
"Bangun!!" Samuel menyiram wajah Lucas yang tertidur di atas kursi pesakitan.
Lucas mengerang dan menggoyang-goyangkan kepalanya dengan kelopak mata mengerjap cepat. Akan tetapi, gelak dan tawa tidak lepas dari mulut beracunnya.
"Kenapa Kapten? Sepertinya, semenjak Anda menangkap saya. Wajah tampan Anda terus saja merengut! Nanti bisa-bisa cepat tua, Kapten. Tersenyumlah, cheese..." olok Lucas, mengacungkan jari telunjuk ke atas pipinya.
"Diam kau, bangsat!!" Murka Samuel mencengkeram kerah baju Lucas. "Kau bosan hidup rupanya, tua bangka!" Samuel menyalakan kembali alat beraliran listrik rendah untuk menyetrum badan Lucas. Memberikan sedikit efek kejut.
Pria tua itu pun mengejat, akibat sengatan listrik yang mengalir ke dalam darahnya. Terlebih saat ini bagian tubuhnya masih basah oleh air yang disiramkan Samuel tadi.
"Saya pikir... Anda hebat dan cerdik, Kapten! Tapi ternyata saya salah. Apa Anda tidak tahu, kalau perlakuan Anda ini bisa saya adukan pada lembaga HAM?!" gertak Lucas.
Samuel menaikkan salah satu kakinya ke atas meja lalu mencokok kedua pipi Lucas. "Silakan adukan saja, aku tidak takut. Karena kejahatanmu, jauh lebih menyedihkan di mata HAM dan di mata dunia!"
"Anak muda yang malang, hidup dibayang-bayang oleh dendam masa lalu," cibir Lucas, sengaja ingin mengorek luka lama. "Andai saja kau tidak datang waktu itu, pasti kekasih tercintamu masih hidup hingga sekarang dan menjadi pemuas nafsuku," sambungnya, memercik api amarah.
"Diam...!" teriak Samuel benar-benar marah. Wajahnya berubah merah padam. Urat-urat hijau menegang, memperlihatkan bahwa saat ini api kebencian meledak-ledak dari dalam dadanya.
"Ini untuk kehormatan kekasihku yang kau renggut!" Samuel meninju pipi Lucas sebelah kanan. "Dan ini untuk kematian kekasihku!" Samuel menonjok pipi Lucas sebelah kiri. Pukulan bertubi-tubi dia layangkan pada wajah si penjahat kelamin, meski luka lebam mulai bermunculan.
Lucas tergelak kembali. Namun, kali ini ntah apa yang dia tertawakan. "Hanya segitu saja? Balaslah dengan hal setimpal! Sini aku bisikkan tentang rahasia istri mudaku. Dia masih tersegel sangat rapat, Kapten. Alias perawan! Perkosa dia, lalu bunuh. Maka dendammu terbayar lunas!!"
"Cuih...!!" Samuel meludahi wajah pria di depannya. "Kau pikir aku suka dengan barang bekas pakaimu? Kau pikir, otakku sebejat otakmu? Tidak! Aku bukan orang sepertimu, Lucas!" berang Samuel atas ucapan Lucas yang seakan menghina harga dirinya.
Lucas terpingkal-pingkal dan menatap dengan sorotan khas seorang penjahat kelamin. "Aku hanya memberimu masukan buat membalaskan dendam. Kalau tidak diterima pun ya tidak apa-apa, tapi bila ideku ini kau pakai. Ya... sebuah keberuntungan. Bayangkan saja wajah istriku yang cantik, tubuh tinggi semampai, dada bulat, bibir merah merona dan yang paling penting, she's virgin!"
"Shut up!!" berang Samuel, bersiap menghantam kepala Lucas menggunakan pemukul bisbol. Akan tetapi, anak buahnya lebih dahulu menahan gerak tangannya.
__ADS_1
"Tahan emosi Anda, Kapten!" seru sang anak buah mengingatkan. Mereka tidak ingin pemimpinnya itu terkena masalah, akibat dari emosi yang meletup-letup. "Tenangkan diri Anda..." sambungnya menarik pundak Samuel dan mendorongnya keluar dari ruang interogasi.
Salah seorang anak buah Samuel menyeret Lucas kembali ke dalam jeruji besi, yang mana keadaannya jauh dari kata indah apalagi mewah.
...***...
Istana Black Angel pukul sebelas malam
Sesuai dengan janjinya waktu itu, Amanda akan membantu membebaskan si wanita misterius dari dalam gudang. Dan dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, di mana kondisi istana tengah lengah sebab anak buah Lucas saat ini kalang kabut, menghilangkan setiap barang bukti.
