
Selepas kepergian Lucas ke kantor polisi, istana benar-benar hening. Tak ada satu pun penghuni yang memperlihatkan batang hidungnya. Para pembantu berdiam diri di dapur. Sementara Lavina juga Amanda, keduanya memilih mengurung diri di kamar.
Penjagaan istana pun semakin diperketat, sesuai dengan intruksi yang diberikan oleh Lucas sebelum dia diseret pergi dari kediamannya. Sedangkan Leo dan Bellen, keduanya bertolak ke Rumah Sakit dibawa menggunakan mobil ambulan.
Di dalam kamar, Amanda merasa sangat gusar. Dia berjalan mondar-mandir, sembari menggigit-gigit kukunya meredakan ketegangan.
Ntah mengapa sekarang ini, isi pikirannya dipenuhi oleh bayang-bayang Samuel. Fakta bahwa pria yang pernah mengecup bibirnya itu ternyata adalah seorang polisi, cukup mengejutkan jiwanya.
"Jadi, selama ini dia berada di sekitar istana, apakah untuk mematai-matai? Lalu, kejadian ledakan itu, dia memang merencanakan sesuatu?"
Amanda bertanya-tanya pada dirinya sendiri, di mana tak ada jawaban dari segala kegusaran. Di satu sisi dia bahagia bila suaminya itu mendapatkan karma dari atas perbuatannya.
Namun, di satu sisi lainnya. Bagaimana dia bisa terlepas dari status pernikahan? Akan lebih sulit baginya memutuskan ikatan dengan kondisi seperti saat ini.
"Semua ini membuatku bingung..." Amanda menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan mendengus kasar. Matanya terpejam lalu terbuka kembali. "Matthew... ya... Matthew!! Aku harus memberi tahu dia soal daddy-nya!" Amanda langsung bangkit untuk mengambil telepon genggam yang disembunyikan di dalam laci lemari.
"Handphone... handphone... nah, ini dia!" Amanda mengambil benda tersebut dan mulai mencari nomor mantan kekasihnya itu dari kontak telepon. "Matthew..." Setelah mendapatkan nomor yang dicari, Amanda langsung mencoba untuk menghubungi. Akan tetapi, sayang sekali tidak dapat tersambung.
"Tidak aktif rupanya. Kalau begitu, aku mengirimkan pesan singkat saja. Jadi, pas ponselnya nyala, dia bisa membaca pesanku." Amanda mengetik beberapa kata lalu dikirimkan ke nomor yang dituju.
Gadis bernetra biru itu kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata, menyambut uluran mimpi-mimpi indah yang tidak dapat dia raih di dunia nyata.
...***...
Sementara di dalam kamar yang letaknya berseberangan dengan kamar Amanda. Suhu ruangan di sana terasa lebih hangat cenderung panas sebab penghuninya tengah memanfaatkan kesempatan dari kepergian Lucas pagi ini.
"Abigail, untuk apa kau di sini?" protes Lavina sebab sang sopir yang menjadi selingkuhannya itu ternyata membuntuti hingga ke kamarnya.
Abigail menutup pintu dan lanjut mengunci rapat agar tidak ada satu pun orang yang bisa mengganggu rencananya. "Aku merindukanmu Lavina. Akhir-akhir ini kau menjauh...."
__ADS_1
Lavina menghela napas. "Itu buat kebaikan kita berdua, Abigail! Kamu tahu betul, bagaimana Lucas. Kalau dia tahu mengenai perselingkuhan kita, aku maupun kamu pastilah tinggal nama!"
Abigail tersenyum sendu sembari melepas t-shirt lalu melemparnya. Wanita mana yang bisa tahan akan godaan berondong muda dengan tubuh atletis serta wajah tak kalah maskulin seperti dirinya.
"Apa lagi yang kamu khawatirkan Lavina, Lucas? Sebentar lagi, pria bangkotan itu akan mendekam di penjara atau bahkan mendapat hukuman gantung dari kejahatan-kejahatannya selama ini," rayu Abigail meluluhkan hati Lavina. "Lebih baik kita sekarang bersenang-senang, lalu setelah itu pikirkan tentang planning kita untuk pergi sejauh mungkin dan hidup bebas berdua." Abigail memijat lembut pundak Lavina, darah wanita itu berdesir seketika.
Kalimat-kalimat yang terlontar dari bibir manis Abigail melambungkan angan-angan Lavina tentang kehidupan yang selama ini diidam-idamkan. Menikah dengan orang yang dicinta, memiliki anak dan hidup bahagia hingga akhir hayat.
"Kenapa melamun?" Abigail menarik dagu Lavina. Matanya membius perasaan sang kekasih untuk turut tenggelam dalam gelora cinta yang membara.
Pemuda dua puluh dua tahun itu, menyambar begitu saja bibir sang kekasih, lumatannya begitu halus jua memabukkan. Tangan kekarnya perlahan mencari tempat yang nyaman untuk berbagi kehangatan. Menelusup, merayap-rayap dan akhirnya berhenti di satu titik.
"Abigail..." panggil Lavina dengan suara mendesah-desah. Lantaran kekasihnya itu langsung saja menyerang titik kelemahannya.
