
Kondisi di istana Black Angel dini hari, telah dipenuhi oleh para wartawan yang akan meliput di tempat kejadian perkara. Mereka menerobos keamanan istana, ketika ambulan hilir mudik untuk mengevakuasi orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Terkhusus Amanda beserta Lucas.
Titik-titik api pun sudah sepenuhnya padam. Kini situasi istana kembali aman terkendali, meski keadaannya sangat kacau juga acak-acakan. Para penghuni istana duduk meringkuk meredakan trauma akibat kebakaran hebat tersebut. Pandangan mereka kosong sebab bayang-bayang kobaran api dan suara ledakan maha dahsyat, seakan masih menghantui. Bertahun-tahun bekerja di kediaman Lucas, baru kali ini mereka mengalami hal luar biasa mengerikan.
Sementara itu, Lucas terbaring lesu di atas brangkar dengan tangan dibelit perban. Namun, walau begitu amarahnya belumlah usai. Mengingat kekalahan kali ini, tidak bisa diterima begitu saja. Dia akan mencari pria yang berani bermain-main dengannya, meski harus ke ujung dunia sekali pun.
"Awas saja, lambat laun aku akan mendapatkanmu, pengecut!!" geram Lucas. Dia mengeluarkan ponsel menggunakan salah satu tangannya, lalu menghubungi inspektur Gibson.
📱
Istanaku diserang orang tidak dikenal.
Aku ingin kamu bergerak lebih cepat dan mendapatkan identitas orang itu dalam dua hari ini. Jika kamu gagal, maka ucapkan selamat tinggal pada pencalonanmu sebagai kepala daerah!!
Setelah memberikan ancaman pada Gibson melalui sambungan telepon, pikiran Lucas kembali melanglang buana. Memikirkan kejadian demi kejadian malam ini yang seakan sambung-menyambung, saling bertautan.
"Ada hubungan apa Amanda dengan pria sialan itu? Apa benar, dia ada kaitannya dengan peristiwa kebakaran ini, seperti yang dikatakan Bellen?" Lucas bertanya-tanya pada dirinya sendiri. "Ah... nanti aku interogasi saja gadis itu kalau sudah siuman!" gumamnya sembari merasakan nyeri yang mendera di tangan kiri.
Sedangkan Amanda, dia dibawa oleh tim medis menggunakan ambulan berbeda seraya ditemani Lavina. Perempuan muda itu hingga saat ini belum juga sadarkan diri. Sebab dia terlalu banyak menghirup asap pembakaran. Mungkin saja kalau Samuel terlambat datang, maka nyawanya melayang sia-sia.
"Kira-kira siapa pelaku peledakan ini?" tanya Bellen pada Leo sembari menatap satu per satu ambulan yang melaju membawa suami dan madunya.
Leo memainkan janggut tipis di dagunya seakan tengah memikirkan sesuatu. "Apa hal ini penting untuk dibahas, honey?"
Bellen melirik dan tersenyum licik lantas melipat kedua tangannya di atas dada. "Tidak penting sebetulnya selama kita berdua baik-baik saja, tetapi aku sekedar penasaran siapa laki-laki penyusup itu? Dan kenapa juga dia mau bersusah payah untuk menolong Amanda? Padahal waktu kejadian, api sedang besar-besarnya!"
__ADS_1
Leo terkekeh, "Nampaknya akan sangat menarik kalau kita memanfaatkan semua itu untuk mendepak Amanda dari istana ini. Setidaknya, salah satu orang yang mengetahui hubungan kita berkurang satu per satu."
Bellen menarik bibirnya ke salah sudut. "Akan lebih menarik kalau bisa membuat perempuan itu mati di tangan Lucas!!"
"Kamu memang sadis, honey... tetapi itulah yang aku suka darimu!" Leo meremass gemas bokong Bellen lalu menelusupkan jari telunjuk ke tengah-tengah bongkahan padat nan besar tersebut.
"Leo... please, jangan sekarang! Masih banyak orang di sini. Kalau ada yang memergoki, itu sama saja kita bunuh diri mengantarkan nyawa pada Lucas!" tolak Bellen akan hasrat Leo yang tak tahu tempat. Pria berusia empat puluh tahun itu menarik lengan Bellen, membawanya ke samping istana yang sepi dan luput dari pemeriksaan polisi.
"Aku sudah tidak bisa menahannya, Bellen. Kamu terlalu menggairahkan!" Tanpa melakukan foreplay terlebih dahulu, Leo membalikkan badan Bellen lantas menghimpitnya.
