Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 85 Hidup dan Mati


__ADS_3

"Silakan duduk," tunjuk dokter ke arah kursi kosong di hadapannya.


Amanda mengangguk dan menurunkan tubuhnya di atas kursi yang dipersilakan untuknya. "Terima kasih, Dok...."


Sang dokter menaruh kedua tangan di atas meja, lanjut menghela napas berat. "Mengenai kondisi pasien...."


"Iya, Dok?" potong Amanda, tidak kuat menahan rasa penasaran. Dia ingin mengetahui kondisi terkini madunya itu sesegera mungkin.


Dokter kembali menghembuskan napas, terlihat sekali guratan kebimbangan dari paras pria yang mengenakan jubah medis tersebut. "Operasi berjalan lancar dan pasien selamat...."


"Ya Tuhan... terima kasih, Tuhan. Terima kasih..." pekik Amanda mengatup kedua tangan seraya menatap ke atas langit-langit ruangan.


"Tapi...."


"Ta-tapi apa, Dok?" Pikiran Amanda mulai kalut sebab di balik kata tapi selalu ada kabar yang tidak ingin dia dengar.


"Tapi kesempatan pasien untuk hidup tidaklah lama. Dia sekarang masih bisa tetap hidup karena bantuan alat-alat medis. Sekali saja alat itu dilepas, maka nyawanya tiada saat itu juga," jelas dokter, meski berat pada awalnya. Namun, kejelasan mengenai kondisi Lavina harus disampaikan kepada keluarga pasien.


Abigail yang menguping dari celah-celah pintu, merasa sangat terpukul. Tubuhnya melemas, terduduk di atas lantai sembari sesenggukan. Padahal dia sudah berkhayal setinggi langit, pergi jauh lalu hidup bahagia bersama sang pujaan hati.


"Kenapa Tuhan, kenapa...?" raung Abigail menjambak kasar pucuk rambutnya sendiri. Dia menarik kedua kaki, lalu membenamkan kepala di antara lutut-lututnya. Isak tangis menggema, tidak kuat menahan kesedihan yang teramat menghunus hati.


"A-Abigail, kau sedang apa di sini?" Amanda terperangah melihat sosok pemuda, duduk meringkuk dengan suara isakan yang terdengar pilu.


Pemuda itu mendongak, kedua matanya sembab ditemani linangan air mata yang mengalir di kedua pipinya. "Aku sudah mendengar semuanya. Aku sudah tahu kondisi Lavina sesungguhnya. Dia hidup, tapi tidak dapat bergerak...."


Amanda melungsurkan tubuhnya dan berjongkok di depan pemuda tersebut. "Kuatkan dirimu, Abigail. Aku tahu tidak mudah menerima semua ini, tapi dia akan selalu hidup di hati orang-orang yang mencintainya."


Abigail menyeka air mata dan menyusut cairan yang menetes dari dalam hidungnya. "Tapi aku ingin dia hidup, benar-benar hidup. Aku ingin melihat senyumannya. Aku ingin mendengar suaranya. Aku merindukannya, Nyonya Amanda. Aku merindukan Lavina...."


Isak tangis pecah seketika, raungan jua rintihan bersahutan dari bibir yang bergetar lantaran kesakitan di dalam hati. Di saat rasa cinta semakin berbunga, di saat itu juga Tuhan rampas dalam sekejap mata.

__ADS_1


"Kamu harus kuat, Abigail. Demi Lavina..." lirih Amanda, tidak ingin pemuda di hadapannya itu larut dalam keterpurukan.


"Bagaimana aku bisa kuat, jika sumber kekuatanku adalah Lavina sendiri? Dan sekarang lihat wanitaku! Dia terbaring, tidak berdaya di sana..." jawab Abigail, tak kalah lirih.


Amanda terduduk lesu, dengan kepala menunduk serendah-rendahnya. Apa yang dirasakan oleh Abigail saat ini, dia turut merasakannya juga. "Aku tetap berharap akan ada keajaiban datang untuk Lavina...."


"Tidak ada lagi harapan, semuanya telah sirna. Tuhan telah memanggil Lavina untuk kembali ke sisi-Nya," jawab Abigail, meratap.


"Kalau kamu mau, kita bisa membawa Lavina berobat ke Netherlands, untuk ditangani oleh dokter terbaik di dunia," ujar Amanda memberikan harapan. Namun, terdengar sekedar omong kosong.


Abigail tak lagi mampu berucap, dadanya terlalu sesak mengingat sang kekasih yang kini tak ubahnya mayat hidup. Bernapas, tetapi tubuhnya terbujur kaku. Menunggu hari kematian itu tiba.


...***...


