Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 41 Pasung


__ADS_3

Lucas bertepuk tangan ketika sang istri telah berada di dalam ruangan tanpa memperlihatkan raut bersalah sedikit pun karena telah membuatnya jatuh pingsan. Dia terbahak-bahak, tetapi disertai sorotan mematikan.


Di depan laki-laki tua itu tergeletak sebuah alat pasung yang biasa digunakan untuk memberi hukuman pada gadis-gadis tawanan. Ntah untuk apa alat tersebut berada di ruangannya, yang pasti bukan sebagai pajangan.


"Gadis manisku, makin hari makin nakal saja ya..." tukas Lucas berjalan menghampiri Amanda lalu menyugar rambut cokelat yang tergerai menutupi wajah cantiknya.


"Tingkah menjengkelkanmu, malah membuat cintaku bertambah besar. Aku semakin tidak rela kalau harus melepas wanita sesempurna dirimu dari genggamanku!" Lucas menarik ujung rambut Amanda lantas menyesap dalam aroma yang menguar. Dia menyelipkan anak rambut ke daun telinga lanjut mengecup lembut pipi sang istri.


Amanda merasakan sesuatu yang buruk tersembunyi di balik sikap lembut Lucas padanya. Dan benar saja, pria tua itu berjalan berputar kemudian menendang belakang kaki Amanda, membuat wanita itu berlutut di hadapannya.


Lucas tergelak, lantas mengcengkeram kuat kedua pipi sang istri. "Berani-beraninya kamu berlaku kurang ajar padaku, Amanda! Sepertinya hukuman-hukuman dariku selama ini, tidak jua membuatmu jera!!"


Amanda berdecak lalu menampilkan senyum asimetris. Meledek gertakan Lucas dengan gestur menyepelekan. "Kamu bukan Tuhan, Lucas. Jadi, tidak perlu aku takuti!"


"Aku memang bukan Tuhan, tapi aku bisa merampas kehidupan ayahmu hanya dalam sekejap mata!" sahut Lucas membangkitkan luka di hati Amanda.


Kelemahan yang ditutup-tutupi, alhasil mencuat lantaran perkataan Lucas mengingatkan Amanda pada sang ayah. Ketegaran hati terbungkus topeng kepura-puraan, akhirnya luluh bersama deraian air mata. Kepala yang mendongak, menunduk seketika. Jiwa nan ringkih, menyerah pada kepedihan.


"Papa..." raung Amanda teringat kembali pada wajah Omran yang dilihatnya terakhir kali. Di mana paras sang ayah, berlumang darah segar.


Lucas menyeka tetesan kesedihan yang menggenang di pelupuk mata sang istri. "Tangisanmu adalah kebahagian untukku. Semakin sering aku melihat kamu menangis, maka semakin aku merasakan bahagia yang tak terhingga."


"Kamu memang sinting, Lucas!" hina Amanda. "Awalnya aku heran, kenapa Tuhan memberimu umur panjang?! Sekarang aku paham, Dia menunggumu untuk insaf!!!"

__ADS_1


Luca tertawa geli mendengar ocehan Amanda. "Insaf? Apa itu insaf? Tidak ada di dalam kamus seorang Lucas Denver, kata insaf! Kamu, jangan mengada-ada, Amanda!!!"


"Kamu terlalu sombong, Lucas! Aku pastikan, suatu saat kesombongan yang akan menghancurkan dirimu sendiri!!" balas Amanda dengan penuh penekanan.


"Kita lihat saja nanti!!" jawab Lucas lalu mengerdipkan mata sebelah memberi kode pada anak buahnya untuk melakukan tugas yang sudah diberikan.


Dua orang anak buah Lucas mengangkat tubuh Amanda lantas menyeretnya ke tempat di mana alat pasung tersimpan. Amanda sudah bisa membaca apa yang akan Lucas lakukan padanya.


"Dasar lelaki pecundang, beraninya pada wanita lemah sepertiku!" decih Amanda. "Apa yang kamu banggakan, Lucas? Barangmu saja sudah letoy!" cibir Amanda. Anak buah Lucas menutupi mulut sebab menahan diri dari menertawakan bos-nya.


Lucas menatap satu persatu orang suruhannya. Seorang saja yang terpergok tertawa karena ucapan Amanda, sudah dipastikan dia akan memenggal kepala semua anak buah yang berada di ruangan tersebut.