Pria mesum itu menarik dress mini ke atas dan langsung saja memasuki bagian tubuh terdalam wanitanya dari arah belakang. Ke-maluan Leo yang telah ereksi sempurna, menembus titik senggama yang kering nan sempit.
"Oh... Leo!!" desah Bellen saat milik Leo telah masuk seluruhnya.
Suara-suara seksi lolos. Namun, sedikit tertahan oleh jemari Leo. Bellen menyesap jari kekasihnya untuk melampiaskan rasa geli dan nikmat dalam satu waktu.
Leo menghajar rahim Bellen tanpa ampun. Dengan tangan satunya memainkan payudara yang membusung dari balik dress berdada rendah. Dia begitu menikmati pergumulan bersama sang kekasih. Walau pun harus berpacu dengan adrenalin sebab rasa khawatir ada yang memergoki kelakuan jalangg mereka. Akan tetapi, mau bagaimana lagi bila nafsuu sudah mengalahkan akal sehat. Semuanya diterobos demi kepuasan batin.
Cukup lama kedua manusia tak tahu malu itu memuaskan birahi mereka. Kulit keduanya kini meremang sebab merasakan desakan kuat dari dalam ke-maluan. Leo mempercepat goyangannya, membuat tubuh Bellen menggelinjang lalu mengejang dengan bagian inti berdenyut-denyut lantaran mendapatkan puncak kenikmatan.
Leo masih menyodok-nyodokkan miliknya disertai erangan yang bersahutan di antara suara paraunya. Gerakan panggulnya semakin tak terkendali, Leo melolong panjang kemudian menarik kepala Bellen dan memutahkan lahar panas ke dalam mulut wanitanya.
Seseorang yang mengintip dua sejoli sedari tadi, telah mengabadikan adegan-adegan menggiurkan di depan mata, menggunakan kamera ponsel miliknya. Tidak tahu apa yang akan dia lakukan pada rekaman tersebut. Yang pasti seseorang itu menyeringai senang karena di dalam otaknya yang culas telah muncul rencana-rencana jahat.
...***...
__ADS_1
Kelamnya malam telah tergantikan dengan hangatnya pagi. Di mana cahaya purnama tersisih oleh sang surya yang terpancar mesra di antara bentangan mega putih.
Dua insan yang tak memiliki ikatan, tertawa dan saling bercanda. Mereka menikmati keindahan langit biru cerah seraya menyantap hidangan makan pagi.
"Kalau Tuhan mengizinkan, ingin rasanya aku tinggal di tempat ini selamanya, tapi aku punya kehidupan lain. Kehidupan yang lebih nyata dari sekedar keinginan," ucap Ivana membuka percakapan.
Matthew menoleh seraya tersenyum simpul, memperlihatkan lesung pipi yang menambah parasnya semakin memesona. "Ntah mengapa setiap kamu bicara, aku melihat diri Amanda ada di dalam dirimu. Padahal kalian adalah orang yang berbeda."
Ivana mendesah kecewa, raut ceria pudar seketika. Tergantikan oleh kabut kesedihan. Kepala yang mendongak, sontak tertunduk lesu. Dia bergumam, dengan suara serendah mungkin. "Ya Tuhan... apa di dalam otak Matthew hanya ada perempuan itu? Selalu dan selalu nama Amanda yang dia sebut!"
"Kamu berkata apa?" potong Matthew lantaran mendengar suara samar-samar dari mulut Ivana. Namun, sayangnya dia tidak bisa mendengar bisikkan gadis itu sebab terselip suara deburan ombak.
"A-apa?" Ivana tersentak.
"Kamu bicara apa? Tadi sepertinya kamu mengucapkan sesuatu, tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas," jawab Matthew.
Ivana mengerutkan keningnya, berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang dipertanyakan Matthew padanya. "A-aku tidak berkata apa-apa. Mungkin, kamu salah dengar...."
Matthew memiringkan bibirnya sekilas lalu memonyongkan ke depan. "Iya, mungkin aku salah dengar. Pikiranku terlalu dipenuhi oleh Amanda dan Amanda. Maaf ya...."
Ivana tertawa hambar. "Tidak perlu bilang maaf, kamu tidak melakukan kesalahan apa pun."
Ivana mengalihkan tatapannya dari Matthew, ke arah ombak yang tenang. Begitu pun juga dengan Matthew, dia turut menatap pantai yang damai. Membiarkan isi kepala berkelana sejauh yang ia mau.
...*****...
__ADS_1