
Hari mulai petang, angin bertiup kian kencang. Di saat orang-orang tengah berdiam diri mencari kehangatan, tidak dengan anak buah Leo. Mereka tengah bergerilya menelusuri jejak kendaraan Matthew yang membekas di atas jalanan berdebu. Mereka tidak ingin menyerah sebab Leo telah menjanjikan hadiah yang sangat fantastis, bila mereka berhasil menemukan Matthew serta Ivana dan membawanya dalam kondisi hidup.
"Ada bekas ban mobil menuju arah hutan. Dan dari tipe ban-nya sama persis dengan ban mobil milik target kita," ujar salah satu anak buah Leo pada temannya.
"Tapi bukankah bos Leo bilang, mobil orang yang kita incar melaju ke arah kota?" tanya temannya bimbang, haruskah percaya pada pemimpinnya atau temannya sendiri.
"Tapi di sini sangat jelas kalau mobil sasaran kita membelokkan kendaraanya ke kiri bukan lurus ke depan," sergah pria yang diwajahnya terdapat tato tengkorak.
Kedua anak buah Leo tersebut bersitatap lalu buru-buru beringsut dan masuk ke dalam kendaraan mereka. Tanpa berunding kembali, mereka melanjutkan pemburuan ke arah yang diyakini menjadi tempat pelarian Matthew dan gadis tawanan mereka.
Sementara di dalam gubuk, Matthew tengah memeluk Allina untuk terakhir kali. "Aku pergi ya Aunt. Kalau semuanya sudah kondusif, aku pasti akan kembali ke sini...."
"Hati-hati ya Nak... jaga diri baik-baik di mana pun kamu berada," pesan Allina seraya mengusap-usap punggung sang keponakannya. "Pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu...."
Matthew menganggukkan kepala lalu merangkum wajah Allina. "Terima kasih sudah menjaga Ivana untukku."
"Sama-sama, Nak. Aunty senang dia ada di sini. Tahu sendiri, 'kan, setelah kepergian uncle dan grandma-mu, Aunty hidup sendirian?" sahut Allina merasa pilu sebab Tuhan tidak mempercayakannya seorang anak. Dan di usia senja seperti ini, dia harus hidup sebatang kara tanpa ada siapa pun yang menjaga.
"Aunty orang baik, Tuhan sangat sayang sama Aunty." Matthew melepas dekapannya karena tidak bisa berlama-lama lagi tinggal di tempat ini. Dia sudah memesan tiket kereta api, untuk bertolak ke kota Z malam ini juga. "Aku berangkat ya Aunty... bye...."
"Bye..." balas Allina.
Matthew menghampiri Ivana yang sudah menunggunya di luar. Gadis itu sengaja memberikan waktu untuk Matthew dan Allina berbicara dari hati ke hati. Dia hanya bisa mengintip dari celah pintu seraya mengingat kedua orang tua yang sudah lama tidak dia jumpai.
__ADS_1
"Kenapa merengut?" Matthew menarik dagu Ivana dengan jari telunjuk. Sorotan mata serta senyuman simpulnya membuat detak jantung Ivana seakan berhenti untuk sesaat.
"Ti-tidak... aku tidak apa-apa. Kita berangkat sekarang?" Ivana memutus obrolan. Di dalam hatinya dia menyimpan kerinduan yang teramat dalam pada kedua orang tuanya. Namun, harus dia tahan demi keselamatan jiwa mereka.
Matthew mengangguk, lanjut memasukkan semua barang-barang ke dalam bagasi. Dia menatap sesaat rumah tua yang nampak seperti gubuk itu, lalu masuk ke dalam mobil dengan segera. Dia mendesah pelan, napasnya terasa begitu berat. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati, tetapi ntah apa itu.
"Ada yang kamu pikirkan, Matthew? Apa tidak sebaiknya kita tunda keberangkatan kita?" tanya Ivana lantaran menangkap ada guratan berbeda di raut wajah pemuda di sampingnya.
Matthew menggelengkan kepala dan tersenyum tipis. "Tidak ada... aku hanya teringat ibuku, itu saja. Dan mengenai kepergian kita, tidak ada kata ditunda. Kita harus berangkat malam ini juga sebab firasatku mengatakan, orang-orang jahat itu telah mengetahui tempat persembunyian kita."
