
Cukup lama pemuda itu dalam posisi tertunduk merutuki diri. Kini kepalanya pun terangkat pasti, bersama kilatan amarah yang berkorbar dalam bayang-bayang mata. Telapak tangan mengerat, gigi-gigi bergemerutuk.
"Aku sepertinya tahu siapa yang sudah mengambil Ivana dariku. Pria tak tahu malu yang tidak pantas aku sebut daddy. Pria terkutuk yang tidak pernah berpuas diri untuk merampas kebahagiaanku!" geram Matthew, menerka hilangnya Ivana ada sangkut pautnya dengan sang ayah, Lucas Denver.
Matthew mengepalkan tangan lalu mengacungkannya. "Lihat saja, kalau pria itu berani menyentuh Ivana barang setitik pun. Maka tangan ini yang akan memberinya pelajaran. Hingga dia meminta kematiannya sendiri!"
Matthew terdiam sesaat, berpikir tentang rencana apa yang akan dilakukan setelah ini. Dia tidak mungkin merelakan Ivana pada pria bedebah seperti sang ayah. Cukup Amanda saja yang menjadi korban, jangan ada gadis lain yang bernasib serupa dengannya.
"Ya... aku harus pulang ke istana. Aku yakin, daddy menyembunyikan gadisku di sana." Pria bernetra cokelat pekat, beranjak perlahan dari atas lantai.
Setengah berlari, Matthew bergerak menuju ruang tidur yang bersebelahan dengan kamar Ivana. Dia mengeluarkan koper dari dalam lemari lantas meletakannya di atas kasur. Saat ini juga, dia akan bertolak ke tempat yang sebetulnya tidak ingin dia pijak kembali. "Tunggu aku, Ivana. Aku akan datang menolongmu...."
Satu per satu, pakaian dipindahkan dari lemari ke dalam koper. Matthew menyimpan semua kain-kain itu begitu rapi juga tertata. Setelahnya, dia mengecek semua barang pribadi yang akan dia bawa seraya mengingat-ingat sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Sepertinya aku melewatkan sesuatu, tapi apa?" resah Matthew mengetuk-ngetukan kepalan tangan ke atas kening. "Semua barang-barang sudah lengkap. Cuman ntah kenapa perasaanku mengatakan, kalau aku melupakan hal penting, tapi apa?" Matthew berusaha mengingat-ingat, berjalan mondar-mandir sembari berkacak pinggang.
Manik mata membulat sempurna sebab pemuda itu telah berhasil mengingat benda apa yang sempat luput dari ingatannya. "Ponsel...!!"
Matthew langsung saja beringsut ke ruang utama. Tempat di mana terakhir kali, menaruh telepon genggamnya. Dia memijit tombol on. Akan tetapi, benda itu mati. "Sepertinya baterai ponselku habis. Aku harus mengecasnya lebih dulu."
Pemuda berusia dua puluh lima tahun itu, kembali ke arah kamar secara berlarian. Dia mengambil alat charge yang tergeletak di atas nakas lantas menyambungkannya ke dalam stop kontak.
Sedikit demi sedikit gawai pun menyala. Namun, Matthew harus menelan kekecewaan sebab tidak mendapatkan sinyal di tempatnya yang memang tidak terjangkau oleh jaringan telepon selular.
"Ah, shitt!" umpat Matthew baru menyadari kalau dia tidak dapat menggunakan telepon genggamnya. "Aku harus keluar dulu dari sini, baru akan mendapatkan sinyal."
Matthew buru-buru merapikan kembali kabel charge dan menyimpannya ke dalam tas punggung. Dia menarik koper dari atas ranjang dan bergegas untuk segera pergi dari bangunan yang dibeli dari hasil keringatnya sendiri. "Selamat tinggal...."
Bermodalkan sebuah mobil tua buatan Jerman, Matthew telah bersiap untuk membelah jalanan. Sebab mobil hitam mewah pemberian sang ayah, dia gulingkan ke dalam jurang untuk mengecoh para penguntit yang memburu dirinya dan Ivana kala itu.
"Go... go... go..." Matthew memutar kunci starter dan mobil tua pun kini menyala. Matthew memekik kegirangan, memukul-mukul kemudi sebagai bentuk rasa bahagia yang tak terkira.
Mobil pun keluar dari garasi, sejengkal demi sejengkal, mobil antik yang memiliki harga kurang lebih satu juta dolar Australia (Sekitar sepuluh miliar). "Come on baby... lets go....!!"
