
Setelah melewati perjalanan panjang, Matthew dan Ivana telah sampai di tempat tujuan. Rasa lelah tidak mereka pedulikan sebab tempat yang menjadi tempat persembunyian kali ini benar-benar jauh dari dunia luar.
"Matthew, tempat ini benar-benar indah..." Ivana berputar-putar sembari berlarian di atas beach pink. Rambutnya yang cokelat dan bergelombang turut mengayun diterpa angin berhembus kencang. Matanya yang jernih semakin berbinar, bak kerlipan mutiara di dasar lautan. Dia begitu indah, menutupi keindahan di sekitarnya.
Pria berlesung pipi, berperawakan tinggi sekitar 190 cm serta berwajah maskulin, turut tersenyum melihat raut ceria yang terpahat di wajah cantik khas Eropa tersebut. Kehadiran Ivana di hidupnya, bak tetesan embun yang menitik di atas dedaunan kering. Bagai angin segar, di gersangnya hati yang kian menghampa.
Matthew bagai terbelenggu oleh cinta semu yang jelas-jelas bukan untuknya. Tak tahu, apakah dia bisa keluar dari kemelut tersebut, lalu bangkit dan menerima cinta lain yang menyapanya. Ataukah terus terkekang masa lalu yang tidak ingin dia lepaskan dari angan-angan. Yang pasti, saat ini dia masih nyaman dengan rasa sakit hati dan kepedihan.
"Kamu mengingatkanku pada Amanda," gumam Matthew tanpa sadar. Ke mana pun dia pergi, meski ke ujung dunia sekali pun, Amanda akan selalu menjadi bayang-bayang kehidupannya. Gadis itu tidak akan pernah tergantikan. Walaupun keindahan di depannya kini tidak kalah memesona.
"Matthew... Matthew... tolong aku...!!" pekik Ivana saat dia mendekati bibir pantai. Kejadian naas yang telah dialaminya, begitu membekas di ingatan. Pecahan-pecahan memori, di mana dia menyaksikan sang kakak dihabisi tanpa ampun, membersit tajam di dalam alam bawah sadar. Senyum merekah berganti ketakutan juga tangisan pilu.
"Tolong Matthew... aku takut..." pekik Ivana kembali sebab pemuda itu masih terbuai oleh dunianya. Dia hanya menatap kosong, gadis belia yang tergeletak di pinggiran pantai sembari menggerak-gerakkan kaki dan tangan seperti orang yang akan tenggelam. "Matthew... tolong Matthew..." ulangnya menangis tersedu-sedu.
Matthew terkesiap lalu mengibaskan kepala menyadarkan diri yang terlalu lama terjebak pikirannya sendiri. Secepat angin, dia berlari untuk menggapai Ivana yang tengah ketakutan lantaran traumanya kambuh.
"Ivana..." panggil Matthew langsung mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya menjauh dari tepian pantai. "Hei, tenanglah... aku di sini. Kamu sudah aman..." Matthew mendekap tubuh Ivana dan menyurukkan wajah gadis itu ke dalam dadanya.
Ivana terisak, kedua pundaknya masih saja bergetar. Matthew merekatkan pelukan, memberi kehangatan juga kenyaman pada gadis belia tersebut. "Maaf... tadi aku tidak memperhatikanmu. Sudah ya... jangan menangis lagi...."
Matthew berulang kali mengecup pucuk kepala Ivana seraya mengusap-usap pipi gadis itu, menenangkannya dari ketakutan yang berasal dari dalam jiwa.
__ADS_1
"Me-mereka membunuh kakakku. Me-mereka menghabisi kakakku. Kakakku ditembak di depan mataku. Mereka jahat, mereka iblis..." raung Ivana di antara tangisan. Masih sangat melekat di pikiran, kenangan-kenangan buruk yang telah merubah hidupnya yang semula sarat akan rasa bahagia, berubah seketika menjadi penuh kegetiran.
"Tenanglah, Ivana. Tenang... kamu bersamaku sekarang. Tidak ada satu pun yang bisa menyakitimu, aku janji," ujar Matthew. Ntah hanya sekedar bunga bibir ataukah memang dari hati. Dia akan berkorban demi gadis yang baru saja dikenalinya itu.
