Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 42 Kebakaran


__ADS_3

Anak buah Lucas berlarian dengan Lucas mengekor di belakang. Mereka begitu waswas akan suara ledakan yang terdengar sangat jelas, yang diyakini suara itu berasal dari sekitar istana.


Mereka menghentikan gerakan kaki, ketika indra penglihatan menangkap kepulan asap hitam yang menggumpal. Asap itu keluar dari atap gudang.


Semua orang bergegas untuk mengambil alat pemadam kebakaran yang tersimpan rapi di lorong, di samping tempat mereka berdiri.


"Ayo cepat! Lenglet sekali kalian!!" geram Lucas pada anak buahnya. Padahal mereka sudah bergerak secepat mungkin. Namun, Lucas sudah sangat ketakutan kalau api tersebut menjalar ke bagian istana yang lain.


"Ada apa ini, Lucas?" tanya Bellen yang juga mendengar suara ledakan, disusul Lavina yang sama-sama turut menghampiri.


"Kenapa gudang bisa terbakar seperti ini, Lucas?" Lavina ikut menimpali. "Mana isinya minuman beralkohol, lagi!!" sambungnya yang hanya menambah kepanikan.


Lucas tidak mempedulikan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kedua istrinya. Dia hanya fokus pada kobaran si jago merah yang semakin rakus melahap apa pun di sekitarnya.


"Cepat kalian semprot apinya! Padamkan cepat...!!" teriak Lucas pada anak buah yang berlalu lalang memadamkan api dengan alat yang tersedia di istana.


"Ini pasti ulah Amanda, tadi aku tidak sengaja bertemu dengannya di sini!" Bellen tiba-tiba berseloroh menambah runyam keadaan.


Lucas menggeram berang lantas memutar kepalanya ke samping. "Apa yang kamu bilang barusan, Bellen? Katakan sekali lagi!!!"


"Aku tadi bertemu Amanda di sini. Tepat di tempatmu berdiri sekarang ini," ungkap Bellen lagi-lagi menuduh Amanda tanpa bukti. Dia sangat senang memfitnah madunya lantaran gadis itu mengetahui rahasia besarnya. Yakni berselingkuh dengan orang kepercayaan Lucas, Leo.


"Bertemu di sini, bukan berarti menuduh Amanda seenaknya!" sergah Lavina membela istri baru lucas. Dia sangat yakin perempuan malang itu tidak akan sampai berani berbuat sedemikian rupa. Meski Lucas telah menyakiti serta membunuh ayahnya tanpa belas kasihan.


"Kenapa kamu terus membela wanita sialan itu, Lavina?" protes Bellen lantaran perempuan di sampingnya tidak ingin bersekutu dengan dirinya.


"Aku bukan membela, tapi aku tidak mau orang lain dirugikan karena mulut rombengmu itu!" jawab Lavina ketus.

__ADS_1


"Kau!!" tunjuk Bellen jengkel.


"Apa kalian tidak bisa diam, hah...??" teriak Lucas meradang lantaran kedua istrinya hanya menambah pusing pikiran. "Kalau di sini cuman bisa merecoki, kalian pergi saja atau sekalian masuk ke dalam kobaran api!" berangnya rasa ingin menghajar kedua perempuan itu tanpa ampun.


"Aku cuman ingin memberitahumu siapa yang telah membuat gudang ini meledak!" kelit Bellen masih saja menuding Amanda dengan tuduhan tak berdasar.


Lavina menarik lengan Bellen agar menjauh dari tempat kejadian kebakaran. "Kamu terlalu banyak bicara, Bellen. Ayo kita pergi dari sini, sebelum Lucas benar-benar murka dan menghukum kita!"


Bellen mencebik dan menarik tangannya dari genggaman Lavina. "Lepas! Aku bisa jalan sendiri, tidak perlu kamu tarik-tarik begini!!"


Bellen berjalan terlebih dahulu setelah membuat kekacauan di antara kepanikan. Wajahnya sumringah seperti habis melakukan hal menyenangkan. Raut tanpa dosa terus terukir menemani langkah kaki, menantikan drama selanjutnya yang akan terjadi.


Sementara itu Lucas terus melihat ke arah si jago merah yang tak jua padam. Sedangkan pemadam kebakaran belum juga sampai. Dia menyugar rambutnya frustasi sebab jilatan api mulai merambah ke bagian depan istana.


"Ah... brengsekk!! Kalau begini, aku akan mengalami kerugian besar-besaran!!"


"Ayo terus padamkan apinya. Kenapa kalian tidak becus sama sekali!!" erang Lucas sembari menendang-nendang bokong anak buah yang berada di dekatnya.


