Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 76 Batu


__ADS_3

"Jangan berlagak sok jual mahal!!" cibir Samuel, mendorong dada Amanda hingga punggung gadis itu menghentak batang pohon. Amanda meringis kesakitan. Namun, tidak menyurutkan kebengisan seorang Samuel saat ini. "Suamimu telah memerkosa kekasihku dan sekarang dia menyuruhku untuk memerkosamu, sebagai bentuk pembalasan yang sepadan!" Samuel merobek lengan baju Amanda lalu merapatkan tubuhnya.


"Ka-kamu mau apa?" Amanda memalingkan wajah, tidak ingin bertatapan dengan pemuda yang memandanginya bak seekor serigala kelaparan.


"Aku mau kamu!" Samuel menarik wajah Amanda dan menekan kuat kedua pipinya hingga bibir sang gadis mengerucut. "Lucas bilang kalau kamu masih perawan dan aku ingin membuktikan omongannya. Hanya itu..." desah Samuel, kemudian membetot kasar kemeja Amanda, sampai kancing-kancingnya terlepas dan berloncatan ke sembarang arah.


Amanda sontak menelungkupkan kedua tangan untuk menutupi payudara mengkal yang terekspos sempurna. Lantaran ukurannya yang besar, cup bra pun tidak mampu menutupinya.


Tubuh Samuel membeku, sebagai seorang lelaki normal, keteguhan hati pun mulai dipertaruhkan. Sebab sepasang mata liarnya langsung saja terpaku pada dua gundukan yang menggoda jiwa, seakan berkata padanya nikmati aku, jamahi aku.


kerongkongan turun naik, bersamaan dengan saliva yang ditengguk secara kasar. Akal sehat pun tiba-tiba melayang, mata hati tertutupi oleh keindahan yang sangat sayang bila harus disia-siakan.


Sejurus kemudian, pria dingin tersebut berubah menjadi seekor serigala buas. Memangsa dan melahap apa pun yang berada di depannya tiada ampun. Hingga tercipta suara geraman dari napasnya yang berat.


"Lepas, bajingan!!" Amanda memukuli punggung Samuel sebab pria itu menyerang salah satu titik sensitifnya teramat rakus. Harga diri pun tercabik seketika, ternodai oleh lelaki yang menganggap dirinya lebih terhormat.


Bagaikan binatang yang tersiksa oleh dahaga. Samuel menyesap kuat payudara Amanda seraya meremass kasar. Namun, penuh gairah. Karena yang dirasakan pemuda itu saat ini bukanlah luapan amarah, melainkan hasrat kelelakian yang membutuhkan pelampiasan.


"Lepaskan aku, brengsek...!" teriak Amanda lagi. Dia terus memukuli punggung Samuel dan berusaha mendorong lengan lelaki tersebut agar menjauh dari tubuhnya. Namun, Samuel tidak mengindahkan teriakan Amanda dan terus mencecapi buah dadaa indah yang menjadikannya semakin menggila.


Pemuda itu melahap kedua payudaraa Amanda secara bergantian seraya meremas-remass dan menggigit puncak areola berwarna merah muda. Dia benar-benar dibuat lupa daratan oleh kemolekan tubuh sang gadis yang tengah dilecehkannya saat ini.


"Bedebah, sialan...!" teriak Amanda menukikkan sikut tangannya ke punggung Samuel. Lanjut meninjukan kepalan tangan ke arah batang hidung pria itu kemudian menendangkan kakinya ke bagian selangkangann Samuel, berulang kali.


Tubuh Samuel terjerembab, Amanda menendang perut pria itu habis-habisan. "Rasakan ini keparat!! Kamu dan Lucas tidak ada bedanya, sama-sama menjijikkan!! Kalian berdua manusia rendahan...!"


"Dan nikmati sajian terakhir ini, brengsek!!" Amanda menumbuk pelipis Samuel menggunakan sebongkah batu yang diambil dari atas tanah. Darah segar pun menetes dari balik kepala pria tersebut, Amanda tersenyum puas. "Aku akan selalu mengingat penghinaan terbesarmu hari ini, Kapten Samuel!" Amanda melempar batu itu sembarang arah lanjut meludahi muka Samuel.


Pemuda bernetra cokelat itu memegangi kepalanya seraya mengaduh kesakitan akibat luka dalam dari hantaman benda keras. Amanda tidak peduli sebab kebaikan hatinya telah tertutupi oleh perbuatan Samuel yang menyakiti kehormatan dirinya.


"Kamu jangan mati dulu, bajingan! Kamu harus tetap hidup untuk memperbaiki kelakuanmu yang rendahan itu!" Amanda pergi dari hadapan Samuel, menahan rasa yang berkecambuk. Marah, jengah, sakit hati juga terhina. Akan tetapi, dia tidak ingin sedikit pun menitikkan air mata untuk sesuatu hal yang tidak patut ditangisi.

__ADS_1


Sementara Samuel, dia menjulurkan tangan ingin menggapai tubuh Amanda yang semakin menjauh dari jangkauannya. Dan dunia pun tiba-tiba menggelap. Suara-suara kehidupan berubah senyap. Napas melemah, gerbang kematian sontak tersibak.