"Berjanjilah padaku, jangan pernah meninggalkan aku, Matthew. Karena aku tidak tahu harus pergi ke mana, kalau seorang diri..." lirih Ivana melingkarkan tangannya ke pinggang lelaki yang mendekapnya.
Matthew mengangguk dan mengusap-usap wajah Ivana. "Aku berjanji akan selalu menjagamu, sesuai janjiku pada Amanda."
"Kamu pasti sangat mencintai kekasihmu itu," terka Ivana dengan nada setengah cemburu. "Beruntungnya dia, mendapatkan lelaki sebaikmu, Matthew." Ivana menatap lembut manik mata yang mulai membuatnya salah tingkah. Karena perasaan yang tumbuh di hatinya sekarang ini, bukanlah perasaan seorang adik pada kakaknya. Melainkan seorang gadis pada lelaki istimewa yang di matanya bagaikan dewa penolong.
Matthew menarik napas panjang. "Kita masuk ke cottage sekarang ya? Di sini anginnya sangat kencang. Bajumu sedikit basah, aku khawatir kamu masuk angin."
Matthew hanya menarik kepalanya ke bawah, lalu menatap langit biru yang dibalut warna keemasan. Sejauh mata memandang, tetap saja tidak mampu mengalihkan atensi pikirannya dari wanita yang sudah menorehkan luka. Wanita yang memberi kebahagiaan sekaligus kesakitan yang mendalam.
...***...
Malam ini, Lucas kembali ke istana dalam keadaan mabuk berat. Dia berjalan sempoyongan seraya meracau, menyebut nama istri mudanya. "Amanda sayang... yuhu... aku pulang. Amandaku, kamu di mana?"
Pria tua itu berjalan menaiki eskalator menuju kamar sang istri. Tubuhnya terhuyung-huyung. Namun, dia masih bisa menahannya. "Buka pintunya Amanda, aku menginginkanmu....!!"
Lucas menggedor-gedor daun pintu seraya menarik-narik kenopnya. Dia sudah tidak sabar ingin menumpahkan lahar panas yang mendidih lantaran efek barang haram serta minuman keras yang dia tenggak bersamaan. "Amanda, buka!! Atau ... aku dobrak pintunya!!!"
__ADS_1
Amanda yang tengah membaca buku, dia mendengus kesal kemudian beringsut untuk menemui suami gilanya, dengan sangat terpaksa. "Ada apa, brengsekk?!"
Lucas terkekeh, "Aku ingin menggoyangmu di atas ranjang, Amanda. Dan membuatmu ketagihan...."
Perempuan muda itu bergidig seraya menutup hidung sebab mencium aroma menyengat yang menguar dari mulut busuk suaminya. "Kamu mabuk, Lucas?! Pantas saja, otakmu semakin miring ke kanan!!"
"Iya sayang, aku memang mabuk. Mabuk asmara... mabuk cairann cintamu!" lontar Lucas.
Secara tiba-tiba, Lucas menubruk tubuh Amanda dan menyeretnya ke dinding di balik pintu. Dia mengarahkan tangan kirinya pada celana dalamm tipis yang menutupi ke-maluann sang istri, lalu menariknya dengan kasar. Pria tua itu ingin segera menanggalkan kain yang terbuat dari sutera tersebut lantas membenamkan miliknya pada lubang sempit nan hangat.
Amanda sigap bergerak, tidak ingin terus kalah oleh sikap Lucas yang mendominasi dirinya selama ini. Dia mendorong dada Lucas dengan seluruh tenaga yang dimiliki, lalu menyepak batang sang suami, lanjut meninju hidungnya hingga berdarah-darah.
Lucas terhuyung beberapa langkah ke belakang, sebelum tubuhnya hilang keseimbangan dan terjungkal menghantam lantai. Pria tua itu sontak tidak sadarkan diri, efek dari benturan keras pada kepalanya.
"Rasakan tuh bogemanku!" kelakar Amanda sembari melangkahi tubuh yang terkapar.
Amanda buru-buru pergi dari kamarnya, mencari tempat untuk bersembunyi dari amukan pria tua dan tidak tahu diri. Satu-satunya tempat yang menurutnya aman adalah taman belakang istana.
Meski sudah dipastikan keadaan di sana akan sangat gelap karena minimnya pencahayaan, tetapi baginya lebih baik dari pada harus berdiam diri di kamar, sementara Lucas bisa terbangun dari pingsannya kapan saja.
...*****...
__ADS_1