"Jangan dengarkan ocehan kosong istriku. Dia hanya ketakutan karena setiap aku memasuki tubuhnya, istriku ini selalu memekik kesakitan!" kilah Lucas menutupi kelemahan di hadapan sang anak buah. Aib yang paling memalukan baginya adalah bila orang-orang mengetahui tentang kepayahannya di atas ranjang.


"Kenapa, Lucas? Kamu malu kalau cecunguk-cecunguk ini tahu bahwa bos yang mereka hormati adalah lelaki lemah syahwatt?" cibir Amanda membuat panas telinga.


Amanda menggerak-gerakkan badannya saat alat pasung terbuka. Anak buah Lucas membetot kedua lengannya kemudian dimasukkan ke dalam sebuah lubang, lalu dikunci erat. Begitu pun juga dengan kedua kakinya. "Lepas!! Mau apa kalian?!!"


Anak buah Lucas tidak menggubris jeritan Amanda. Mereka terus melakukan apa yang diperintahkan Lucas, memasung tangan serta kaki Amanda dengan tujuan agar gadis itu tidak melarikan diri lagi.


"Bedebah kamu, Lucas! Aku bukan binatang, tidak selayaknya kamu memperlakukanku seperti ini!" teriak Amanda dengan tubuh terpaku di antara kayu-kayu dan rantai besi.


"Merengeklah, sayang. Menjeritlah... aku sangat senang mendengarnya," kelakar Lucas membelai bibir sang istri. "Ah... milikku tiba-tiba berdiri. Tanggung jawab sayang, buat menidurkannya kembali!" Kalimat yang terlontar dari mulut Lucas sangat mudah untuk ditafsir maksudnya. Amanda sigap mengatup mulut saat Lucas mendekat dan mengarahkan selangkangann ke depan wajahnya.

__ADS_1


"Puaskan aku dengan bibir manismu ini sayang..." Lucas menurunkan resleting celana, bersiap untuk mengeluarkan miliknya yang sudah ereksi sempurna. Akan tetapi, suara ledakan dari arah gudang membuatnya tercengang heran.


Ledakan tersebut semakin lama bertambah dahsyat sebab di dalam gudang tersebut terdapat ratusan minuman beralkohol serta kiloan heroin, yang disiapkan untuk dikonsumsi sendiri.


"Suara apa itu?" pekik Lucas menyalang kaget. "Ayo bergerak... bergerak!!" perintah Lucas pada semua anak buahnya. Lucas berjalan cepat menuju sumber suara ledakan dan melupakan waktu bersenang-senang dengan sang istri.


Amanda menghela napas lantaran lagi-lagi selamat dari pelecehan yang dilakukan oleh sang suami. Terlepas dari status yang disandangnya saat ini, dia tidak akan menerima pernikahan dengan Lucas sampai kapan pun karena alasan laki-laki itu menikahinya hanya sebatas sek-s dan obsesi semata.


...***...


"Aku buatkan omelette mix broccoli and cheese. Habiskan ya." Ivana menyodorkan piring berisikan makan malam pada Matthew yang duduk termenung di teras cottage.


Matthew menoleh lalu melihat ke arah piring yang disodorkan Ivana. Bibirnya yang semula mengerucut, merekah seketika dengan biji mata bersinar-sinar. "Ini makanan favorit Amanda. Dia selalu membuatkannya untukku!"


Pemuda berlesung pipi langsung saja menarik piring tersebut dan melahap omelette buatan Ivana. Kedua alis bertautan dengan kepala mengangguk-angguk merasai makanan yang dicicipi.


"Ini enak sekali, Ivana!" puji Matthew menyantap masakan yang disuguhkan untuknya.


Ivana merasa bahagia sebab Matthew menghargai usahanya menyiapkan makan malam sederhana. Namun, lezat.


"Rasa omelette ini benar-benar mirip dengan omelette buatan kekasihku!" ungkap Matthew tanpa sadar.


Ivana tersenyum kecut. Rasa bahagia yang menyapa dirinya kini, hanyalah bahagia semu. Lantaran lelaki yang dia kagumi, menaruh seluruh hatinya untuk perempuan paling beruntung di muka bumi ini. Dan itu bukanlah dirinya.

__ADS_1


"Ya Tuhan... ada apa dengan diriku? Usiaku dengan Matthew terpaut begitu jauh, tetapi ntah mengapa rasa yang kualami saat ini layaknya perempuan dewasa pada lelaki dewasa. Bukan sekedar kagum semata." Ivana berkata di dalam hati.


...*****...


__ADS_2