"Kenapa kalian lama sekali?" protes Lucas sebab bantuan terlambat datang. Bukan salah mereka sebetulnya lantaran untuk masuk ke dalam istana benar-benar ketat. Mereka dipersulit oleh orang suruhan Lucas yang berjaga di depan istana. "Copot saja seragam kalian itu kalau tidak bisa bekerja dengan profesional!!" kesalnya yang tidak mendapat respon apa pun dari pria-pria yang mengenakan pakaian berwarna biru tersebut.


Para anggota pemadam kebakaran hanya konsentrasi pada pekerjaan mereka yang sangat beresiko agar segera selesai dan bisa menyelamatkan nyawa serta harta berharga yang berada di bangunan megah tersebut.


Dua jam sudah terlewati dan akhirnya api pun mati. Di mana kondisi orang-orang sudahlah sangat kelelahan. Yang terlihat kini hanyalah puing-puing bangunan bagian belakang istana serta abu sisa kebakaran yang amat dahsyat.


Lucas hanya menatap nanar, mengingat sudah dua kali kejadian serupa menimpanya. Dia memilin pelipisnya sembari berkacak pinggang, gusar akan rentetan peristiwa naas dalam kurun dua minggu ini. Lucas merasa bimbang, padahal penjagaan di istana sangatlah ketat. Akan tetapi, lagi dan lagi dia kecolongan.


"Apa benar ini ulah Amanda? Atau jangan-jangan perbuatan orang-orang yang sama. Orang-orang yang sudah menghancurkan gudang bawah tanahku?" gumam Lucas bingung sebab dia tidak mendeteksi akan kehadiran orang asing di istananya.

__ADS_1


Semua orang tengah terkapar tak berdaya setelah dua jam lebih bergulat dengan lalapan api yang memanggang apa pun disekitarnya, tetapi Lucas tetap larut dengan isi pikiran. Dia sibuk menduga-duga pelaku di balik kebakaran yang terjadi malam ini.


"Siapa yang sekarang bermain-main dengan Lucas Denver? Seekor kelinci? Tupai atau hanya belatung menggelikan?" gumam Lucas menerka-nerka.


...***...


"Ya ampun, Nyonya... kenapa Anda bisa dipasung seperti ini?" Lady tidak sengaja melihat istri majikannya terkukung oleh benda yang terbuat dari kayu tersebut. "Apa ini kelakuan tuan Lucas?" tanyanya sembari mencari kunci rantai besi.


"Iya, Lady. Ini tingkah langkah tuanmu yang berhati iblis itu!" jawab Amanda penuh kebencian. Bagaimana tidak, kehadiran Lucas di hidupnya selain telah merenggut kebahagiaan yang dicipta-ciptakan. Dia pun menghancurkan masa depan yang diangankan. Pria biadab itu telah meluluh lantakan jiwa dan raganya, yang tersisa kini hanya kesakitan yang mendalam.


"Tuhan... kenapa tuan Lucas sangat kejam? Setiap orang dibuat menderita olehnya," lirih Lady mengitari setiap sudut ruangan. Membuka laci-laci lemari, menyingkap kain-kain dan karpet yang terbentang di atas lantai.


"Di mana kunci itu!" gerundel Lady karena tidak berhasil menemukan benda dari besi tersebut si mana pun.


"Tidak apa-apa Lady, pergilah! Aku tidak mau kamu memperoleh kesulitan lantaran membantuku lepas dari jeratan sialan ini," kata Amanda penuh pengertian.


Lady menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak Nyonya, Anda adalah majikan saya. Sudah sepantasnya saya mengabdi pada Nyonya."


Senyuman manis tersimpul di antara bibir nan tipis Amanda. "Ternyata di istana ini, masih ada orang baik. Kamu juga Lavina. Terima kasih, Lady...."


"Sama-sama, Nyonya." Lady tersenyum tipis dengan mata berkaca-kaca. "Maaf Nyonya, aku tidak menemukan kunci pasung ini. Sepertinya benda tersebut dibawa oleh tuan Lucas."


"Iya Lady, sekarang pergilah. Sebelum Lucas atau anak buahnya datang ke mari dan memergokimu di sini," usir Amanda cemas kalau Lady akan terseret karenanya.


Lady mengangguk pelan. "Baik, Nyonya. Saya pergi sekarang... tapi nanti saya akan kembali lagi membawa perkakas buat menghancurkan rantai besi ini."


"Terima kasih, Lady. Berhati-hatilah... anak buah Lucas ada di mana-mana," imbuh Amanda mengingatkan.

__ADS_1


"Siap, Nyonya. Saya pergi dulu." Lady mengendap-endap keluar dari ruangan pribadi Lucas, menuju dapur. Kembali ke tempat di mana para maid berdiam diri dan menghabiskan hari-hari.


...*****...


__ADS_2