Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 95 Kau?


__ADS_3

"Kau? Untuk apa menyusulku hingga ke sini? Matthew membutuhkanmu, kembalilah...!" Ivana memalingkan muka, tidak ingin terlihat lemah di hadapan Amanda.


"Semakin aku perhatikan, wajahmu semakin tidak asing, Ivana." Kening Amanda mengerut, mengingat-ingat di mana dia pernah melihat atau bertemu dengan Ivana.


"Kita baru sekali bertemu, ya sewaktu di pengadilan!" ketus Ivana tanpa melihat wajah gadis yang mengajaknya berbicara.


"Tapi wajah kamu benar-benar tidak asing." Amanda bersikukuh dengan perkataannya.


"Ayolah... jangan banyak basa-basi denganku. Pulang sana!" usir Ivana.


Mata Amanda menyipit, masih berusaha keras mengingat siapa Ivana. Dan sejurus kemudian, dia menjentikkan jarinya. "Ah... aku ingat sekarang. Bukankah kamu gadis yang terombang-ambing di tengah-tengah pantai waktu itu? Betul, 'kan?"


Ivana turut mengingat-ingat perkataan Matthew yang mengatakan bahwa orang yang pertama kali menolong dirinya adalah calon tunangannya. Timbul perasaan rasa bersalah di dalam diri Ivana. Karena bagaimanapun juga, dia bisa selamat dari maut, itu berkat kebaikan hati Amanda.


"I-iya, aku gadis itu," jawab Ivana. "Ja-jadi, kamu wanita yang menolongku?"


Senyuman mengembang di bibir Amanda, kekesalan jua kecemburuan sirnalah sudah. "Aku sangat bahagia melihat kamu baik-baik saja, Ivana."


"Terima kasih banyak, Amanda..." balas Ivana. "Lalu, dengan apa aku bisa membalasnya? Sebab aku tidak ingin terhutang budi."


Amanda menarik lengan Ivana. "Ikut denganku sekarang!"


"Ta-tapi ke mana?" Ivana bingung, haruskah ikut dengan Amanda atau kembali pergi menjauh.


"Pokoknya ikutlah denganku..." Amanda tidak ingin membuang waktu dengan percuma. Dia membetot lengan Ivana, meski gadis itu terus saja bertanya.


"Ta-tapi?" tolak Ivana.


"Tidak ada tapi-tapi!" seru Amanda.


Ivana akhirnya pasrah, tubuhnya diseret kasar oleh Amanda. Dia menyesal sudah menanyakan dengan cara apa membalaskan budi atas apa yang Amanda lakukan terhadapnya.


Sudah sepuluh menit mereka berpacu dengan waktu dan langkah. Dan kini, keduanya berdiri memaku di hadapan pria yang duduk tegang di atas kursi roda.


"Ivana?" lirih Matthew, berkabut bahagia.


"Matthew..." balas Ivana, tak kalah berbunga-bunga.

__ADS_1


Keduanya tidak lagi malu-malu memperlihatkan perasaan satu dengan yang lainnya. Hingga melupakan ada hati yang seharusnya mereka jaga.


"Kenapa tidak menjengukku?" Matthew tidak tahan untuk mengungkapkan isi hatinya.


"I-itu, aku. Mommy sama daddy mengajakku pulang ke desa," kilah Ivana.


"Benarkah?" tekan Matthew. "Lalu, kenapa kamu tidak menemuiku? Kamu ke Rumah Sakit untuk bertemu denganku, 'kan?"


"I-iya. A-aku tadi ke ruang perawatan, ta-tapi suster bilang kamu baru saja keluar." Ivana terlihat sangat gugup sebab dia bukanlah orang yang pandai mengarang cerita.


"Ivana, apa kamu tidak tahu kalau aku sangat merindukanmu...?" tanya Matthew tanpa sadar. Dia sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lantaran kerinduan dan kebahagiaan bergumul di dalam dada.


"A-aku tidak tahu," sahut Ivana. "Ta-tapi yang pasti, aku juga merindukanmu..." sambungnya tanpa ragu.


Sepasang sejoli tersebut saling membalas tatap dengan bibir tertutup rapat. Mengeskpresikan apa yang terpendam di dalam hati dan sulit diutarakan dengan kata-kata.


Hati wanita mana yang tidak akan terluka, ketika melihat sang kekasih hati menatap gadis lain dengan pandangan penuh cinta. Meski mulut selalu menutupi. Namun, kedua mata berbicara. Keduanya sama-sama memiliki perasaan, yang lebih dari sekedar hubungan adik dan kakak.


"Kamu harus tahu diri, Amanda!!" batinnya.