Lima jam menuju sidang penentuan kasus Lucas, keadaan di kantor polisi sangatlah tegang. Sebab pria yang menyeret pria tua itu ke hadapan pengadilan masih dilanda kegelisahan. Dia takut, takdir Tuhan tidak sejalan dengan keinginannya. Dia takut hasil yang didapatkan, akan mengkhianati kerja keras. Dia juga takut, semuanya berakhir sia-sia.


Bukan nama baik ataupun pangkat yang dia pikirkan, melainkan keadilan bagi korban-korban kebiadaban Lucas. Andai kata kali ini Lucas lolos dari jeratan hukum, maka akan banyak Ivana-Ivana lainnya yang bernasib serupa.


Anak buah Samuel menggelengkan kepala, dengan kedua mata tetap fokus pada layar komputer. "Sedikit lagi, Kapten."


"Cepatlah!!" sentak Samuel, dilanda frustrasi. Bagaimana dia bisa tetap tenang. Sementara, waktu terus bergulir dan persidangan akan digelar beberapa jam lagi.


Jemari menari-nari, sepasang netra tak teralihkan dari layar komputer. Di mana deretan kode-kode yang sulit untuk dipecahkan, akhirnya berhasil diretas juga. "We got it (Kita mendapatkannya), Kapten!!"


"Di mana?" sahut Samuel, antusias. Dia menatap layar komputer dan munculah titik lokasi tempat Ivana disekap. "Bukankah daerah itu tidak jauh dari sini?" pekik Samuel, bersemangat.


"Betul, Kapten! Tapi medan jalan menuju tempat itu sangatlah riskan. Kita membutuhkan waktu kurang lebih dua jam untuk bisa sampai ke titik lokasi," jawab sang anak buah.


"Terima kasih, kau memang paling bisa kuandalkan!" puji Samuel pada bawahannya tersebut. "Kalau begitu, kita jangan membuang-buang waktu lagi!" tambahnya, dengan semangat berapi-api.


"Sama-sama, Kapten!" sahut sang anak buah, seraya memberi hormat.

__ADS_1


Samuel langsung bergegas meminta seluruh jajarannya untuk berkumpul di ruang khusus. Dan tanpa menunggu lama, belasan orang yang terdidik dan terlatih dalam misi penyelamatan, telah berdiri tegap di dalam ruangan tersebut.


"Apa kalian sudah siap?" tanya Samuel, kepada semua orang.


"Sudah, Kapten!" jawab orang-orang serempak.


"Bagus...! Tim Leopard, tugas kalian adalah memantau kondisi di luar tempat penyekapan," tunjuk Samuel pada tiga pria yang mengenakan rompi anti peluru.


"Siap, Kapten!" sahut tim Leopard.


"Dan untuk Tim Tiger, kalian alihkan perhatian para anak buah Lucas agar rekan-rekan kalian bisa menyelinap dengan aman!" titah Samuel pada tim kedua.


"Siap, Kapten!!" sahut tim Tiger, menderapkan kedua kakinya serentak.


"Dan terakhir untuk Tim Lion. Tugas kalian paling berat juga berbahaya! Kalian menyelinap masuk dan selamatkan tawanan, dalam kondisi selamat!" perintah Samuel pada orang-orang terpilih. "Ingat, dalam kondisi selamat!!"


"Siap Kapten! Perintah, kami terima!" sahut tim Lion, pasti.


"Saya bangga dengan dedikasi kalian!!" pekik Samuel menanamkan semangat berjuang. "Ingat apa semboyan kita?" teriaknya, dengan suara dalam.


"Ingat, Kapten!!" sahut semua orang. "Semboyan kesatuan unit Panther Lima. Satu, nyawa orang lain berada di atas nyawa kami. Dua, rela mengorbankan jiwa, demi membela keadilan serta kebenaran. Dan tiga, ikhlas menumpahkan darah demi negara yang aman dan sentosa!"


Samuel mengangguk-anggukkan kepala lanjut menepuk-nepuk tangan memberikan energi positif. "Kalau begitu, bergeraklah sekarang juga! Pantang pulang sebelum target berhasil ditemukan dan dibawa kembali pulang!"


"Siap, Kapten!!" jawab semua orang berbarengan, kemudian berhamburan untuk mempersiapkan segalanya. Terutama senjata api, granat juga senjata tajam yang akan sangat dibutuhkan dalam aksi penyerangan.


Samul mendengkus, lalu melihat jam yang menggantung di atas dinding. Sudah menunjukkan pukul empat pagi. Tersisa kini kurang lebih lima jam lagi. Dia berharap di sisa waktu tersebut dapat berhasil menyelamatkan Ivana.


"Bantu kami, Tuhan...."


...*****...

__ADS_1


__ADS_2