...***...


Rumah Sakit Magnolia


Jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang. Selama itu, pria yang semula terlengar di atas rerumputan mengawang di dunia halusinasi. Dia kira, hidupnya telah berakhir. Namun, ternyata pikirannya itu salah sebab cahaya kehidupan setitik demi setitik membias dari celah netra cokelatnya.


Kelopak mata meruak, pria yang terbujur di atas ranjang pasien mengedarkan tatapan. Dia pun kembali mengernyih sebab efek obat bius dalam darahnya, sedikit demi sedikit telah terkikis.


"Anda sudah bangun rupanya!" sapa seorang wanita yang mengenakan seragam medis berwarna putih bersih.


"Saya ada di mana?" tanya Samuel parau, merasakan kepala kliyengan.


"Anda berada di Rumah Sakit," jawab wanita tersebut. "Maaf, saya periksa dulu kondisi Anda..." Wanita itu menyalakan sebuah senter dan di arahkan ke pupil mata Samuel.


Pemuda itu sontak melengoskan kepala sebab tidak nyaman dengan cahaya yang menyilaukan mata. "Saya tidak apa-apa, Dok. Tidak perlu diperiksa!"


"Luka Anda lumayan dalam, Kapten Samuel!" sergah sang dokter memeriksa sebelah mata satunya.


"Jujur saja saya tidak mengenal Anda, tapi wanita yang bersama Anda semalam. Memanggil Anda dengan sebutan Kapten Samuel," papar dokter mengecek denyut nadi pasiennya.


"Seorang wanita?" Samuel kembali dibuat kebingungan sebab dia tidak memiliki siapa pun di desa ini selain teman karibnya, Jeanny.


"Iya, seorang wanita," jawab dokter melepas kancing pakaian Samuel untuk memeriksa detak jantungnya.


"Apa dia seorang dokter?" tanya Samuel penasaran.


Wanita dengan stetoskop melingkar di lehernya, mengerutkan kening. "Seorang dokter sepertinya bukan, tapi dia mengerti ilmu medis. Buktinya pendarahan hebat di kepala Anda, dia yang menghentikannya."


"Lalu di mana dia sekarang?" Ntah mengapa Samuel dibuat penasaran oleh sosok wanita tersebut.

__ADS_1


Dokter mendesah dan mengecek laju cairan infusan. "Wanita itu sudah pulang. Dia nampak ketakutan. Jadi, buru-buru pergi begitu saja setelah membayar semua biaya administrasi Rumah Sakit."


Samuel hendak bertanya kembali mengenai identitas wanita yang membawanya ke Rumah Sakit. Namun, kedatangan Jeanny mengalihkan pikirannya.


Dokter yang menangani Samuel pun langsung saja pamit undur diri sebab urusannya dengan pasien yang satu ini telah selesai.


"Kapten samuel yang terkenal tahan banting juga kebal peluru, rupa-rupanya bisa terluka juga!" sarkas Jeanny menertawakan kondisi Samuel dengan perban di sekujur badan.


Samuel mencebik dan mendelikkan mata tajamnya. "Tidak perlu kamu datang menjengukku, kalau hanya untuk mengejek dan mengolok-olok kondisiku!!"


Jeanny tergelak lalu duduk di samping Samuel, dengan buah apel dan sebilah pisau di tangannya. Dia mengupas kulit buah kesukaan pemuda tersebut lantas menyuapinya. "Bagaimana, manis?"


"Kecut!" jawab Samuel, kesal.


Jeanny geleng-geleng kepala dan kembali menyuapi Samuel dengan potongan buah apel. "Ceritakan padaku, kenapa kamu bisa seperti ini? Kamu berkelahi dengan seorang penjahat? Kamu berduel dengan preman? Atau....?"


"Atau apa?" Samuel menaikkan kedua alisnya.


"Atau... berduel dengan seseorang lantaran merebutkan seorang wanita cantik dan seksi?" sindir Jeanny sebab dia mendengar kalau yang membawa serta menjaga Samuel hingga tadi pagi adalah seorang wanita.


Samuel mendengkus kasar lalu kembali membaringkan badan seraya menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. "Kedatanganmu hanya membuat mood-ku semakin kacau, Jeanny!!"


Gadis itu pura-pura tertawa sebab dalam hatinya menyimpan rasa cemburu yang mendalam. "Berarti benar dugaanku. Kamu terluka seperti ini lantaran rebutan perempuan!"


"Tidak seperti itu, Jeanny!" geram Samuel sebab sahabatnya menuduh yang bukan-bukan mengenai dirinya.


"Lalu seperti apa?" tekan Jeanny, ingin mengetahui mengenai perempuan yang bersama teman dekatnya tadi malam.


"Nanti aku ceritakan! Sekarang kau keluarlah, aku ingin tidur!" usir Samuel, memunggungi sahabatnya itu.


Jeanny mendesah dan menatap sendu ke arah punggung Samuel. "Baiklah, kalau kau membutuhkanku titip pesan saja pada perawat yang berjaga di sini."

__ADS_1


"Hm..." sahut Samuel, lalu pura-pura mendengkur.


...*****...


__ADS_2