berjalan tergontai-gontai, tubuh dan pikirannya dalam kondisi tidak baik-baik saja, tetapi rasa cinta pada sang kekasih adalah sumber kekuatan untuknya.


Amanda menghela napas, menatap kosong punggung lelaki tersebut hingga tak lagi tertangkap oleh kedua matanya. "Dia pemuda yang sangat baik. Beruntung sekali Lavina dipertemukan dengan Abigail. Aku jadi teringat Matthew, apa kabar dia sekarang? Apa dia sudah bertemu dengan ibunya?"


Seorang dokter keluar dari ruang operasi dan Amanda sigap menahan orang yang mengenakan jubah medis tersebut. "Dokter, please! Katakan pada saya sejujurnya, bagaimana keadaan pasien? Dia selamat, 'kan? Dia berhasil melewati masa-masa kritis, 'kan?"


Dokter tersebut tidak ingin menjawab pertanyaan yang dilontarkan, dengan berjalan ke samping untuk menghindari hadangan. Namun, Amanda menggeser posisi berdirinya dan kembali menekan dokter tersebut.


"Dok, please jawab saya!" pinta Amanda dengan sedikit membentak.


Dokter pun menghela napas dan melepas masker di wajahnya. "Kami masih berusaha untuk menolong nyawa pasien. Tadi malam, kami sempat kehilangan wanita itu. Namun, kini dia sudah kembali, tapi kondisinya sangat lemah. Hanya Kuasa Tuhan yang bisa membuatnya tetap hidup. Permisi...."


Dokter menarik diri dan bergerak cepat meninggalkan Amanda yang memaku, tidak dapat bergerak ataupun berucap. Semua berubah kelu, hanya nadi yang masih berdenyut serta jantung berdegup kencang.


"Selamatkan Lavina, Tuhan...."

__ADS_1


...*****...


__ADS_2