Ivana menarik kepalanya ke bawah. "Aku ikut saja apa katamu."
Matthew menyalakan mobil dan mulai melajukan kendaraan berwarna hitam tersebut dengan kecepatan lambat. Meski berat hati, dia harus rela meninggalkan semua yang dia punya karena kehadiran Ivana telah merubah kehidupannya secara tiba-tiba.
"Kamu yakin kalau ini tempatnya?" tanya pria yang memiliki tato di wajah.
"Aku sangat yakin. Bos Leo memberikan alamat yang sama persis dengan bangunan ini," jawab si pria berambut cepak.
"Oke, kita dobrak saja kalau begitu!!" Tanpa basa-basi, pria berwajah tato tengkorak mendobrak pintu yang telah usang dengan sekali dorongan. Daun pintu pun sontak terbuka, bahkan terlepas dari engselnya.
"Si-siapa kalian?" Allina mengacungkan sebilah pisau ke arah kedua pria asing yang memiliki raut menyeramkan.
"Mana mereka?" sentak orang suruhan Leo.
__ADS_1
"Me-mereka siapa?" tanya Allina gemetaran.
"Mereka, yang satunya laki-laki berkisar usia dua puluh lima tahun dan satunya lagi perempuan muda berumur tujuh belas tahun. Mereka berdua ada di sini, 'kan?" tanya anak buah Leo cingak cinguk sembari mengacak-acak seisi ruangan.
"Di-di sini tidak ada siapa pun selain aku. Ka-kalian pasti salah alamat," imbuh Allina terbata-bata. "Ka-kalau kalian tidak percaya, silakan geledah saja rumahku," tambahnya mempersilakan kedua pria asing tersebut untuk menggeratakan seisi rumahnya.
Kedua pria beraut bengis itu langsung saja menyerobot masuk ke dalam kamar lalu ke dapur. Lanjut ke kamar mandi dan mengecek setiap ruangan yang terdapat di rumah itu. Akan tetapi, mereka tidak menemukan petunjuk apa pun di sana.
"Kamu sembunyikan di mana mereka? Ayo jawab!!" Anak buah Leo menodongkan sebuah pistol ke kening Allina. Dia menarik pelatuk berkali-kali untuk menakut-nakuti wanita tua itu.
"A-aku tidak mengerti dengan apa yang kalian tanyakan," kelit Ivana. Namun, sangat jelas terlihat dari sorotan mata serta gestur tubuh, kalau dia tengah berbohong.
"Jangan berlagak bodoh, wanita tua! Kamu tahu pasti mereka di mana. Jawab aku, atau kamu rasakan akibatnya...!!!" sembur pria berambut cepak bernada ancaman.
Allina menggeleng-gelengkan kepala seraya terisak. Tubuhnya gemetaran lantaran rasa takut yang mendera jiwa. "Aku benar-benar tidak paham maksud dari kedatangan kalian. Aku pun tidak menyembunyikan siapa pun seperti yang kalian tuduhkan. Jadi, silakan angkat kaki dari rumahku, tanpa harus aku usir!!!"
Anak buah Leo menarik pelatuk pistol yang menempel di atas kening Allina. Dan satu peluru meluncur begitu saja menembus kepala wanita itu. Darah menyembur, tubuh Allina tumbang. Dia langsung mati mengenaskan saat itu juga di tangan anak buah Leo.
"Nenek-nenek tidak berguna! Memang lebih pantas untuk mati dari pada dibiarkan hidup seperti sekarang ini!!!" geram seorang laki-laki sembari menatap mayat Allina.
Pria dengan tato di wajah, mengajak rekannya untuk segera pergi dari gubuk tersebut. Dia sangat yakin kalau kedua target mereka, belum lama pergi. Itu terendus dari aroma parfum laki-laki yang menyengat di rumah yang mereka datangi.
Pria berambut cepak mengiyakan ajakan temannya. Dia berjalan santai lantas melemparkan sebuah granat ke arah rumah usang tersebut. Bangunan tersebut seketika meledak dan hancur berkeping-keping bersama jasad Allina di dalamnya. Kedua orang suruhan Leo menyunggingkan senyuman, lalu masuk kembali ke dalam mobil guna mengejar buruan mereka.
__ADS_1
...*****...