Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 53 Tertembak


__ADS_3

Dua setengah jam sudah dilalui tanpa ada kendala berarti sebab cuaca sore ini sangatlah cerah disertai angin bertiup dengan kecepatan normal. Birunya lautan menemani perjalanan yang ditempuh oleh seorang diri. Perjalanan panjang demi menuntaskan tugas yang diemban.


Pria yang mengenakan kaca mata hitam perlahan menurunkan helikopter yang dia terbangkan di sebuah padang ilalang. Di bawah sana sudah menunggu dua orang anak buahnya mengibas-ngibaskan dua lembar bendera.


Sedikit demi sedikit, pesawat terbang dengan baling-baling di atasnya tersebut telah mendarat dengan mulus. Angin berhembus kencang, melantahkan ilalang di sekitarnya.


"Selamat datang, Kapten!" sapa sang anak buah pada atasannya yang sudah menunggu sejak satu jam lalu.


Samuel mengangguk dengan penuh wibawa. "Bagaimana, apa anggota yang lain sudah bergerak?"


"Sudah, Kapten! Mereka sudah mengepung tempat persembunyian gadis itu," sahut salah satu anak buah.


"Bagus! Sebaiknya kita juga cepat bergerak sebelum musuh lebih dulu mendapatkan gadis itu," titah Samuel, tegas.


"Baik, Kapten!" balas sang anak buah.


Melewati semak-semak belukar dan jalanan setapak, Samuel beserta kedua anak buahnya sudah tiba di tempat yang menjadi target operasi.


"Ah... Anda sudah tiba, Kapten," bisik anak buah yang sudah lebih dahulu tiba di lokasi.


Samuel hanya menanggapi dingin. Dan tanpa berkata apa pun lagi, dia langsung beraksi mencari celah untuk menyelinap masuk ke dalam cottage yang nampak sepi.


"Kalian yakin gadis itu ada di dalam?" Samuel ingin memastikan.


"Kami yakin, Kapten. Karena sejak tadi pagi kami memantau kondisi cottage ini. Gadis itu ada di dalam dan pria yang bersamanya belum kembali dari pulau seberang," jelas sang anak buah.


Secepat kilat dan penuh cekatan, Samuel sudah berhasil menyelinap ke dalam cottage melalui pintu belakang. Dia mengendap-endap, membuka satu per satu pintu kamar yang tertutup. Namun, tidak mendapati target di dalamnya.


Suasana berubah tegang seketika, keringat bercucuran membasahi tubuh. Samuel terus memimpin anak buahnya untuk bergerak mencari keberadaan Ivana.


"Tinggal kamar ini yang belum kita periksa dan saya yakin terget kita ada di dalam," ucap anak buah Samuel. Mereka begitu yakin sebab selama pengintaian, tidak mendapati Ivana meninggalkan cottage.

__ADS_1


Pria berusia dua puluh lima tahun itu mengacungkan pistol di samping telinga dan mengibaskan kepala menyuruh sang anak buah menempel sebuah bom berkekuatan rendah di atas daun pintu.


Bom tersebut meledak, pintu terbuka seketika. Ivana sontak menjerit menutupi kedua telinganya lantaran suara nyaring yang menggaung di telinga.


"Si-siapa kalian? Dan mau apa?" raung Ivana dengan telapak tangan masih menutupi telinga.


"Kami polisi. Kami akan menyelamatkanmu, Nona," imbuh Samuel mencoba menghampiri.


"Ja-jangan mendekat!!" sergah Ivana berjalan mundur. Namun, Samuel masih meneruskan langkah.


"Jangan takut, Nona. Kami dari kepolisian." Samuel mengeluarkan tanda pengenal dan memperlihatkannya kepada Ivana.


"Mundur...!" pekik Ivana mengacungkan pistol ke arah dada Samuel. "Aku tidak percaya pada kalian!!" erang Ivana lantaran ketakutan.


Samuel merentangkan kedua tangan meminta anak buahnya untuk mundur karena target membawa senjata api. "Tenang, Nona. Kami tidak akan menyakiti Anda."


"Bohong!!!" teriak Ivana lantang, memegang senjata api dengan kedua tangan gemetaran. "Pergi kalian atau aku tembak satu per satu!" ancam Ivana ditekan kekalutan. Meski orang-orang di dekatnya terlihat tidak mencurigkan. Namun, gadis itu masih sulit untuk memercayai orang asing.


"Apa kamu tuli, hah...?" Emosi Ivana mulai meledak-ledak di luar kendali. Dia berteriak-teriak dan menjerit-jerit seperti tengah kesurupan.


