
"Kapten... gawat Kapten!" pekik seorang laki-laki berlarian menghampiri pria yang tengah menyiapkan berkas-berkas untuk sidang esok hari.
"Ada apa Frans? Kenapa kau berlarian seperti itu?" sentak Samuel pada bawahannya.
"Anu, Kapten. Anu... itu..." jawab anak buah Samuel dengan mengacung-acungkan jari telunjuk.
"Anu apa, Frans? Bicara yang jelas!!" bentak Samuel, kesal.
"Anu, Kapten..." Anak buah Samuel terengah-engah, lidahnya kelu untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. "Anggota kita diserang, Kapten! Saksi penting kita, kembali disandera!" jelasnya lalu terduduk lesu di atas kursi.
"Jangan bilang, orang yang kamu maksud adalah Ivana!!" geram Samuel, menarik kerah pakaian sang anak buah.
"I-iya, Kapten. Gadis itu berhasil ditawan kembali oleh orang-orang suruhan Lucas!" jelas anak buah Samuel. Dia memperoleh informasi tersebut dari salah satu anggota yang selamat pada kejadian naas tadi pagi.
"Kurang ajar!!" berang Samuel, lalu beringsut untuk menemui tahanannya. Dia berjalan penuh amarah dengan kedua telapak tangan mengepal sempurna. Kilatan api berkobaran di kedua manik mata, bersiap untuk membakar apa pun di sekitarnya.
"Lucas...!!" teriak Samuel menggelegar, dengan rahang mengeras dan gigi-gigi bergemerutuk kencang. Dia membuka pintu sel, lanjut menghajar muka pria yang dia panggil namanya itu tiada ampun. "Bajingan kau, bedebah biadab!!" Samuel kembali melayangkan bogeman pada wajah lelaki tersebut hingga berdarah-darah.
Lucas hanya terkekeh, mengejek ketidak berdayaan Samuel saat ini. "Kenapa Kapten? Apa Anda pikir, kemarahan bisa menyelesaikan segalanya? Anda kira akan menang melawan Lucas Denver semudah itu? Jangan bermimpi, Kapten!!!"
"Diam kau brengsek...!!" Samuel menarik lengannya ke belakang dan bersiap untuk memukul kembali wajah Lucas. Namun, teriakan sang anak buah, menghentikan aksinya.
"Kapten lihat ini, Kapten!!" pekik anak buah Samuel, meminta atasannya itu untuk melihat ke arah layar komputer.
"Apa? Ada apa lagi?" tanya Samuel, mendongak- dongakkan wajahnya.
"Cepat ke mari, Kapten! Lihat ini!" pekik anak buah Samuel lagi.
Samuel mendengkus kesal lantaran kemurkaannya pada Lucas belum sepenuhnya tersalurkan. Dia mengunci kembali sel tahanan, lalu menghampiri sang anak buah yang memanggil-manggil namanya.
__ADS_1
"Lihat apa? Kau mengganggu kesenanganku saja!!" protes Samuel, seraya berjalan gontai. Netra matanya seketika membola lantaran melihat wajah tak asing yang muncul di layar komputer.
"Tolong aku Kapten..." rintih Ivana dengan kondisi kedua tangan terikat pada sebuah tiang. Pakaiannya lusuh dengan bekas sayatan di beberapa titik. Wajahnya pun membiru, akibat dari penyiksaan bertubi-tubi yang dia dapatkan. "A-aku takut... tolong lepaskan aku, Kapten..." lirihnya memelas pada Samuel.
Samuel menarik microphone dan mulai berbicara pada orang-orang yang menyandera Ivana. "Jangan sentuh gadis itu! Sedikit saja kalian mengusiknya, maka akan aku habisi pemimpin kalian, lalu aku cabik-cabik dan aku kuliti sampai ke tulang-tulangnya!!"
Seorang pria yang mengenakan topeng, menyahuti ancaman Samuel dengan gertakan yang tak kalah menakutkan. "Silakan saja, Kapten. Anda berani macam-macam pada bos kami, jangan harap gadis ini akan mati dengan cara yang mengenakan. Sebab anjing-anjing liar bos Lucas, siap menyantap dan menghabisinya hingga tewas mengenaskan!!"
"Bajingann...!!" murka Samuel mencengkeram sebuah gelas hingga retak-retak.
"Jangan marah-marah, Kapten! Nanti Anda cepat tua!!" cibir anak buah Lucas, cengengesan. "Selamat menjemput kekalahan Anda, Kapten!!" ejeknya, seraya memainkan sebilah samurai ke atas dada Ivana.
"Jauhkan tanganmu itu!!" geram Samuel, menyalang tajam.
