
Satu minggu kemudian,
"Hai... boleh aku masuk?" Amanda menyembulkan kepala dan memasang wajah memelas.
Matthew tergelak, lesung pipi pun tercetak sempurna di pinggiran wajahnya. "Masuklah... aku menunggumu dari tadi."
"Benarkah?" Amanda menutup pintu lalu mendekati sang pujaan hati. "Bagaimana kondisimu?" tanyanya. Dia mendaratkan tubuh di atas kursi, samping ranjang pasien.
"Duduklah di sini." Matthew menepuk-nepuk pinggiran ranjang pasien. "Cepatlah... apa kamu tidak ingin, aku segera sembuh?" Matthew merajuk lantaran Amanda masih tidak beranjak dari tempat duduknya.
Meski malu-malu di awal, akhirnya Amanda mengabulkan keinginan pemuda di depannya itu untuk duduk di atas ranjang. Dia mencolek hidung Matthew seraya berujar. "Ingat...! Statusku ini masih ibu tirimu!"
"Aku ingat, bahkan sangat ingat..." sahut Matthew dengan senyuman genitnya. "Tapi bukankah, akan sangat menarik hubungan terlarang antara step mom and step son?" Matthew menarik pinggang gadis di hadapannya dan mendekap erat.
"Matthew... lepas. Nanti kalau ada orang masuk, bagaimana?" rengek Amanda menggeliat-geliatkan badannya. "Matthew... lepaskan aku!!" seru Amanda sebab jarak antara dirinya dengan sang kekasih begitu rapat.
"Aku merindukanmu, Amanda!" Matthew menelan saliva, dengan kasar. "Setelah aku pulih, aku akan membantumu untuk mengurusi surat gugatan cerai dengan daddy-ku," ungkap Matthew.
"Be-benarkah itu?" Amanda merasa sangat bahagia.
"Apa aku terlihat berbohong?" tanya Matthew, membius Amanda dengan tatapan penuh buaian.
"Tidak..." sahut Amanda, memejamkan mata sebab wajah Matthew semakin mendekat, hingga tiada celah setitik pun. Hembusan napas semakin terasa, seluruh tubuh pun kian meremang.
"Anak kesayangan Mom sudah siuman rupanya..." pekik Allison yang tahu-tahu sudah ada di dalam ruang perawatan.
Kedua sejoli yang hampir saja beradu bibir, langsung kik-kuk dan menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Mereka menjaga jarak seraya tertawa hambar.
__ADS_1
Allison hanya terkekeh melihat tingkah kedua anak muda yang tengah dilanda rasa malu tersebut. Dia memang sengaja mengganggu aktifitas mereka, dengan masuk ke dalam ruangan secara tiba-tiba. Padahal, dia tahu betul bahwa putranya sedang memadu kasih bersama sang gadis pujaan.
"I-iya Mom..." jawab Matthew tergagu. "Aku tidur terlalu lama. Aku pikir... aku sudah berada di surga, tapi ternyata masih di dunia..." ucapnya, meredakan kecanggungan di antara dia dengan sang ibunda.
Allison duduk di samping putranya. Dia membelai lembut pucuk kepala Matthew dan tak lupa hujan kecupan pun mendarat sebagai bentuk kasih sayang serta kebahagiaan yang tiada terkira. "Mom yakin, kamu akan kembali. Kamu akan berperang dengan maut karena sejak kecil, kamu adalah anak yang pantang menyerah."
"Ini semua tidak luput dari doa Mom untukku," sahut Matthew, mengecup kening Allison.
Amanda yang menyaksikan kehangatan antara ibu dan anak di depannya itu, turut terharu dan tenggelam dalam kebahagiaan. Bibirnya mengembang sempurna dengan mata berkaca-kaca.
Allison menoleh ke arah Amanda dan sebagai seorang ibu, hatinya sangat peka dengan apa yang dirasakan Amanda sekarang ini. Sebab dia tahu betul bahwa gadis di hadapannya itu adalah seorang anak yatim piatu.
"Apa kamu tidak ingin memeluk kami, Nak?" tanya Allison pada Amanda. Dia membentangkan kedua tangan, meminta gadis itu memeluknya.
Amanda terharu akan kehangatan sikap Allison. Tanpa perlu diminta untuk kedua kali, dia menyambut rengkuhan wanita paruh baya tersebut. Tangis pun tiba-tiba berderai lara lantaran dia seakan mendapat kasih sayang seorang ibu kembali.
