
Sudah satu pekan berada di tempat pengasingan, membuat kebutuhan hidup perlahan terkuras habis. Mau tidak mau, Matthew harus memintasi lautan ke pulau seberang membeli segala keperluan untuk menyambung hidup bersama gadis yang dia tolong.
Bermodalkan sebuah kapal ferry milik pribadi, Matthew akan berlayar dan meninggalkan Ivana di cottage seorang diri. "Ambilah ini, untuk berjaga-jaga."
Ivana hanya terpaku, menatap benda yang disodorkan Matthew padanya. Benda yang pernah dia lihat, tetapi belum pernah dia pegang. Dan kini, benda itu disorongkan ke depan matanya.
"Kenapa diam saja, Ivana? Ayo ambilah..." titah Matthew untuk kedua kalinya. Akan tetapi, Ivana masih saja termangu. Pemuda itu menarik tangan Ivana dan menaruh sebuah senjata api di atas telapak tangan sang gadis. "Gunakan ini, saat nyawamu terancam," sambung Matthew.
Tangan Ivana bergetar hebat hingga benda yang terbuat dari baja itu terlepas dari tangannya. "Pi-pistol? A-aku tidak bisa menggunakannya, Matthew."
Pemuda berlesung pipi mengambil senjata api miliknya yang tergeletak di lantai dan kembali meletakkan di atas genggaman Ivana. "Simpan ini, aku akan ke pulau seberang dan memakan waktu kurang lebih empat jam. Dan selama itu, aku tidak bisa menjagamu. Jadi, kamu jaga dirilah sendiri...."
"Ta-tapi aku tidak tahu cara memakainya," lirih Ivana gamam dengan benda yang dipegangnya saat ini.
Matthew mendesah lalu menggenggam tangan Ivana. Mengajari gadis itu bagaimana cara menggunakan senjata api. "Pegang seperti ini, masukkan telunjuk ke trigger, relaks, pikiran fokus dengan objek yang akan kita bidik, tarik pelatuk dan shoot...!!"
Ivana menjerit saat satu peluru meluncur dan mengenai batang pohon kelapa. Tangannya semakin gemetaran selain karena suaranya yang memekikkan telinga juga teringat akan kejadian malam naas itu.
"Kontrol emosimu, Ivana. Yang bisa melawan ketakutan dalam jiwamu adalah dirimu sendiri. Bukan aku, bukan juga orang lain," tutur Matthew memberi motivasi. "Meski aku berjanji akan selalu menjagamu, tapi ada kalanya aku lengah. Jadi, jaga dirimu baik-baik demi aku..." ujarnya memegang bahu Ivana.
Ivana mengangguk pasti seraya tersenyum simpul. "Aku akan menjaga diriku sendiri. Demi kamu, Matthew. Demi kamu...."
Matthew mengacak-acak pucuk kepala Ivana, bersikap layaknya seorang kakak terhadap adiknya. Sementara Ivana, merasakan perasaan lain yang lebih dari sekedar hubungan kakak adik.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Kalau keburu siang, nanti kehabisan bahan makanan," cakap Matthew menaiki kapal ferry.
Ivana menarik tangan Matthew dan menggenggamnya erat. Bak seorang kekasih mengantarkan kepergian orang yang dicintai. "Iya Matthew, hati-hati ya. Aku menunggumu di sini."
Matthew menepuk-nepuk tangan Ivana sembari tertawa renyah. "Aku tidak akan pergi lama, hanya empat jam saja. Dan aku pasti kembali...."
__ADS_1
Sedikit demi sedikit genggaman Ivana terlerai dari jemari Matthew. Ntah mengapa hatinya begitu sesak melepas kepergian pria yang telah membersamainya beberapa minggu ini.
"Hati-hati..." kata Ivana melambaikan tangan yang dibalas dengan anggukan.
"Tuhan... aku titipkan kekasih hatiku pada penjagaan-Mu. Amin...."
Ivana terus menatap kepergian Matthew dengan perasaan tak menentu. Berkali-kali dia menepis pikiran negatif yang terus merasuki. Namun, bayangan hitam seakan terus mengusik diri. "Ah... mungkin hanya perasaanku saja. Aku sangat yakin, Matthew akan kembali padaku tanpa kurang satu apa pun."
Selepas kapal ferry tak terjangkau oleh indra penglihatan, Ivana lekas-lekas kembali ke dalam cottage. Dia menutup semua pintu, jendela dan juga tirai. Meski ketakutan merajalela. Namun, dia harus bisa menguasai dirinya sendiri.
