
Makan malam telah selesai, Amanda beserta Lucas dan kedua istri lainnya telah kembali ke istana. Namun, pria tua itu hanya sekedar mengantarkan pulang sebab ada hal tak kalah penting yang harus ditanganinya di markas utama.
Sementara Bellen dan Lavina, keduanya langsung saja menaiki eskalator menuju kamar yang berada di lantai tiga. Sebab keduanya ingin segera menghempaskan tubuh letih mereka ke atas ranjang.
Akan tetapi, tidak dengan Amanda. Gadis itu masih ingin mencari angin segar. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar istana lebih dahulu. Terlebih malam ini banyak sekali kunang-kunang berterbangan. Berkelap-kelip menerangi area sekitar yang nampak temaram.
Senyuman terukir di setiap sudut bibir Amanda. Dia berlarian mengejar kunang-kunang tersebut yang terus terbang menjauh dan membawanya ke bagian istana yang belum pernah dia pijak.
"Di sini menyeramkan, lebih baik aku kembali ke depan," gumam Amanda bergidig ketakutan. Namun, baru juga berjalan satu langkah. Gadis bernetra biru itu mendengar suara tangisan yang berasal dari bangunan yang nampak seperti gudang tak terpakai, terlihat dari usangnya pintu serta tumpukan kayu di bagian depan.
Amanda mengibaskan tangan seraya menggelengkan kepala, berusaha berpikir positif akan suara aneh yang tertangkap indera pendengarannya. "Mungkin aku salah dengar. Palingan juga suara gesekan daun."
Amanda melanjutkan derap langkah yang sempat tertunda. Akan tetapi, suara tangisan misterius itu kembali terdengar jelas di telinganya.
Mata Amanda membola, dia berjalan mundur sembari cingak-cinguk mencari keberadaan seseorang di sekitarnya. Namun, yang dia dapati hanya kegelapan.
"Si-siapa di sana?" Amanda memberanikan diri untuk bertanya dan mendekat ke arah gudang tua tersebut.
Suara tangisan bertambah nyaring, rasa penasaran semakin menyeruak ke dalam diri Amanda. "Siapa di sana? Apa ada orang di dalam gudang tua ini?"
__ADS_1
Amanda celingukan di depan pintu gudang tersebut dan menemukan celah kecil, di mana bias cahaya terpantul dari dalam sana. "Lampunya menyala, tapi melihat kondisi tidak terawat begini. Sepertinya gudang ini memang dibiarkan begitu saja sejak lama."
Tubuh Amanda membungkuk, bersiap untuk mengintip dan mengecek apa yang terdapat di dalam ruangan tersebut. Namun, gadis itu tersentak sebab ada seseorang yang menepuk bahunya secara tiba-tiba.
Amanda membalikkan badan dan hampir saja menjerit lantaran keterkejutan. Beruntung orang yang menepuk pundaknya itu lebih dahulu membekap mulut Amanda.
"Jangan berisik, Nyonya. Ini aku, Lady..." bisik maid istana.
"Ah... Lady, kamu mengejutkanku saja," protes Amanda mengusap-usap dadanya yang berdetak sangat kencang.
"Ke-kenapa Nyonya bisa sampai ke tempat ini?" tanya Lady gugup.
"Memangnya kenapa Lady? Tempat apa ini?" sambung Amanda penasaran.
"I-ini hanya gudang, Nyonya. Bukan tempat apa-apa. Dan sudah lama sekali tidak terpakai," jelas Lady pada majikannya. Namun, terkesan menyimpan sebuah rahasia.
"Oh..." Amanda manggut-manggut dan terus menatap gudang tua tersebut. "Tapi, kenapa lampunya menyala? Kata kamu, gudang ini tidak terpakai?" tekan Amanda benar-benar dibuat penasaran.
"Ah itu... biar tidak banyak tikus, Nyonya. Di sini tikusnya besar-besar," jawab Lady dengan mimik muka jijik. "Ayo Nyonya, kita kembali ke istana! Tidak baik berlama-lama di tempat gelap ini, banyak nyamuk." Lady menarik lembut tangan Amanda untuk menjauh dari gudang gelap nan misterius itu.
__ADS_1
...***...
Sekembalinya Amanda dari gudang, dia langsung merendam tubuhnya dengan wewangian di dalam bathtub untuk mengembalikan kesegaran. Dia memejamkan mata dengan kepala mendongak, menikmati hangatnya air menyentuh kulit.
Namun, suara tangisan memilukan tadi terasa mengiang-ngiang di telinga. Kelopak mata tiba-tiba terbuka, Amanda duduk dengan tegang.
"Tadi sangat jelas, aku mendengar suara orang menangis. Bukan suara tiupan angin ataupun gesekan dedaunan," gumam Amanda. "Dan aku sangat yakin, tadi itu benar-benar suara perempuan tengah terisak ... yang lebih terdengar seperti merintih!" Amanda berbicara pada dirinya sendiri, bertanya-tanya tentang suara aneh yang tertangkap oleh kedua kupingnya tadi.
"Apa di dalam sana, ada seseorang bersembunyi?" gerundel Amanda terus teringat akan suara yang menyayat hati tadi. "Tapi... kalau iya ada orang bersembunyi, mana mungkin dia tidak diketahui oleh Lucas atau anak buahnya?" Amanda bertanya pada diri sendiri tiada henti.
"Ah... aku harus mencari tahu. Terlalu banyak rahasia mengenai laki-laki bangkotan itu!" kata Amanda teringat akan dua orang pria yang mengatakan tentang bisnis kotor yang Lucas kelola sejak lama.
"Lihat saja, Lucas. Aku akan mencari tahu tentangmu. Tentang siapa kamu sebenarnya! Kamu bukan sekedar lintah darat, tapi jauh lebih dari itu." Amanda kembali menutup mata merasai aroma mawar yang membaluri tubuhnya kini. Untuk sejenak, dia ingin melupakan tentang rasa penasarannya itu dengan menikmati wewangian yang menenangkan isi pikiran.
Lima belas menit berlalu, Amanda beranjak dari dalam bathtub lanjut mengenakan bathrobe (mantel mandi) tanpa memakai apa pun lagi di dalamnya.
Ketika keluar dari kamar mandi, begitu terkejutnya Amanda sebab sang suami tengah menunggunya di atas ranjang tanpa berbusana sehelai benang pun.
"Ka-kau? Kau ada di sini? Bu-bukankah tadi kau bilang akan ke kantor?"
__ADS_1
...*****...