Matthew melajukan kendaraan tuanya dengan kecepatan tinggi. Meski mobil itu buatan tahun seribu sembilan ratus, tapi untuk kekuatan mesinnya jangan ditanya.
Matthew berkonsentrasi penuh lantaran jalanan yang dilalui kali ini benar-benar curam, terjal dan berliku-liku. Sedikit saja dia lengah, maka sejurus kemudian sudah berada di akherat.
Mobil terus melesat cepat dan tidak terasa, sudah jauh meninggalkan pantai yang indah. Jaringan telepon selular pun mulai tertangkap. Matthew menepikan kendaraannya sebab ponselnya berbunyi berkali-kali.
"Banyak sekali pesan masuk, dari siapa ya?" Matthew mengambil telepon genggamnya dan melihat siapa yang mengirimkan pesan sebanyak itu. Dia pun mendengus setelah tahu siapa yang menghubunginya. "Aku kira siapa, ternyata wanita itu!"
Matthew menaruh kembali ponselnya ke atas dashboar. Namun, ntah mengapa isi pikiran menyuruhnya untuk membaca pesan-pesan tersebut. Pemuda itu mendesah, lalu dengan malas meraih benda itu lagi.
__ADS_1
"Sepuluh pesan masuk?" Matthew membuka satu per satu pesan singkat tesebut.
Isi pesan yang pertama, Amanda mengabari Matthew bahwa sang ayah ditangkap oleh pihak kepolisian. Bibirnya pun menyungginggkan kebahagiaan sebab pria tua itu akan mendapatkan balasan dari kejahatan-kejahatannya selama ini. "Mampus kau bandot tua tak beradab!! Hukuman mati sangat pantas buat orang sepertimu...!!!"
Setelah berteriak-teriak meluapkan rasa kekesalan jua kebahagiaan dalam hati, Matthew melanjutkan untuk membaca pesan singkat tersebut. Kening pun mengerut sebab yang dikirimkan Amanda setelahnya adalah foto-foto wanita tua dengan kondisi menyedihkan.
"Siapa wanita ini? Kenapa Amanda mengirimkan foto-fotonya padaku?" gumam Matthew, heran.
Untuk menutupi rasa penasarannya, Matthew membuka pesan dari Amanda hingga kotak masuk terakhir. Tubuh pemuda itu membeku antara percaya dan tidak.
✉
Hai Matthew... semoga kamu membaca pesanku ini. Kamu apa kabar? Kuharap, di mana pun kamu berada, Tuhan selalu menjaga disetiap langkahmu.
Kamu sudah melihat foto-foto yang aku kirimkan, 'kan? Coba tebak dia siapa...?
Ya... itu foto your Mommy, Allison. Mommy-mu masih hidup Matthew, dia belum mati!!
Sekarang, dia dirawat di Rumah Sakit tempat aku bekerja dulu. Masih ingat, 'kan? Temuilah Mommy-mu, dia sangat merindukanmu...
Tangan Matthew gemetaran, hingga handphone pun terlepas dari genggaman. Wajahnya memerah karena tangisan antara merasa bahagia serta kebingungan.
"Mommy masih hidup? Be-benarkah itu? Wanita yang di foto itu mommy-ku? Kamu tidak sedang mengerjaiku, 'kan, Amanda?" gumam Matthew, bertanya-tanya. Pundak pemuda tersebut turun naik, dia menangis sejadi-jadinya.
📱
Amanda
Kau?
Matthew
Iya, ini aku sayang
Mendengar sebutan sayang, darah Amanda berdesir. Sudah lama dia tidak mendengar kata-kata romantis dari bibir sang pujaan hati.
Amanda
Sa-sayang?
Matthew
(Terkekeh)
__ADS_1
Aku merindukanmu Amanda. Aku pun tahu kau pasti merindukanku juga, 'kan?
Amanda
(Menelan saliva)
Sangat
Matthew
(Kembali terkekeh)
Amanda?
Amanda
Hm...?
Matthew
Terima kasih
Amanda
Terima kasih untuk apa?
Matthew
Untuk mommy-ku. Benar, 'kan, kalau wanita itu adalah ibu kandungku?
Amanda
Benar, Matthew. Lagi pula untuk apa aku berbohong?
Cepat temui dia. Your mommy sangat ingin bertemu denganmu
Matthew
Iya... aku akan menemuinya sesegera mungkin
Terima kasih, Amanda
I love you, now and forever...
__ADS_1
...*****...