"Tenang, Kapten. Turunkan tensimu! Sebaiknya Anda pulang, lalu minum susu dan tidurlah dengan damai sebab esok pagi mimpi burukmu akan segera dimulai," ujar orang suruhan Lucas. "Satu lagi! Kami memonitor gerak-gerik Anda. Sedikit saja ada luka lecet di tubuh bos kami, kulit mulus gadis ini akan kami sayat-sayat lalu disiram dengan air garam. Bayangkan bagaimana pedihnya itu, Kapten!!"
"Keparat...!!" sembur Samuel, tetapi tidak mampu berbuat apa-apa.
"Ahrghhh..." erang Samuel melempar apa pun yang berada di atas meja. "Padahal selangkah lagi, bedebah sialan itu akan mendapat balasan atas kejahatan-kejahatannya..." lirih Samuel, bimbang.
"Lalu, apa rencana selanjutnya Kapten?" tanya anak buah Samuel.
"Hubungi bagian IT, suruh mereka meretas alamat IP terakhir untuk mendapatkan lokasi penyekapan. Kemudian kerahkan pasukan-pasukan terbaik kita. Bagaimana pun caranya, kita harus mendapatkan gadis itu kembali sebelum hakim mengetukkan palu!" titah Samuel pada orang kepercayaannya.
"Siap Kapten! Perintah Anda, kami laksanakan!!" jawab sang anak buah, tegas.
Samuel menghela napas, lalu menarik langkah untuk kembali ke ruangannya. Dia akan memikirkan strategi penyelamatan Ivana, meski sebetulnya tingkat harapan sangatlah tipis. Akan tetapi, lebih baik berusaha dari pada berdiam diri merutuki nasib. Bukan begitu?
...***...
__ADS_1
"Ambilah..." Abigail menyodorkan sekotak makan siang pada Amanda.
Amanda memutar kepala lantas membuang napas panjang. "Aku tidak lapar, Abigail!"
"Makanlah, Nyonya Amanda..." pinta Abigail, mengasongkan kembali kotak berisi makanan hangat tersebut. "Kalau Anda sakit, besok Anda tidak akan bisa menyaksikan hari kehancuran tuan Lucas!" ujar Abigail, memengaruhi pemikiran Amanda.
Gadis itu menoleh, kemudian mengambil kotak tersebut dari tangan pemuda yang berdiri di sampingnya. "Kamu benar, Abigail. Aku harus kuat. Aku harus menjadi salah satu saksi, di mana seorang Lucas Denver mendapatkan karmanya!"
"Karena itu, makanlah Nyonya..." suruh Abigail, merayu majikannya itu agar bersedia menyantap makan siangnya.
"Punyamu mana, Abigail?" Amanda menilik tangan kosong pemuda tersebut. "Aku tidak mau ya, kalau cuman aku yang makan!" kata Amanda menaruh kotak nasi itu ke atas bangku.
"Sa-saya sudah makan, tadi di kantin," kilah Abigail, berdusta. "Saya membelikan makan siang karena saya yakin sejak pagi, Anda belum makan sama sekali," ujar Abigail, lalu mengangkat kotak nasi tersebut dan meletakkannya ke atas tangan Amanda.
"Benar, kamu sudah makan?" Amanda memindai wajah Abigail.
"Benar, Nyonya. Makanlah... saya tidak ingin Anda sakit," jawab Abigail, lalu berjalan dan melungsurkan tubuhnya di atas lantai.
Amanda langsung saja menyantap makan siang yang diberikan Abigail tersebut. Pemuda di hadapannya tersenyum simpul, lalu menyandarkan kepala dan memejamkan mata. Di dalam hatinya tidak putus untaian doa pada Tuhan. Berharap keajaiban datang dan sang kekasih bisa bertahan hidup dan kembali ke dalam pelukannya.
Tepat pukul tiga sore, dokter yang menangani Lavina keluar dari ruang operasi seraya melepas masker di mulutnya. "Keluarga pasien atas nama Lavina Denver?"
"Sa-saya Dok!" sahut Amanda, terseok-seok menghampiri sosok yang berdiri di depan pintu. "A-ada apa, Dok? Pasien baik-baik saja, 'kan?" cercanya lantaran rasa gelisah yang semakin membumbung di dalam diri.
"Ikut ke ruangan saya, Nona!" ajak dokter pada perempuan yang berbicara dengannya.
Amanda menoleh ke arah Abigail dan pemuda itu pun mengangguk pasti. Dia lalu beranjak, menyusul sang dokter yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya.
Tidak tahu hal apa yang akan dokter utarakan pada Amanda. Namun, yang pasti harapan besar terpatri di dalam hati gadis itu. Menginginkan Lavina bisa hidup seperti sedia kala.
__ADS_1
...*****...