Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 70 Bebas


__ADS_3

"Jadi, ternyata Anda masih hidup. Wanita yang paling dirindukan Matthew, masih ada di dunia ini." Mata Amanda berkaca-kaca turut merasakan kesedihan sekaligus kebahagiaan dalam satu waktu.


Allison mengangguk ragu. "Iya... aku masih hidup. Apa kau mengenalku? Apa kau mengenal putraku?


Amanda menyeringai senang. "Tentu saja aku mengenal putramu, Nyonya. Dia pemuda tampan dan baik sekali hatinya."


"Ja-jadi benar kamu mengenal putraku, Nak? Kamu mengenal dia? Sekarang di mana Matthew? Aku ingin berjumpa..." raung Allison merasakan sesak di dada. Dia tidak pernah sedikit pun membayangkan bisa bertemu dengan sang buah hati.


Selama ini Allison hanya bisa bermimpi dan sekedar mengangan. Akan tetapi, mimpi itu sebentar lagi akan menjadi nyata.


"Ini, foto Matthew. Apa Anda masih mengenali wajahnya?" Amanda memperlihatkan potret wajah sang kekasih yang masih tersimpan apik di dalam memori handphone.


"I-iya... dia Matthew, Nak. Aku masih mengingat dengan jelas paras rupawannya," isak Allison meraba-raba layar telepon genggam, menatap lara wajah sang anak. "Kamu mengenal putraku? Atau pernah bertemu dengannya setelah menikah dengan Lucas?" Rasa penasaran Allison berkobar-kobar.


Amanda menelan saliva, menahan kegetiran yang mengetuk sanubari. Teringat akan banyaknya kenangan manis yang sudah dilalui bersama pria yang begitu dia cintai. Dia melipat bibirnya, tak ingin ada setitik pun air mata yang keluar dari netra indahnya.


"Iya, aku mengenal putramu sejak lama. Dia teman baikku. Kami sama-sama bekerja di Rumah Sakit. Namun, dengan tempat dan profesi berbeda. Dia adalah seorang dokter yang penuh dedikasi. Putramu sangat baik, Nyonya..." tutur Amanda dengan bibir bergetar.


"Bisa bawa aku pada putraku, Nak? Sebelum ajal menjemput, aku ingin bertemu dengannya," pinta Allison pada Amanda.


"Tentu, Nyonya..." jawab Amanda, lugas. "Kalau boleh, saya ingin mengambil gambar wajah Anda, untuk saya kirimkan pada Matthew," ujar Amanda bersiap untuk membidikkan kamera ponsel.


Allison mengangguk dan tersenyum seindah mungkin. Dengan sorotan mata yang mengatakan bahwa aku bahagia.


Beberapa gambar pun sudah berhasil diabadikan. Amanda langsung mengirimkan foto-foto Allison, pada pemuda yang nun jauh di mata. Akan tetapi, tidak dapat terkirim.


"Kenapa ponselnya tidak aktif juga ya? Apa dia mengganti nomornya karena tidak ingin berhubungan lagi denganku?" tanya Amanda di dalam hati.


Amanda pura-pura tersenyum, lalu memunggungi Allison. "Naiklah ke punggungku, Nyonya! Sekarang kita akan keluar dari tempat terlaknat ini. Sahabatku sudah menunggu di luar benteng istana."


"Na-naik?" Allison ragu-ragu. Dia tidak ingin gadis yang baru dikenalnya itu turut terjangkit penyakit kulit yang diderita. "Ta-tapi nanti kamu bisa tertular penyakitku. Bi-biar aku berjalan sendiri saja menggunakan pahaku ini," tolak Allison, tidak ingin Amanda terbebani karena telah menolongnya.

__ADS_1


"Tenang saja, Nyonya. Saya memiliki obat anti virusnya. Anda tidak perlu mengkhawatirkan saya," jelas Amanda. "Ayo, Nyonya. Bukankah, Anda ingin berjumpa dengan Matthew? Hanya malam ini kesempatan Anda untuk lari dari istana," rayu Amanda, memengaruhi pikian Allison.


Wanita tua itu langsung saja mengangguk dan menaikkan tubuhnya ke atas punggung Amanda. "Terima kasih sekali lagi ya, Nak. Semoga Tuhan membalas setiap kebaikanmu."


"Amin..." balas Amanda singkat.


Tanpa memerlukan tenaga yang lebih, Amanda berdiri seraya mengangkat tubuh Allison yang terasa seperti kapas saking ringannya. "Anda siap Nyonya, melihat dunia luar?"


