Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 30 Godaan


__ADS_3

Malam ini ntah mengapa, kedua mata sulit sekali terpejam. Amanda nampak gelisah dengan kepala bergulir ke kiri juga ke kanan. Keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya yang lelah. "Kenapa aku teringat papa terus ya?"


Gadis itu bangkit lalu menyalakan lampu utama kamar. Matanya melirik ke arah meja kecil di samping ranjang. "Sudah jam satu ternyata, tapi aku belum bisa tidur juga."


Amanda mengelap keringat di wajahnya menggunakan lengan baju. Setelah itu dia meraih gelas yang berisikan air putih lantas meneguk sampai habis. "Lebih baik aku mencari angin segar keluar. Kebetulan Lucas malam ini tidak pulang. Jadi, aku bisa sedikit lebih leluasa."


Gadis yang mengenakan dress tidur berwarna merah beranjak dari kamarnya menuju taman mini yang berada di balkon lantai tiga. Dia menghirup udara dalam-dalam seraya memejamkan kedua mata. "Hm... segarnya udara malam di sini. Setelah ini aku pasti bisa tidur dengan nyenyak."


"Aku merindukanmu, Baby." Matthew tiba-tiba muncul lalu memeluk tubuh Amanda dari arah belakang. Dia menyandarkan wajah di atas pundak kekasihnya. "Aku rindu saat-saat seperti ini." Matthew merekatkan pelukannya. Sapuan hangat napas menghembus ke ceruk leher Amanda. Tubuh gadis itu meremang, darahnya turut berdesir. Namun, dia tahan sekuat hati sebab tersadar akan status yang dimiliki.


"Maaf... aku sekarang ibu tirimu," kata Amanda melepaskan rengkuhan tangan Matthew dari pinggangnya. Dia membalikkan badan lalu berjalan melewati Matthew yang berdiri kaku.


"Tunggu!" Matthew mencekal lengan Amanda lanjut menariknya. Tubuh Amanda turut tertarik dan kini dia berada di dalam pelukan sang kekasih. "Tatap mataku, Amanda. Dan bilang sejujurnya tentang perasaanmu padaku."


Amanda menelan saliva, sorotan matanya begitu sayu. Dia menatap lekat sepasang bola mata menghanyutkan, membuatnya lupa akan daratan.


"Aku sangat mencintaimu, Amanda. Dan aku yakin kamu pun demikian," ujar Matthew membelai bibir kekasihnya.


"Ya... aku juga mencintaimu, Matthew. Sangat...," balas Amanda mengatup kedua mata sebab wajah lelaki pujaannya itu semakin mendekat, bertambah merapat.


Kedua bibir yang saling merindu, akhirnya bersatu padu. Berbagi saliva juga saling bertukar napas. Ciuman lembut berubah menjadi pagutan liar. Sebab mereka sama-sama dilanda gairah yang tak bisa lagi tertahankan.


Sepasang lidah saling berbelit dengan mulut menyesap kuat. Deru napas pun kian terdengar kasar. Jemari-jemari panjang mulai bergerak mencari tempat yang nyaman. Tempat yang bisa membawa keduanya bagaikan terbang ke puncak nirwana.

__ADS_1


Tanpa disadari, Matthew telah menanggalkan jubah tipis yang menutupi tubuh Amanda. Kini gadis itu hanya mengenakan lingerie tembus pandang yang sangat menggairahkan.


"Aku menginginkanmu, Manda," desah Matthew. Nafsuu syahwatnya telah sampai di ubun-ubun hingga melupakan bahwa hubungan antara dia dan Amanda kini, bukan lagi sepasang kekasih. Melainkan step mother dan stepson.


Amanda geleng-geleng kepala, di saat situasi seperti ini dia masih bisa berpikir jernih. "Kita tidak sepatutnya bertingkah layaknya sepasang kekasih, Matthew. Kita sekarang sudah beda."


"Tidak, Manda. Kita tetap sama! Apalah artinya status bila hati kita sama-sama saling mencinta!"


"Ta-tapi—"


Matthew mengatup bibir Amanda dengan jari telunjuknya. "Ssstttt.... izinkan aku untuk mencumbumu kembali dan membiarkan tubuh kita melakukan apa pun sesuai keinginannya."


Kedua sejoli itu kembali berpagutan dengan lidah saling melumatt. Mengekspresikan rasa cinta jua kerinduan yang sebetulnya menerobos batasan antara keduanya.


"Ti-tidak Matthew... ini tidak benar. Ini—"


Matthew langsung menutup mulut Amanda dengan sebuah kecupan hangat. Membuai perasaan lembut Amanda, mengalahkan akal sehat yang terus berperang di dalam batin.


"Kamu sudah tidak perawan, 'kan? Akan lebih mudah kita melakukannya." Matthew menghisap ceruk leher Amanda untuk merangsang jiwa muda gadisnya.


"A-aku masih perawan," jawab Amanda.


Matthew menghentikan aktifitasnya dari mencecapi leher Amanda. "Aku tidak bodoh, Manda. Tidak mungkin kamu masih perawan sedangkan daddy-ku menggaulimu habis-habisan!"

__ADS_1


Amanda terbeliak lantaran selorohan Matthew begitu menyinggung perasaannya. Dia mendorong dada pemuda itu dan langsung beringsut memberikan jarak.


"Maaf Matthew, sebaiknya kamu lupakan tentang masa lalu kita. Semuanya sudah berakhir!" Amanda melengos dan memutar badannya menarik diri dari hadapan lelaki pujaannya.


"Tunggu, Amanda!" seru Matthew.


"Ada apa lagi?" sinis Amanda.


"Maafkan ucapanku barusan," jawab Matthew melangkah maju. Namun, Amanda melangkah mundur.


"Kamu sudah menyakiti perasaanku, Matthew..." lirih Amanda karena dianggap berdusta.


"Maaf... kumohon ..." pinta Matthew.


"Aku maafkan... tapi aku minta mulai detik ini, jauhi aku!" seru Amanda lantaran dia takut melewati batasan.


"Baiklah, kalau itu maumu. Semoga kamu bahagia hidup bersama daddy!" harap Matthew sekedar di mulut sebab di hati, dia tidak bisa merelakan Amanda untuk sang ayah.


"Aku pasti bahagia dengan pernikahanku. Jadi, tidak perlu risau." Amanda meneruskan langkah untuk kembali ke kamarnya.


Sementara itu, tanpa disadari ada seseorang yang sengaja menguping serta mengintip kedua pasangan kekasih tersebut. Dia banyak sekali mengabadikan momen panas antara Amanda juga Matthew. Seringai jahat terbit di wajahnya karena dia akan menghancurkan hidup Amanda melalui foto-foto serta video yang dia miliki.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2