Penjagaan yang semula ketat pun, saat ini berubah longgar. Semua anak buah Lucas dikerahkan menuju markas utama. Ntah siapa yang menggerakkan mereka. Namun yang jelas, Lucas memiliki banyak pengikut yang loyal dan berani mati di samping ada juga yang berkhianat.
Seperti malam itu, sebelum beraksi Amanda mengecek keadaan seluruh istana dari kamera pengintai yang masih tersimpan dengan aman di beberapa sudut bangunan.
Senyuman antusias pun tersungging, melihat kondisi aman dan minimnya penjagaan. Tanpa menunggu lama lagi, Amanda langsung bergerak menuruni dinding tinggi kamarnya, bagaikan seorang cat woman.
"..." Amanda menghembuskan napas seraya celingukan. Walau bagaimanapun, dia harus tetap waspada sebab ancaman bisa datang kapan saja. "Ah... akhirnya terbuka." Amanda mendesah lega.
Gadis itu berjalan cepat dan menekan tembok yang menjadi kunci untuk membuka ruangan rahasia. Kedua dinding bergeser perlahan, ruang gelap dan bau menyengat itu pun akhirnya terbuka lebar.
Amanda menyalakan saklar lampu dan langsung menyunggingkan senyuman semanis mungkin. "Seperti janjiku, aku kembali...."
Amanda berjalan menghampiri wanita tua itu lalu merungguh di depannya, melepas sumpalan yang membungkam mulutnya.
"Kenapa kamu ke sini lagi, Nak? Bukankah aku sudah melarangmu?" tegur wanita itu terdengar khawatir.
Amanda tidak menjawab pertanyaan wanita tersebut sebab tengah berkonsentrasi membuka kunci-kunci rantai yang menyatu dengan alat pasung. Silinder kunci yang sudah usang dan berkarat, cukup menyulitkan Amanda untuk membukanya.
__ADS_1
"Tenang Amanda, tenang... kalau kamu panik seperti ini yang ada semakin sulit buat membukanya," ucapnya mengikis kegugupan.
Dua puluh menit berlalu, Amanda masih saja mengotak-atik kunci tersebut. Dan pada menit ke tiga puluh, rantai pasung itu pun berhasil dibuka olehnya.
"Ah... akhirnya... terlepas juga," pekik Amanda bahagia, mengusap wajahnya perlahan.
Wanita misterius itu sontak saja menangis, sebab setelah dua puluh tahun berada dalam pasungan, kini dia mendapat kebebasan. "Terima kasih, Nak... atas kemurahan hatimu."
"Sama-sama, Nyonya..." jawab Amanda tersenyum simpul. "Saya akan mengeluarkan Anda dari sini. Saya sudah menghubungi teman saya dan memintanya untuk membawa Anda pergi jauh dari tempat terkutuk dan menyedihkan ini!" papar Amanda pada wanita tersebut.
Wanita itu terdiam dan menundukkan kepalanya. "Tapi... saya sedang menunggu seseorang, Nak. Saya sangat merindukannya...."
"Siapa itu, Nyonya?" tanya Amanda, meski tidak ada hak untuk tahu.
Wanita misterius itu tersenyum lebar. "Jagoan kecilku, Nak... tapi mungkin sekarang sudah sebesar kamu."
"Si-siapa?" Amanda mulai curiga.
"Jagoanku... kebanggaanku. Buah hati dari hasil pernikahan penuh petaka bersama Lucas!" geram wanita itu mengingat masa-masa kelam yang dialaminya.
Amanda membungkam mulutnya dengan telapak tangan. "Ya Tuhan... jangan bilang, kalau Anda adalah ibu kandung...."
"Matthew ... putraku bernama Matthew. Anak tampan yang hanya bisa aku pandang wajahnya dari foto-foto yang diperlihatkan Lucas padaku," isak wanita itu mulai terbawa perasaan. "Tapi, aku tidak tahu di mana anak itu berada... aku juga tidak tahu apa dia masih hidup atau sudah mati. Karena terakhir kali Lucas menunjukkan fotonya, sekitar tiga tahun yang lalu."
Wanita misterius yang disembunyikan di dalam gudang tua istana, tak lain dan tak bukan yaitu Allison Elizabeth. Ibu kandung dari Matthew Alonzo, istri pertama Lucas Denver Alonzo. Wanita tua itu diperlakukan secara tidak adil sebab dia adalah saksi kunci akan kejahatan Lucas.
...*****...
__ADS_1