"Amanda gadis yang baik, apa pun statusnya nanti tidak merubah kebaikan hatinya," sambung Allison menatap wajah Matthew. "Begitu pun juga dengan Matthew, dia anak yang baik. Akan sangat beruntung bila mendapatkan gadis yang cantik lahir dan batinnya sepertimu," lanjutnya berkata pada Amanda.
"Itu mimpiku sedari dulu, Mom..." balas Matthew akan selorohan ibunya. "Aku tidak akan menyianyiakan gadis sebaik Amanda. Karena sampai kapan pun, dia tidak akan terganti...."
Perasaan Amanda benar-benar terenyuh oleh ketulusan hati Allison juga Matthew. Setelah badai menerjang secara bertubi-tubi, Tuhan tampakkan juga pelangi. Meski hanya sesaat, tetapi bahagianya sungguh tiada terkira.
"Aku seakan menemukan keluarga di tengah-tengah kalian," kata Amanda mengharu biru. "Selama ini aku berpikir, bahwa aku hidup sebatang kara. Namun, ternyata pikiranku salah. Sebab Tuhan mengirimkan kalian berdua untukku...."
"Percayalah, Nak. Karma baik berasal dari kebaikan yang kamu lakukan selama ini," ujar Allison, bijaksana.
"Benar apa yang Mom bilang, kebahagiaan yang kamu raih saat ini tidak terlepas dari kebaikan hatimu, Amanda..." Matthew turut mengomentari.
__ADS_1
Amanda mengangguk tipis dan seutas senyuman tersimpul di bibir sensualnya. Menghipnotis kedua netra Matthew untuk terus menatapnya dalam dan semakin dalam.
"Ehm..." deham Allison, menyadari bahwa sepasang sejoli di sampingnya itu tengah bersitatap dalam waktu yang cukup lama. "Kedatangan Mom ke sini sepertinya mengganggu kalian ya?" tanya Allison, berpura-pura polos.
"Baru tahu, Mom?" sahut Matthew, songong.
"Tapi, 'kan, Mom rindu sama kamu Nak. Seminggu ini, Amanda terus yang menungguimu di Rumah Sakit," rajuk Allison pada putranya. "Dia ini nakal, Matthew. Matanya sudah seperti mata panda pun, tetap memaksa buat menemani kamu di sini," ungkapnya.
Pipi Amanda bersemu merah, dia memainkan ujung pakaiannya tanpa berani menatap mata Matthew kembali.
"Amanda, calon menantu idaman, 'kan, Mom?" Matthew sengaja menggoda sang gadis pujaan. Dia sangat menyukai paras gadis itu ketika merona bak bunga mawar yang bermekaran indah.
"Tentu saja..." balas Allison. Wajah merah semakin memerah lantaran sang empunya tengah tersipu malu.
"Ayolah... jangan menggodaku terus," protes Amanda, tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
Allison maupun Matthew sama-sama tertawa geli, melihat tingkah Amanda yang terlihat bak burung merpati.
Obrolan ketiga orang tersebut rupanya tengah diperhatikan oleh gadis belia yang sejak setengah jam lalu berdiri memaku di depan pintu ruang perawatan.
Ingin rasanya dia menangis. Namun, hatinya terlalu sakit hingga air mata pun tak ingin terlepas dari muaranya. Yang bisa dia lakukan hanya terbungkam dan merintih di dalam hati.
"Kenapa bisa sesakit ini, Tuhan...? Apa aku tidak berhak bahagia? Apa aku tidak bisa sedikit pun menikmati cinta yang pertama kali aku rasakan? Andai kata akan sepedih ini, aku akan meminta pada Tuhan untuk memutar kembali waktu. Untuk apa aku dipertemukan dengannya, tapi hanya sekedar menambah kesakitan di dalam hati...?"
Ivana mendesah pilu, buket bunga di tangannya terjatuh ke atas lantai. Sama seperti asa di dalam hati, yang terjatuh begitu dalam dan teramat dalam.
"Aku pergi Matthew... aku tidak ingin menjadi orang ketiga yang merusak kebahagiaanmu sekarang ini. Melihatmu masih hidup dan pulih seperti sedia kala, sudah lebih dari cukup untukku...."
__ADS_1
...*****...