"Si-siap, Nak..." lirih Allison.


"Pegangan yang kuat, Nyonya," suruh Amanda.


Allison menurut begitu saja perkataan sang gadis, dengan mengeratkan pegangannya walau terasa lemah. Sebab dipikirannya saat ini adalah Matthew dan Matthew.


Amanda tersenyum senang dan mulai melangkah, membawa Allison di punggungnya keluar dari gudang tua. Tidak lupa, dia menutup kembali pintu rahasia serta pintu utama gudang agar pelarian Allison tidak menarik perhatian orang-orang istana.


Gadis itu nampak terseok-seok sebab jalanan yang dilalui sangatlah licin. Belum lagi kondisi sekitar yang remang-remang, mengharuskan Amanda untuk berhati-hati disamping waspada.


"Sebentar lagi, Nyonya. Tahan ya..." kata Amanda sebab pegangan Allison di lehernya terasa melonggar.


Allison mengangguk dan mengetatkan kembali lingkaran tangannya di leher Amanda. Dia tidak ingin sampai menyusahkan orang yang sudah bersusah payah menyelamatkannya dari kematian sia-sia.


...***...


Setelah melalui ketegangan selama kurang lebih dua puluh menit, pendek kata Amanda serta Allison telah sampai di pintu rahasia belakang istana. Gadis itu menurunkan tubuhnya perlahan dan mendudukkan Allison di atas tanah.


"Tunggu sebentar Nyonya, saya harus membuka pintunya dulu," imbuh Amanda memberi pengertian.


Allison hanya mengangguk pelan lantaran kondisi tubuhnya semakin melemah. Amanda lekas-lekas bergerak dengan membuka pintu tersebut. Dan sesuai rencana yang sudah disiapkan sebelumnya, sebuah brankar pasien didorong masuk oleh seseorang.


"Naiklah, Nyonya..." titah Amanda.

__ADS_1


Allison menggelesot, berjalan menggunakan kedua pahanya lalu membaringkan badan di atas brankar tipis.


Amanda mendorong keluar brankar tersebut hingga melewati lawang pintu rahasia. Seseorang yang menunggu di balik pintu, turut membantu Amanda dengan menarik benda itu dari arah depan. Kini, Allison sudah berhasil bebas dari istana Black Angel.


"Ann..." Amanda langsung memeluk sahabatnya itu. "Aku merindukanmu, Ann..." ucap Amanda lirih.


"Aku pun juga..." balas Ann, memeluk tak kalah erat.


"Kamu ditemani siapa?" tanya Amanda celingukan, menangkap dua wajah asing di matanya.


"Aku bersama teman-temanku, yang satu sesama perawat dan yang satunya lagi dokter kulit," jawab Ann menunjuk satu per satu pria yang turut dengan dirinya.


"Terima kasih banyak ya Ann... maaf, aku melibatkanmu dalam masalah ini," kata Amanda menggenggam tangan sahabatnya.


"Sama-sama, Amanda. Itulah gunanya sahabat," sahut Ann, tulus.


"Ya sudah, selagi masih aman... tolong bawa dan rawat nyonya Allison untukku. Dia adalah ibu kandung Matthew," ungkap Amanda, mengejutkan.


"I-ibunya Matthew? Matthew kekasihmu itu, Amanda?" pekik Ann kebingungan.


"Iya... Matthew kekasihku," jawab Amanda berbisik-bisik. "Nanti aku ceritakan. Sekarang, tolong bawa nyonya Allison ke kota dan rawat dia sebaik mungkin. Soal biaya, nanti aku kirimkan melalui transfer bank."


Ann mengangguk lalu mengacungkan ibu jari dan telunjuk, membentuk sebuah lingkaran. "Jaga dirimu baik-baik, aku pergi sekarang."


Ann dibantu oleh satu temannya sesama perawat mengangkat brankar tersebut untuk dibawa menuju mobil ambulan yang terparkir di depan jalan.


"Selamat jalan, Nyonya. Satu waktu kita akan bertemu lagi. Mengenai Matthew, aku janji kalian pasti akan bertemu," tandas Amanda, yakin.


Allison hanya menganggukkan kepala, dia percaya bahwa Tuhan pasti akan memberikan keajaiban untuknya. Seperti malam ini, dia bisa menatap kembali langit yang sekian lama tak pernah dia temui.


"Terima kasih Ann... hati-hati..." pekik Amanda melambai-lambaikan tangan. Ann melambaikan sebelah tangannya sembari berjalan membawa Allison.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2