"Tenang... Nona." Samuel menggerak-gerakkan kedua tangan dan berbicara dengan suara lembut. Dia berjalan selangkah demi selangkah ketika Ivana tiba-tiba meraung, menangis sejadi-jadinya dengan kedua mata memperhatikan senjata api yang digenggam tidak begitu erat.


Tinggal tiga langkah lagi Samuel berhasil mendekati target untuk merampas benda di genggaman. Namun, di luar dugaan. Gadis itu mendongak tiba-tiba lantaran menyadari gerak kaki seseorang yang tengah menghampirinya.


Ivana kembali menodongkan senjata api dan menarik pelatuk begitu saja sembari memejamkan mata. Alhasil, sebuah peluru meluncur tajam dan mengenai lengan pria di depannya.


"Kapten...!!" teriak semua anak buah Samuel berlari ke arah sang atasan.


Mendengar suara pekikan orang-orang, gadis itu pun membuka mata. Dan kedua netranya langsung tertuju pada darah segar yang menetes dari balik lengan baju Samuel. Tubuh Ivana bergetar sangat hebat dan pistol itu terlepas dari tangannya.


"Aku tidak apa-apa." Samuel meringis, merasakan nyeri di bagian yang terkena tembakan.

__ADS_1


Anak buah Samuel mengamankan senjata api milik Ivana lanjut menggiring gadis itu untuk ikut bersama mereka. Tanpa perlawanan yang berarti, gadis itu seakan telah pasrah akan hidupnya di tangan pria-pria yang tidak dikenalinya itu.


Samuel merobek tirai tipis dan dilingkarkan ke lengannya guna menghentikan pendarahan dari luka akibat peluru yang bersarang di dalamnya. Dia dipapah oleh dua anak buah menuju tempat helikopter terparkir.


Sesampainya di padang ilalang tadi, Samuel meminta sang anak buah untuk mengambilkan tas tangan yang berisi segala kebutuhan. Dia mengeluarkan sebuah alat suntik, obat bius dan sebuah alat yang berbahan dasar besi.


"Suntikkan obat bius ini pada lenganku!!" suruh Samuel pada salah satu orang kepercayaannya.


Satu suntikan yang berisi obat bius beberapa mili telah masuk ke dalam tubuh Samuel. Namun, obat bius itu bekerja mematikan rasa hanya untuk beberapa saat.


"Keluarkan pelurunya sekarang!!" titah Samuel lagi yang hanya dibalas dengan anggukkan.


Seorang pria yang diperintahkan untuk mengeluarkan peluru, mengenakan sarung tangan dan memasang masker medis. Berkali-kali dia menghembuskan napas untuk meredakan kegugupannya.


Alat dari besi itu mulai menerobos sel-sel kulit hingga bagian terdalam. Dan nampaklah sebuah peluru yang bercokol di antara daging-daging merah. Anak buah Samuel berusaha mengeluarkan benda tersebut dengan sangat hati-hati.


Setelah melewati ketegangan, akhirnya peluru berhasil dikeluarkan. Ivana yang menyaksikan adegan mengerikan di depannya hanya bisa meringis jua menangis.


"Di tas itu ada jarum dan benang untuk menjahit lukaku, tolong ambilkan," tunjuk Samuel pada tas berwarna hitam biru.


Anak buah Samuel dengan senang hati melakukan apa pun yang diperintahkan oleh atasannya. "Ini Kapten, biar saya yang menjahit luka Kapten!"


Samuel mengeleng-gelengkan kepala. "Tidak perlu. Kalian lebih baik bersiap untuk pulang sekarang. Prediksiku anak buah Lucas sebentar lagi akan sampai di tempat ini. Aku tidak ingin dia mengetahui kalau gadis incarannya ada pada kita!"


"Siap, Kapten!!" jawab semua orang serentak.


"Dua orang ikut denganku untuk menerbangkan helikopter ini dan mengawasi gadis manja itu!" Samuel menoleh ke arah Ivana yang melotot sebab tidak terima disebut gadis manja oleh dirinya.


"Baik, Kapten!!" Dua orang ikut bersama Samuel sedangkan yang lainnya menggunakan helikopter berbeda, yang mendarat di atas perbukitan.


Samuel beserta Ivana dan beberapa anak buahnya berhasil meninggalkan Coconut Land sebelum ancaman dan mara bahaya datang. Sebab orang-orang suruhan Lucas, kini tengah bergerak diam-diam mengikuti Matthew di belakang.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2