Ivana menghembuskan napas dan menggenggam erat senjata api yang diberikan Matthew. Kemudian bersembunyi di dalam kamar hingga kepulangan pemuda itu dari pulau seberang.
"Bisa dan aku pasti bisa! Karena Tuhan dan kasih sayang Matthew selalu menyertaiku."
...***...
"Ada apa mencariku, Lucas? Semenjak pernikahanmu dengan Amanda, baru kali ini kamu mencariku lagi ke kamar?" Bellen meraba-raba dada suaminya lantas membuka satu persatu kancing kemeja berwarna putih. "Apa istri barumu itu, tidak mampu memuaskanmu?" Wanita agresif itu menurunkan resleting celana sang suami ingin menghisap sari dari urat besar kebanggaan Lucas.
Belum apa-apa, batang Lucas sudah keok di mulut Bellen. Wanita tersebut berdecak sebal lantaran suaminya itu hanya mengotori bibirnya saja. "Biasanya kamu mampu bertahan sampai tiga atau lima menit, tapi ini baru juga aku masukkan ke mulut sudah pecah duluan!!"
Bellen merengut lantaran Lucas semakin hari semakin payah. Meskipun dia memiliki seorang simpanan. Namun, tetap saja ada rasa penasaran pada batang lelaki yang sudah memasuki tubuhnya bertahun-tahun lamanya.
Lucas merasa tidak senang akan cibiran Bellen yang seakan melukai harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Dia menjepit leher sang istri memaksa wanita itu berjinjit lantaran menahan rasa sakit. "Jaga moncongmu itu, Bellen!! Apa kamu lupa kalau suamimu ini bisa berbuat selayaknya Tuhan?"
"Ma-maksudmu, a-apa?" Napas Bellen tercekat.
"Aku bisa mencabut nyawamu saat ini juga! Itu maksudku!" Lucas melonggarkan cekalan tangannya dan mencampakkan tubuh sang istri ke atas lantai. Wanita itu terjerembab sembari terbatuk-batuk akibat perlakuan Lucas.
"Ka-kamu benar-benar iblis, Lucas!!" erang Bellen termengap-mengap.
__ADS_1
"Masih berani kamu mengumpatku, wanita sialan...?!!" sembur Lucas membungkukkan badan ingin memberikan Bellen pelajaran untuk kedua kalinya. Gertakan yang pertama hanya dianggap angin lalu oleh istri keempatnya itu.
"Maaf Bos, saya mengganggu." Leo datang di saat yang tepat.
Lucas menggeram lantas membalikkan badan. Kepalan tangannya bersiap untuk menghajar pria yang sudah berani masuk ke kamar sang istri tanpa izin.
"Sabar, Bos!" Leo mengacungkan kedua telapak tangan menahan gerakan Lucas yang akan menonjok mukanya. "Ini benar-benar urgent, Bos! Mengenai gadis itu dan orang yang melarikannya. Kita sudah menemukan lokasi terbaru mereka!"
Lucas menarik turun lengannya dari menghantam wajah pria di depannya. "Bagus... di mana mereka sekarang?"
"Di sekitar Coconut land, Bos!" sahut Leo singkat. "Tapi, Bos!" Ucapan Leo menggantung.
"Tapi apa?" tanya Lucas.
"Tapi ada kabar buruk juga, Bos!" Leo berpura-pura terpukul dengan memasang wajah sememelas mungkin.
"Apa itu?" Lucas tidak sabar mendengar jawaban dari orang kepercayaannya, terlebih saat ini riak wajah Leo tidak sedap dilihat.
Leo mendesah dan menundukkan kepala serendah-rendahnya. "Orang yang melarikan gadis itu, ternyata adalah tuan Matthew...."
"Kamu jangan mengada-ada, Leo!!" sergah Lucas turut berdrama. Padahal dia sudah lebih dahulu mengetahui fakta bahwa Matthew adalah orang yang mereka cari selama ini.
"Bagaimana ini, Bos? Menangkap tuan Matthew hidup-hidup atau membawanya dalam keadaan mati dan kepala terpenggal?" tekan Leo menimbulkan perang batin di dalam diri Lucas.
Antara naluri sebagai seorang ayah dengan komitmen yang mengatakan bahwa dia tidak akan mengampuni apa pun bentuk kesalahan, walaupun berasal dari darah dagingnya sendiri.
"Bagaimana, Bos?" ulang Leo geregetan.
Lucas mendengus. "Bawa dia ke hadapanku. Aku yang akan menghukum anak itu dengan tanganku sendiri!!"
__ADS_1
"Baik, Bos. Perintah, kami laksanakan." Leo berjalan mundur dengan seringai licik sembari mengerdipkan mata ke arah wanitanya.
...*****...