Perlahan, Amanda berjalan mundur menjauh. Hatinya tercabik menyadari bahwa dia tidak lagi berada di hati sang kekasih. Ruang yang dulu hanya ada dirinya, kini telah tergantikan oleh wanita lain. Walaupun tidak ada kata cinta dari bibir Matthew untuk Ivana. Namun, dia bisa melihat perasaan tak biasa dari sorotan mata lelakinya itu.


Pandangan Matthew sontak beralih pada wanita yang tengah terguncang hatinya. "A-Amanda? Mau ke mana sayang?"


Amanda tersenyum miris dengan kaki tak berhenti melangkah. Dia membalikkan badan, seketika berlari tanpa arah yang pasti.


"Amanda tunggu!!" pekik Matthew. Dia menjalankan kursi rodanya, mengejar Amanda yang berlari kencang. "Amanda!! Kumohon, berhenti..." teriaknya dengan rasa bersalah yang membuncah.


Amanda tidak mengindahkan teriakan Matthew. Dia terus berlari seraya menyeka air mata yang berderai lara. Telinganya menuli meski Matthew tiada henti memanggil namanya.


"Amanda... kenapa kamu pergi?" panggil Matthew dengan suara parau.


"Apa kamu tidak menyadari kesalahanmu, Nak...?" lirih Allison yang turut menyusuli putranya.


Matthew menghentikan laju kursi rodanya dan menoleh ke arah sang ibunda. "A-apa maksud Mom?"


"Kamu benar-benar tidak menyadarinya?" Allison menyorot tajam mata sang anak.

__ADS_1


"Ah... apa gara-gara aku bilang rindu pada Ivana?" desah Matthew. "Amanda cemburu pada gadis itu? Mom sendiri tahu, 'kan, kalau aku hanya menganggapnya adik?!" kelit Matthew, membohongi diri.


Allison menghela napas panjang, lantas berjongkok di depan putranya. "Nak... tanya pada hati kecilmu. Siapa yang sebenarnya kamu cintai? Amanda atau Ivana?"


Matthew terkekeh, "Come on Mom! Ya jelaslah Amanda yang aku cintai!!"


"Benarkah?" Allison balik bertanya. "Tapi Mom maupun Amanda bisa melihatnya," tambahnya dengan kalimat ambigu.


"Melihat apa Mom?" Matthew mulai emosi.


"Kami bisa melihat cinta dari pancaran matamu ketika menatap Ivana," jawab Allison.


"What?" Matthew tertawa hambar. "Nonsense!! Mom terlalu mengada-ada!!" sinisnya. Padahal jauh di dalam hati, dia tengah berperang dengan perasaannya sendiri.


"Hanya hatimu yang tahu jawabannya," tunjuk Allison ke arah dada Matthew. "Mom hanya bisa mengingatkan, kamu jangan memberi keduanya harapan. Tegaskan, siapa yang akan kamu pilih. Amanda yang sudah bertahun-tahun membersamaimu atau Ivana, gadis yang belum lama kamu kenal?!"


Perkataan Allison berhasil membuat Matthew terbungkam, meski sebelumnya masih bisa berkelit dan bersikukuh melawan kata hatinya.


"Pikirkan ucapan Mom baik-baik, Nak. Mom cuman tidak ingin, kamu salah mengambil langkah." Allison berdiri dan membungkukkan punggung. "Sekarang kita temui gadis itu, ya?"


Matthew menganggukkan kepala, menuruti perkataan Allison. Otaknya membeku sesaat, mencerna setiap perkataan sang ibunda terhadapnya.


Allison memutar kursi roda dan mendorongnya ke tempat semula. Ivana menanti dengan perasaan campur aduk. Tidak ada sedikit pun terlintas di dalam hati gadis itu untuk melukai hati Amanda. Semua terjadi begitu saja, tanpa bisa dikendalikan.


Cinta yang bergelora, memburu di dalam hati. Terlebih usia yang masih sangat belia, sulit untuk Ivana menekan serta menyembunyikan perasaannya.


"A-Amanda ke-kenapa, Matthew?" tanya Ivana, bimbang. "Ke-kenapa dia pergi begitu saja? Ba-bawa dia kembali...."


Allison tersenyum tipis, lanjut merengkuh kedua pundak Ivana. "Amanda tidak kenapa-kenapa, tidak perlu cemas ya...."


"Ta-tapi...."


"Ivana!!" panggil seorang wanita. "Mom mencarimu ke mana-mana, ternyata kamu ada di sini!!" ungkapnya, dengan napas tersengal-sengal.


"Ma-maafkan Ivana, Mom. Ta-tadi...."


"Ayo, pulang!!" Natasha membetot lengan putrinya sebab tidak ingin gadisnya itu terlalu lama berdekatan dengan Matthew.

__ADS_1


Meski pemuda tersebut banyak berjasa pada Ivana. Namun, Natasha tidak ingin masa depan putri satu-satunya itu terputus lantaran mencintai pria yang jarak usianya terpaut sangatlah jauh.


...*****...


__ADS_2