"Apa, hm...?" jawab Abigail sengau.
"Bersabarlah dulu, hingga Lucas benar-benar tidak akan bisa mengusik kebahagiaan kita berdua," ujar Lavina, parau.
Pemuda itu sudah paham betul cara untuk menaklukan Lavina. Wanita itu akan bertekuk lutut di hadapannya, meski pada awalnya menolak dan melawan.
G-String tipis sudah terlepas begitu saja, Abigail mendorong benda-benda yang tergeletak di atas meja rias lantas mengangkat tubuh Lavina agar duduk di atasnya.
Wanita berusia tiga puluh lima tahun itu sudah bisa membaca apa yang akan dilakukan Abigail terhadapnya. Dia buru-buru merapatkan kedua kakinya. Namun, Abigail sigap menahan lalu membuka kedua paha wanitanya. Titik kenikmatan milik Lavina terekspos di depan mata, menjadikan Abigail menggila karena aromanya.
Pemuda yang tengah dimabuk cinta menyingkapkan dress Lavina ke atas pinggangnya. Dan kini wajahnya berada tepat di depan selangkangann. Lidahnya menjulur, menjilati benda kesukaannya, diselingi menyesap juga gigitan-gigitan kecil.
Perlakuan Abigail tersebut berhasil membuat tubuh Lavina menggelinjang karena sengatan yang meremangkan tubuhnya. Dan suara lenguhan pun tercipta begitu sempurna. Menambah nafsuu di antara keduanya, memuncak.
"Kamu cantik sekali Lavina," puji Abigail mengecup pipi kekasihnya. Kecupannya berubah menjadi lumatann.
__ADS_1
Abigail mengulumm daun telinga Lavina, menjilati setiap inci sembari menghembuskan napas hangat. Bulu kuduk pun berdiri, Lavina telah pasrah. Perlakuan-perlakuan Abigail sungguh menghilangkan akal sehatnya.
Meski usianya terpaut jauh dengan Lavina. Namun, rasa cintanya benar-benar nyata. Bukan sekedar menunggangi dan menebar benih, tapi dia benar-benar mencintai wanitanya itu.
"Aku tidak pakai pengaman ya..." Ke-jantanan Abigail melesak ke dalam titik senggama Lavina. Wanita itu lagi-lagi melenguh merasakan nikmat dan pedih dalam satu waktu. "Aku ingin membuatmu hamil anakku, Lavina," ucap Abigail tanpa sungkan sama sekali.
Lavina hanya mengangguk pasrah, menggigit tipis bibir bawahnya dengan tangan meremass kuat dada bidang kekasihnya.
"Buka matamu, Lavina!" pinta Abigail, dengan tatapan yang dipenuhi kabut gairah. Lavina mencelikkan mata, dia benar-benar tersihir akan pesona sopir pribadinya itu.
Abigail mulai bergerak, membawa Lavina ke dalam kubangan lumpur dosa yang terasa sangat manis juga nikmat. Melupakan status keduanya yang tak memiliki ikatan atas nama Tuhan.
Mereka terlalu terlena akan rasa cinta dan nafsuu yang membara. Memburu setiap peluh juga tetesan birahi.
"Aku mencintaimu, Lavina!" lirih Abigail memompa milik kekasihnya tiada ampun.
"Aku juga mencintaimu, Abigail..." racau Lavina menancapkan kuku-kukunya, saat merasakan or-gasme untuk pertama kali. Tubuhnya mengejat-ngejat, bibir tipis menganga di antara degup jantung yang berdebar kencang.
Namun, Abigail tidak ingin memberi jeda untuk Lavina beristirahat dan mengatur napas. Dia lebih senang melihat raut tersiksa dari wajah sang kekasih karena kepiawaiannya dalam bercinta. Dan untuk kesekian kalinya, tubuh Lavina menegang. Cairan hangat menyembur membasahi milik kekasihnya.
Abigail tersenyum senang, melihat wajah Lavina yang merasa puas akan permainannya. Dan kini, dia menurunkan tubuh Lavina dari atas meja lalu membalikkannya dengan posisi menghadap meja rias.
"Aku ingin memasukimu dari belakang, lalu membuahimu. Bersiaplah...!" Abigail kembali melesakkan miliknya dengan kasar lanjut memaju mundurkan dengan ritme yang lebih dahsyat.
Abigail semakin mempercepat gerakan panggulnya, dengan salah satu tangan menarik pundak Lavina. Pemuda itu semakin tak terkendali, menghajar tanpa ampun gerbang surga dunia Lavina. Erangan mulai terdengar dari mulut Abigail. Dia menampar bokong kekasihnya itu hingga bersemu merah.
"Ah..." Lavina mendesahh karena perlakuan kasar kekasihnya.
Abigail bagai kuda liar yang menyetubuhi betinanya dengan goyangan-goyangan erotis. Dan puncak kenikmatan pun tiba, tubuh Abigail menggelinjang. Cairann cintanya menyembur sempurna di dalam rahim sang kekasih. Lolongan panjang pun terdengar, menandakan bahwa pemuda itu telah mengakhiri pergumulannya.
__ADS_1
...*****...